Sebuah kajian lengkap seputar GAY (VI): Peringatan bagi para Pelaku Liwath (Gay)

Peringatan ini untuk siapa saja yang tertimpa penyakit yang beracun dan mematikan ini, khususnya bagi mereka yang menisbahkan (diri) kepada Islam, kami katakan:

Pertama, ketahuilah (semoga Allah Subhaanahu wa ta’ala menunjukimu) bahwasanya Rasulullah ` bersabda,

“لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ”.

Allah Subhaanahu wa ta’ala melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah Subhaanahu wa ta’ala melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah Subhaanahu wa ta’ala melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth.”[1]. Tidak ada (riwayat) dari beliau ` yang menyebutkan bahwa beliau ` melaknat pelaku zina sebanyak tiga kali dalam satu hadits. Sungguh beliau ` telah melaknat sekelompok dari pelaku dosa besar dengan tidak lebih dari satu kali laknat, tetapi beliau ` mengulang laknatnya terhadap pelaku gay dan beliau ` mempertegas dengan tiga kali penyebutan sebagaimana hal tersebut telah disinggung oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Jawaab Al-Kaafi. 

Kedua, hati-hatilah kamu, jangan sampai kamu menyimpan perbuatan keji itu dalam hati karena akan merusaknya. Terkadang perbuatan itu menyeretmu ke jurang kekafiran yang jelas, sebagaimana yang telah terjadi pada saudaramu akibat perbuatan keji tersebut, inilah kisahnya yang telah dinukil oleh Ibnu Qayyim dalam Al-Jawab Al-Kaafi halaman 191.

“Dahulu ada seorang lelaki yang terpikat dengan seorang pemuda yang bernama Aslam. Ia menyimpan kecintaan kepadanya dalam lubuk hatinya. Adapun Aslam menolak dan lari dari lelaki itu sehingga lelaki itu sakit dan terus berada di atas tempat tidur. Lalu, datanglah orang-orang yang menjadi perantara dan mereka berjanji bahwa pemuda (yang bernama Aslam) akan menjenguknya, kemudian lelaki itu merasa sangat senang dan hilanglah kesedihan serta rasa sakitnya.

Ketika ia berada dalam keadaan senang menunggu (kedatangan) Aslam, datanglah kepadanya perantara yang kedua untuk mengabarkan bahwa Aslam datang melalui jalan lain dan pulang sehingga tidak mungkin ia datang untuk menemuimu. Maka saat lelaki itu mendengar hal yang menyakitkan tersebut, kesedihan menyelimutinya dan sakitnya menjadi parah. Tampaklah padanya tanda-tanda kematian dan ia menyanyi memanggil pemuda yang bernama Aslam, ia berkata,

أَسْلَمُ يَارَاحَةَ الْعَلِيْلِ …

وَيَا شِفَاءَ الْمُدْنِفِ النَّحِيْلِ

رِضَاكَ أَشْهَى إِلَى فُؤَادِيْ …

مِنْ رَحْمَةِ الْخَالِقِ الْجَلِيْلِ

”Wahai Aslam, engkaulah sang pelipur lara…

Wahai engkau obat bagi orang yang menderita sakit keras [2]

 yang sangat kurus…

Keridhaanmu lebih diinginkan oleh hatiku…

Daripada rahmat Sang Pencipta yang Mahamulia….”

Kemudian, ada orang yang berkata kepada si lelaki yang itu: “Bertakwalah engkau kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala!”

Ia menjawab: “Sungguh (keinginanku pada Aslam) telah ada.” Kemudian ia pun mati.

Kita berlindung kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala dari su’ul khaatimah (jeleknya akhir hidup).

Wahai orang yang tertimpa penyakit ini!

Mati dalam keadaan apakah temanmu (ini)?

Sungguh Ibnul Qayyim telah menjelaskan bahwa penyakit dan rasa cinta ini terkadang bisa menjadikan kufur. Sebagaimana orang yang memanggil yang dicintainya dengan kecintaan seperti kecintaan kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, lalu bagaimanakah jika rasa cintanya lebih besar daripada kecintaan kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala? Maka rasa cinta yang seperti ini tidak akan diampuni pelakunya karena hal tersebut termasuk syirik yang paling besar dan Allah Subhaanahu wa ta’ala tidak akan mengampuni siapa saja yang berbuat syirik kepada-Nya. ,…”Dan terkadang seorang yang dirundung rasa cinta dengan terang-terangan (menyatakan) bahwa kedatangan orang yang dicintainya lebih ia sukai daripada tauhid kepada Rabbnya, sebagaimana yang dikatakan oleh lelaki kotor yang dirundung rasa cinta [3]

catatan kaki:

[1]  Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam Al-Ausath dan oleh Al-Hakim, ia berkata, “Sanadnya shahih dari Abu Hurairah secara marfu’ dengan lafal: “….. dilaknatlah siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth….” Beliau mengulangnya sebanyak tiga kali, sampai pada akhir hadits.

[2]  Yang menderita sakit keras maksudnya ialah seorang sakit yang menderita penyakit yang lama sampai menyusahkannya dan melemahkannya (Mukhtaar Ash-Shihaah 233 pada judul دنف).

[3]  Yang dimaksud di sini ialah seorang penyair bernama Al-Mutanabbi, ia mengira bahwa air liur kekasihnya lebih lezat daripada tauhid. Ia berkata,

“Aku menghirup air liur dari mulutku

Yang mana lebih lezat bagiku daripada tauhid.”

***

demikian tulisan bermanfaat ini saya repost di blog saya. Semoga tulisan ini menjadi tulisan yang membawa berkah dengan dirasakan manfaatnya. Mari kita saling mengingatkan dalam menuju kebaikan agar bersua di jannakNya kelak. Amin.

Saya ucapkan kepada seluruh pihak yang berjasa dalam tulisan ini. Maaf bila saya belum izin untuk mempost ulang tulisan di atas. jazakallah kahir jazaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s