Semalam di Hongkong International airport

belum pernah saya melihat kontruksi fisiknya dari luar. jedah sebentar. Saya antusias ingin melirik bentuk morfologi luarnya dengan bantuan om mesin pencari. Saya ketik: Hongkong International Airport. trarara…salah satu hasil yang tampil berupa gambar peta. Unik juga bentuknya, seperti ekor plus setengah badan pesawat. Baru dua kali saya menjadikan salah ruang terbuka satu koridor Hongkong International Airport sebagai masjid. Meski demikian, saya sudah menyukainya. Koridornya luas, berupa lorong-lorong yang bercabang. Cabang-cabang itulah, kemudian menjelma menjadi lorong-lorong buntu bila sang pesawat sedang tidak mangkal di ujung-ujungnya. Namun jika pesawat parkir sembari berbaik hati membiarkan sebagian wilayah perutnya ditusuk jembatan penghubung, lorong itu bertransformasi sederhana menjadi sebuah jalan penghubung Hongkong dengan negara-negara tujuan penerbangan di seluruh dunia.

Dinding kaca transparan dipilih sebagai pembatas antara koridor dan laman parkir pesawat. Kita merasa bebas memandang ke luar melalui dinding jenis ini. Koridor dibelah oleh dua jalur eskalator yang berlawanan arah. berada satu garis dengan jalur eskalator tersebut, terhampar titik-titik taman yang berganti tema dari musim yang satu ke musim yang lain. kali ini taman tersebut di dominasi warna kuning jeruk-jeruk mandarin segar yang masih menempel di pohon-pohonnya. jalan berlapis batu marmer dan sebuah karpet disusun berdampingan sepanjang koridor. Di atas lantai marmer yang luas itulah manusia dengan berbagai bentuk morfologi ras lalu lalang mengejar waktu dan kehidupan. Sesekali mobil kecil bertulis the shuttle yang berfungsi sebagai pengangkut barang di dalam ruangan yang khas, melintas dengan petugas berseragam elegan mengendarainya.

kursi tunggu dan toko-toko sumber ladang duit ditata rapi selang seling sepanjang koridor. tepat di sis-sisi koridor yang berdekatan dengan dinding kaca tadi kursi tunggu berjejer manis, disediakan khusus bagi para penumpang. selain berupa kursi ruang tunggu yang jamak kita temukan di ruang tunggu seantero jagad, di sini juga dapat kita temui beberapa kursi santai personal yang dapat digunakan siapa saja. Sebuah kursi yang dapat digunakan untuk rebahan selama menunggu waktu transit yang terkadang bisa lebih dari lima jam. cukup nyaman. Gambaran detailnya, kursi tersebut persis seperti kursi malas yang berada di kolam renang atau pantai. beberapa unit kursi diletakkan menghadap dinding kaca. Masing-masing kursi dipisahkan dengan sebuah blok dinding di sisi kiri dan kanannya. Penataan demikian menjadikan kursi tersebut memiliki wilayah teritorial terbatas sehingga cukup kental nuansa penjagaan nilai privasi sesiapa saja yang sedang menggunakannya. Sehingga cukup nyaman bagi sang penumpang yang mungkin saja mendengkur kala tertidur pulas saat menunggu jam terbang lanjutan menuju tujuan akhirnya. Atau menjadi cukup representatif bagi kita untuk mendirikan sholat dikala kita berkesempatan mampir di sini. Alhamdulillah, keadaan bandara yang bersih membuat kenyamanan mudah datang dan langsung menjadi akrab dengan kita.

Malam ini, saya seakan menjadi aktor dalam film terminal. sebuah film yang bercerita seputar kehidupan seorang penumpang pesawat yang terperangkap di sebuah air port. namun sayang, peran yang saya lakukan mungkin tidak akan semaksimal peran yang semestinya. keterbatasan pengetahuan saya seputar air port ini membuat saya harus berpuas diri menghabiskan waktu hanya dengan menikmati akses internet wifi yang dapat dengan mudah ditemukan di sepanjang koridor. meski, menurut khabar angin, jika transit di hongkong dalam waktu yang cukup lama kita bisa saja memanfaatkan waktu yang ada untuk mengeskplorasi hongkong layaknya seorang pelancong. mungkin lain waktu bisa saya lakukan….

tulisan ini selesai bertepatan dengan terdengarnya gelagar suara seorang wanita cina yang memarahi suaminya. lantang, bertempo cepat dan beraroma kebencian yang sangat. hmmm..sepertinya kenangan transit mereka di hongkong tidak begitu baik.

keadaan mudah saja berubah-rubah. lepas sepasang suami istri tersebut melintas suasana koridor tempat saya berbaring kali ini kembali diam dan senyap. Keriuhan suasana air port seakan lenyap bersamaan dengan makin gelapnya langit Hongkong karena dibawa serta pergi bersama para penumpang yang mulai sibuk dengan tidur, obrolan, dan urusan mereka masing-masing.

hongkong 29 februari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s