Permulaan Ramadhan ku Kali ini: BEDA

was taken by sadjada spring 2010 at wheat korean villager garden

Tepat tanggal 10 Agustus 2010. Hay..hay… Besok sudah Ramdhan menjelang rupanya. Sekirannya di Indonesia, nuansa Ramdhan akan terasa teramat kental. Saya teringat dengan beberapa momen penyambutan Ramdhan tahun berulang yang saya rasakan hingga beberapa tahun terakhir sebelum mengasing di tanah gingseng. Di sebuah kampung pelosok Bengkulu yang bernama Curup misalanya. Berkali-kali saya menghabiskan masa Ramadhan bersama banyak masakan penggugah selera buatan ibu yang dijumpai kala sahur hari pertama. Grafik kesibukan operasional rumah tangga olehnya akan menjadi sedikit meningkat menjelang Ramadhan. Hmmm..sungguh sebuah hal yang cukup tersimpan baik dalam ingatan saya. Bapakpun biasanya tidak mau ketinggalan ambil peran. Beliau akan memotong salah satu atau dua ekor ayam kampung terbaik dari peliharaannya. Dan seperti biasa, saya akan didaulat untuk membantu. Saya akan kebagian tugas memegang ekor dan leher disaat prosesi penyembelihan serta pembersihan ayam sampai siap olah oleh ibu. Hal hasil, bapak akan menjanjikan balung (sebutan untuk paha) empuk racikan ibu sebagai menu sahur sebagai upah. Bagi saya iming-iming ini lebih dari cukup sebagai tiket gratis menikmati masakan ibu tanpa muqodimah perebutan yang cukup menguras tenaga. Saya ingat betul, balung seakan menjadi tanah rebutan seisi kampung bagi kami yang masih lugu dan lucu dahulu.  Padahal hari pertama sahur biasanya merupakan hari pertama memulai perjuangan untuk membunuh kantuk yang masih sering menyergap di subuh hari. Jadi, dengan “tiket VIP” tersebut saya sedikit merasa lega menikmati sahur balung ayam meski bangut sedikit telat dari mereka orang dewasa. Saya merasakan sebuah wujud kasih sayang tak terhingga dari beliau untuk saya, anak bungsu laki-lakinya.

Sedikit menjauh dari territorial rumah kami. Awal Ramadhan juga akan diwarnai sebuah aktivitas hiruk pikuk menjelang sore yang terjadi di pasar tepat berada beberapa jarak rumah dari kediaman kami. Akan diselenggarakan sebuah pasar tumpah yang khusus menjual makanan selama bulan Ramadhan di sana. Para calon pedagang sejak pagi akan sibuk menata apik lapak-lapak dagangan mereka berdasarkan nomor lokasi yang mereka dapat dari pihak penyelenggara. Aktivitas ini punya nuansa tersendiri, terlebih keluarga kami sempat beberapa kali ikut terlibat dalam kegiatan menarik tersebut. 

Masjidpun berhias cantik menata diri. Warna dinding yang sudah kusam dimakan waktu, terindahkan kembali menjadi pelangi pada Bulan ini. Aktivitas ibadah selama bulan Ramadhan menjadi semakin nyaman dan mengembirakan. Masjid semakin menjadi tempat favorit saya kalau sudah demikian. Dipermulaan Ramadhan pula, Kuburan yang bokor (istilah daerah saya untuk menyebutkan kondisi lahan tak terurus dengan banyak rumput yang tumbuh tak terkendali) tiba-tiba menjadi rapi bak taman kota. Entah mengapa, menjelang ramdhan para kerabat sang penghuni kubur mendadak mulai lirik mata dan berkenan berkunjung untuk membersihkannya. Semua berlomba-lomba menyambut Ramadhan dengan kabaikan aktivitas dunia dan akhirat.

Lain lagi saat beberapa tahun terakhir saya berada di Bogor. Spanduk berisi kalimat puja dan sambutan seakan menjadi ornamen wajib semua sudut wilayah publik. Siaran televisi mendadak islami meski kadang tak jarang terkesan dipaksa demi menderasnya aliran uang ke saku produsen. Saya beruntung pernah merasakan hidup lama di lingkungan kampus. Ada cara dan nuanasa lain yang saya temukan kala Ramadhan menjelang. Akan banyak tulisan bersileweran melalui media maya maupun ril mengingatkan kembali agungnya bulan yang satu ini. Bahkan jauh-jauh haripun, disetiap pertemuan, ada saja yang mengingatkan untuk bersiap siaga menjemput Ramadhan dengan berlatih berpuasa dan aktivitas ibadah lainnya dibeberapa bulan sebelum Ramdhan. Berbagai acara penyambutan dengan seribu macam kemasanpun digelar bak gelombang. Silih berganti, sambung menyambung. Gegap gempitanya setara sekali dengan citra ruhiyah tamu yang akan segera berkunjung. Sungguh sebuah nuansa intelektual yang menyentuh. Atau pemandangan gelombang putih para mahasiswa yang digerakkan pengurus masjid kampus dalam sebuah even aksi putih sambut Ramadhan, turut menjadi ritme simponi sediri dalam barisan lirik penyambutan. Sejuk dan menggelorakan.

***

Tepat tanggal 10 Agustus 2010 menjelang pukul 18.00 kST (Korean Standard Time). Saya menemukan diri masih duduk di hadapan sebuah laptop mini dalam kantor. Pikiran saya baru saja diajak dengan sedikit paksaan untuk menyisikan ruang bagi stimulasi input yang terkait dengan Ramadhan. Ujung telunjuk saya sibuk sendiri mondar mandir di dalam kontak pad yang berfungsi sebagai navigator kursor. Sesekali telunjuk itu melompat penuh semangat untuk membuka beberapa link beranekaragam isinya terkait Ramadhan. Mulai hanya sekedar basa basi ucapan, hingga tulus murni permohonan maaf yang menderu jiwa untuk sadar bahwa sesaat lagi bulan akan tergellincir berganti bulan Ramadhan. Sudah semestinya kita mulai memasukinya dengan sesuatu yang bersih: kebersihan hati. Dan penjelajahan saya berakhir kala dering stopwacth meraung tanda aktivitas penelitian saya diruang sebelah harus dilanjutkan. huh….saya beranjak dengan bismillah. Berharap ia setara ibadah.

***

Sesaat lagi Ramdhan menyapa Korea. Tak akan ada gemuruh penyambutan yang menderu-deru seperti yang saya temukan di Indonesia dahulu. Saat mengayuh sepeda menuju sebuah masjid terdekat di kota Cheonan untuk melaksanakan sholat isya dan tarawih berjamaah, tiba-tiba telpon genggam sayapun bergetar tanda sebuah pesan singkat menjadi tamu inboxnya. Saya berhenti sejenak dan langsung membaca: 

“Ade juga berangkat, yuk sholat brg. Ade di sini abang di sana. Yang smgt ya sayang, karena Hamasah yang hakiki trletak di dlm diri qt sndiri. No matter what, keep spirit”.

 Subhanallah, saya haru. Saya menemukan nuansa dan warna tersendiri dalam Ramadhan kali ini. Warna sempurna lintas negara yang terhubung melalui jaringan maya. Tiba-tiba saja semua episode Ramadhan masa lalu saya terputar ulang dalam mesin memori. Jelas, detail dan membangkitkan spirit penyambutan semestinya.

Tekad untuk menjadikan Ramadhan kali ini lebih baik dari Ramadhan sebelumnya menyata saja rasanya. Sekalipun saya terperangkap dalam suasana majas paradok pelajaran bahasa Indonesia saat SMU dulu: merasa sepi di keramaian, saya yakin sekali jika Ramadhan kali ini akan menjadi lebih baik. Tanpa menunggu, saya langsung menekan icon reply dan mengetik sebuah kalimat singkat

“Terima kasih sayang, telah dan akan menjadi bagian Ramadhan terbaik abang. Sugohaseyo………”.

***

Sepoi angin malam penghujung musim panas bertiup lembut. Kernyitan bunyi rantai sepeda beradu besi gerigi menemani gelora semangat yang tiba-tiba membesar dalam kobar. Kini saya tengah berpacu meburu waktu untuk sesegera mungkin sampai di masjid kami sembari berteriak ” Marhaban Ya Ramdhan. Ku sambut kedatangan mu di negeri Gingseng ini” .

“Ada yang beda dengan malam pertama Ramadhan kali ini” gumam saya tertahan karena sedang tersenyum pada langit malam Cheonan yang temaram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s