Sebuah renungan: betapa buruk cara pembelaan diri (saya)

Beberapa rekan di korea sudah melakukan defence masternya. Dalam bahasa indonesia, defence berarti pembelaan. Iya, mereka melakukan pembelaan ide, proses serta hasil dari penelitiannya. Sederhananya mereka mengikuti sebuah sidang hasil. Jika mereka mampu mempertahankan apa yang mereka tulis dalam laporan akhir, maka mereka selanjutnya berhak menyandang gelar master sesuai bidang mereka masing-masing setelah mengumpulkan laporan akhir yang sudah diperbaiki. hmmmmm, tak terasa sudah 2 semester saya di Korea. Ini berarti waktu yang tersisa untuk saya menuju hal yang sama tinggal satu tahun lagi….hmmmmmm (membuang nafas panjang)…tidak terasa, waktu satu tahun singkat juga.

Ngomong-ngomong tetang pembelaan. Saya jadi teringat dan tepatnya ingin sekali introspeksi diri pribadi terkait dengan satu kata ini. suatu saat saya sempat menemukan sebuah artikel menarik seputar pembelaan. Namun kajian pembelaan kali ini bukan terkait dengan tesis dan sidang ujian akhir. pembelaan kali ini berkaitan dengan ilmu psikologi manusia. Pembelaan yang dimaksud adalah proses pembelaan diri seseorang ketika secara mental dia merasa terpojok. Secara naluri kemanusiannya seseorang yang berada dalam kondisi “tersalahkan” akan melakukan sebuah pembelaan diri terhadap aksi koresi tersebut. Ini terkait dengan perkara eksistensinya secara individu. memang demikianlah pola reaski umum sosok mahluk berakal bernama manusia terhadap sebuah aksi luar yang bernama koreksi. jadi kata pembelaan dalam topik ini amat dekat dengan kata kesalahan diri.

sebelum membahas lebih jauh. Saya ingin menyamakan dahulu pemahaman kita akan kata aksi koreksi dari luar. Secara alami manusia adalah mahluk yang diciptakan dalam kondisi sempurna. Sempurna rupa, mental dan lainnya. Sudah pasti kesempurnaan yang dimaksud adalah kesempurnaan yang dibatasi oleh nilai kesempurnaan Tuhan. Artinya kesempurnaan yang dimaksud adalah sebaik-baiknya bentuk dalam kadar kemahlukan manusia itu sendiri. kebaikan ini menjadikan manusia memiliki fitrah senang dengan segala hal yang berpredikat baik. Bahasa mudahnya, manusia jika disuruh memilih pasti ingin senantiasa berada dalam kondisi bahagia ketimbang kesedihan. Hubunganya dengan aksi koreksi dari luar adalah koreksi merupakan sebuah energi luar yang bisa menyebakan terjadinya gerakan perubahan yang mengusik kondisi kenyamanan yang disenangi bergerak kearah kondisi tidak nyaman. Nah, dalam kondisi demikian manusia dengan kefitrahannya akan mencoba mengembalikan perubahan tersebut dengan berbagai cara yang manifestasinya berkaitan erat dengan  kualitas  sang aktor aksi.

Hal yang menarik adalah bukan perkara salah atau benarnya seseorang ketika  melakukan pembelaan ketika dia diberikan reaksi koresi bersalah dari luar. Dalam pandangan saya, yang menarik adalah  bagaimana orang tersebut melakukan pembelaanya.

dalam artikel yang saya baca, warna kepribadian seseorang dapat terlihat dengan mudah ketika dia melakukan pembelaan diri yang acap kali bersifat reflek ini. Warna tindakan refleks sering kali sangat alami. Hanya dipengaruhi oleh sesuatu yang benar2 telah menjadi bagian dari karakternya. ketika seseorang merasa eksistensi kebenarannya diusik oleh reaksi dari luar maka acap kali pola pembelaan yang unik bisa kita rekam dan lihat dengan sangat jelas tepat sesaat dalam rentang waktu yang masih bisa dikategorikan sebagai waktu “sesaat” setelah kejadian.

berikut pembagian tipe manusia terkait dengan gaya pembelaan diri. Ada manusia yang melakukan pembelaan diri  secara membabi buta dan cenderung agresif tanpa konsep. Maksudnya tipe ini akan melakukan pembelaan diri dengan berbagai cara yang titik tekan tindakan pembelaanya bertumpu pada pencitraan diri bahwa dia tidak mau terlihat sudah bertindak salah. tipe ini, biasanya akan terlihat sebagi sosok berwatak keras. Ada pula tipe yang melakukan pembelaan diri dengan tujuan yang sama dengan tipe sebelumnya namun sedikit lebih terkonsep sehingga masih terlihat cerdas. biasanya tipe ini terbentuk dari proses panjang pembiasaan diri dengan pola yang sama dalam memberikan pembelaan diri dari kesalahan-kesalahan yang terjadi dimasa lampau. Ibarat kata, tipe kedua ini bisa dikatakan lebih terlatih dari tipe satu. Manusia tipe ini akan terlihat sebagai manusia yang pintar sekali mengeles atau bersilat lidah. Tipe terakhir adalah tipe yang tidak mempermasalahkan tujuan akhir proses pembelaan dirinya. tipe ini lebih memperhatikan esensi pembelaannya. Tipe ketiga ini, tipe manusia yang melihat bahwa proses pembelaan adalah bagian dari proses pendewasaan diri yang dibayar mahal melalui peristiwa  kesalahan yang baik sengaja maupun tidak telah dia lakukan.  Makan orang tipe ini akan terlihat sebagai sosok manusia bijak nan terbuka dalam menerima masukkan orang lain. Tipe ini bisa dikatakan tipe manusia yang paling cerdas (karena biasanya tipe ini akan membangun proses diskusi sebelum dia menerima bahwa dia telah berbuat salah) dan beruntung dibandingkan dengan  tipe sebelumnya. Dan yang terakhir adalah tipe pembelaan tanpa argumentasi. Tipe ini selalu menerima aksi  pengusikan eksistesi diri melalui reaksi koreksi kesalahan pada dirinya tanpa melalui sebuah proses diskusi yang mestinya merupakan bagian dari proses pembelaan tersebut. tipe terakhir ini akan terlihat sebagai sosok yang nrimo apa saja yang orang sampaikan kepadanya meski pada hakikatnya dia tidak peduli dengan hal tersebur. Dan tipe terakhir ini menjadi sebuah bagian tipe paling baik ketika tipe ini berhibridisasi (bergabung) dengan tipe empat. Memang kadang kala proses pembelaan diri tidak mesti harus berbentuk diskusi pembelaan yang lebih cenderung menimbulkan kesan tidak mau menerima koreksi orang lain.

Dari kategorisasi jenis manusia yang didefinisikan dengan menggunakan parameter gaya pembelaan diri di atas, akan kita temui jenis manusia yang mampu melakukan perbaikan diri dengan sumber aksi koreksi dari luar dirinya dan tidak.  Maka beruntunglah orang yang senantiasa mau memperbaiki diri dari waktu kewaktu melalui proses kesalahan yang dia lakukan.

Nah….saya punya banyak cerita seputar pembelaan diri ini……akan saya lanjutkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya…..bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s