Merasa tidak nyaman, segera tanam pohon “saya bisa”

Satu minggu terakhir, setelah Allah mencabut sesaat (alhamdulillah cuma sesaat) nikmat sehat, aku merasakan ada banyak hal yang berubah. Tepatnya ini berupa akumulasi. Aku sering sekali merasa tidak nyaman. Padahal kalau dilakukan perumusan masalah (wei bahasanya berat banget), akan menghasilkan kesimpulan yang sama. Hmmm..ini berarti apa coba?. Yup, aku sudah menemukan masalah yang membuat tidak nyaman. Jika sudah demikian, logikanya sederhana sekali. Iya, aku harus atasi masalah tersebut dan rebut kembali kenyamanan yang sempat pergi menjauh.

Sesederhana itukah?. Pada prinsipnya iya. Namun mengapa terasa berat untuk dilakukan?. Nah kajian ini akan menjadi sebuah kajian yang akan bermuara pada nilai personal masing-masing. Maka, aku bergantung pada diri aku sendiri (mestinya demikian). 

 Pilihannya cuma ada dua, mengatasi masalah dan kemudian (insya’allah) akan merengguh kembali kenyaman itu. Atau teruslah memelihara permasalahan sehingga ia akan secara perlahan menjadi tumor. waduh bisa berbahaya bukan?.

Tarik nafas terlebih dahulu….

lalu lihat dengan mata hati mu, dalam. Sedalam yang kau mampu untuk menemukan “ada apa dengan dirimu?”.

batin kemudian akan berteriak (misalnya)

“Yup…aku tidak nyaman karena ini dan itu”.

maka otak (yang memang bertugas untuk berfikir) akan mulai menganalisa berbagai premis kemungkinan yang berkaitan dengan ini dan itu. Otak menyimpulkan. Terkadang hati ikut nimbrung, memberi saran…….tenang semua menjadi tenang. Seakan seberkas cahaya mulai menyapa lorong gelap jiwa….

nah…. klo sudah demikian, segera kuatkan tekad untuk mengeksekusi konklusi yang lahirnya tadi ikut didramatisir dengan kehadiran “seberkas cahaya” itu. Ya. apalah artinya seberkas, setandon atau kata-kata lainnya yang mengandung arti jumlah cahaya, klo kemudian tidak ada eksekusi. Akan nihil jadinya. Jika sudah nihil, konklusi akan membusuk, terurai, lalu hilang menjadi renik yang belum tentu bermanfaat untuk jiwa yang sudah rentah. Lalu?. Jiwa akan semakin lemah karena diterpa ketidaknyamanan kembali. Secara alami semua dipakasa untuk berkerja kembali. Bekerja untuk menginisiasi proses kerja: tarik nafas, mata memejam, batin berbisik dan seterusnya (seperti proses sebelumnya). Ada hal yang menjadi renungan: iya jika kita masih punya waktu (kesempatan) dan kekuatan. Jika tidak?, habislah kita dalam keadaan terakhir kita: tidak nyaman……

fuhhhh………………..

aku berksimpulan satu: segera eksekusi kesimpulan adalah bentuk syukur kita atas masih bekerja dengan baiknya semua piranti yang memungkinkan kita untuk memiliki kesimpulan tadi….jadi…akhiri tulisan ini dengan bersiap diri mengeksekusi ini dan itu untuk memperoleh kenyamanan yang pernah ada. bila perlu, raih nilai yang lebih tinggi. bismillah…Kita akhiri semua ketidak nyamanan ini sembari menanam dalam2 sepoko tanamanan yang aku beri nama pohon “SAYA BISA” didasar jiwa. Mari kita lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s