Dimanakah letak titik bijak mu berada?.

Acapakali saya merenung. Mencoba memaknai setiap peristiwa yang pernah terjadi. Tak hanya peristiwa yang bersanding kata mutahir saja yang patut direnungi, berembel “biasa saja” pun terkadang menjadi luar biasa kala kita membedahnya dengan pisau hati yang terbuka.

Masa kuliah S1 dahulu menjadi masa yang teramat berarti. Masa lima tahun yang bernilai tahunan usia hidup. Masa yang tidak hanya bermisi-kan penjemputan satu gelar sarjana semata. Namun, ia telah menjadi masa metamorfosis jiwa dan raga yang teramat berarti, tak tergantikan.

Salah satu hal yang saya temui kala itu adalah saya menemukan letak rasa bijak saya. Sulit sebenarnya mengutarakan ini. Kalimat pertama, bukan dan jauh sekali dari makna kalimat kesimpulan yang berarti saya sudah merasa atau menjadi seorang yang bijak. Saya hanya ingin menyarikan sebuah teori pribadi, seputar dimanakah rasa “embrio” kebijakan itu berada (di dalam diri saya). Ada beberapa hal yang patut menjadi catatan dalam tulisan saya kali ini, sebelum terjadi salah kaprah ketika pembaca mencoba mengikuti isi tulisan ini. Pertama, teori pribadi adalah sebuah gagasan pribadi yang tidak hanya bersifat tidak absolut namun juga bersifat spekulatif yang lemah dan kadang tidak lebih dari kumpulan pernyataan yang didominasi potongan citraan yang dihasilkan oleh kaca mata subyektif penulisnya. Jadi teori pribadi bisa saja dianggap hanya sebatas kumpulan kata yang tak perlu menjadi bahan kajian selanjutnya. Bisa dikatakan bersifat lemah. Saya jadi teringat teori evolusi darwin, mungkinkah teori ini berada dalam kategori teori pribadi. Jika toh tidak pribadi sang pengagas, ya pribadi sekelompok massa yang memiliki kepentingan akan penggalan-penggalan ide di dalamnya, Jika benar, maka teori darwin tidak hanya bisa dibatalkan -ingat sifat teori- melainkan juga bisa dianggap tidak lebih dari kumpulan pernyataan spekulatif yang jauh dari nilai ilmiah. Kedua, saya menyandingkan kata “embrio” dengan kata bijak. Dalam hal ini, nilai yang ingin saya tekankan adalah, bahwa kebijakan adalah sebuah sifat dinamis yang progresif. Dia adalah sifat mental yang tidak serta merta terwujud dan baku pada diri seseorang, melainkan sebuah sifat mental yang cenderung mengalami perubahan yang level kematangannya bisa berbanding lurus dengan proses itu sendiri. seseorang bisa saja bijak dalam satu hal namun belum bisa dikatakan bijak untuk hal yang lain. Tapi, biasanya sifat ini akan mengundang sifat positif lain sebagai sifat penyangga sehingga gradasi perbedaan tingkat kebijakan tersebut tidak menyolok dari satu hal dengan yang lainnya. Jadi, kata embrio menunjukan bahwa kebijakan seseorangpun akan terus bersifat “bakal” yang terus punya potensi untuk berkembang, terutama pada diri saya yang memang belum memiliki kebijakan yang dewasa. Dan poin kedua inipun tidak lebih dari poin satu yang saya utarakan sebelumnya. Ia juga bersifat teori pribadi…he..he…

Dimanakah letak kebijakan itu?.

Seorang muda masih kental idealismenya. Dengan idealismelah jiwa muda itu berkembang. Masa muda yang dekat dengan titik optimal segala hal ini memungkinkan banyak hal berkembang dengan baik (ingat perkembangan membutuhkan banyak energi) termasuk idealisme. Bentuk-bentuk ideal (cita-cita) yang tanpa batas sangat cocok dengan kecenderungan optimal yang memang  juga bersifat demikian. Jadi adalah lumrah jika masa muda identik dengan idealisme dan kata maksimal yang masih memungkinkan untuk dioptimalkan. Banyak sekali tulisan yang menjabarkan secara ilmiah maupun tidak seputar satu kata ini, namun intinya seperti yang saya utarakan didepan tulisan ini.

Merujuk pada sebuah kamus, artu idealisme adalah sebgai berikut idealism n. idealisme; idealism; hidup menurut cita-cita  (IndoDic, dilihat 22 april 2010).  idealisme nama lain dari cita-cita serta satu paket dengan  proses pencapaiannya yang  sudah pasti mengacu pada nilai baik yang bersifat universal penerimaanya. Bahasa sederhananya, idealisme menginginkan semua berlangsung sesuai dengan cita-cita, tanpa ada sedikitpun ruang yang memungkinkan terjadinya pergeseran pencapaian yang tidak sesuai dengan cita-cita. Memang hidup dengan gaya ini memiliki cita rasa tersendiri. hampir semua orang pernah berlewati masa-masa hidup dengan warna ini. Hidup dengan gradasi warna yang cukup bervariasi dari yang paling pekat hingga paling samar.

Namun, hidup identik dengan ketidak pastian (realisme), dia relatif (kecuali Allah yang memiliki sifat absolut, Maha suci Allah dari sifat sangkaan yang buruk), maka pemaksaan kita akan penggunaan sifat idealis sebagai acuan dalam perkembangan banyak hal dalam kehidupan akan terbentur sifat lain dari kehidupan yang berseberangan dengan sifat idealis tersebut. Alhasil, akan terjadi goncangan-goncangan akibat benturan tadi.

Pada dasarnya, benturan ini bisa dihindari ketika kita bisa memlihat dengan cermat  serta menempatkan masing-masing dijalur yang tepat agar bisa saling menyesuaikan dan bersinergi (itu ebih baik). Ibarat sebuah kurva, idealisme datang dari arah bawah dan realisme (kehidupan) datang dari atas, tugas kita adalah (sudah tentu dibangun secara sadar berdasarkan proses perkembangan tadi) mempertemukan keduanya pada suatu titik dan titik itulah tempat dimana kebijakan kita berada. Dalam mempertemukan itu kita dikoreksi dengan sebuah konstanta yang saya namakan “konstanta Illahia”. Konstanta ini menjadi parameter acuan baku untuk menjaga agar arah dan letak titik pertemuan itu bisa bersifat seimbang dan berdasar (memiliki acuan yang jelas).

sifat pertemuan kedua kurva ini bisa berbeda pada setiap orang, karena memang menggunakan input data (dari pengalaman masing-masing) yang berbeda. Namun ketika dikoreksi dengan Konstanta Illahia, titik tersebut bisa dipastikan berada pada satu daerah yang berdekatan.

Kesimpulan

Kebijakan adalah titik dimana bertemunya antara idealisme dan realisme pada diri seseorang dengan Nilai Illahia sebagai faktor koreksinya.

Mudah-mudahan apa yang kita temuakan selama hidup ini menjadikan kita semakin bijak. Sungguh berbeda penghuni neraka dan para penghuni syurga. Penghuni syurga itu memperoleh kemenangan (Qs. 59: 20)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s