JAYA; CERITA; DUNIA, karya

kumpulan CERITA tentang JAYA dan DUNIA yang pernah, sedang dan akan ia jelajahi. [Berusaha] menemukan, mengumpulkan dan berbagi hikmah melalui KARYA


Leave a comment

Sepotong sore di tepi danau. Pedulikah kita?

“kalo foto itu mah tidak ada di foto komunitas saya”

si cewek sedang duduk di bangku taman dan seorang pria berjongkok di atas rerumput hijau.

“masa sih. ini beneran foto saya?” tanya wanita dengan kerudung putih itu sembari memegang hp di tangannya.

“(tidak terdengar dengan jelas) -suara membesar- cewek terseksi sedunia itu mah. kamu imut dan cantik” suara pria itu terdengar putus-putus namun berusaha untuk dijaga mati-matian tetap stabil agar terdengar meyakinkan bagi sang wanita. Scene selanjutnya adalah dua sejoli itu saling ngobrol asyik bak pelaku mojok yang mulai terlihat cair dan profesional.

***

Demikian sebuah dialog singkat yang saya dengar ketika baru saja menggelar laptop di sebuah pendopo dalam taman sebuah univeristas ternama bilangan Bogor. Dapatkah sobat pembaca budiman menampilkan imaginasi siapa gerangan pelaku dalam potongan dialog itu? Sepasang pemuda belia yang mulai terbakar api asmara untuk saling cumbu? Benar adanya, saya melihat nuasa saling menarik perhatian amat kental diantara mereka, tidak hanya secara verbal namun juga ada dalam prilaku dan gerakan. Lebih dalam lagi, dapatkah sobat menerka kira-kira berapa usia kedua sosok pelaku potongan dialog itu? Benarkah tebakan sobat jika dialog penuh pernik-pernik kemesraan yang menggoda dari seorang pria untuk seorang wanita tersebut, aktor dan aktrisnya adalah anak SD yang mungkin masih berusia sekitar belasan tahun, Paling banter mereka berusia 12 tahun jika masuk SD di usia 7 tahun dan sekarang diasumsikan sedang duduk di kelas 5 atau 6. Laki-laki dalam dialog itu jelas terlihat mengenakan celana merah khas seragam SD secara nasional negara ini.

Sudah cukup banyak para ahli perkembangan anak dan peduli dengan keberlangsungan nilai-nilai kebaikan di dalam tatanan sosial bangsa ini angkat bicara tentang ancaman ini. disisi lain tak sedikit juga kelompok yang bersikap mulai seakan tak peduli dengan realita yang berkembang hingga secara terang-terangan mendukung datangnya gelombong pergaulan bebas di negara yang katanya memiliki 5 azaz dengan pernyataan tentang Tuhan berada di poin pertamanya.

Terlepas dari fakta yang ada. Sobat mari kita berkomunikasi secara jujur dengan hati kecil kita, sehatkah pergaulan anak berusia belasan tahun mempraktikan cara berinteraksi sosial demikian? Bagi saya pribadi yang sudah menikah, mengetahui dan menjunjung tinggi nilai norma yang berlaku (masih berlaku gak ya unsur norma seperti pelajaran PPKN dulu: norma susila, moral, masyarakat dan agama, ditengah-tengah masyarakat kita?) merasa khawatir atas trend pergaulan anak-anak usia belasan tahun negeri ini. Entahlah!

tadinya saya ingin menyelah potongan dialog tersebut dengan mengajak mereka berbicara baik-baik. atau sekedar bertanya sebenarnya apa yang ada dalam benak mereka ketika melangsungkan proses mesra-mesraan tersebut di sebuah taman sepi yang tak jauh dari lokasi terdapat sebuah lahan penuh tanaman kekayuan dimana di dalamnya pernah dipergoki sosok laki-laki tak dikenal sedang melakukan aktivitas masturbasi di tahun 2000an.

belum sempat ambil peran memberikan insight untuk kembali pada norma pergaulan yang ada (mungkin bagi mereka sudah kuno), pasangan tersebut bergerak meninggalkan bangku taman, sambil diikuti olah satu pasanan lain yang memiliki usia yang tak jauh berbeda.

“Jadi kita pulang?” tanya laki-laki yang tadi jongkok di atas rumpu.

“jika jalan lewat sana jauh -tangannya menunjuk ke arah jalan umum yang biasa dipakai oleh para mahasiswa kampus untuk bergerak dari satu komplek gedung ke gedung yang lain-, jika lewat sini lebih dekat -telunjukknya mengarah pada taman berisi tanaman kayu yang saya jelaskan di dua paragrap di atas-“

tanpa sedikit ragu kedua pasang anak SD tersebut masuk menyusuri taman dan mulai perlahan hilang dari pandangan saya.

Lalu saya cuma bisa beristighfar atas kelemahan saya yang tidak melakukan apa-apa atas mereka. Saya kemudian menuturkan doa penjagaan dan kebaikan atas mereka. Saya hanya bisa berdoa. Selema ini kah bentuk peduli saya?C360_2014-10-26-13-45-01-214

#merasatakberguna


Leave a comment

Sapaan kembali dan tentang sikap saya soal penggemar membabi buta K-pop

selamat pagi sobat semua….

senang rasanya bisa berkunjung ke blog ini lagi.

sudah lama sekali rasanya tidak masuk ke dalamnya.

nyaris sudah kurang lebih 2 tahun saya di indonesia.

rindu Korea?. Iya juga, tapi bukan rindu dengan hingar bingarnya K-pop yang sejauh pengamatan saya banyak pengaruh negatif dari pada positifnya untuk anak-anak muda negeri ini yang kebanyakan sudah terjangkit fenomena alay.

Kebanyakan remaja kita menyukai sesuatu tanpa didahului oleh pemahaman yang menyeluruh akan apa yang disukai. Dengan pemahaman yang baik seputar apa yang digemari, diharapkan mampu menghadirkan bio-filter dalam diri mereka untuk menyaring apa yang pantas dan tidak untuk mereka tiru. Pada titik terdasar saja mereka tidak bisa menyukai dengan cerdas apalagi hingga ke titik dimana akan mulai muncul pembahasan yang berat-berat seputar perang pemikiran, usaha penetrasi budaya, apalagi soal kapitalisasi dll.

dari zaman ke zaman sepertinya generasi manusia hanya dipermainkan oleh tren. Tahun generasi kakak kita ada tren telenovela, maka negara amerika latin yang mendominasi dunia. lalu masanya j-pop dan j-drama, maka mendadak semua jadi japan minded. Hari ini ada K-pop yang menghentak-hentak setiap earphone dan sumber suara eletronik dunia. Maka para remaja zamannya seolah-olah hanya terbagi menjadi dua kelompok untuk urusan suka musik: K-pop atau non K-pop. Hallo….ini bukan misi dari lahirnya blog ini. Maaf, blog ini tidak dibangun untuk memediasi promosi gelombang korea yang makin membesar saja bak tsunami kebudayaan ini. Sehingga jika ada pertanyaan, tanggapan yang murni seperti kebanyak para penggila buta K-pop dari sobat pengunjung blog ini, dengan berat hati tidak akan saya tanggapi.
sungguh, saya tidak mau ambil peran atas proyek penciptaan generasi remaja hilang identitas semacam yang saya sebutkan di awal. justru sebaliknya saya ingin berkontribusi, meski kecil, untuk melahirkan generasi yang berkarakter lurus, membangun, cerdas dan bermanfaat untuk perbaikan lingkungannya.

bacalah semua cerita tentang korea di dalam blog ini hingga akhir, pasti sobat akan temukan sepenggal kalimat renungan untuk mengajak pada perbaikan. bukan semakin menjadi membabi buta terhadap apa-apa yang lekat dengan K-POP atau sejenisnya. demikian sapaan singkat saya untuk kembali mengaktifkan blog ini. Ya aktif, dengan semua misi asalnya…..

selamat beraktifitas……


Leave a comment

Pesan dan cerita singkat untuk Azrul Sulaiman Karim Pohan.

Jangan lupa untuk taklukkan benua biru sekuat yang kau mampu. Kau masih muda. InsyaAllah masih memiliki daya yang tinggi. Jika Allah menginginkan, tak mustahil kita pun bersua di salah satu titik dataran benua biru itu.

Waktu begitu cepat berjalan ya dek?.

Meninggalkan kita di belakang atau malah kita bersama-sama terbang dibawanya.

Baru kemarin rasanya kita bertemu. Saling bertukar nama, pengalaman, cerita dan mimpi-mimpi besar.

Almamater kita menjadi awal mula perkenalan kita. Asrama sumber inspirasi dan motivasi menjadi latar cerita kita.

Kau menonjol cukup baik. Memiliki jiwa antusian sekaligus sedikit keras mengubah sifat itu menjadi ambisius. Ambisius menyimpan mimpi lalu menggantungnya pada titik tertinggi dimana kau diam-diam melatih kaki untuk menanjak terjalnya jalan menuju cita-cita mu itu nanti.

Aktif dikelembagaan tingkat pertama ternyata menjadikan kita semakin dekat. Abang sebagai senior residen sekaligus mantan orang nomor dua lembaga tingkat persiapan bersama memiliki waktu dan kesempatan untuk memancing kau agar menjadi makin akrab. Saat itu, mulai abang menemukan sebuah titik dimana meraskan kau begitu dekat bak seorang adik kandung sendiri. Abang menjadi belajar bagaimana seandainya benar-benar punya adik melalui interkasi ini :).

Duh, perjalanan hidup memang penuh cerita yang tak bisa habis dalam satu kali cerita. Ada keluh yang kau utarakan. ada gembira hingar bingar dunia kampus yang kau bagikan. Atau cerita lawas buruknya manajeman kelambagaan kita yang kau konsultasikan. Dan sedikit cerita merah jambu musim semi ala anak baru gede yang kau sampaikan senyap-senyap dibungkus malu tanda keimanan yang masih kau jaga. Cerita itupun turut menjadi rangkaian episode cerita interaksi kita. Indahnya masa lalu jika menorehkan pengalaman yang seru.  mengingatnya kembalipun menjadi nilai tersendiri buat kita para pelakunya.

Hidup menjadi berarti ketika kita bisa bermanfaak untuk orang lain ya dek?.

Alhamdulillah. Kau terpilih menjadi salah satu penerima beasiswa PPSDMS. Semakin cemerlang terang bintang mu. Kau harus tinggal di asarma lain yang akan mencetak mu menjadi generasi yang lebih unggul nanti. Bergerak dari asrama ke asrama. Dari berbayar menjadi gratis. Kita, orang daerah merasahakan ini salah satu bentuk rezeki durian runtuh yang sungguh indah dan perlu disyukuri berlipat-lipat.

Hidup adalah perjuangan. Lepas berjalan lama, kini giliran abang yang meraih mimpi. Berangkat menuju Korea Selatan untuk sebuah amanah besar melanjutkan studi S2 secara gratis. Beberapa bulan sebelum keberangkatan ini. kita sempat melakukan banyak kegiatan bersama. mulai dari mengatarkan kau berguru ke rumah bang rizal yang alumni finlandia untuk program master erasmus mundus (Beliau adalah inspirator kita berdua. semoga Allah berkahi beliau)  di ciomas, Bogor. sampai duduk-duduk di dalam kamar sembari menerawang jauh merangkai mimpi. Abang sempat memberi kau sebuah map lebar oleh-oleh promosi studi Eropa. Map studi eropa yang kemudian hari, satu dari tempat di benua biru itu menjadi takdir mu, InsyaAllah.

30 Agustus 2012 @ Soekarno Hatta.

Baru kemarin rasanya tahun 2009 penghunjung puasa. Kau bersama teman-teman yang lain mengantarkan abang menuju tanah gingseng sampai bandara internasional Soekarno Hatta. Tadi malam giliran mu yang berada di ujung beranda negara kita itu. bersama pengantar yang ada (maaf abang belum bisa mengantar karena keadaaan yang tidak memungkinkan) kau akan dilepas menuju salah satu jantung eropa: Francis, tepatnya kota Nice, Kota kelima terbesar di Francis. Semoga semua akan “nice” sesuai dengan nama kota mu dek. Jika bang tidak salah satu tahun kedepan kau akan mencoba perjuangan baru guna menyelesaikan studi master mu di Universite Nice Shopia Antipolis. Semoga berkah ya dek ilmunya. Semoga kau dilindungi di sana dan dihindari dari ilmu yang sia-sia.

Terkhir, ingin mengucapkan terima kasih antas kunjungan kau ke kediaman kami di tebet. terima kasih atas baiknya kau menjaga silaturahmi ini. mohon maaf jika abang banyak khilaf.

Jangan lupa untuk taklukkan benua biru sekuat yang kau mampu. Kau masih muda. InsyaAllah masih memiliki daya yang tinggi. Jika Allah menginginkan, tak mustahil kita pun bersua di salah satu titik dataran benua biru itu.

Have a nice trip and life there. barakallah atas pencapaian ini ya dek. tetap rendah hati dan tawadu’.

Salam juga dari Kak Mia untuk mu. jangan “lupa” pesannya :)

salam

Bang Jaya, tebet 22 september 2012. ditulis saat memperkirakan kau masih berada di atas langit benua Asia. Setidaknya 6 jam perjalanan di udara itu telah mengantarkan kau melintasi Langit Korea selatan dan Jepang (jika kau menuju ke sana)


Leave a comment

Perjalanan menuju negeri gingseng: perjuangan di dalam bandara Soetta (2)

Di pintu imigrasi tak ada lagi logika, eh salah, maksudnya tak ada lagi troli. Tapi klo dipiki-dipikir, benar juga gak ada logika (meminjam perkataan mbak Agnes Monica 2000 sekian). Coba sobat bayangin, saya masuk dengan membawa cukup banyak barang (ingat di cerita bagian 1, bahwa saya pernah was2 saat check in. terkait dengan hal itu, saya  mau mengucapkan terima kasih kepada Garuda Indonesia dan Korean Airline. Mereka sungguh mengerti urusan seorang mahasiswa baru yang mau pindahan. Bawaan saya Over load dan mereka memaklumi dengan cara memberikan solusi terbaik untuk saya. saya tidak menyerah dengan begitu saja. Semua barang yang mungkin dibawa ke dalam kabin saya bawa. Dengan bismillah, akhirnya saya diperkenankan untuk membawa tas yang cukup gemuk berisi baju (non benda2 cair) ke dalam pesawat. Saat itu, jika saya tidak salah ingat, saya membawa tas lebih dari 2 buah. Tenteng sini, tenteng sana. istilah orang betawi untuk hal ini adalah “Grondong petong“. Semua bagian tubuh yang bisa diberdayakan untuk menenteng bara diberdayakan deh pokoknya. kebanyangkan hebohnya gimana?. Ternyata kabin itu memang besar loh. jadi pelajaran buat sobat semua: barang yang cukup banyak tak perlu dikhawatirkan. Yang terpenting bisa dikemas dengan strategi jitu. mengacu pada peraturan yang meklasifikasi barang-barang yang boleh dan tidak diperkenankan untuk dibawa masuk ke dalam pesawat saja. insyaAllah lancar. Kalo lagi mujur, semuanya lolos menuju kabin. mungkin juga hal ini situasional. terakhir saya pernah memiliki pengalaman jika tas yang diperkenanakan masuk kabin hanya dua buah saja. Tidak lebih dan tidak ada tawar menawar. Tapi saat pertama kali ke korea kemarin, suasana pesawat tidak terlalu ramai, jadi bagasi relatif bebas (tidak diperiksa secara detil) (lihat tips menyusun bagasi).

Masuk imigrasi kita menunjukan passport dan tiket. Lalu kita mendapatkan berkas isian sederhana untuk keberangkatan dan kedatangan….isi..isi…yang kosong..kosong. Nah..catatat baik2..1. Passport harus terus disimpan di tempat yang mudah untuk diambil berulang-ulang namun aman. Apalagi klo kita bawa banyak barang, ribet juga bukan?. selama pantat belum menyentuh empuknya kursi pesawat, passport akan selalu digunakan untuk berbagai keperluan. tas kecil sandang bisa menjadi solusi yang baik. atau lebih praktis lagi, jika kita mengenakan celana lapang berkantong banyak untuk para pria sang petualang; 2. Pena lebih baik kita siapkan. tapi tak baru ya tak apa….(baju baru alhamdulillah….tuk di pakai di hari raya…tak BARU PUN tak apa2…hi…hi), maksud saya tidak ada juga tidak apa, karena disediakan, tapi akan lebih baik jika kita punya sendiri. tahu sendirikan kualitas fasilitas gratisan di negara kita tercinta. sering bersifat seadanya saja. kadang hanya ada bodynya sedangkan isinya sudah tidak layak dipakai lagi alias macet atau habis. Untuk lebih praktis dan tidak perlu mengemis-ngemis mengharap pinjaman dari orang lain, menyiapakn pena sendiri adalah hal yang paling lebih bermartabat. ya elah bahasanya cing. :D.

Nah, kita berlanjut ke tahap melewati pintu boarding pass. di sini, klo sedang rame akan dibedakan secara ketat antara meja pelayanan untuk foreigner dan INDONESIAN. Tapi, berhubung kemarin saya boarding pass disuddend death time. Pembagian itu tidak terlalu ketat. saya bisa menggunakan meja manapun yang penting sedang kosong. Akhirnya saya masuk melalui pass gate yang bertuliskan ALIEN eh salah foreigner. Di sini, kita harus antri (masak kalah sama bebek. bagi yang belum terbiasa antri bisa belajar sama bebek) tepat di belakang garis kuning. Klo gak akan diteriakin. Nah untuk urusan teriak2an ini, orang korea lebih serem teriakannya dibandingkan orang Indonesia yang terkenal ramah (baca: Perjalanan menuju negeri gingseng: di bandara Nomor satu dunia: Incheon International Airport (ICN) (3)). Urusan check and re-check udah (bukan sesi gosip ya. harus ditegaskan ini. takut salah persepsi. maaf bung saya bukan pria pengiat gosip..hi..hi), saya lolos………

Maka mulailah saya masuk ke pintu terakhir dari sebuah “area tak bertuan”. Sebuah beranda steril yang hanya bisa dicapai oleh  pelancong berdokumen lengkap. Saat itu suasana asing mulai perlahan saya rasakan meski masih di beranda rumah sendiri.

Beban di pundak seakan tertawa menyeringai sembari berkata
“Enak sekali digendong kemana mana”

sedangkan pundak saya, berteriak kecil

“capeknya minta ampun”

Sayup-sayup melodi seringaian beban tersebut membuat saya tak sepenuhnya mampu berkosentrasi. Akibatnya, saya tertipu dengan strategi pemilihan jalan terdekat menuju pintu E2. Saya memilih sebuah jalan yang sedikit memutar. Uh, maksud hati ingin mengambil jalur yang paling singkat, ternyata eh ternyata, jalur yang saya adalah jalur memutar yang jauh lebih panjang. Saya kalah dengan anak TK yang amat mahir dalam permainan labirin: membantu budi menemui anak anjing. Jadilah badan ini makin berkeringat menyerupai kuli keren di dalam bandara. fuh, saya menyeka keringat yang mulai membanjiri muka.

dan yang lebih menyesakkan lagi, ternyata koridor ini di bagi menjadi dua jalur. bukan pembagiannya yang menjadi topik penyesalan saya, melainkan….. tauhkah engkau bujang?. pembagi koridor itu berupa apa?. sebuah bangunan menyerupai tangga berjalan yang bernama (apa ya namanya?. hm sebentar. saya tanya ibunya dulu…..maaf bujang ibunya sudah pergi. tak ada yang bertanggung jawab untuk penamaan benda itu!. Ehmmm, kita sebut saja, eskalator datar atau lantai berjalan…). Saya tak sadar jika jalan yang cukup jauh itu dilengkapi eksalator datar yang memang disediakan untuk orang yang bernasib kurang beruntung seperti saya: membawa barang dalam jumlah banyak. Eskalator memang bertuga untuk membantu calon penumpang yang membawa barang dalam jumlah banyak. Barang-barang bisa diletakan di atasnya dan semua akan berjalan atau terangkut secara bersamaaan hingga ujung koridor. Lepas itu saya bisa mengangkut barang hanya untuk jarak yang lebih pendek menuju pintu E2.

Maaf atas keluguan saya saat itu. Maklumi saja atas perangai orang kampung tak faham teknologi baru yang tersesat “di negeri asing” ini. Sungguh kebodohan ini tidak sedikitpun berunsur rekayasa berbagai pihak agar saya mampu memancing simpati. Keistiqomahan saya membawa barang dengan swadaya tanpa bantuan siapapun termasuk fasilitas canggih yang memang disediakan untuk keperluan angkut mengangkut tersebut adalah murni karena ketidakfahaman. saya kira hanya pembatas jalur saja dianya tadi. :(.
Nah…sudah mengertikah kau bujang, mengapa aku menyesal sebagai orang gaptek saat itu…..?

Perjalanan memikul bebanpun belum usai. Saya harus kembali antri di depan pintu pass terakhir menuju E2. Disini terjadi pula hal bodoh akibat jiwa analisis saya yang terus on. Saya ikut antri di depan pintu pass E2. Antrian bergerak pelan namun pasti. Saya memandang sekeliling dengan seksama. Aha, banyak botol minuman yang disita sebelum melewati pintu. Saya berkesimpulan daerah selanjutnya adalah daerah bebas minuman dan bahan cair sejenisnya. Maka saya langsung teringat akan botol air mineral kecil imut yang saya beli di toko fast food dengan harga tinggi nan tak wajar ketika makan bersama tadi.

“wahhhh….belum saya buka sama sekali….akan amat rugi jika tak saya minum. Sebelum diperintahkan untuk dibuang, lebih baik saya minum saja” analisa saya sok visioner dalam batin. Serta merta saya keluar dari antrian, mengambil botol minuman mineral tadi dari tas genodng eiger dan glek….glek….glek…saya berjuang secara heroik layaknya seorang peserta lomba minum air disebuah pertandingan perayaan 17-an kampung (emang ada?…asal!!!) dan saudara-saudara, saya berhasil menghabiskan air minum tersebut meski sedikit menganggu stabilitas politik antrian. Semua orang yang mengantri di belakang saya sempat bingung mengamati tingkah laku saya. mungkin mereka berfikir, anak ini mengalami gangguan dehidrasi mendadak karena trauma ketinggian (halah tidak nyambung) atau “mas klo mau lomba minum air bukan di dalam antrian atuh”. Saya sempat keki juga saat itu. Terserah apa yang terjadi yang penting misi saya menghabiskan air untuk menghindari diri dari gelar temannya setan berhasil. mission accomplished!!. Saya berusaha untuk tetap tampak tenang. Saya kembali masuk antrian dan……. berhasil mencapai pintu pass terakhir saudara2. I am clear!!!. Yuhuy. Semua petugas bersorak-sorak menyambut saya. Sirine dibunyikan secara bersamaan. ha…ha..ha..ini hanya terjadi dalam imajinasi saya saja tentunya.

 SELAMAT TINGGAL INDONESIA>>>>> Aku akan merindukan mu serta orang2 baik di dalamnya….Ya Robb Jagalah mereka agar tetap dalam bimbingan dan berkah Mu…..tiba2 semua petugas bandara, GI dan KA berkor panjang mengamini doa saya….(mulai lagi deh).

barang bawaan saya yang baru saja muncul dari goa SCANER langsung saya gendong+tenteng kembali. Tiba2…mata ini menangkap 2 sosok pria asing yang sedang minum sembari tertawa lepas (emang bisa ketawa lepas sambil minum?). What ?……Mereka bisa bawa minum ke dalam (dengan cara dititipkan kepada petugas. Cara ini diperkenankan). Mereka minum setelah barang2 mereka dix-ray. Huh….huh…aku kembali malu atas tindakan sok antisipatif ku sendiri…tepok jidat sambil berdoa. “ya Rabb jadikan hamba golongan sobirun….amiennnnn” (kali ini, semua mahluk Allah pun mengaminin. Serius loh untuk yang ini)

Sesi itu lewat…selanjutnya saya disambut oleh keramahan para pegawai Korea Airline. Saya segera mencari tempat duduk di bagian kelas ekonomis dengan nomor kursi 54 A. Setelah ketemu, komen saya cuma satu

Great. ini lebih dari cukup dan nyaman buat saya……Sippp….bismillah….semua luar biasa…bismillah…maha besar Engkau ya Allah yang menundukan pesawat ini untuk kami tumpangi”.

Saya segera merebahkan badan dan berusaha beristirahat sejenak.

alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Akhirnya bisa meregangkan kembali otot dan tulang-belunang yang kerja ekstra keras tadi. Memang, nikat itu menjadi terasa lebih asoy jika diraih dengan penuh perjuangan.

“Bismillahi Majreha Wa mursaha inna robbi la ghofurur rohim”

bersambung –>


Leave a comment

Perjalanan menuju negeri gingseng: mengantar jaya sampai bandara (1)

Terima kasih untuk semua yang telah mendoakan saya.
Yang telah berkenan mengantar saya sampai depan pintu “koneksi” awal dan akhir sebuah perjalanan international (Terminal penerbangan internasional Soekarno-Hatta); Mas Adit, Rasyid, Rian, Zaki, My little brother: D2 dan Azrul and the driver (Fahran) serta the photographer: Intjeu marince…hi..hi..(jazakallah khair jaza Bro’s).

tim pengantar: Ince; Zaki; Mas Adit; Rian; Azrul; dan DD, mana Farhan nih?.

Oh iya, juga untuk mas Rio yang datang menyusul ke pintu tol sembari menyerahkan sebuah kenang-kenangan dan berkata

“maaf tidak bisa ikutan ke bandara karena ada “tugas”” dan beliaupun menyerahkan pecinya untuk saya sembari berpesan lekat

“gunakan ini nanti di korea ya”

mengesankan sekali dedikasi mu pada janji mas :).

Berfoto bareng mas Rio juga (ka-ki) Rian; Rasyid, Farhan, Mas Rio, Mas Adit, aku

Tanggal 29 sekitar pukul 15.30 wib

Saya ditemani dua orang adik angkat meninggalkan Al-Izzah. Terasa berat juga saat meninggalkan kediaman yang mulai saya tempati untuk waktu yang cukup lama beberapa tahun terakhir. Kostan ini menjadi sangat bersejarah bagi saya. Kostan pertama dan terakhir semasa saya menetap di Bogor.

Terima kasih sudah menjadi “pengawal” sejak bertolak meninggalkan Al Izzah.

Pertama, sebagai pembuka kisah hidup saya di Bogor. Saat registrasi berlangsung dan saat saya belum diperbolehkan masuk ke asrama TPB maka kostan ini adalah salah satu tempat yang paling berjasa buat saya untuk sejenak berlindung guna memperoleh status kehidupan yang layak sebagai seorang musafir. Terakhir, kostan ini menjadi penutup kisah perjalanan hidup saya di Bogor. Al izzah masih berkenan memberikan tempat kepada saya saat menikmati “masa-masa usia lanjut” di IPB. melalui tulisan ini ingin saya sampaikan ucapan terima kasih kepada Pak Bosar, sang pemilik Al-Izzah. Tak mungkin cerita ini ada jika tak ada kenan dari bapak atas saya untuk tinggal di kostan kita tercinta ini. Tak terasa, tujuh tahun kemudian saya harus meninggalkan Bogor bersama kenangan yang sudah banyak saya buat di dalamnya. Saya bertolak dari Al-izzah secara langsung menuju bandara untuk terbang menuju negeri yang memiliki pagi yang tenang: Korea.

Setelah berpamitan kepada seluruh penghuni Al-Izzah yang kebetulan ada di tempat, angkot biru itu meninggalkan Dramaga. Sampai di terminal bus damri Branang Siang, sekitar pukul 16.00. Kami langsung “mendarat” di masjid alumni. Jamaah Ashar baru saja bubar.

Sebelumnya secara tidak sengaja saya berjumpa dengan Rasyid. Dari beliau saya mengetahui bahwa teman2 yang berencana mengantar saya akan berkumpul di masjid kampus Al gifari sekitar pukul 17.00 wib. Semua berlalu, akhirnya kami berkumpul dan bersua di pintu keluar terminal Damri menuju tol Jagorawi.

Haru…..itu rasa pertama yang mendaftarkan diri pada mesin deteksi emosi yang dimiliki hati saya saat itu…..hummm akhirnya jadi juga diantar (he….he….26X). meski sebelumnya kabar itu simpang siur kebenarannya.

di depan terminal bus damri Branang Siang, Bogor

Sekitar pukul 19 lewat beberapa menit.

Sampai juga di pelataran megah jalan terminal penerbangan internasional Soetta. Dulu, setiap pulang kampung, jalur ini selalu menjadi jalur pertama yang dicapai Damri. Saat kondektur meneriakan nama terminal ini kepada penumpang, saya acap kali berbisik dalam hati; suatu saat terminal ini akan menjadi akrab dengan perjalanan saya, amien. Setidaknya….kemarin akan menjadi waktu tatap muka pertama kami, dan saya merasa kesan kami sangat saling menggoda. Ha…ha…..ya, selanjutnya terserah anda deh…

Gerbang itu.

Sesi pomotretan…..jepret sana sini….kaki tiga sudah disiapkan, aksi bebas diperbolehkan. Maka hasil jepretan tersebut tersimpan rapi di dalam canon digital milik Intjeu (beberapa sudah di upload tuh….thanks bro)

Lepas sesi personal itu,saya langsung melakukan check in. Deg..degan juga sih……Sejak tadi saya khawatir dengan nasib bagasi yang cukup gemuk. Banyak sekali opini yang beredar masuk keluar telinga saat saya “curhat” seputar kekhawatiran itu…..berikut petikannya;
“wah bisa2…..bagasimu harus di kuruskan…..dan “dagingnya” di bawa pulang. Ya titip ke teman  yang mengantar saja nanti. sayangkan jika dibuang”
“klo kabin mah, gak segede itu jaya…..masukin aja ke bagasi”

“walah. Saya berinisiatif membawa barang-barang itu ke kabin, ya karena saya khawatir bagasi saya sekarang sudah over load Jeng….lalu? “

“capek deh…..” balik lagi kekomen pertama dong kalo gitu.

Atau 2 komentar positif dan solutif berikut:

“Wah bang…kayaknya benar2 gemuk dan padat deh…hmmm….hmmmm….seleksi lagi aja bang pakaian yang perlu dan tidak perlu dibawa” maka dengan pendapat positif ini saya tiba2 berubah menjadi dokter bedah dan langsung melakukan operasi kecil sedot “lemak” baju tak layak bawa….tra…tra..tra…..bagasi saja menjadi sedikit ramping…tapi…masih terlihat cukup gemuk ……dan…..akhirnya…
“Wah kakak……saya yakin ini pas 20 kg…paling kalo lebih ya sedikit…..” saya antusias mendengar komen “supir” saya kali ini…mengejutkan……tapi saya tak mau terhibur begitu saja……sampai keluar pernyataan yang meyakinkan itu….”saya sering kok mengantar keluarga ke bandar dan beratnya…..ana yakin ini gak terlalu berlebih dari ukuran 20 Kg….dan……dasyat selain berpropesi sebagai sopir…..adik kelas ku yang satu ini layak mendapat award sebagai ahli takar…..Terima kasih Fahran atas pernyataan yang menenangkan itu. setidaknya untuk saat ini.

Dan benar saja. saat check in berat bagasi saya hanya 20,4 kg…….dan tas yang saya niatkan untuk di bawa masuk ke kabin diterima dengan baik untuk bersemanyam  dibagasi dengan damai dan tenang….

LEGA !!!!

—–sekilas info—–

Bagaimana check in saat melakukan perjalanan internasional?, berikut uraiannya:
1.    Check in berlangsung sama persis seperti perjalanan domestik. Bedanya: lebih ketat; ketemu banyak orang asing (jaga bandangan ya om); dan tertib teratur. Oh iya, saat check in siapkan: 1. Tiket; 2. Dokumen yang terkait dengan perjalanan…klo saya, diminta untuk menunjukan dokumen yang terkait dengan tujuan belajar. karena saya menggunakan one way ticket….nyaris saja tidak boleh terbang. dasar!.
2.    Setelah sukses check in kembali mendekat ke kantor perwakilan pajak. Kantor kecil yang bertuliskan FISKAL…Alhamdulillah dengan adanya “kartu apa kata dunia: NPWP” kita bebas pajak sekarang Bros…..lumayan…..kita bisa berhemat kurang lebih 2 juta rupiah….Dengan hanya menyerahkan photo copy NPWP semua proses selesai…”selamat jalan”
3.    Keluar lagi. Habiskan sisa2 waktu mu, bersama orang2 yang menyayangimu. jangan khawatir dengan batas waktu boarding pass. masuk saja kembali saat tepat boarding pass. namanya aja boarding pass, ya?. insya’Allah akan pas sekali, gak bakal terlambat kok
4.    Masuk kembali dan lanjutkan proses melalui imigrasi. Nah, klo kita sudah melalui imigrasi. maka kita tidak bias keluar dari badnara lagi. Jadi, jangan lakukan dulu poin 4 ini jika kamu masih ingin “gantung2 bareng dengan orang2 di luar bandara”

Tips hang out/ ngabuburit (gantung2 bareng) sebelum berangkat: belilah pasokan MINUMAN/ air mineral dan makanan yang banyak sebelum memasuki bandara. Harga barang-barang seperti itu amat mahal di dalam bandara. Beli minum di bandara, sebagai gambaran, sebotol air miniral yang berbandrol 1.500 berevolusi menjadi 5.000 (inilah salah satu alasan saya, mengapa saya sedikit alergi terhadap evolusi. Dari hal ini juga dapat kita simpulkan jika evolusi bukanlah sahabat anak2…eh salah…sahabat orang2 berkantung pasti PAS…ha…ha…

—-sekilas info selesai—-

Lega berlanjut pada level lebih tinggi: BAHAGIA…..
Kami langsung “bersilaturahim” kepada pak jenggot berkacamata yang senyum sejak beberapa tahun yang lalu. Tadinya gak niat banget makan di kedai fast food ini. Tapi ya itu….saya tidak menerapkan tips yang saya buat sendiri di atas…maka secara terpaksa demi kenyamanan jantung anda, kami memilih toko makanan yang harganya sudah bisa diterka sejak sebelum makan…agar tidak gagal jantung setelah menyantapnya….hanyo….mulai ngelantur…

Wah ternyata nikmat sekali makan masakan warteg di KFC (maafkan kami…..telah berkhianat dengan kampanye boikot produk yahudi. astagfirullah. maafkan kami). Ya, saya memilih makan makanan warteg yang tadi telah dibeli oleh adikku. Jazakallah khair jazaa bro….ngomong2 abang belum bayar ya dek?…..ajib pantesan enak…..masya’allah makanan gratis….memang kaya cita rasa.

Lalu kita masuk ke sesi “haru biru asyik”
Tentu asyik donk…..perut sudah kenyang….gartisan lagi….dan..tra…..tra….(khusus untuk yang mau pergi) dapat pintu hadiah……oh…..ternyata mereka membuat aku jadi biru…..JAZAKALLAH KAHIR JAZAA my bros…..sungguh sempat saya berfikir….apalah arti sebuah hadiah….ya sebuah hadiah saja…tapi ketika saya buka di kamar sesampai di Korea…Hadiah itulah yang membuat mata saya mendadak berair untuk pertama kalinya….(maklum…kamar saya adalah kamar yang berdapur…ya jadi banyak bawang).

Saya membayangi sederet filosofi yang terajut di saat-saat kalian memutuskan untuk memilih sampai membeli hadiah yang paling pas buat saya…Ya Rabb……sungguh ini adalah doa tidak langsung dari mereka buat saya….saya terharu…..meski hadiah bukan segalanya…tapi saya yakin kebaikan dan hadiah terbaik adalah doa yang ikhlas……dan hasilnya…..terbukti sudah hadis nabi….hadiah membuat saya jatuh cinta (lagi) kepada mereka karena Allah.

Sekitar pukul 21.30.

Ja….annyonghi kaseyo!

Konferensi pers pun berlangsung……Ummi dan abi serta keluarga besar bersapa, bersaran bertutur kebaikan….love you MOM….Appa….Aboji….Ajuma…Hyeong….Nuna…
Dan saya langsung masuk ke pintuk check in. foto-foto lagi tentunya….plus narasi melodrama yang tiba-tiba muncul entah dituturkan oleh siapa, tak berwujud nyata.

“Baiklah hadirin sekalin, kita masuk ke acara puncak pelepasan pada malam hari ini…..” dre…dre…dre..pet…pet..pret..pret.

”Ramah tamah, salam salim (misi om salim gak bermaksud membahas ente dan dunia bisnis dalam tulisan kali ini), dan lepas dekap…akan kita lakukan kepada saudara syahnada jaya…semoga diberkahi Allah selama di dalam perjalanan, perjuangan studinya dan kembali dengan kesempurnaan (subhallah Allah saja yang maha sempurna) nama JAYA-nya…..amien. Kepada tamu yang hadir harap berdiri dan bergantian untuk berjabat peluk dengan tuan bandara”

“Untuk pak satpam tolong dipersiapkan keamanannya…karena sesi ini sangat rentan….sering muncul ekspresi histeris yang mungkin membuat pelakunya lepas kendali”

Walah ngelantur…….hush….hush….(jam 9.05 AM KST)….alhamdulillah gak tidur lagi setelah subuh…

Saya berangkat….lepas….
meninggalkan mereka dan tanah lahir
membawa semangat mereka dan tanah lahir ikut serta
terbang…..merampas….ambil bagian dan persembahan itu mesti adanya
untuk Tuhan yang tak pernah hilang.
Rabb…pertemukan kami dalam keadaan yang paling baik setelah ini…..
Amin


Leave a comment

Ketidakpastian, Ciri Khas Nuansa Tradisionalitas Kita

Dulu saat Pak Saiful Bahri menjelaskan tetang ciri-ciri pasar dunia dalam pelajaran ekonomi di bangku SLTP aku tertarik dengan pasangan sifat antara kata “tradisional” dan “ketidakpastian”

dalam kesempatan lain kata ketidakpastian bermodifikasi menjadi tidak termanajemen dengan baik, tidak memiliki spesifikasi, serta frase-frase lain yang ujung-ujungnya memuat nilai-nilai ketidakpastian dalam berbagai bentuk ungkapan dan penggunaananya diberbagai kesempatan.

maka kemudian kata ketidakpastian inipun bisa kita temukan dibanyak kesempatan dalam  kehidupan kita sehari-hari.

dulu seorang sahabat bertanya kepada saya mengapa bangsa Korea Selatan yang memiliki usia kemerdekaan selisih dua hari dengan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia versi lapangan IKADA itu mampu mengatur sistem transportasi publiknya dengan sistem yang amat rapi dan terkontrol. Saat itu aku sedikit bingung ingin menjelaskannya. Sudah tergambar sih jawabannya, tapi aku merasa tidak prkatis dan simpel.  Aku mencari jawaban singkatnya. Saat itu aku belum menemukannya. Hari ini aku bertemu jawabannya.

Mari kita kaitkan penjelasan guru Ekonomi SLTP ku dengan pertanyaan seorang sahabat tadi. Apakah sahabat bertemu titik temunya?.

tepat sekali.

Bangsa Han telah menjadi bangsa yang lebih modern dibandingkan bangsa kita, itu jawaban singkat dari pertanyaan seorang sahabat tadi. Dengan kemodernannya, bangsa korea mampu mengatur dan menghadirkan kemudahan transportasi untuk rakyatnya. secara parsial, memang nyatanya bangsa Korea memiliki sistem transportasi yang jauh lebih maju dibandingkan dengan negara kita.

terkait dengan ketidakpastian didalam bidang transportasi aku ingin sedikit berbagi

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 965 other followers