Korea: Negara Laboratorium Indonesia Dalam Pembangunan Karakter

“Jika yang mulia memaksa saya untuk membunuh putra mahkota yang sedang sakit, maka mati adalah pilihan yang terbaik untuk saya. Terima kasih, baginda telah menolong saat saya berada dalam masa-masa sulit” (Daeng Jang Geum, Jewel In the Palace, Indosiar 2006)

 Kalimat tersebut memberikan kesan tersendiri bagi saya. Kalimat yang menggambarkan ketegaran berkarakter kuat dari pengucapnya. Di dalamnya tersirat sebuah keberanian untuk lepas sekaligus menghentikan rencana pelanggaran terhadap nilai-nilai kebaikan. Kita kemudian tersadarkan pada sebuah realita. Bila kita ingin tetap bertindak sesuai dengan nilai-nilai kebaikan sebagai prinsip hidup, maka dibutuhkan keberanian untuk berkorban. Bahkan atas nyawa kita sekalipun. Perjuangan Daeng Jang Geum sebagai tokoh heroik film tersebut mengilhami saya. Menurut saya untuk membangun sebuah karakter. Kita membutuhkan inspirasi nilai kebaikan yang dapat datang dari berbagai sumber. Saya sempat berdiskusi dengan profesor Soo dari Chung ang University (CAU). Beliau profesor berkebangsaan korea yang menekuni bidang literatur. Melalui beliau saya mengetahui bahwa persiapan yang matang dan serius telah dilakukan pihak produsen untuk memproduksi film tersebut. Film yang bercerita tentang perjalanan hidup seorang dayang istana hingga menjadi wanita pertama yang dipercaya untuk merawat raja ini, memang tidak seratus persen sama dengan tulisan sejarah. Namun yang menarik adalah bagaimana pembuat film mampu menyuguhkan sesuatu yang tidak utuh, menjadi sesuatu yang menyatu padu hingga terkesan nyata dan membekas. Sang profesor mengatakan kepada saya, Korea yakin infiltrasi budaya untuk mempertahankan posisi budaya negara diera bebas akan sangat efektif bila dilakukan melalui dunia perfilman. Maka jangan heran bila dalam beberapa dekade yang akan datang Korea akan menjadi salah satu negara produser film dunia. Mereka memiliki ambisi yang terbungkus spirit misi jangka pendek dan jangka panjang yang seimbang. Korea adalah negara yang mau dan cepat untuk belajar dari kesuksesan negara lain. Melihat Jepang sukses dengan bisnis manga dan perfilman. Korea ikut merambah bisnis serupa setelah berhasil membangun bisnis berbasis teknologi. Strategi yang dilakukan Korea adalah memproduksi produk berkualitas tinggi dan konsisten, serta bercirikhas unik. Alhasil Korea mampu masuk ke pasar dengan brand image yang kuat. Startegi ini akan mengenyampingkan persaingan, sebaliknya akan menciptakan sekat pasar. Maka penguasa pasar yang telah ada sebelumnya harus mau berbagi pasar dengan pendatang baru tersebut. Bangsa Korea sering menjadi salah satu negara pembanding yang saya gunakan ketika berdiskusi dengan adik kelas di kampus. Menurut saya hal yang terbaik untuk dilakukan terhadap keberhasilan orang lain adalah menyarikan poin penyebab keberhasilan mereka dan mengadopsinya. Saya lakukan hal tersebut sebagai wujud nasionalisme terhadap Indonesia. Bukan sebaliknya, bangga dan menjadi orang yang over minded buta terhadap Korea. Dalam pandangan saya Korea nyaris menjadi negara kembaran siam Indonesia. Bulan Agustus 1945 menjadi peristiwa penting tersendiri bagi kedua bangsa. Warna budaya ketimuran dan nilai-nilai kebaikan yang menjiwainya acap kali saling bermiripan. Namun keadaan sekarang adalah Indonesia masih menjadi negara dunia ketiga dengan segala gelar keterpurukan yang begitu lamban untuk belajar menuju perbaikan. Sedangkan Korea sejak tahun 1998 dengan begitu dinamis bergerak meninggalkan keterpurukan ekonomi dunia hingga menjadi salah satu macan Asia.

Korea hari ini adalah negara yang terus belajar dan berkembang menjadi negara industri utama dunia (www.wikipedia. org). Korea adalah negara yang berkarater kuat. Negara yang rakyatnya mampu mensingkronkan antara visi jangka pendek dan jangka panjang. Nilai-nilai yang mereka pegang mampu terjaga hingga tataran aplikasi. Motto negara: bawalah keuntungan kepada seluruh rakyat, seakan menjadi pertimbangan dalam bertindak. Sebagai contoh Korea pernah menjadi negara yang mengambil langkah moratorium selama 10 tahun terhadap WTO sebagai usaha melindungi petani padi dalam negeri dari liberalisasi pasar padi dunia (kompas 29/11/2005). Mereka mempertimbangkan poin visi jangka pendek dan panjang seseimbang mungkin. Menjadi bagian komunitas perdagangan dunia dengan menjadi anggota WTO adalah sebuah keniscayaan. Namun bukan berarti kepentingan rakyat tidak dapat dilindungi. Moratorium menjadi pilihan yang paling bijak bagi Korea. Indonesia seharusnya belajar dari Korea atas tindakannya yang langsung mengambil langkah liberalisasi pasar beras sejak menjadi anggota WTO pada tahun 1998. Mungkin pertimbangan visi jangka pendek Indonesia untuk diterima dan mendapat fasilitas dari WTO lebih mendominasi, dari pada visi jangka panjang Indonesia melindungi petani padi dalam negeri semaksimal mungkin .

Contoh lain yang cukup sederhana namun penting untuk dipelajari. Kebanyakan orang Indonesia bahkan dikampus sebagai tempat terkondusif sekalipun, tidak memiliki prinsip untuk bertanggung jawab pada kondisi setelah apa yang mereka lakukan. Hari ini kita cukup kesulitan untuk menjumpai orang yang memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab terhadap sampah pribadi, merapikan kembali fasilitas umum setelah digunakan, apalagi aktif menjaga kondisi lingkungan agar tetap bersih. Dominasi kepentingan pribadi yang ada adalah kenyamanan hanya untuk saya dan tugas menjaga kebersihan telah diserahkan kepada petugas yang telah digaji. Presepsi demikian muncul sebagai hasil pertimbangan visi jangka pendek yang terlalu berlebihan. Sehingga mereka menjadi acuh terhadap visi jangka panjang: menjaga lingkungan sangat penting bagi diri saya dan orang lain yang muara manfaatnya justru akan kembali kepada diri saya. Berbeda dengan orang Korea. Mereka merasa sangat bertanggung jawab terhadap kondisi pasca apa yang mereka lakukan. Ketidakrapian dan ketidakyamanan ruang rapat yang akan timbul setelah digunakan, menjadi perhatian mereka. Seorang motivator nasional sekaligus pelaku bisnis Indonesia pernah bercerita. Sulit bagi kita menjumpai perbedaan atara kondisi ruangan sebelum dan sesudah digunakan pada sebuah perusahan Korea. Mereka akan segera merapikan setelah menggunakannya. Hal tersebut pernah secara langsung saya jumpai ketika rombongan mahasiswa Korea berkunjung ke kampus saya. Kamar mereka sungguh berbeda keadaannya dengan kebanyakan kita jika sedang berkunjung dan tinggal beberapa hari di sebuah penginapan. Prinsip rapi bukan keutaman karena kita hanya tinggal beberapa saat, sepertinya tidak mereka gunakan karena bagi mereka visi jangka panjang untuk tetap nyaman dan memberi kesan yang baik kepada tuan rumah sangat mampu diseimbangkan dengan visi jangka pendek mereka: kami harus nyaman tinggal di tempat orang lain sebagaimana jika tinggal di tempat sendiri. Hal tersebut sederhana, namun akan sangat mempengaruhi cara kita bertindakan dalam segala aspek kehidupan. Termasuk usaha untuk membangkitkan dan menjaga kemajuan bangsa. Karakter sangat berperan besar untuk misi tersebut. Dan hanya orang-orang yang berkarakter kuat sajalah yang mau memilih mati demi kemulian negaranya. Komitmen yang pernah dijumpai pada para pahlawan bangsa kita untuk membebaskan negara ini dari tangan penjajah.

Bangsa Indonesia juga merupakan negara yang dibangun oleh karakter yang kuat. Sayangnya karakter itu mulai terkikis secara perlahan, tetapi Indonesia masih memiliki semangat untuk memperbaiki diri dan ini adalah karatekter penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Dalam perkembangannya alangkah baik jika bangsa Indonesia mau belajar dari Korea melalui kerja sama bilateral. Korea mengerti benar bahwa pendidikan merupakan faktor yang mampu membangun dan menjaga karakter, maka Korea lebih memilih laboratorium sebagai riset senter dibandingkan hutang ketika dahulu pernah ditawarkan bantuan oleh pihak asing. Indonesia dengan potensi geografis dan kebhinekaan akan menjadi partner yang baik bagi Korea untuk saling mengisi. Karakter dibangun oleh pengalaman, maka dibutuhkan kooperasi yang intim antara dua negara yang nota bene besar dari pengalaman yang berbeda. Koloborasi kerja yang dapat dilakukan mencakup banyak hal. Misalnya upaya bersama membrantas korupsi yang dilakukan antara Komisi Pembrantasan Korupsi Indonesia dan Korea Independent Commission Againts Corruption secara lebih intensif. Kerja sama bidang ekonomi dan perdagangan yang menyentuh aspek karakter maju secara bersama-sama. Bahkan Indonesia dan Korea dapat merancang sharing strategy dalam upanya menstabilkan kondisi keamanan negara. Terkait dengan krisis semenanjung Korea, Indonesia mempunyai reputasi baik sebagai juru damai. Atau bentuk kerja sama lain mengingat Korea dan Indonesia berada di benua yang sama. Diharapkan suatu hari nanti kedua negara akan banyak mengambil manfaat. Indonesia akan banyak belajar untuk mengasah kembali kekuatan nilai-nilai yang telah ada selama ini. Membangun sebuah karakter kuat yang menghujam dalam kondisi apapun. Harmonisasi akan menyelimuti kedua negara dalam prinsip kerja sama yang saling menguntungkan, karena bangsa yang berkarater kuat tidak akan berfikir untuk merugikan orang lain. Kedua negara berpotensi menjadi negara maju yang memiliki visi saling memajukan. Jadilah Indonesia-Korea sebagai negara pembaharu yang berkarakter kuat.***

2 thoughts on “Korea: Negara Laboratorium Indonesia Dalam Pembangunan Karakter

    1. syahjayasyaifullah says:

      wah….terima kasih kunjungan dan masukkannya….ternyata posting ini masih “available” ya?….:( padahal sudah di”tutup” kemarin. maklum bro, tulisan jadul. sebuah tulisan yang saya tulis kurang lebih 7 tahun yang lalu.
      berantakan ya?, insyaAllah akan diperbaiki

      terima kasih sekali lagi…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s