Menjenguk Mas Herlambang

Saya baru saja mengecek email malam itu. lima judul email bercetak tebal langsung menjadi perhatian saya. Email tersebut baru saja bergabung dengan email-email lain di dalam inbox. Dua diantaranya sudah ada di sana sejak beberapa hari yang lalu. Memang, setiap liburan akhir minggu saya mengecek email tidak sesering hari kerja, kecuali jika ada sesuatu yang sangat penting. Seperti malam itu, saya menyempatkan diri untuk mengecek email karena seseorang meminta saya untuk melakukannya melalui pesan singkat.

Satu email yang menjadi bahan pembicaraan saya dan keluarga besar Boemgye setelah browsing adalah perihal perkembangan terakhir Mas Herlambang.

Akan saya perkenalkan terlebih dahulu kepada kawan semua siapakah mas Herlambang. Beliau salah satu angggota keluarga besar masyarakat Indonesia yang berdomisili di Daejon city. Beliau sedang mengikuti program master di KAIST dengan sponsor sebuah lembaga yang bernama KINS (Korea Institute Of Nuclear Safety). Beberapa bulan yang lalu mas Herlambang mengalami stroke yang memaksa beliau untuk menjalani perawatan di salah satu rumah sakit swasta di daejon: Eulji University Hospital. Selama beliau dirawat banyak dukungan datang secara terus menerus kepada beliau dan keluarga -semoga Allah sebagai pemberi balasan memberikan balasan paling baik bagi semua kawan-kawan Indonesia-. Sempat tersiar kabar bahwa mas Herlambang mengalami kemajuan yang cukup pesat menuju pemulihan. Namun, sebuah berita kembali tersebar di milis masyarakat Indonesia, bahwa beliau mengalami stroke kedua beberapa bulan yang lalu. Terkahir dikabarkan kembali bahwa beliau mengalami kerusakan batang otak. Batang otak pada manusia secara umum berfungsi untuk menjalankan aktivitas primitif seperti bernapas, bicara dan lain-lain. Dengan demikian mas Herlambang yang sempat keluar dari ruangan ICU harus kembali dirawat di sana (ya Allah semoga engkau, yang memiliki kuasa atas hidup dan mati mahlukMu di Dunia, memberikan kebaikan yang paling baik atas beliau dan keluarganya…amin Ya Rabb).

Maka malam itu, tercetuslah sebuah ide dalam diskusi seputar mas Herlambang yang menghantarkan kami pada sebuah kesepakatan bersama: sore ini (8 Mei 2010) juga kami akan segera berangkat ke Daejon untuk menjenguk beliau. Diskusi super singkat diakhiri. Bang Firman, seorang Project Engineering Manejer (?) sebuah perusahaan multi nasional milik Korea, segera bertindak dengan gaya khasnya. Beliau mencoba untuk mengatasi beberapa poin pertimbangkan terkait dengan keberangkatan kami yang mungkin akan membutuhkan waktu perjalanan sekitar 2 jam dengan subway. Deringan telpon yang sahut menyahut menambah seru suasana persiapan. laptop dengan koneksi nirkable pun kejar mengejar menampilkan informasi yang kami cari.

Sementara bang Andrey juga sibuk melakukan tindakan yang sama untuk merancang langkah strategis agar kami bisa mencapai Daejon tepat  waktu dengan langkah yang paling tepat. Sudah pasti Bang Andrey melakukannya dengan gaya dan pola yang berbeda dengan bang firman. pertimbangan waktu tempuh menjadi sangat penting karena kami ingin sampai di Daejon sebelum waktu jenguk malam hari usai.

Saat jarum panjang jam dinding telah menunjukkan angka 6 lewat beberapa menit kami mulai bergerak turun meninggalkan lantai 21 Acrotower. Kami berkumpul beberapa saat di lantai dasar untuk menunggu mas Syaefudin-seorang anggota keluarga besar Beomgye yang lain- yang juga akan ikut bergabung bersama kami. Subhanallah, betapa indahnya ukhuwah itu. Meski mas Syaefudin baru saja pulang dari Indonesia hari ini bersama istrinya, beliau tanpa banyak berfikir, berinisiatif untuk berganbung bersama kami.

Dari usaha persiapan tadi, kami sepakat akan berangkat ke daejon dengan menggunakan KTX (sebuah kereta api super cepat korea). Dari perburuan informasi Kak Elok-untuk menghemat waktu, bang andrey meminta istrinya, untuk memburu informasi seputar KTX sejak kami berdiksui di lantai 21 tadi hingga kami bergerak turun. Dengan demikian ibarat core duo, kami bisa multi task dalam membangun langkah dan opsi agar sampai di Daejon tepat pada jam besuk malam (7.30-8.00 KST). Maklum tak satupun dari kami pernah ke Daejon dengan segala jenis subway. Dengan demikian informasi yang lengkap seputar subway untuk pergi ke Daejon sangat kami perlukan. Waktu yang terbatas tidak memungkinkan kami berlama-lama untuk satu persoalan. Jadi meski kami sudah bergerak keluar dan menunggu mas Udin, info lengkap seputar KTX bisa terlengkapi dengan baik melalui bang andrey yang terhubung dengan istrinya,  kak elok, melalui Hp.

Kesimpulan akhirnya adalah  kami akan berangkat melalui stasiun suwon. Beomgye-suwon merupakan jalur paling pendek untuk menjangkau jalur KTX yang memang tidak melalui semua jalur subway metro Seoul. Setelah mas udin datang kami segera berangkat. Hanya butuh beberapa menit, kami sudah sampai di Suwon yok (stasiun kereta). Masing-masing kami berusaha mencari penunjuk arah yang bertulis KTX. Tetapi kami hanya menemukan tulisan Mungguhuwa dan Saemaeul. Dua kereta ini adalah jenis kereta penghubung Seoul dan kota-kota yang berjarak cukup jauh. Mungkin bisa dikatakan seperti kereta agro-agroan di Indonesia🙂. Semaeul adalah jenis kereta yang berkecepatan dibawah KTX dan berada diatas Mungguhuwa. Dari info yang saya dapat waktu 2 jam untuk Mungguhuwa dan 1.5 jam untuk Saemeul. Kami tidak langsung percaya dengan fakta yang kami temui saat itu. Bang Firman segera bertanya kepada orang Korea yang kebetulan berada di dekat kami. Degan bahasa inggris yang payah,orang korea tersebut memberikan informasi bahwa KTX tidak berhenti di suwon.Dengan demikian kami tidak mungkin berada di Daejon dalam waktu 45 menit saja. Artinya kami tidak akan mungkin bisa masuk menjenguk mas Herlambang malam ini. Untuk bertemu keluarga beliau saja menjadi tidak mungkin karena pasti mereka sudah istirahat pada jam yang sudah cukup larut tersebut.

Maka kami akhirnya sepakat bahwa perjalanan kami akan berhenti di Suwon. rencana berangkat ke Daejon akan ditunda hingga besok. Kami akan berangkat dari Boemgye tepatnya pukul 6.00 am KST. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan dengan tujuan Beomgye yok menuju apartemen. Saat itu jam yang berada di stasiun Suwon subway telah menunjukan puku 7.05 PM KST. Sembari menunggu subway, kami menyempatkan diri untuk menikmati oleh-oleh mas Udin berupa Bika ambon dan Bakpia Yogya.

Subhanallah nikmatnya. Mashaallah..kami merengkuh banyak nikmat sore itu. Nikmat ukhuwah yang menggelora, nikmat bisa berusaha optimal dan sudah tentu nikmat makan makanan Indo yang -insya’allah- jauh dari rasa was-was ketika memakannya. Ya…Allah semoga kami menjadi orang-orang yang bersyukur atas nikmat Mu yang tak terkira dan semoga nikmat yang sama bisa kau limpahkan bagi saudara kami Mas Herlambang yang sedang terbujur kaku di sebuah ruang ICU di negeri gingseng ini. Semoga kami bisa bersua mas Herlambang besok, Amin.

One thought on “Menjenguk Mas Herlambang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s