Hal yang baru saya ketahui seputar sholat sunnah (2)

saya menjumpai beberapa brother dari pakistan, arab suadi dan lainnya (termasuk imam masjid kami), acap kali melakukan sholat sunnah sambil duduk. awalnya saya berfikir ” mungkin ada uzur yang membuat beliau harus melakukannya demikian”. lalu pertanyaanpun makin menjadi, bilamana saya mendapati mereka melakukan hal yang sama berulang-ulang. Jika sakit, mungkin tidak akan sesering ini bukan?. keinginan untuk tahupun akhirnya lambat laun menjadi sirna bersamaan dengan mulai terbiasanya saya menemukan hal seperti ini dibanyak masjid internasional yang pernah saya kunjungi di korea.

dan…sebuah jawabanpun akhirnya saya temukan secara tidak sengaja. Suatu ketika saya ingin mengetahui prihal status hukum sholat sunnah yang dilakukan sebelum dan sesudah sholat maghrib. Alhamdulillah, ilmu itu seakan beranak menjadi banyak. Satu hal yang diniatkan, eh…malah mendapatkan banyak ilmu yang menyegarkan. alhamdulillah.

–> “Boleh shalat sunnah sambil duduk walaupun mampu berdiri, dan shalat berdiri lebih utama,
adapun shalat fardhu, maka berdiri merupakan rukun kecuali bagi yg tidak mampu berdiri,
maka ia shalat sesuai dengan kondisinya seperti telah diterangkan di atas”

–> “Barang siapa yg shalat sunnah sambil duduk tanpa ada halangan, maka ia mendapatkan
separuh shalat berdiri, kalau ada halangan maka ia mendapat pahala seperti shalat berdiri,
dan shalat sunnah sambil berbaring karena udzur maka pahalanya seperti shalat berdiri, dan
jika tanpa udzur maka mendapat separuh pahala shalat duduk.”

***

seorang teman bercerita…dulu..saat masih duduk di bangku SMU, beliau sering melihat banyak seniornya berpindah tempat (meski sedikit saja) bilamana ingin melakukan sholat sunnah. Bahkan beliaupun sempat linglung saat diminta untuk barter tempat sholat (maksudnya saling berpindah tempat) oleh seorang seniornya beberapa menit setelah sholat jumat berakhir. diapun bertanya sana sini. sempat pula beliau bertanya hal tersebut kepada saya. Aha… saya mendapatakan pr baru..
faktualnya, saya mengetahui hal tersebut tapi belum mengetahui secara jelas hukumnya…alhamdulillah sebuah jawaban kemudian saya temukan juga melalui sebuah buku yang sempat saya baca. berikut petikannya

“Disunnahkan memisahkan antara shalat fardhu dg sunnah rawatib qabliyah atau ba’diyah
dengan berpindah atau berbicara.”

***

nah…..yang satu ini pun menjadi salah satu hal teramat menarik dan baru saya ketahui secara jelas

“Apabila seorang muslim wudhu’ dan masuk masjid setelah adzan dhuhur misalnya, dan
shalat dua rakaat dengan niat shalat tahiyatul masijd, sunnah wudhu’, dan sunnah rawatib
dhuhur, maka itu boleh.”

subhanallah………

saya tidak memiliki komentar seputar hal ini. satu saja yang saya ketahui dari diri saya kali ini. Saya masih begitu bodoh…….astaghfirullah…

****
mari kita membaca lagi. mari…bagi mereka yang mengetahui lebih banyak, bisa berbagi…

akhir kalam

wasalammu’alikum wr wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s