secuil cerita di masa transisi winter-spring

Meskipun April sudah menjadi pusat perhatian seluruh manusia penghuni bumi di lembar kalender mereka masing-masing, Korea masih dilanda musim dingin. Februari dan Maret ternyata belum menjadi hari-hari yang cukup bagi salju untuk menyapa dan menghujani tanah gingseng. Suhu pun berorkestra menaik-turunkan air raksa pada celah tipis pipa termometer.  Terjadi simponi  tersendiri di jagat cakrawala Korea. Sementara ritme alunan musik musim yang berbeda telah mengalun indah di negeri tetangga. Bunga Sakura baru saja berdandan apik di ujung-ujung tangkai kuncup yang baru terjaga. Sementara di korea, suasana hangat negeri mata hari terbit baru bisa saya hadirkan dengan bantuan  sebuah jaket bulu angsa tebal. Menurut seorang teman korea, hal ini lumrah terjadi di Korea.

“ We have a unique winter. It gonna be long”

Maka tak heran pagi minggu pertama April yang lalu, salju masih bisa kami nikmati. Bahkan lebih indah dan eksotik. Salju turun beruntun, saya sempat mengira bahwa rangkaian salju tersebut merupakan salju penutup winter tahun ini. Bahkan di  jejaring sosial, teman-teman Indonesia di korea sudah berkomentar dengan sedikit nuansa klaiman bahwasanya salju kali ini merupakan salju terakhir pada cuplikan judul foto-foto hujan salju yang baru saja mereka frame. Diluar dugaan kami semua salju kembali melanda Korea selang beberapa hari setelah salju “terakhir” yang dikira sabagai penutup winter lalu. Dan benar adanya, ternyata  salju yang satu ini benar-benar menjadi salju terkahir bagi kami (sejauh tulisan ini dipublikasikan).

tahukah kawan mengapa perkara salju terakhir atau salju penutup ini amat berkesan bagi saya?. demikian ceritanya.

Hamparan bukit landai dan terjal Korea kembali diselimuti kapas putih mempesona. Pohon-pohon gundul sempurna dan suram kala telanjang mendadak berubah menjadi pohon “syurga”. Jika kawan pernah menonton bagaimana syurga diimaginasikan oleh para pembuat film layar lebar, demikianlah indahnya suasana selepas hujan salju “ganjil” ini berlangsung. Sulit rasanya saya memilih kata yang tepat untuk mengejahwantahkan keindahannya dalam kata-kata.

Sekumpulan kristal salju bersih bersekutu apik dengan tangkai-tangkai ranting yang kosong. Ranting yang semula indah berangkai daun dan bunga menerima taqdirnya untuk menyendiri sepanjang musim gugur dan salju. Terjadi ikhtiar yang hanya dipahami bangsa pepohonan. Mereka harus melakukan gerakan berhemat energi selama musim gugur dan salju. Dalam kondisi ini kesungguhan berhemat menuntut pengorbanan dan mereka sangat mengerti mana yang ahrus bertahan dan mana yang dihilangkan. Bunga dan dedaunan sebagai bagian yang paling mudah beregenerasi menjadi tentara siap mati untuk kehidupan selanjutnya. Hmmm, sungguh sebuah kosep manajeman prioritas yang laur biasa. Dengan kemampuan ini, umat manusia kemudian masih misa menikmati keindahan dan manfaat yang mereka beirkan melalui buah meski musim berubah-ubah sepanjang tahun dan sejarah. Seakan mengerti kegundahan ranting-ranting yang kosong, maka kristal saljut mencoba menghiburnya dengan berimitasi menjadi sekuncup bunga dan sehelai daun terbuat dari salju. Persekutuan itu terjadi disetiap titik dimana salju bisa menyentuh ranting dan batang. Serta merta mewujudlah flora kayangan serba putih yang memanjakan mata. Subhanallah. Orang korea menakam flora temporer ini dengan sebutan nun kkot (nun: salju, kkot: bunga. Korea).

Mungkin pagi itu menjadi pagi terindah saya sepanjang winter tahun ini. Rasa penat pekerjaan yang dibebankan kepada otak saya dari hari kehari seakan menuap dan digantikan oleh kehadiran berjuta-juta lapis perasaan yang indah kala melihat pemandangan serba putih tersebut. Tak hanya mata yang dimanjakan oleh warna putih yang serba bentuk. Kaki saya pun digelari permadani putih lebut yang lebar membentang tanpa batas. Subhanallah, hanya jeritan ekspresi ini yang bisa saya lantunkan saat berbagi perasaan bahagia ini. Kebahagian tersebut terasa sedemikian alami. Kebahagian serta merta yang muncul jauh dari rencana untuk membahagian diri. Kebahagian diri yang sekan menyentuh langsung nilai kefitrahan bahwa saya suka hal yang indah-indah. keindahan yang merdeka dari tipu-tipu dan imitasi sikap untuk menyembunyikan maksud tertentu dari keindahan itu. Dalam konteks ini pemandangan hamparan salju dimana-mana inilah yang begitu teramat indah. Sungguh saya belum merekam hal seindah ini sejak salju pertama saya menyetuh bumi tanah gingseng . Saya takjub.

Sungguh Allah saja yang berkuasa atas terciptanya keindahan dari sejak permulaan penciptaanya hingga munculnya perasaan pada diri manusia bahwa keindahan itu memang sebuah hal yang menentramkan jiwa. Saya menjadi begitu terpesona dengan setitik keindahan dunia tersebut. Dapatkah kita membayangkan bagaimana nanti ketika kita secara fisik menyaksikan sebuah keindahan yang belum pernah kita bayangkan keindahannya?. Sudah oasti akan benar-benar belum bisa kita bayangkan perasaan yang akan kita temukan. Hanya satu yang bisa saya ketahui. Perasaan itu akan pasti jauh, jauh sekal,  lebih dari perasaan yang saya temui kala menikmati nun kkot yang sedang bermekaran ini. Subhanallah dan hanya Allah saja yang mengetahui keadaannya setelah itu.

Bulan April pun bergulir perlahan. Secara bertapak, tanggal satu berubah menjadi sepuluh. Sepuluh bermetamorfosis menjadi kepala 2. Dan hari ini, kepala dua berada pada akhir transisinya menjadi kepala 3. Sungguh sebuah perubahan perlahan namun pasti kedatangan dan pergulirannya. Pada minggu-minggu terakhir bulan April ini pun, meski salju sudah tidak menyambangi Korea lagi, simponi suhu masih berdentum tegas naik turun. Kehadiran angin sepoi turut mendramatisir suasana peralihan ini. Seakan penuh konspirasi, semua faktor abiotik cuaca berusaha menghadirkan atau tepatnya membiaskan nuansa khas masing-masing musim. Sehingga secara pribadi, saya berpendapat bahwa antara musim gugur, dingin dan semi di Korea nyaris sama setali tiga uang. Satu hal yang menjadikan mereka tidak berbeda satu sama lain: suhu yang dingin. Jadi, meski Sakura sudah berunjuk keindahan serta diikuti oleh pesona hijau daun muda yang mengantikannya setelah mereka berguguran. Suhu dingin masih saja mengepung Korea dari berbagai penjuru mata angin. Alhasil, saya –laki-laki tropis yang tersesat di negara empat musim ekstrim ini- masih harus berakrab ria dengan perlatan tempur musim dingin hinggah akhir penghujung tanggal kepala dua bulan April ini.  Hal itu terus berlangsung sepanjang bulan di musim semi, meski tidak sesering musim dingin yang menjadikan perlatan tempur tersebut terlihat sebagai aksesoris wajib pakaian harian saya.

Saya jadi teringat akan kejadian singkat kala seorang tamu dari Indonesia berkunjung beberapa hari yang lalu. Menjelang malam menyapa Korea, kami sudah menginjakan kaki di Bukit Itaewon. Lokasi bukit yang relatif tinggi menjadikan angin yang sampai menyentuh masjid Itaewon adalah jenis angin berdaya hembus tinggi. Karena mereka masih membawa udara yang dingin, kosekuensinya ia akan diterjemahkan sebagai angin yang amat dingin oleh syaraf-syaraf tubuh kala menyentuh kulit manusia. Saya dan rekan (yang sudah ditempa oleh musim dingin Korea) sudah tidak terlalu menghiraukan “godaan” suasana dingin ini. Namun saya lupa, jika diantara kami ada seorang tamu yang kebetulan tidak berbekal alat tempur musim dingin kala itu. Saat kami  menapaki anak tangga masjid Itaewon satu persatu, saya mendengarkan sebuah ungkapan yang lebih syarat dengan kesan mengaduh ketimbang pernyataan yang bersifat informatif.

“Wah….saya dingin sekali” dengan suara bergetar

(to be continued…..)

2010, April 28. Apate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s