Ramadhan Mas Tri

Hari ini jumat ke-2 dalam ramadhan kedua saya di Korea. Saya datang ke Korea tepat pada 10 hari terakhir ramdhan 1430 H lalu. Setelah menyelesaikan semua agenda penelitian, saya bersiap diri untuk berangkat menuju masjid Cheonan guna melaksanakan sholat Jumat berjamaah. Alhamdulillah. Dengan mengendarai sepeda motor milik Lee yang dititipkan kepada saya. Jarak tempuh kampus-masjid yang biasanya 20 menit dengan bus, kali ini mampu disingkat menjadi 10-15 menit saja.

Suasana masjid telah ramai. Beberapa brother Kyrgistan yang cukup saya kenal sudah memenuhi syaf bagian depan. Beberapa jamaah terlihat khusuk membaca Al-quran dan mendirikan sholat sunnah. Sedangkan brother Pakistan yang berperan sebagai tuan rumah masjid sebagian diantaranya tampak sibuk menyiapkan senjata wajib musim panas: kipas angin berukuran jumbo, untuk dioperasikan. Suhu siang hari di Korea akhir-akhir ini cukup tinggi. Beberapa ulasan berita ramalan cuaca melaporkan bahwa suhu luar ruangan sempat mencapai angka 35 derajat selsius. Padahal, menurut prof. saya, akhir Agustus semestinya merupakan akhir dari musim panas.

Beberapa menit sebelum azab dikumandangkan, saya masih mengambil wudhu diruangan belakang. Di sana saya bertemu dengan seorang pekerja Indonesia yang terlihat baru saja tiba di masjid. Beliau terlihat masih mengenakan pakaian kerja. Dengan sedikit terengah-engah, sesaat setelah melemparakan padanganya dengan cepat seperti seorang yang sedang mencari sesuatu, beliau segera berbalik arah meninggalkan ruang belakang menuju keluar. Saya tidak terlalu mengenal beliau meskipun beliau termasuk salah satu jamaah jumat yang aktif di masjid ini. Saya ingat sekali, jumat kemarin beliau datang terlambat. Beliau tiba sesaat setelah saya selesai melaksakan sholat sunnah rawatib.

***

Seperti biasa, lepas sholat jumat, para jamaah saling berkumpul menurut negara masing-masing. Meskipun tak jarang akan saling berbaur antar negara untuk sekedar bertegur sapa ataupun terlibat obrolan yang lebih panjang setelahnya. Tak terkecuali kami. Saya kembali bertemu pekerja tadi dan terlibat sedikit obrolan. Alhasil, saya tahu bahwa beliau bekerja di sebuah pabrik pengecatan yang berlokasi cukup jauh dari lokasi masjid namun masih satu kota.

“Libur mas?”

“Tidak. Hari ini saya izin”

“Oh. Izin untuk sholat?”

“Bukan. Saya izin ke rumah sakit. Hmmmmm….Rumah sakit apa ya….uhmm Dank…” ejanya dengan susah payah untuk melapaskan Universitas dalam bahasa Korea

“Oh….Dankook Dehakyo” saya melengkapi tanpa diminta.

“Iya rumah sakit itu”

“Sakit mas?”

“Iya….mata saya. Sepertinya ada sedikit gangguan. Pekerjaan saya mengecat terus-terusan. Meskipun sudah dengan kacamata khusus, saya merasa sudah terjadi sesuatu pada mata saya karena semburan cat yang terus menerus itu. Saya ingin ke rumah sakit untuk cek dan meminta surat pernyataan bahwa mata saya bermaslah. Saya ingin pindah saja dari kerjaan disana”

“ooooo”

Setelah berbasa-basi dengan rekan Indonesia lainnya sebelum kembali kampus. Saya kembali menyapa pekerja tadi untuk menawarkan tumpangan. Kebetulan rumah sakit yang beliau maksud adalah rumah sakit milik universitas saya.

“Mau berangkat serakang, mas?”

“Iya. Mau ke sana?. Mari kita naik taxi saja”

“Klo mas mau bareng dengan saya. Boleh. Kebetulan saya bawa motor kemari”

“Oh gitu. Boleh, saya ikut”

Kamipun menyusuri troktoar yang menghubungan masjid dan komplek pertokoan. Karena masjid tidak memiliki area parkir yang memadai, saya lebih memilih memarkirkan motor di tempat parkir khusus kendaraan roda dua yang terletak di kompleks pertokoan tersebut.

“Saya ingin sekali kerja di sekitar masjid ini mas” sang pekerja memulai obrolan kami kali ini

“emang mas sekarang kerja di mana?. Bukannya sudah dekat”

“iya saya kerja masih di Cheonan, namun lumayan jauh mas. Jalannya masuk-masuk, terpencil. Butuh waktu 1-1.5 jam dari tempat kerja saya kemari. Saya ingin seperti teman-teman lain yang saya pernah temui, ke masjid Cheonan mereka bisa naik motor dan setiap jumat bisa hadir pula”

Sedikit menarik napas dengan berat. Mas pekerja tersebut melanjutkan apa yang sedang ia pikirkan

“Saya muslim sendiri di tempat kerja mas. Capek batin. Mas tahu?. Saya tuh azan, iqomat dan sholat sendiri mas. Kadang kontainer saya buka lebar-lebar pintunya. Saya katakan pada kupu-kupu atau apa aja yang saya lihat untuk masuk dan temanin saya sholat. Kadang saya juga baca buku dengan suara keras. Saya anggap saja semua baju-baju yang tergantung sebagai teman yang mendengar. Terasa capeknya mas jika kita sendirian. Untuk itulah saya ingin pindah. Pindah kerja ke tempat kerja yang lokasinya lebih  dekat dengan masjid dan ada teman muslim lainnya. Saya tidak mau seperti ini terus. Apa artinya banyak uang klo hati tidak tenang?” pemamaparan beliau berakhir kalimat retoris.

“Memangnya mas sudah pindah berapa kali?”

Seolah tahu arah pertanyaan saya beliau menjawab

“Tiga kali mas. Artinya ini yang terakhir buat saya untuk bisa pindah. Saya berharap banget semoga Allah pilihkan saya tempat kerja yang paling baik. Entahlah. Kadang saya berfikir, banyak orang tinggal di dekat masjid atau punya teman muslim tapi tidak menyadari hal itu sebagai nikmat yang amat mahal. Mereka jarang sekali ingin pergi ke masjid untuk ibadah atau menjaga sholat untuk terus berjamaah minimal bersama teman muslimnya. Coba mereka tukeran saja  ya mas dengan saya”

Saya merasa ditampar oleh pernyataan terakhir beliau. Muncul rasa bersalah tiba-tiba dalam hati saya. Ya…Allah. Engkau menegur saya melalui seorang pekerja yang baru saja saya kenal. Astagfirullah.

Tak terasa kami telah sampai di parkiran motor. Setelah membuka kunci dan berhasil menyalakan motor,kami berangkat bersama menuju rumah sakit dankook.

Sepanjang perjalanan mas pekerja itu berulang-ulang menukik saya dengan pertanyaan-pertanyaan polosnya seputar makna kesyukuran. Bersyukur dengan kehidupan yang islami di tengah gurun gersang keimanan tanah gingseng. Bahkan kemudian pertanyaannya itu seakan menjadi pertanyaan yang mengadili diri saya sebagai mahluk yang kurang maksimal dalam bersyukur. MasyaAllah. Saya tertohok. Jika saja saya tidak sedang menyetir motor kala itu, ingin rasanya saya sujud sesaat untuk melampiaskan rasa syukur saya karena telah dipertemukan dengan beliau. Rabb ampuni saya. Belum bisa saya bayangkan jika sederet pertanyaan tadi disampaikan oleh malaikat peghisab. Merugilah saya. Astaghfirullah.

****

Skuter kami sudah berada tepat di depan Rumah sakit. Sama sekali tidak terasa. Tiba saatnya kami berpisah. Beliau turun dari motor saya dan sembari bertanya

“Oh iya mas, saya lupa, mas namanya siapa?”

“Oh iya…saya juga lupa. Saya Fulan dan mas?”

“Saya triono. Terima kasih banyak mas atas waktu dan tumpangannya”

“Iya mas senang bisa membantu. Mudah-mudahan mas mendapatkan tempat kerja yang paling baik menurut Allah. Semoga sisa Ramadhannya bisa lebih menjadi baik mas. Untuk saya juga”

“Iya mas…..terima kasih sekali lagi”

Allah mempertemukan saya dengan seseorang yang baru saja menjadi pengingat saya di korea kali ini. Orang yang nyaris saja tidak saya kenal namanya. MasyaAllah. Terima kasih Allah. Terima kasih telah berkenan kembali mentarbiyah saya di bulan penuh berkah ini. Semoga engkau terima dan pelihara tobat kami. Amin.

(sebuah pengalaman yang luar biasa disepotong waktu lepas sholat jumat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s