JAYA; CERITA; DUNIA, karya

kumpulan CERITA tentang JAYA dan DUNIA yang pernah, sedang dan akan ia jelajahi. [Berusaha] menemukan, mengumpulkan dan berbagi hikmah melalui KARYA

[JADI Korea] Bursa baju bekas di Korea

11 Comments

Saat melakukan obrolan singkat dengan beberapa rekan maupun senior sebelum berangkat ke korea, saya selalu mendapat masukkan untuk meperbanyak bahan bawaan berupa makanan sebagai bahan bekal menghadapi perang. Sebuah perang berat melawan diri sendiri bernama proses adaptasi dimasa-masa awal menjadi orang asing di negeri yang terasing. Saya merasa sulit kembali menjelaskan masukan ini ketika mendengarnya kali pertama dahulu kala. Beriring metamorfosis status berlaku atas diri saya dari calon pendatang baru menjadi pendatang baru di Korea, maka asam asin cita rasa yang tersembunyi dibalik saran dimaksud, lambat laun menjadi sangat mudah dipahami meski masih sulit untuk dimaknai melalui rangkaian kata-kata. Sungguh perasaan kasat mata itu jauh lebih mudah dari pada penerjemahaannya melalui bahasa verbal.

Selain merasa belum bisa membayangkan bagaimana pentingnnya saran tersebut. Munculnya sebuah kekalutan, malahan menjadi sebuah efek keterbatasan ilmu akan masukkan tersebut. Maka kekalutan yang saya namakan sindrom orang udik ingin keluar negeri pun menjadi berlapis-lapis. Lapis pertama ditempati oleh perasaan gak mudeng dengan saran tadi (ini resikonya jika memiliki watak selalu ingin segala sesuatu itu logis. padahal disisi lain piranti berfikir logis, otak, tidak bisa berjalan maksimal karena masukkan berfikir logis yang paling besar efeknya bernama pengalaman belum pernah dirasakan).

Menjelang hari H keberangkatanpun saya belum bisa merasakan emosi sesungguhnya dibalik saran tersebut. Alhasil saya merasakan sindrom lain orang udik ingin keluar negeri, gagal memahami makna barang prioritas untuk di bawa dan tidak. Maka lapis kekalutan kedua ditempati rasa cemas akan berat bawaan barang sendiri. Informasi tak lengkap dan lagi-lagi dengan titel “katanya” membuat saya merasakan dasyatnya perang hormonal adrenalin dalam sistem metabolisme tubuh selama proses checking hingga boarding. Bahkan saat sesi pemotretran perpisahan orang udik yang ingin berangkat keluar negeri dengan para penggemar, eits, maksudnya saudara yang luar biasa pemahamannya akan ukhuwah hingga berkenan mengantarkan saya ke pintu beranda teritorial darat terakhir Indonesia pun terlihat bloon dengan senyum bergaya dibawah todongan golok.

Ya..semua karena pikiran saya berseliweran dan terancam dibawah todongan golok para petugas check in pesawat yang bisa saja tiba-tiba mengatakan “maaf barang bawaan anda berlebih. silahkan pilih mana yang pantas dibawa dan tidak. bukankah baju kaos oblong yang sudah berusi 1o tahun sudah tidak pantas untuk dibawa?. kok ini malahan menjadi jenis barang bawaan terbanyak anda”. saya khawatir bilaman saya tidak bisa menghayati keudikkan saya lagi di korea dikarenakan properti perannya tidak bisa dibawa…halah…

nah terkait dengan judul, perkara sindrom orang udik ingin keluar negeri ini, juga memunculkan pertanyaan yang paling besar bagi saya kala itu,

“lalu, jikalau semua barang bawaan didominasi oleh makanan. bagaimanakah dengan perkara kebutuhan pokok lainnya yang bernama pakaian?”

pertanyaan ini sempat bergentayangan di benak saya dengan kekhasan terornya sehingga menjadikan kekalutan lapis dua semakin pekat. Hingga suatu saat saya menjadi salah satu orang bisa mengucapkan syukur karena telah rela membunuh sedikit dan sesaat kearoganan dalam berfikir logis dan mengikuti saran-saran yang ada dengan “mode” orang udik mengikuti saja. Alhasil saya menemukan solusi pemenuhan pakaian (meski tidak semuanya) melalui sebuah situs bernama Bursama baju bekas.

Beberapa saat setelah saya mulai secara rutin menghirup udara, makan makanan dan buat hajat di Korea akhirnya saya menemukan sebuah jawaban mengapa makanan khas indo bergaya rumahan kita menjadi lebih prioritas dan berhak berstatus pemegang saham koper lebih dari 70%. Selain karena memang menjadi antibiotik mujarab sebagai pengusir penyakit umum orang udik keluar negeri bernama rumah sakit, eits, makudnya kata tante Elizabeth penyakit tersebut bernama “home sick”, juga dikarenakan di Korea juga bisa ditemukan fenomena Baju bekas. :D. Hubungannya?, seperti yang saya sampaikan terdahulu, ini merupakan solusi paling markotob untuk urusan sadang yang satu ini.

***

Saya ingin berbagi dengan sobat sekalian seputar bursa baju bekas di Korea dalam rubrik [JADI Korea] kali ini. Orang korea yang terlihat stylish dalam berbusana ternyata tak lepas juga dari fenomena baju bekas. meski tidak secara keseluruhan namun bisa saja cukup dibilang banyak. tidak ada data pasti karena belum ada survey prilaku berbusana baju bekas ini. coba deh sobat semua bayangkan, ada gak ya badan survey yang tidak punya kerjaan menanyakan “apakah baju anda baju bekas?”..ㄱㄱㄱㄱㄱㄱㄱ. lucu.

mengapa saya katakan demikian. Memang tulisan ini penuh dengan spekulasi penulis. namanya juga artikel bebas bukan?, jadi sebebas-bebasnya, penulis bisa memiliki ide, analisa dan kesimpulan sendiri.

baiklah saya akan langsung suguhkan beberapa fakta keberadaan  baju bekas di korea melalui rekam gambar. untuk yang berencana mengikuti jejak saya sebagai pendatang baru di korea bisa menjadikan tulisan ini sebagai sebuah inspirasi. sedangkan untuk yang sudah berada di korea juga bisa mengikuti jejak saya sebagai subjek pelaku konsumen bursa baju bekas. Sungguh kehidupan penulis tidak pernah lepas dari baju bekas, tak terkecuali meski sudah berada di negara raksasa asia ini. Namun inilah hakikat makna dasar dari dua pribahasa lawas bangsa kita yang bisa saya pahami

tak ada rotan akarpun jadi. Tidak ada yang baru yang bekas namun high Quality pun jadi karena asyik punya

dan

ada gula ada semut. Ada contoh dari senior ya diikuti selama itu baik dan semut suka gulanya…

demikian sobat. mari kita mulai fakta pertama dengan sebuah gambar dari DAEJON CITY (sebuah kota metropolitan di Korea)

salah satu lapak tokoh bursa baju bekas spesialis baju hangat di daejon. gamsahamnida for all talent :D

Penjual baju bekas amat mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional atau jalan-jalan umum seantero korea baik itu desa maupun metropolitan city. hal ini juga menjadi bukti lain jika orang korea memiliki apresiasi (minat) yang baik pada bursa baju bekas ini.

lapak lainya, daejon city

saya juga behasil memframe foto dari sebuah pasar kaget di korea yang aktif beroperasi selama musim semi hingga akhir musim panas. lokasinyapun tak tanggung-tanggung, sebuah titik strategis di sepanjang sungai paling terkenal di korea, Han gang (sungai Han), kota Seoul. Di sini kita tidak bisa dengan mudah membedakan mana yang berjualan dan mana yang berperan sebagai pembeli, karena mereka semua menjual barang-barang bekas (tak hanya baju) milik pribadi namun dilain waktu jika mereka tertarik dengan barang bekas orang lain, mereka akan menbeli kembali.

bursa barang bekas di Han gang, Seoul. Tampak dikejauhan bangunan pencakar langit di sepanjang tepi sungai Han yang terkenal sebagai kawanan sibuk dan elit

saya memiliki cerita dan pengalaman unik sendiri di pasar ini. Saya pernah membeli jaket bagus setara masih baru dengan harga 1000 won saja. hingga saa tini jaket tersebut masih menjadi jaket favorit saya, terlebih karena berwarna merah (sedikit tidak nyambung). atau saya jugaberhasil menemukan hanbok (pakaian khas korea) untuk ponakkan saya dengan harga 5000 won (dua potong), yang jauh sekali dibandingkan dengan harga asli di toko yang dibandrol paling murah 300.000 won.

 

yang jual dan yang beli sama-sama asyik..

***

Semoga tulisan kali ini bermanfaat. Berhubung musim dingin segera berkahir, sobat yang berada di korea bisa segera merasakan asyiknya berbelanja barang bekas. Jika orang korea saja tidak sungkan berbaju bekas, mengapa saya yang memang relatif lebih “hemat” (bahasa halusnya tidak punya uang) merasa malu dan tidak pede dengan pakaian bekas yang melekat pada tubuh. Hmmmmm lagian siapa yang mau memperhatikan saya ya?. Selain itu kwalitas yang lebih baik dan tampilan yang prima dari baju bekas tersebut menjadikannya semakin pantas untuk menjawab tantangan gaya hidup “hemat” dan elegan saya.

demikian sobat. Sampai jumpa di bursa baju bekas, ups….salah maksud saya, sampai jumpa di tulisan berikutnya……

 

About these ads

Author: syahjayasyaifullah

seorang anak petani yang punya cita-cita tinggi

11 thoughts on “[JADI Korea] Bursa baju bekas di Korea

  1. wowww..jayaa…. tulisanmu semakin membuat saya ingin ke Korea!!! yiaaayyy!! pengeeen banget kesanaaa…. >___<

  2. it’s cool :D

  3. hahaha…..
    Pasar kaget sebelah apartemen gw kok ga lo masukin fotonya cuuyyyy…???

    • wa..wa…ada pengantin baru….belum bang, takut ganggu ketentraman pengantin baru MySpace..

      klo ada koleksinya boleh bang dibagi, lebih menjual lagi klo ada abang sedang transaksi MySpace. (becanda mode on)

      terima kasih bang sudah mampir...

  4. wah berarti sekarang sampai akhir agustus (musim panas) nanti masih ada donk,,,
    boleh ni dicoba pas kesana entar :D

  5. berguna sekali tulisannya.. kalo saya mau ke korea kapan2, bisa bantu temani saya jalan2? hehehe…. atau setidaknya kasih info aja tempat2 menarik di korea….
    tengkyu infonya :)

  6. Wah, tulisannya pas banget dgn yang sy cari..
    Kebetulan sy punya usaha pakaian bekas d Makassar-Indonesia, mau donk info lengkap ttg rubrik ini!!
    Insya Allah ada rejeki lebih, pengen langsung k Korea, karna katanya d sanalah pusatnya..
    Trima kasih..
    Wss..

    • wa’alikum salam wr wb.
      seluruh info sudah saya masukkan ke dalam tulisan ini?. mungkin bisa lebih spesifik info apa maksudnya. jika ada waktu akan coba saya kumpulkan. tapi mungkin tidak dalam waktu dekat karena kesibukkan riset yang makin meningkat. Alhamdulillah jika bermanfaat tulisan saya. terima kasih sudah mampir di rumah maya saya.
      wasalammu’alikum wr wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 965 other followers