The Indonesian “nasi goreng”

Prof kim langsung menggiring saya menuju pada sebuah obrolang ringan menjelang kelas tutorial berakhir. Minggu lalu, beliau memulai obrolan dengan menggambar peta indonesia versi potongan puzzle sederhana berserakkan. Sebuah peta pra sejarah beraliran abstrak..he..he. Kali ini, setelah menyerup segelas kopi hangat dari gelas disposable-nya, serta sembari menatap bukit (tepatnya sebuah tanah tinggi) yang berada tepat dibelakang kelas kami,  beliau serta merta menuju podium dan memulai obrolan siang itu.

“when I was at Germany, many restaurant sold Indonesian food also”.

“hmmm..one of the famous food was….e..e..e… Nas..”

“Nasi Goreng, Prof”. saya menebak yakin meski kata “masakan padang” sempat mendominasi otak dan menggelitik otot pita suara saya minta dilafazkan.

beliau tersenyum mengiyakan. sayapun tersenyum teringat banyak hal seputar nasi goreng.

Tak sekali ini saja saya mendengar  pengakuan jujur rekan asing saya tentang  nasi goreng sebagai salah satu makanan favorit dari Indonesia. Dilain kesempatan, teman korea saya dengan lugunya pernah berkata. ” wah saya ingin sekali suatu saat bisa mencicipi masakan mu, jaya”. Asoy….dan nasi goreng juga menjadi salah satu nama makanan yang dia ucapkan sembari air liurnya menganak sungai dalam sekejap (lebay mode on). Saya pribadi lebih banyak tidak percaya dengan fakta ini, dan hingga saat ini masih belum bisa percaya. Mustahil rasanya jika saya kemudian bisa ikut-ikutan mengagumi nasi goreng seperti kebanyakan orang. sungguh saya belum bisa percaya. terkait dengan ketidaksiapan saya untuk percaya ini,  saya sama sekali tidak bermaksud untuk menghina makanan. Insya’allah hal itu tidak akan terjadi. Saya paham betul bagaimana seorang muslim memiliki adab dalam interaksinya  dengan makanan. Saya hanya ingin mengatakan: ” jujur, saya takjub dengan fenomenan ini”.

***

Masa kanak-kanak  saya habiskan di sebuah desa kecil yang terpencil di provinsui Bengkulu. Rejang Lebong namanya. Sebuah desa subur nan permai dengan keindahan bukit barisan sebagai pagar alam alami wilayahnya. Di desa kami, nasi goreng merupakan masakan khas yang disajikan bila nasi “jatah” hari tertentu tidak berhasil dihabiskan keluarga. Dahulu, sebelum zaman sudah begitu canggih, rice cooker ataupun magic jar yang berfungsi sebaagi pemanas ataupun sekaligus penanak nasi belum seumum sekarang. Nasi biasanya dimasak dengan menggunakan dandang. Sebuah alat masak yang disertai penyekat datar sebagai pemisah antara beras dan air dalam sebuah wadah yang sama. Atau menggunakan panci (periuk-mirip nama salah satu pelabuhan di jawa ya?. Sebuah daerah pelabuhan di Jakarta Utara yang baru saja mengalami tragedi berdarah penggusuran: Koja), sebuah alat tanpa penyekat yang memungkinkan beras bercampur dengan air sehingga selalu dihasilkan kerak (lapisan nasi keras dan kering yang melekat dengan dasar wadah) disetiap proses menanak nasi.

Memasak nasi, membutuhkan keahlian khusus kala itu. Cukup “serius” perkara menanak nasi ini, apalagi proses menjaganya agar tetap hangat, punya cerita tersendiri. Sehingga, entah siapa yang memulai, dikeluarga kami -mungkin juga disemua keluarga di daerah kami- nasi goreng merupakan menu masakan alternatif untuk memakai ulang nasi yang tidak berhasil dihabiskan pada hari tertentu. Biasanya nasi ini akan dalam kondisi dingin (karena sudah semalaman berada jauh dari api) dan mulai sedikit mengeras sehingga secara fisik, sifat pulennya berkurang dan nasi menjadi mudah berderai. orang yang memulai ide nasi goreng ini cukup kreatif dan cerdas. Nasi yang sudah mudah berderai memungkinkan bumbu yang diberikan bisa bercampur dengan sempurna selama proses penghangatan kembali kala prosesi meracik nasi goreng tersebut berlangsung. Dan hal sebaliknya terjadi jika nasi yang digunakan masih hangat dan masih pulen.

Masih segar dalam ingatan saya, nasi goreng biasa saya santap dipagi hari bilamana kami memiliki sisa nasi hari kemarin. hmmm….yummy, dan ini menjadi peristiwa yang tidak sering terjadi. Keluarga kami termasuk keluarga yang tidak megajarkan anggotanya suka akan sikap berlebihan (sisa).  Maka selama masa paradigma nasi goreng sebagai menu alternatif berbahan nasi “sisa” ini, nasi goreng belum menjadi menu umum yang bisa dan biasa saya peroleh kapan saja.

***

Saat usia mulai beranjak dewasa. Kemandirian menjadi bagian dari hidup kami. Memasak, yang merupakan salah satu aktivitas untuk bertahan hidup, sudah tentu akan menjadi salah satu soft skill yang harus kami miliki. Tidak memandang apakah itu bujang (sebutan untuk laki-laki dewasa) atau gadis. Mereka bisa memasak. Tingkat kemampuannya pun tergantung dengan bakat dan minat masing-masing. Tetapi bisa dikatakan, apapun bakatnya, masing-masing kami menguasai standar minimal soft skill memasak ini. Dan memasak nasi goreng dengan gradasi kwalitas yang bervariatif termasuk dalam daftar minimal tersebut. masa-masa inilah kemudian mempercepat terjadinya pergeseran fungsi dan posisi nasi goreng tadi. Nasi goreng memiliki sifat praktis saji. Melimpahnya rempah-rempah di daerah kami, membuat bahan beras dan rempah saja sudah cukup menjadi sebuah hidangan yang lebih baik dari sekedar nasi putih atau mie instant yang kurang baik bagi kesehatan. Apalagi jika di dapur tersedia sedikit sumber protein berupa telur ataupun ikan kering. hmmmmm berbagai proses kreatif mendorong lahirnya revolusi nasi goreng. Nasi goreng perlahan menjadi menu yang bisa dan biasa diperoleh lintas waktu. Nasi goreng merdeka dari kata-kata masakan berbahan baku nasi “sisa”.

***

Demikian juka kala saya melanjutkan kuliah di Bogor. Nasi goreng sudah sedemikian terkenal sebagai “komoditi” dagangan baik dipagi maupun sore hari. Nasi goreng sudah nangkring di dalam kertas menu banyak kedai yang menjajakan dagangannya di setiap sudut pusat jajanan mahasiswa di sekitar IPB.  Jenisnyapun beragam, mulai dari nasi goreng gaya asli indonesia hingga racikan modifikasi akulturasi berbagai gaya masak dunia. Hmmm…ternyata nasi goreng sudah menjadi makanan lintas waktu dan budaya sekarang, dan saya rasa sudah menjadi wajar jika nama nasi goreng sudah bergema ditelinga para penikmat makanan dipenjuru dunia.

***

“Hmmmmm….yummy..i like nasi goreng” aklamsi Prof. Kim diakhir obrolan instan kami. Ya….obrolan se-instan pembuatan nasi goreng.

***

demikianlah cerita singkat saya seputar the indonesian nasi goreng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s