Sebuah kajian lengkap seputar GAY (II): Besarnya Kejelekan, Kekejian, dan Kengerian Perbuatan Liwath (Gay)

Besarnya Kejelekan, Kekejian, dan Kengerian Perbuatan Liwath (Gay)

Perbuatan dosa ini merupakan malapetaka yang berada di puncak kejelekan dan kekejian. Perbuatan ini tidak disukai, bahkan oleh binatang-binatang sekalipun. Kita hampir tidak menemukan ada seekor hewan jantan menyetubuhi hewan jantan lainnya. Namun ternyata, penyimpangan ini terjadi di kalangan manusia yang mana akal-akal mereka rusak, yaitu ketika mereka sudi menjadi pelayan untuk perbuatan ini yang berakibat munculnya kerusakan dan merebaknya bencana serta hilangnya rasa malu.

Besarnya kekejian dan kengerian perbuatan Liwath (homoseks) sangat jelas. Allah Subhaanahu wa ta’ala menyebut zina dengan faahisyah (فَاحِشَةٌ) dan menyebut Liwath dengan Al-Faahisyah (اَلْفَاحِشَةُ) . Perbedaan di antara keduanya begitu besar. Adapun kata faahisyah (فَاحِشَةٌ) dengan tanpa memakai huruf alif dan laam ( اَلْ ) adalah bentuk nakirah yang maknanya: zina merupakan satu perbuatan keji dari berbagai perbuatan-perbuatan yang keji. Dan, ketika masuk pada kata tersebut huruf alif dan laam ( اَلْ ) yaitu Al-Faahisyah (اَلْفَاحِشَةُ) maka ini adalah bentuk ma’rifah, yang mencakup semua nama dari perbuatan yang keji. Oleh karena itu, perbuatan ini disebut dengan setiap nama yang sifatnya jelek. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman:

“(Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?” (QS. Al-A’raf  [7]: 80)

Maksudnya adalah “kalian mendatangi” suatu perangai yang masing-masing manusia telah mengakui kekejian dan kekotorannya.

Kemudian, Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman tentang zina,

”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra [17]: 32)

Maka jelaslah bahwasanya zina merupakan salah satu macam dari perbuatan-perbuatan keji. Adapun Liwath adalah perbuatan keji yang padanya terkumpul berbagai kejelekan. Mungkin juga dikatakan bahwa pelaku zina adalah lelaki dan wanita yang terjadi penyimpangan tabiat fitrah di antara keduanya, lalu datanglah Islam untuk memperbaiki penyimpangan ini dan menghukuminya dengan batas-batas syariat serta jalan keluar yang hakiki, dengan menghalalkan nikah dan mengharamkan zina. Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mukminun [23]: 5-7)

Hubungan apa pun antara lelaki dan wanita yang keluar dari batasan ini maka itulah zina. Jadi, hubungan antara lelaki dan wanita merupakan seruan fitrah di antara keduanya. Adapun penyalurannya bisa kepada yang halal atau bisa juga kepada yang haram.

Beda halnya dengan apa yang terjadi antara lelaki dengan lelaki, pria dengan pria maka hal seperti ini tidak ada pada fitrah dan Islam tidak menghalalkan sesuatu apa pun darinya. Sesungguhnya perbuatan tersebut di luar fitrah dan tidak pula di sana ada tabiat yang mana seorang lelaki condong kepada lelaki lain. Dan jika terjadi sesuatu dari perkara ini itu berarti telah melampaui batas-batas hukum dan batas-batas tabiat kemanusiaan, bahkan telah melampaui hukum Allah Subhaanahu wa ta’ala yang Mahatunggal:

“Yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?” (QS. Al-A’raf  [7]: 80)

Sesuatu yang menakutkan dari perbuatan keji tersebut adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dari Mujahid,

” أَنَّ الَّذِيْ يَعْمَلُ ذَلِكَ الْعَمَلَ لَوِ اغْتَسَلَ بِكُلِّ قُطْرَةٍ مِنَ السَّمَاءِ وَكُلِّ قُطْرَةٍ مِنَ الأَرْضِ لَمْ يَزِلْ نَجَساً “

“Sesungguhnya seseorang yang melakukan perbuatan tersebut, seandainya ia mandi dengan setiap tetesan dari langit dan setiap tetesan dari bumi, tetap saja najisnya tidak hilang.”

Dan dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata,

” لَوْ أَنَّ لُوْطِيًّا اِغْتَسَلَ بِكُلِّ قُطْرَةٍ نَزَلَتْ مِنَ السَّمَاءِ لَقِيَ اللهَ غَيْرَ طَاهِرٍ “

“Walaupun seorang pelaku Liwath mandi dengan setiap tetesan dari langit, sungguh ia akan menghadap kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala dalam keadaan tidak suci.”

Sanad hadits ini hasan, adapun maknanya adalah bahwasanya air tidak dapat menghilangkan sebuah dosa yang amat besar, yang menjauhkan pelakunya dari Rabbnya Subhaanahu wa ta’ala. Intinya, betapa menakutkan perbuatan keji tersebut.

 sumber: Ruuhul Ma’aanii karya Al-Alusi, Jilid 8, hlm. 172.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s