sebuah catatan menggulung jarak: Korea-taiwan-Indonesia (III)

Koridor masih sepi. Beberapa toko yang berada di sepanjang salah satu sisi  koridor tampak terpenjara terali. Lampu yang temaram seakan menyampaikan pesan, “kami sedang tidak melayani pembeli”. Galeri pamer angrek khas taiwan juga sepi tanpa pengunjung. Eksotisitas angreknya ternyata masih tertidur dalam kelopak mereka masing-masing dipagi hari yang sedikit dingin ini. Sementara eskalator lantai (datar), berupa fragmen-fragmen eskalator yang disusun disisi lain koridor tanpak diam tak beraktivitas. Mereka memang dirancang untuk mulai bergerak seketika ada orang berdiri di depannya. ternyata nuansa sepi masih belum dihalau keluar menjauh dari kordidor. Sementara diluar bandara, pekat malam mulai berkurang dan langit mulai mengundang semburat cahaya putih untuk memulai kesan fajar di layar langit taiwan.

Saya baru saja terbangun ketika alarm anycall berbisik pelan tepat ketika jam digitalnya menunjukkan pukul 5 pagi waktu taiwan. Handphone rancangan negara gingseng ini ternyata mampu merubah pengaturan jam secara otomatis sesuai dengan posisi sang empunya berada. Saya sempat menerima sebuah pesan dialog singkat sesaat mendarat di taiwan kemarin. pesan itu berbunyi “apakah saya setuju jika sistem pada handphone merubah pengaturan waktu secara otomatis”. Saya hanya menekan tombol “yes” dan semua pengaturan berbasis jam berubah sesuai aturan terbaru. Namun, hal yang berbeda terjadi ketika saya sampai di jakarta. Tak ada pesan singkat berisi izin pengaturan waktu, padahal taiwan-jakarta memiliki selisih waktu kurang lebih satu jam. hmmm. mungkin saja, bak sebuah game, anycall hanya memberikan satu kali kesempatan perubahan pengaturan waktu secara otomatis, selebihnya diserahkan kepada user.

Saya begegas membersihakan lantai musholah yang saya gunakan untuk beristirahat. Saya nyalakan lampu ruangan yang sengaja saya matikan sebagian tadi malam. tak lebih dari 10 menit, musholah kembali semarak bagai bidadari yang baru saja bersolek dengan temaram kosmetik dari cahaya lampu. saya segera meninggalkan musholah. bersama troli kecil yang memuat 2 tas -sandang dan tas laptop-. saya beringsut perlahan menuju toilet yang berada di sisi seberangan koridor dan tak jauh dari musholah.

Panggilan alam memaksa saya untuk sedikit berlama-lama di toilet. Karena masih sepi dan khwatir akan keselamatan sang troli dan isinya, maka saya mengajak serta troli untuk masuk bersama ke dalam toilet. Sedikit melanggar aturan, toilet yang diperuntuhkan bagi penyandang cacat saya gunakan karena dua kali lebih luas dibandingkan toilet standar. Hmmmm……lega.

Saya bersihkan wajah dan bagian tubuh yang mampu dibersihkan. Dalam bahasa kampung saya, kami namakan jenis mandi ini dengan istilah mandi ayam. setelah semuanya selesai, saya kembali ke musholah dan bersiap-siap untuk mendirikan sholat shubuh pertama saya di taiwan.

Allah maha besar dimanapun saya berada. Bersyukur.

***

Satu persatu pekerja bandara muncul memecahkan kebekuan koridor. Saya sedikit penasaran, kemana gerangan para penumpang transit tadi malam. Tak satu batang hidung berlabel penumpang transit pun saya temukan sepanjang malam. apakah mereka beraktivitas sama dengan saya di suatu tempat yang hanya dia dan Allah yang tahu?. atau mereka memang menikmati malam di sebuah kamar hotel yang sudah pasti membutuhkan uang tambahan baik di dalam  maupun di luar bandara. hmmm, entahlah, yang  jelas hari ini adalah hari keberangkatan saya menuju jakarta. bismillah semoga semua berjalan dengan lancar.

***

Saya berusaha online dari sebuah pojok internet yang kebetulan dekat dengan lokasi “kemah” saya. alhamdulillah, saya masih bisa berkomunikasi dengan orang2 yang menantikan khabar terbaru dari saya beberapa jam sebelum waktu boarding. kebetulan pintu boarding kali ini berada di gerbang C4, dengan demikian saya tidak perlu berjalan jauh meninggalkan C1. setelah memastikan waktu boarding telah tiba dari sebuah jam analog yang tergantung di atas sebuah toko yang menjual oleh-oleh khas taiwan, saya menuju C4. Ruang tunggu sudah dipadati penumpang. sebagian besar dari mereka adalah warga taiwan yang sedikit sulit dibedakan dengan wajah orang-orang indocina lainnya. kami memasuki pesawat satu persatu sesuai dengan kelompok nomor kursi yang dipanggil. Bismillah, Jakarta saya datang🙂.

***

Teman duduk saya kali ini seorang pemuda paruh baya. Seorang pria yang tampak sebaya dengan saya. saya menerka-nerka berkebangsaan apa gerangan beliau. Masih terlalu dini untuk terlibat orbolan santai dengannya. tapi saya telah bertekad akan mengajak beliau untuk ngobrol meskipun sedikit. Saya suka sekali melakukan obrolan dengan orang yang baru saya kenal, terlebih dalam sebuah perjalanan. Saya percaya, salah satu cara paling asyik “membunuh”  waktu adalah dengan cara mengobrol. melalui aktivitas ini saya mampu mengenal banyak pribadi manusia yang beragam. Tak jarang kadang kala banyak pelajaran baru yang bisa saya peroleh sebagai bonus sampingan sebuah silaturahmi. percaya, it works.🙂

Sesekali saya melirik pria berparas indocina tersebut. Beliau  masih pulas tertidur di kursinya.  Rasa kantuk akhirnya menyerbu saya. Saya memutuskan untuk tidur sejenak sembari menunggu waktu yang tepat untuk mulai ngobrol dengan tetangga baru tersebut.

***

Seperti kebanyakan orang asing yang saya temukan di jalan (hi…hi.. kesannya seperti uang recehan atau benda hilang :)). Pemuda ini memilih pola prilaku yang sama terhadap orang asing disekitarnya. Mereka lebih memilih aman dengan berdiam diri, tak berbicara hingga orang lain yang memulai. sejauh pengalaman saya, hanya segelintir orang asing yang mau bersikap proaktif dalam perkara tegur menegur. Atmosfir interaksi sosial diantara kami masih terasa beku. saya teringat sebuah buku lawas tulisan seorang ustazd timur tengah yang cukup tersohor terkait urusan satu ini. buku itu “berjudul bagaimana menyentuh hati“. Ada sebuah tip yang bisa dicoba untuk memulai sebuah obrolan dengan orang yang sama sekali belum kita kenal. dan tip itu kali ini saya coba. Kebetulan sekali saya harus mengisi immigration card. Saya yakin betul jika di dalam tas saya terdapat pena yang bisa digunakan untuk pengisian tersebut. iseng-iseng berhadiah, saya gunakan peluang memecah kebekuan komunikasi ini

“do you have  a pen?”

dia langsung memeriksa saku bajunya dan menyerahkan sebuah pena mata empat yang tidak berevolusi bentuk sejak zaman saya sma dahulu. Ha..ha..bahkan kombinasi warnanyapun sama. selesai mengisi semua hal yang perlu dijawab, saya kembalikan pena dengan memulai obrolan yang sudah meluap2 diotak sejak tadi. sebuah percakapan santai akhirnya baru saja dimulai. ternyata beliau berkewarganegaraan jepang. beliau bernama yokoyama. tak tahu apa hubungannya dengan motor yama**. ternyata beliau memang kerja di perusahaan produser motor yang saya maksud tersebut. beliau berada di bagian motorcycle production division-nya kantor pusat. kunjungan beliau ke indonesia kali ini bertujuan untuk evaluasi produk di jakarta dan kerawang. tak terasa, obrolan santai dan sedikit kursus singkat bahasa indonesia yang kami lakukan telah menghatarkan penerbangan ini berakhir dan mendarat dengan selamat di bandara Soekarno Hatta.

Kami saling bertukar email. berjanji untuk saling berkomunikasi ketika saling tak bersua nanti. alhamdulillah, komunikasi itu terus berlangsung hingga kini.

saya telah sampai di jakarta dan benar-benar sudah menggulung jarak antara korea dan jakarta. subhanallah, semoga perjalanan ini dinilai ibadah.

Tampak dari kejauhan sosok wanita yang menjadikan saya kuat untuk menggulung jarak korea-jakarta telah menebar senyumnya guna menyambut sang kekasih.

selamat datang di indonesia. sebuah tanah realita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s