Perjalanan dengan mugunghwa (무궁화호) dari Cheonan(전안)-Daejon (대전)

Saya berangkat ke Daejon untuk satu urusan sore itu. Cheonan-Daejon dapat ditempuh melalui dua opsi angkutan darat: Kereta dan Bus. selain karena lokasi yang saya tuju sangat dekat dengan stasiun kereta serta biaya yang dibutuhkan dengan menggunakan kereta akan lebih murah maka saya putuskan perjalanan kali ini akan menggunakan kereta. Sebagai informasi biaya dari Daejon-Cheonan dengan kereta: 8.400 PP, dengan bus 10.000 won PP (belum termasuk biaya bus intercity (dalam kota) untuk mencapai lokasi).

Sang Bunga Nasional Korea. Mugunghwa berkelas di atas type express indonesia dengan harga ekonomi Ac Indonesia

Saya menuju stasiun cheonan (잔안 역), selama 10 menit dengan sepeda motor. Di halaman stasiun terdapat areal parkir berbagai jenis kendaraan termasuj didalamnya sepeda motor dan sepeda. Saya parkirkan motor dengan rasa aman dan meninggalkanya di sana tampa harus membeli sebuah tiket sebagai jaminan keamanan atasnya. namun demikian, sebagai langkah antisipasif, kunci ganda yang familiar di indonesia juga saya berlakukan untuk motor saya kala itu. maklum motor pinjaman harus diperlakukan lebih dari milik kita sendiri. Tidak sanggup menggantinya jiak terjadi apa-apa🙂.

Gambaran fisik fasilitas parkir ini adalah berupa bangunan gaya tenda terbuka tanpa dinding. Dari settingannya parkiran ini terlihat dibangun khusus untuk sepeda. hal tersebut terlihat jelas dengan hadirnya penyangga roda ukuran roda sepeda di setiap baris parkirnya. Namun ketika saya jumpai di beberapa ruangan tanpa penyangga roda sepeda itu ada beberapa motor lain yang diparkirkan maka saya ikut menambah jumalah motor yang diparkirkan di sana. Bangunan dengan atap plastik tebal berwarna biru ini sengaja di tempatkan dengan jarak beberapa langkah kaki dari tangga utama. tepat di sebelah parkiran tersebut berdiri gagah papa bergambar peta wilayah cheonan yang berisi informasi titik wisata kota cheonan. Dari sana saya baru mengetahui bahwa selain independent hall, cheonan juga memiliki titik wisata alam menarik lainnya. mungkin suatu saat jika ada kesempatan akan saya kunjungi satu persatu. Mudah2an kala masa itu tiba, istri sudah bisa menemani.

saya menuju loket pembelian karcis yang berlokasi lebih depan dibandingkan komplek pelayanan subway yang membawa calon penumpang menuju Seoul. sebagai informasi, Cheonan merupakan daerah pertengahan korea selatan secara geografis. Untuk itulah provinsi dimana cheonan berad secara adminstratif, menyebut dirinya Heart of  Korea. Jika kita ingin menuju Daejon ini berarti kita akan menjauhi seoul menuju selatan. Setelah membeli tiket dengan modal kepercayaan saja kepada petugas-maklum hal ini lebih disebabkan karena saya belum bisa berbahasa korea- saya langsung membaca tiket dengan teliti. Oh ternyata kali ini saya mendapatkan tempat duduk. Tempat duduk menjadi penting karena jika tidak mendapat duduk kita hanya dikenakan setengah harga. Secara jujur, saya lebih suka tidak kebagian kursi. Selain karena jarak tempuh yang tidak terlalu jauh dan hemat uang. penumpang juga bisa bersantai ria selama perjalanan di sebuah gerbong khusus yang di sulap menjadi sebuah warung plus-plus. Plus fasilitas game, bangku baca dll.  wah untuk pelayanan yang satu ini saya kembali takjub. Gerbong ini biasanya berlokasi di pertegahaW.Wwow, untuk kereta sekelas ini ada fasilitas demikian, bagi saya ini sungguh di luar harapan.

perhatikan ada jam sampainya: promising

Setelah duduk di nomor bangku yang tertera di karcis. saya mepersiapkan diri untuk menikmati perjalan ini. Oh iya. mungkin karena bangsa korea memahami sekali keterbatasan mereka dalam berkomunikasi dengan orang asing. maka informasi yang diterkan di karcis dan tempat-tempat publik, sejauh ini dalam penilaian saya adalah sangat detil. Alhasil. informasi ini sangat membantu saya sang mahluk asing tak berbahas korea🙂.

Suasana di dalam kereta kelas biasa antar kota ini setara dengan kereta kelas bisnis kreta agro bromo yang melayani jalur jakarta surabaya saya kira. Klo di dala pesawat ada istilah “penerbangan kita adalah penerbangn bebas asap rokok”. maka jika boleh mencontek kalimat tersbut perjalanan saya dengan kereta kali ini bisa dikatakan perjalanan kita adalah perjalanan bebas sampah, pedagang asongan, peminta-minta serta pengamen. Bersih dan teratur. Sesekali tampak petugas yang mondar-mandir. Sejauh ini saya tidak tahu dalam rangka apa mereka bertindak demikia. namun disuatu kesemptan saya sempat melihat sang ajosi (bapak, bahasa korea red) menyimpan beberap sampah bekas sof drink ditangannya. kerenkan….nyambi jadi pasukan semut beliau mungkin🙂.

Inilah komitmen mereka. Jika tertera waktu keberangkatan dan tiba di karcis adalah pada waktu tertentu. maka, inshaAllah hal itu demikian adanya. Saya tiba di daejon tepat sesuai dengan waktu kedatangan yang tertera di karcis saya kala itu. Dan sayapun tidak salah turun stasiun meski  miskin pengalaman menuju daejon dengan menggunakan kereta. Hampir disetiap stasiun selain ada papan khusus berisi nama stasiun yang tergantung di atap pelataran tunggu, juga akan mudah dilihat tertera baik di setiap tiang atap pelataran tunggu. Sanagt membantu. Dan pastinya,  sampah bukan menjadi ornamen tambahan disepanjang mata memandang ruang terbuka lantai pelataran ruang tunggu. sayapun keluar stasiun dengan aman meski saat itu hujan deras koridor stasiun dirancang sedemikian rupa terhubung dengan titik penting kota sekitar stasiun baik dengan kosep terowongan bawah tanah maupun koridor beratap di permukaan.

demikian perjalanan saya. It’s Daejon…..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s