JAYA; CERITA; DUNIA, karya

kumpulan CERITA tentang JAYA dan DUNIA yang pernah, sedang dan akan ia jelajahi. [Berusaha] menemukan, mengumpulkan dan berbagi hikmah melalui KARYA


Leave a comment

Ini hanya bicara soal kemauan kita untuk menjadi lebih baik atau memburuk

Di Indonesia, mendapatkan kereta tepat waktu sesuai dengan jadwal yang kita miliki sudah tergolong  sebagai sebuah momen yang “mewah”. Mana kala kita mampir sejenak di loket penjualan tiket sekali jalan, kita akan disuguhi sebuah kertas ukuran A4 bertuliskan kalimat informasi yang dicetak menggunakan mesin print rumahan: ” Kereta Ekonomi Dahulu Yaa” atau “Kereta AC Dahulu Yaa”. Kertas itu digantung tunggal seadaanya melekat di kaca loket di depan sang penjual karcis. Jika bertanya lebih detil kepada si penjual terkait jam keberangkatan, mereka akan menjawab dengan jawaban umum. Gaya menjawab demikian semakin meyakinkan penanya bahwasanya pertanyaan yang mereka ajukan tidak akan pernah  berjodoh jawaban yang diharapkan. Maka, bagi saya datang mengunjungi stasiun kereta, lalu langsung mendapati kereta yang akan ditumpangi tanpa harus menunggu lama adalah sebuah nikmat yang begitu besar nilainya. terlebih lagi untuk jadwal kereta siang hari. Semoga suatu saat jadwal kereta api yang melayani jabodetabek memiliki ketepatan jadual yang baik. tidak saja untuk jam-jam padat di pagi dan sore hari, melainkan juga jadwal siang hari dimana teriknya sinar matahari tropis kadang sedikit tidak bersahabat dengan para penumpang yang menunggu di koridor tunggu tanpa atap dan fasilitas standar laik guna yang pas.

Hari ini saya dan istri menunggu kereta di stasiun kereta api Duren Kalibata. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, perhatian kami tidak tertuju pada jenis kereta apa yang akan kami gunakan, melainkan kepada kereta apa yang namanya tercantum dalam kertas putih bertinta mesin print sederhana tadi. kebetulan siang itu nama kereta ekonomi  disebutkan dalam petunjuk jenis kereta yang akan melintas stasiun kalibata dengan arah gerak menuju stasiun kota pertama kali. Dengan demikian, kami membeli karcis kereta ekonomi menuju stasiun Tebet. Satsiun ini dipilih karena Stasiun tebet cukup dekat dengan lokasi kantor saya. Terbilang dekat. Dari kalibat ke tebet hanya dipisahkan oleh satu stasiun bernama Cawang.

Kami menunggu sekitar 45 menit. untuk mngisi waktu yang ada, kami  melakukan aktivitas yang bermanfaat: mengamati lingkungan sekitar dan kemudian mengangkat fenomena unik yang teramati ke dalam diskusi ringan. Kali ini mata istri berhasil mengabadikan proses “penaklukan” pagar besi pembatas ujung koridor tunggu oleh seorang calon penumpang pemuda baya (SCPPB).

sepuluh menit tentang SCPPB.

Seorang pemuda paruh baya teramati jauh dari lokasi kami duduk mendekat ke arah peron yang bersebrangan dengan lokasi kami.  Ia berjalan di sisi jalan terdekat dengan rel kereta api, di atas batu-batu kerikil. Di indonesia, ruang terbuka antar rel kereta api bukan merupakan daerah terlarang untuk didekati. Mungkin saja terlarang, namun larangan itu telah bermetamorfosis menjadi sebuah  nyanyian usang yang tidak diminati lagi untuk didengar dan diikuti oleh mereka yang melanggar larang itu berulang-ulang. Di beberapa lokasi rel mendekati stasiun kota, banyak ruang terbuka yang bertetanggaan langsung dengan rel digunakan warga sebagai lahan parkir motor, membangun rumah dan lokasi prostitusi mana kala malam pekat turun menghadang kota jakarta dan rel-rel sudah tidak dilintasi oleh kereta api lagi.

jangan ditanya urusan penggunaan rel kereta api itu sendiri. Tak sedikit para pengguna stasiun (penumpang, pemulung, petugas bersih-bersih kereta maupun pengemis dan anak jalanan) menyebrang langsung melintasi satu rel ke rel yang lain guna mencapai sisi lain peron stasiun. bak jalan raya tanpa marka penyebrangan, rel kereta api dilintasi begitu saja tanpa peduli bahaya dan resiko yang mengintai. ini tontonan umum yang bisa jumpai di stasiun-stasun kereta kita.

kembali ke SCPPB, ia makin mendekat ujung peron yang terpagar besi berbentuk turus rapat. tak perlu menunggu lama-lama, dengan santai tanpa penuh beban rasa MALU ataupun bersalah, si SCPPB tersebut meraih pagar, menaikan kakinya ke ujung peron, merayap naik ke atas untuk melampaui pagar dan berpindah dari sisi luar ke dalam peron dalam hitungan detik. misi masuk peron tanpa karcis terlihat sukses sempurna di lakukan SCPPB. selepas pendaratan pertama kaki kanannya menyentuh sisi dalam peron, si SCPPB langsung berbalik badan, menyusuri peron sembari mengotak-atik tombol-tombol telpon genggamnya lalu duduk di kursi tunggu terdekat dari pagar tadi. Kini ia menunggu kereta. bersiap menaiki kereta tanpa membeli tiket terlebih dahulu. apakah SCPPB tak mampu membeli tiket?. saya rasa harga tiket kereta ekonomi tak lebih mahal dari 10 kali mengirim SMS menggunakan operator yang memasang trif paling murah. dan saya berkeyakinan bahwasanya si SCPPB mampu untuk membeli tiket tersebut.

menyambung satu fenomena yang berhasil kami temukan beberapa saat yang lalu ini, istri berbagi cerita.

cerita istri:

Kemarin dari kalibat ke UI istri menggunakan kereta AC yang kebetulan bergerak dari tanah abang. Bagi sobat yang belum kenal tanah abang akan saya sedikit ceritakan tentang si tanah abang dalam tulisan ini. Menurut info yang saya dengar, tanah abang memang sejak dahulu kala terkenal sebagai pusat grosir, terutama komoditi sandang. bahkan katanya, tanah abang sempat menjadi pusat grosir terbesar di asia tenggara. terlepas dari itu semua, saya pernah membuktikan sendiri bahwasanya tanah abang memang layak diakui sebagai surga belanja komoditi sandang di jakarta.

kembali ke cerita istri. saat melakukan perjalan dari Kalibata ke UI, istri menyaksikan seorang ibu dengan dandan yang cukup baik (terlihat mapan) bersama seorang anak menenteng plastik besar bermuatan barang belanja di kedua tangannya. sang anak mengekor sang ibu bergerak aktif ke penjuru gerbong. cukup aneh memang, dengan begitu banyak barang bawaan namun sang ibu tidak terlihat  antusias memilih salah satu bangku kosong yang ada di dalam gerbong dimana saat itu istri menjadi salah satu penumpang di dalamnya. Sungguh tidak umum. Tipikal penumpang kebanyakan di Indonesia adalah suka berebutan bangku kosong apalagi dengan barang bawaan yang banyak. sepertinya tak ada alasan bagi sang ibu dan anaknya untuk tidak menempati bangku kosong yang ada. akhirnya misteri itu terjawab mana kalah petugas pemerikasaan tiket menghampiri sang ibu dan menjalankan kewajibannya untuk memerikas tiket. ternyata eh ternyata, sang ibu tidak memiliki tiket kereta AC. Ia hanya memegang tiket kereta ekonomi. sesuatu yang kontras terjadi bersamaan di dalam gerbong itu. diwaktu yang bersamaan Istri juga menyaksikan seorang nenek tua dengan tampilan jauh dari mewah dan mapan namun tetap terlihat bersih hanya memegang tas kecil di pangkuannya. Sang nenek dengan tenang menyerahkan tiket yang tepat ketika diminta petugas.

apakah sang ibu tidak mampu membeli tiket yang tepat? Saya yakin sekali jika harga barang belanjaan sang ibu jauh lebih mahal dari 2 buah harga tiket kereta AC yang hanya bernilai 24.000 saja.

Sang ibutadi akhirnya “terpaksa”  mendepakkan diri keluar gerbong karena malu (mungkin, ya setidaknya dia masih punya malu dan memutuskan “minggat”) selepas pemeriksaaan tiket tadi. Sementara sang nenek melanjutkan perjalannannya sampai tunjuan akhir.

Sang ibu tanpa sadar ataupun dengan sesadar-sadarnya telah memperkenalkan anaknya sebuah nilai yang sama sekali tidak baik untuk diikuti. sahabat bisa menyimpulkan sendiri nilai apa yang saya maksud. menurut istri (dan ini yang amat disayangkan istri), sang ibu telah menyiapkan satu generasi dibelakangnya sebagai generasi yang siap mengikuti keburukan yang baru saja ia lakukan dengan terang-terangan di depan anaknya (saya berdoa semoga Allah melindungi sang anak dari keburukan nilai yang secara cepat mampu direkam oleh anak selama kejadian dalam gerbong tadi).

Sang ibu tanpa berkata-kata telah mengajarkan generasi penerusnya untuk bertindak tidak jujur dalam menggunakan sarana publik. Mari kita bayangkan jika ada banyak ibu-ibu yang memiliki tingkah pola yang sama. jika begini faktanya, maka tak heran jika kita menemukan banyak SCPPB di stasiun-stasiun kereta kita. Namun selalu ada harapan di balik kegagalan kita. Ada sosok nenek tua yang dengan duduk dan penampilannya saja telah mengajarkan kita banyak nilai-nilai berharga yang patut kita teladani.

Alam itu terbentang luas. Negara maju nan jaya di luar sana pun memiliki alam yang sama luasnya dengan negara kita, indonesia. Kesamaan luas alam dalam arti imajinernya sudah tentu memiliki kandungan nilai-nilai dan falsafah kebaikan hidup yang sama banyaknya. tak berakhir di situ, ternyata penentu kebermanfaatan nilai-nilai yang berserakan di alam luas itu terdapat pada kemampuan kita untuk menyarikannya. jadi, akhir dari pembahasan ini selalu akan berujung pada kita sang pelaku. jika kita ingin menjadi lebih baik, maka lebih dari cukup bagi kita menemukan banyak  nilai sebagai sarana menopang itikad kebaikan kita itu. namun jika semakin menjadi buruk adalah cita-cita yang kita idamkan, maka tak menjadi penting potensi-potensi kebikan yang kita miliki berlimpah ruah jumlahnya.

penantian kami berakhir. sebuah kereta yang cukup lengang siap membawa kami menuju stasiun tebet. dengan membaca bismillah, kami menaiki kereta sembari berdoa sekuat-kuatnya agar bangsa ini menjadi bangsa yang memilih semakin menjadi baik sebagai itikad awal perbaikannya menuju bangsa yang besar dan disegani.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 964 other followers