Perjalanan menuju negeri gingseng (korea) bag. 1

Terima kasih untuk mereka yang telah mendoakan saya. Atas doa-doa kalian, akhirnya impian ini kemudian menjadi nyata. Terima kasih kepada mereka yang telah memberikan kata-kata pengokoh. Sepotong kalimat-kalimat inspirasi yang kemudian mampu menghalau jauh-jauh gundah selama perjuangan yang sama sekali tidak ringan ini. Ingin ku katakan kepada mereka,

“tak mungkin bergulir episode hidup seperti  ini tanpa peran-peran terbaik kalian. Kalianlah yang menghantarkan saya untuk temukan warna-warni hidup yang semakin indah hingga hari ini. Dan ingin saya katakan saya menghargai kalian lebih dari penghargaan saya terhadap diri saya sendiri. Kalianlah guru dan sahabat kehidupan saya”

***

Melalui tulisan ini secara khusus ingin saya sampaikan ucapan terima kasih kepada mereka yang telah berkenan menghantarkan saya ke depan pintu “koneksi” awal dan akhir sebuah perjalanan international (terminal penerbangan international Soekarno-Hatta); Mas Adit, Rasyid, Rian, Zaki, My loved little brothers: D2 dan Azrul. Serta yang teramat berjasa dalam perjalanan ini sang supir -Fahran a.k.a Ran Itachi- dan tukang potret – Intjeu-. jazakallah khair jaza Bro’s). dan mohon maaaf kepada siapa saja yang tidak sempat saya penuhi hak-hak silaturahminya sebelum keberangkatan ini. InshaAllah, pertemuan itu sungguh dekat.

***

Tanggal 29 agustus 2009, sekitar pukul 15.30 wib

Saya bersama dua orang adik angkat saya meninggalkan kostan kami tercinta: Al Izzah. Ada perasaan cukup berat untuk meninggalkan tempat bernaung yang satu ini. Selama satu tahun masa-masa penantian keberangkatan ke Korea.  Keseluruhan waktu yang saya miliki nyaris terhabiskan di tempat baik ini.

Al izzah menjadi sangat bersejarah bagi saya. Kostan pertama dan terakhir saya selama di Bogor. Pertama, saat pelaksanaan registrasi ulang mahasiswa baru namun izin masuk ke Asrama TPB belum saya kantongi. Terakhir saat saya meniti kehidupan “masa-masa usia lanjut” di IPB. Tak terasa saya telah bermukim di Bogor selama tujuh tahun dan sepertiga darinya saya habiskan di Al-Izzah. Al-izzah telah menjadi rumah dan kampung halaman kedua saya.

Setelah berpamitan dengan sebagian penghuni yang kebetulan sedang berada di kostan, angkot biru itu meninggalkan kostan. Secara perlahan pintu gerbang Al izzah, jalan babakan lebak, raya darmaga dan desa darmaga menghilang tertinggal di belakang kami.  Hingga kami sampai di Terminal Bus Damri, sekitar pukul 16.00 dan langsung “mendarat” di masjid alumni. Jamaah Ashar baru saja bubar. Saya terpaksa bergabung dengan jamaah kedua untuk menunaikan kewajiban sholat ashar berjamaah kali ini.

Secara tidak sengaja saya berjumpa dengan Rasyid. Rasyid adalah salah seorang sahabat baik saya di dalam maupun luar kampus semasa kuliah S1 dahulu. Dari beliau saya mengetahui bahwa teman-teman yang berencana mengantar akan berkumpul di masjid kampus Al ghifari sekitar pukul 17.00 wib. Rasyid menunjukkan rasa herannya mengapa saya menunggu di masjid Alumni bukan ikut berkumpul bersama dengan yang lain di masjid Al-ghifari. Sama herannya dengan Rasyid, Saya pun tak tahu manakala teman-teman yang ingin mengantar tersebut benar-benar menunaikan rencana mereka. Selain saya tidak menerima informasi kepastian rencana tersebut sebelum hari H keberangkatan ini. Saya juga sudah sangat maklum dengan kesibukan mereka yang tak lagi “muda” dan sudah mempunyai dunia perjuangan masing-masing. Sehingga simpang siurnya rencana ini belum memicu saya untuk membangun  sebuah bentuk harapan yang terlalu tinggi untuk dihantar. Saat itu, ucapan dan doa sudah menjadi hal yang berarti buat saya.

Rasyid izin pamit dan meminta saya untuk tetap menunggu di masjid Alumni. Saya bergabung dengan jamah sholat ashar dan Rasyid pergi menuju terminal Damri sambil berbicara dengan seseorang di ujung hp nya.

Semua bergulir dengan pasti. Tujuh tahun di Bogor berlalu bak seorang pencuri profesional mengendap dari belakang seorang target. Rapi, halus tanpa riak tiba-tiba saja saat sadar dompet sang pemilik sudah berpindah tangan. Demikian waktu perlahan namun pasti memindahkan kita dari satu masa ke masa yang lain. Dari satu menit ke menit yang lain. Pergantianitu bergulir begitu saja, tanpa sebuah perundingan sebelumnya .

Waktu perlahan namun pasti mengundang arakan awan untuk mengadakan perjamuan yang memenuhi langit bogor. Langit serta merta menjai teduh  karena sinar sang surya terhalang jatuh langsung. Demikian juga dengan langit branang siang sore itu. Bak sebuah simponi lagu, riak teduh menyapa selepas terik menyengat bertubi-tubi. syahdu. Kami baru saja selesai menunaikan sholat, hp saya berdering, sebuah panggilan masuk. Ternyata nomor Rasyid. Melalui kemudahan komunikasi ini, kami saling berkoordinasi. Rasyid dan beberapa teman-teman saya yang sudah berkumpul di masjid Al-ghifari sejak tadi ( kita sebut tim Al-ghifari). mengkhabarkan jikalau mereka sedang menuju terminal bis Damri dan meminta kami untuk bersiap-siap menunggu di sebuah tikungan menuju tol jagorawi.

Saya dan kedua adik angkat saya (kita sebut tim Alumni) bersiap diri  dan segera bergerak mengarah ke tempat yang dimaksud. Kebetulan, sejak kepindahan kampus IPB branangsiang ke Darmaga secara keseluruhan. Lokasi kampus Branang siang telah disulap menjadi sarana publik dengan Hotel, Mall, dan terminal berada dalam satu tempat. Bersyukur sekali Kompleks gedung Alumni dan masjidnya masih bisa dipertahankan. Memang, lokasi-lokasi strategis seperti ini memiliki sifat perubahan lebih dinamis dari pada daerah-daearah pedesaan yang masih relatif sepi. Salah satu yang menjadikan tempat ini bernilai tinggi adalah karena lokasinya yang sangat dekat dengan pintu tol Jagorawi. Tol yang menghubungkan Bogor dan Jakarta. Jadi jarak antara masjid Alumni dan tingkungan tol yang dimaksud hanya sepenguyahan sirih saja. Tak memerlukan waktu yang lama, tim Alumni sudah menuju tikungan yang disebut-sebut Rasyid tadi.

Namun, beberapa menit selanjutnya, saat kami masih bergerak menuju tingkungan, nomor asing memanggil saya. Seorang rekan saya yang lain memberitahu jikalau saya diharapkan untuk menunggu di pintu masuk terminal bus Damri. Sudah pasti saya hanya bisa mengikuti intruksi-intruksi yang dinamis ini. Saya pun menikmati nuansanya seperti seorang petani menikmati masa-masa penuh harap ketika mengolah tanah dan menanaminya dengan benih-benih. Nikmati saja. Dan seperti yang saya gambarkan tadi, semua tempat-tempat yang dimaksud olah penelpon-penlpon tersebut tak lain adalah sebuah tempat yang berada pada wilayah yang sama dan berdekatan. Tim Alumni hanya tinggal menarik atau mendorang tas travel dan menyandang sebuah tas dipundak mereka masing-masing, mudah bukan?, sekali lagi, enjoy saja.

Hingga akhirnya satu persatu kami saling bertemu. Satu hal yang unik adalah beberapa orang yang saya jumpai ternyata tidak tahu sama sekali jika ada tim alghifari. Mereka sendiri mendapat informasi jikalau mereka harus berkumpul di terminal bis Damri serta menunggu intruksi selanjutnya. Hanya itu. Sedikit terjawab keheranan saya maupun Rasyid tadi.

bersambung……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s