Sebuah doa dan aku bersembunyi dibaliknya karena takut

berdiam di sebuah tempat berjarak 7 jam perjalanan melewati langit

mencoba membangun ikatan persahabatan dengan dingin minus 20

membiasakan diri akan perbedaan budaya yang siap menggerus karakter,

aku mawas dan berjaga agar bisa berdiri berdampingan, namun masih teguh mencekram nilaiku dengan geraham.

disebuah pagi yang masih dingin…….

menata hati yang baru pilu karena melihat ibu menangis di dalam  mimpi

berdoa, agar beliau tetap terjaga dan tak kurang satu apa pun.

“Duhai pemilik dan penjaga makhluk, limpahkan berkah Mu atas ibuku. Jangan kau tinggalkan kami sendiri dalam dunia yang makin berat ini”

Lalu aku membasuh tangan hingga kaki berurut

melantunkan pernik-pernik harap dengan  teratur,

dalam balut ketakutan dan harapan di waktu dhuha Mu….

“Rabb, sedemikian parahkah negri ku yang sesaat aku tinggal untuk merengkuh ilmu?”

melalui sebuah layar lebar terlihat mereka:

Baku hantam antar saudara karena sengketa harta

Hinakan derajat kaum ibunya karena nafsu yang liar bergelora

menginjak dengansengaja kehormatan janda dan keluarga para penegak bangsanya

lalu sebagian dari mereka memperparah keadaan melalui produksi tontonan yang meremuk-redamkan moral. Mereka lakukan dengan lembut namun terarah……Mereka makar dibalik lipatan kain yang tampak indah dari luar. Nestapa, mereka mengundang kiamat di tanah lahir kita yang meninggikan nilai KETUHANAN.

Aku merenung

mencoba mengajak udara dingin untuk bicara

“Adakah kau dengar kabar, jikalau sebuah bangsa akan hancur ditandai dengan rusaknya moral anak-anak mereka?”,

Dingin makin membeku…..hening tak tanggapi pertanyaanku.

tak ingin berhenti, kucoba bisikkan sesuatu pada hamparan kristal salju yang memutihkan jalan

“Tahukah kau sampai kapan negeri kami akan bertahan dalam kubangan kemungkaran karena mereka tidak sedikit pun berpikir untuk memperbaiki diri?. Padahal sudah disampaikan pada kami, banyak kaum terdahulu yang hancur tanpa bekas karena menantang Allah dengan perbuatan mungkar yang sama?”

meski tak satupun butiran itu menanggapi, aku yakin mereka mendengar keluh ini…

Ya rabb…..

adalah keniscayaan bagi kami, hidup tak mampu berdiri sendiri.

Jika kau percayakan umur lebih panjang atas kami, maka berkahi kami untuk menjadi manfaat bagi diri dan lingkungan kami. Maka lindungilah anak keturunan kami dari dahsyatnya angin kemungkaran yang ditiup tak putus-putus oleh musuh Mu.

jika aku khawatir akan keselamatan diri dan keluargaku,

sungguh kepada Mu saja tempat berlari dan menghalau ketakutan itu untuk segera pergi dan tak kembali….

karena aku ingin menjadi seorang yang berani untuk menyingkirkan semua musuh-musuh Mu dari negeri khatulistiwa yang sedang terkepung maksiat dari seluruh penjuru mata angin.

Allah jangan Kau tinggalkan kami…..dalam keterbatasan ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s