sebuah catatan menggulung jarak: Korea-taiwan-Indonesia (II)

Langit Taipe sudah gelap di luar sana. Saya Berlari bolak-balik mengitari koridor yang sama di bandara internasional  taiwan tersebut. Saya berusaha menemukan pintu baggage claim guna menemukan bagasi saya yang entah sedang berada dimana sekarang. Raut muka cemas dan lari bolak balik ini membuat saya seolah-olah sedang melakukan olah raga khusus program menguruskan badan dengan target turun 10 kilo dalam waktu tak kurang dari satu jam. Saya berkeringat malam itu. Saya khawatir dengan nasib traveler bag ukuran sedang yang menemani saya sejak berangkat dari Incheon tadi. Semoga ini bukan awal dari sebuah masalah yang telah saya khwatirkan sejak check in ganjil ala Eva air yang saya temukan di Incheon Airport sebelum keberangkatan.

***

Saya berusaha menemukan dimana gerangan meja check in maskapai milik China Taipe tersebut. Saya memulai pencarian dari gerbang umum yang pada dua kepulangan terkhir ke Indonesia dengan menggunakan dua maskapai penerbangan yang berbeda saya gunakan. Saya memulai pencarian dari gerbang G-H-I secara berurut. Nihil. Saya susuri koridor yang penuh dengan orang berperilaku sama dengan saya. Mereka celangak-celinguk berusaha menyelesaikan urusan masing-masing. Seolah mereka punya dunia sendiri. Makin menjauh dari gate H, membuat saya makin tidak percaya diri dengan arah langkah saya. Saya berfirasat bahwa Eva tak mungkin nongkrong jauh-jauh dari H.

Ini korea. Saya membuka mata sedikit lebih lebar. Saya berusaha menemukan informasi yang saya butuhkan dari sebuah layar monitor.  Berderet-deret huruf bergerak atraktif muncul tenggelam di layar   tipis, bening dan kaya warna tersebut.

Saya sempat berhipotesa: orang korea mepunyai prinsip tegas dalam mempertahankan bahasa mereka sendiri. Saking tegasnya, masuk korea sebagai orang asing bak tersesat di dalam hutan dengan membawa handphone yang mampu mengirim sms saja. Tanpa bahasa komunikasi oral. Mungkin mereka sudah memperhitungkan hal ini. Mereka sudah mempertimbangkan resiko yang akan dihadapi jika menjadi negara yang penuh dengan aksara asing bagi pelancong. mereka akan terkucil dari kunjungan warga dunia. Logikanya: sulit mengajak orang untuk datang bertamu ke korea jikalau tamu merasa kesulitan hidup di korea karena perkara bahasa. Dimana kita tahu bahasa merupakan syarat mutlak sebuah interaksi sosial. dan tanpa kebaikan interaksi, semua kesan yang baik akan pudar bersama banyaknya kesalahpahaman yang mungkin muncul. hasil pengamatan dan pengalaman hidup di korea membuat saya secara kebetulan menemukan satu hal unik di tempat-tempat publik Korea. Pihak pengelola fasilitas publik telah berusaha sebaik-baik mungkin mengatasi masalah bahasa ini dengan memberikan informasi tertulis yang mudah dimengerti. Tak jarang terjemahan dalam bahasa inggrispun sering disertakan, meski kadang dengan ejaan yang salah maupun berupa simbol saja. Usaha paling kentara yang bisa ditemukan adalah banyaknya fasilitas informasi yang tersebar di tempat-tempat strategis. jadi jika kita mau berusaha lebih serius dan cermat saja. inshaAllah tersesat di korea tidak akan menjadi pengalaman berulang-ulang untuk pendatang asing bermodal kemampuan membaca tulisan korea dengan level “payah”🙂. Jadi meski dengan bahasa dan cara mereka, orang korea berusaha memberikan infromasi sebanyak mungkin secara maksimal untuk dimengerti orang-orang asing yang mengunjungi korea.

Merujuk dari hipotesisi ini saya mencoba berulang-ulang mencari informasi di layar monitor tadi. Dimanakah gerangan Eva menunggu saya untuk dilayani. hasilnya nihil. Saya teringat dengan pepatah tua bangsa kita, malu bertanya sesat di bandara. Demi berhemat waktu, saya memutuskan untuk bertanya kepada seorang gadis korea yang sedang duduk di belakang meja bertulis information. Hanya dengan sedikit basa-basi dan menunjukkan tiket elektronik, saya temukan jawaban yang saya butuhkan sejak tadi. Aha, Eva menunggu anda di gate H. Woalah ternyata Eva nyempil di dekat Cathay. Benar-benar nyempil. dan saya menjadi satu-satunya orang yang check in di salah satu dari (hanya) 3 meja yang ada di sana. hmmmm….sekecil dan tidak sepopuler ini kah perusahaan bernama lawan adam dalam bahasa inggris  ini, di seoul?.

hmmmm, mudah2an nasibnya tidak sama dengan nasib salah satu maskapai penerbangan swasta milik indonesia yang tidak lain dan bukan bernama adam beberapa tahun yang lalu.

kembali pada cerita check in. Petugas melayani saya. Beliau mengatakan tiket yang akan dikeluarkan hanya tiket Korea-Taipei saja. Dengan demikian bagasi pun akan dikeluarkan di taipei. Sedangkan tiket taipei-jakarta akan dikeluarkan menyusul setiba saya di taipei nanti. Hmmmm, sedikit ganjil. Tidak sama dengan pengalaman mudik saya sebelumnya. Saat itu saya tidak banyak bertanya. karena yang saya tahu, saat  itu saya lapar.🙂.

***

Setiba di taipei. Parah. Baggage claim berada di luar meja imigrasi. Sungguh rasa lapar di Incheon tadi telah menumpulkan pisau memori saya untuk sekedar mengingat jikalau meja pengambilan bagasi memang berada di luar. (berfikir: emang ada ya baggage claim yang berada di dalam zona kedatangan dan trnasit🙂. tuing…) itupun baru saya temukan keberadaannya setelah saya lari pontang panting sana-sini bak peserta lomba menemukan harta karun di masa kanak-kanak dahulu. Saya galau. Gimana mau keluar untuk mengambil bagasi?. Saya tidak memiliki visa. Huh…saya langsung bertanya kepada  seorang wanita yang bertugas di luar tali antrian. Seorang wanita taiwan berseragam. Bismillah,  mudah2an beliau bisa berbahasa inggris. Saya utarakan kebingungan saya. Alhamdulillah beliau mengerti dan segera memberikan solusi. Saya belum percaya seratus persen dengan solusi yang beliau tawarkan. Saya pastikan kembali dengan meyakinkan beliau berulang-ulang

“saya tidak punya visa taiwan. saya transit”

“Iya. kamu isi saja immigration card dan keluar untuk mengambil bagasi saja”

tetap tidak masuk akal. saya ikuti sarannya. dan ikut mengantri di barisan antri yang sudah beliau tentukan untuk saya.

dan hasilnya. ketika tiba giliran saya, petugas cap passport tiba-tiba berdiri dan menghantarkan saya menemui si wanita berseragam tadi. sambil berbicara bahasa taiwan bercampur inggris sedikit

“Could not go out. he does not has visa”

Huhhhh. benar. Habis waktu saya.

wanita berseragam berfikir sejenak. Beliau kemudian menjelaskan saya sedikit arahan disela-sela kesibukkannya mengatur tumpahan para penumpang yang baru saja mendarat dan ingin keluar meninggalkan bandara.

oh….haruskah saya ikuti arahannya?. saya tak punya pilihan.  hmmmm,  kali ini ide yang dia tawarkan sedikit lebih masuk akal. saya ikuti tanpa banyak pertimbangan lagi dan segera berlari menuju arah yang ia tunjukkan. tujuan saya selanjutnya adalah meja konter transit Eva. Sementara itu, bayangan bagasi mulai mejauh dan memudar dalam benak saya. Ia mulai mencibir seolah tak sudi lagi menemani saya pulang ke indonesia.

saya lari sekuat tenaga menuju koridor kanan yang kosong. sebuah penunjuk arah di atas mulut koridor bertuliskan meja transit. saya susuri koridor tersebut sesuai tanda panahnya. di tengah perjalanan saya berpapasan dengan seorang laki laki dewasa indonesia. Kami sempat ngobrol. saya sedikit tenang. dari obrolan singkat tersebut, saya ketahui jikalau dia berstatus sama dengan saya sebagai penumpang transit. Namun keganjilan lain mendadak menemui saya, karena sejauh langkah kaki saya, tak satupun meja bertuliskan Eva airlines di atas loketnya.

lebih baik bertanya. saya kembali bertanya kepada petugas yang saat itu menjaga meja konter JAL. dari beliau saya peroleh informasi jikalau meja konter Eva air berada tepat di koridor sebelah kanan pintu kedatangan tadi. hmmm, tanpa diminta saya berbalik kanan dan kembali berlari. Sabar.

Di “perlarian” tersebut saya menemukan seorang pria taiwan berseragam hijau putih khas Eva. Pikiran sehat saya berkata, ini adalah tempat paling tepat untuk bertanya. atau mungkin mencurhakan kemarahan sekaligus atas “tindakan mengerjain” yang dilakukan pihak Eva kepada saya. Langsung saya sapa beliau dan tanpa menunggu lagi saya utarakan cerita detil saya kepada beliau. huh..huh…akhirnya, saya digiring menuju “jalan yang benar”.

Selama perjalanan saya berceloteh, “tadi kemana wae kang?. bukannya menunggu dan mengarahkan saya saat ketibaan. jangan2 kalian semua petugas Eva berkongsi sepakat untuk mengerjai saya”. Halah saya berusaha mengontrol emosi yang mulai turun dari kepala meredah.

tepat sekali, meja konter Eva berada tidak jauh dari pintu kedatangan. cukup besar dan elegan. Mungkin karena eva adalah garudanya taiwan, jadi ia memiliki tempat yang khusus di kandangnya sendiri. mereka mohon maaf atas segala ketidak nyamanan ini. sayapun memaafkannya asalkan bagasi saya aman dan semua baik-baik saja. mereka meyakinkan saya perihal bagasi yang sudah ditempatkan pada tempat yang tepat hingga bisa saya temukan di jakarta nanti. saya bersyukur. ternyata semua ini hanya ujian kecil yang -alhamdulillah- bisa saya atasi.

saya memasuki daerah transit. saya berencana menunggu di sana untuk 12 jam ke depan. Di dalam airport taiwan, saya bisa menggunakan wifi dengan laptop saya. namun kenikmatan itu tidak bisa dipertahankan untuk waktu lama karena batere laptop saya habis. Sementara itu terminal listrik di seantero bandara tidak melayani kabel plug in dengan ujung besi bunder (seperti kebanyakan yang kita gunakan di indonesia) melainkan harus berujung pipih. Masih beruntung saya bisa menemukan pojok internet gratis di beberapa tempat sepanjang koridor tunggu. Pojok internet ini berisi kurang lebih 5 personal computer. namun sayang, tak ubahnya koneksi di negara sendiri, kecepatan koneksi internet di pojok internet ini memungkinkan kita untuk menghabiskan segelas kopi hangat sembari menunggu satu klik-an. tak apalah yang penting saya bisa terhubung dengan orang-orang yang menunggu info terbaru dari saya.

Inilah salah satu asyiknya bermusafir di era teknologi komunikasi ini. Kemanapin kita berpergian, kita selolah-olah sedang menggulung jarak dari satu tempat ke kempat yang lain. istilah sundanya mah, dimana-mana bisa onlain.:)

jam yang bertengger di dinding koridor menunjukkan pukul 9 malam waktu taiwan. saya harus segera sholat. dari informasi seorang teman yang pernah sekolah di taiwan, saya ketahui jikalau bandara ini memiliki musholah. Subhanallah. bentuk fisik dan fasilitas ibadah musholah ini diluar dugaan dan harapan saya. sempurna sebagai sebuah rumah ibadah. tak hanya bisa ditemukan sajada dan hijab. alquran, buku doa dakam bahasa indonesia dan kalender islam bertuliskan asosiasi muslim taiwan pun turut serta memberikan kesan teduh bagi musholah ini. Musholah ini saya temukan bersamaan dengan rumah ibadah budha dan kristen dalam satu komplek di dekat pintu boarding C1.

Subhanallah. sayapun menghabiskan malam di dalam rumah yang penuh berkah tersebut.

saya menunggu penerbangan selanjutnya di sebuah rumah ibadah yang saya rindukan keberadaanya di setiap aktivitas musafir saya. terima kasih Allah telah pertemukan kami.

***

malam secara sempurna menguasai langit taiwan. airport mendadak sepi dari kebisingan manusia dan pesawat.

saya mengumpulkan tenaga untuk penerbangan selanjutnya. jakarta tunggu aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s