Akhirnya makan berlabel halal itu hadir meski masih terbatas

seorang teman menginformasikan kepada saya bahwasanya telah hadir sebuah mie instan ramyeon korea berlabel halal. tadinya saya tidak percaya seputar label itu. Saya hanya berfikir jika konotasi “halal” itu adalah sebatas makna bahwa produk itu tidak mengandung daging dan derivatnya sehingga mendekati halal. karena sejauh ini, demikianlah definisi halal yang bisa kami gunakan jika dengan sangat terpaksa mengkonsumsi makanan di luar dapur-dapur pribadi kami di negara gingseng minoritas muslim ini. Saya hanya tersenyum membayangkan label halal khas MUI berbentuk lingkaran dengan tulisan halal arab bersanding aksara Korea di sebuah produk: menakjubkan.

label halal di produk mie itu...

Karena kesibukan aktivitas di hari tersebut, informasi sejuk bak angin syurga itu mulai terlupakan. Menjelang malam saat waktu istirahat tiba. Saya memiliki kesempatan untuk terkoneksi kembali dengan dunia maya dan jejaringan sosialnya. Secara sekilas saya melihat daftar notifikasi yang cukup banyak sehingga menarik perhatian di laman utama jejaring sosial saya. Ternyata account saya sudah ditag  sebuah foto yang bukan rekayasa, menampilkan gambar mie instan ramyeon dengan label khas KMF (Korean Moeslem Federation), berupa gambar sebuah masjid berwarna hijau pluas tulisan halal latin pada sebuah produk mie. Subhanallah, itu komen pertama saya ketika menyaksikan hal tersebut. Saya melihat ini sebagai sebuah loncatan besar bagi dunia industri makanan instan Korea.

Akhirnya dunia produk makanan Korea memasuki babak baru. Sebuah fase sertifikasi halal oleh lembaga yang dipercaya sebagai representatif komunitas muslim Korea (KFM) akan segera dimulai. Meskipun dari info terbaru saya mengetahui bahwa produk tersebut pada dasarnya adalah produk yang dibuat untuk tujuan export, namun setidaknya wacana makanan halal mulai menyeruak luas di dunia konsumsi Korea. Semoga suatu saat dalam waktu dekat akan banyak produk-produk lain yang mengalami nasib yang sama dengan mie ramyeon tersebut. Semoga suatu saat, khalayak umum masyarakat Korea mengenal dan memiliki keinginan yang besar untuk  menyediakan makanan halal di kedai-kedai dan rumah produksi mereka. amin.

Sebuah Perjuangan dan keadaan yang kontrakdiktif

memang sebuah perjuangan itu tidak sepi dengan kontradiksi. Saya teringat dahulu ketika pemberitaan berbagai kasus pelarangan penggunaan jilbab santer di media-media islam yang vokal di zaman orde baru. Di satu sudut tanah sumatera dikabarkan adanya sekelompok siswa SMU negeri dipaksa untuk membuka jilbab hanya karena alasan pengambilan foto untuk keperluan ijazah. Pihak sekolah bukannya membela, malah menjadi eksekutor terdepan berwujud provokator sekaligus intimidator pelarangan jilbab tersebut. Mereka menekan para siswa berjilbab agar melunak dan mengikuti saja regulasi buka jilbab itu dengan membeberkan alasan yang terbukti tidak logis dan mengada-ada di kemudian hari. Mereka mengatakan, jika kalian tidak menampilkan foto tanpa jilbab, suatu hari kalian akan menghadapi sebuah perkara yang akan menyulitkan. mereka berpendapat foto berjilbab akan menyulitkan orang mengenal identitas asli si pemegang ijazah. sungguh sebuah alasan picik yang kemudian terbukti salah seiring dengan berjalannya waktu.

Namun sayang, saat peristiwa itu tak sedikit siswa berjilbab itu sembari menangis sesugugukan akhirnya memutuskan membuka jilbab untuk keperluan pengambilan foto. Itulah masa-masa terberat dalam perjuangan mereka. Ya…mereka melalukannya karena gamang dan takut akan ancaman yang dilontarkan pihak sekolah. mereka membuka karena ketidakberdayaan, bukan untuk tujuan candaan atau hal tidak penting  lainnya. Bukan dengan motiv yang menjurus kepada penghinaan agama yang mengajarkan penggunaan jilbab, seperti yang banyak kita saksikan sekarang. Masa ketika mengenakan jilbab tidak lagi membutuhkan perjuangan dan pengorbanan akibat adanya pelarangan. astagfirullah, jika benar demikian, bukankah ada Allah di balik tujuan tindakan sadar maupun tidak sadar mereka itu?. mempermainkan jilbab, bukankah juga secara tidak langsung mempermainkan Allah?. Semoga kita dan mereka diampuni Allah atas ketidakberdayaan itu. namun bagi yang melakukan hal yang sama untuk urusan candaan dll. Semoga Allah memberikan keputusan yang terbaik atas tindakkan mereka. Agar di kemudian hari bisa menjadi pelajaran yang ampu bagi generasi penerus kita. itu sepenggal cerita dimasa perjuangan menjadikan jilbab sebagai sebuah kewajiban yang dikenal luas di sebuah negara yang secara statistik merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia: kontradiktif.

Kontradiksi pun mencolok mengiringi perjuangan segolongan masyarakat muslim di Korea untuk mengedukasi masyarakat korea agar lebih perhatian dengan makanan Halal. Tak sedikit munculnya cerita baik di dalam maupun di luar kampus dan  pabrik bahwasanya meski seorang warga negara asing beragama islam, mereka tidak mempermasalahkan makanan yang akan dimakan dalam sebuah acara makan bersama berstatus “medekati” halal atau sama sekali haram. Keadaan seperti ini menurut penulis menjadikan masyarakat Korea secara tidak langsung menjadi sekelompok masyarakat yang tiba-tiba menjadi bingun dengan pemahaman apa hubungan orang islam dan keharusan mengkonsumsi makanan (daging) halal. padahal, berdasarkan pengalaman penulis, masyarakat korea adalah sekelompok masyarakat yang sangat menghargai orang lain. dengan demikian alasan warga asing beragama islam namun berprilaku seperti yang saya sebutkan tadi (terhadap perkara makan makanan halal), mengatakan bahwa mereka bersikap demikian karena takut menyinggung atau tidak diterima komunitas baru mereka di korea adalah sebuah alasan yang sangat jauh dari kebenaran.

inilah kontradiksi yang penulis maksud. Bagaimana bisa, wacana pengadaan makan halal itu bisa berjalan dengan pesat bilamana kelompok masyarakat yang semestinya menjadi pasar terbesar produk halal malah memilih membisu dari kebutuhan mereka akan produk halal. padahal mereka amat tahu teori sederhana ekonomi, jika ada permintaan yang tinggi akan sebuah produk maka pasti akan datang usaha pemenuhan permintaan ini. high demand will invite high supply. jadi ternyata berdakwah yang merupakkan kewajiban bagi semua muslim tidak hanya berarti mengisi kajian di tempat-tempat ibadah saja, melainkan dengan bersikap sedikit picky (memilih) ketika dijamu makan juga merupakan tindakkan kayak hikmah dalam rangka mengedukasi masyarakat korea yang sama sekali belum mengenal islam secara luas termasuk seputar hubungan kewajiban seorang muslim untuk mengkonsumsi makanan halal.

Bagaimanapun Islam akan menang: Ketika Trend Makanan Halal Melanda Dunia

Tak jarang penulis menemukan pemberitaan seputar perkembangan trend mengkonsumsi makanan halal di belahan dunia lain seperti eropa dan asutralia. Penulis pernah membaca sebuah artikel yang berisi informasi jikalau anak-anak muda prancis lebih suka mengkonsumsi makanan halal belakangan ini. Atau sebuah tulisan berita yang menginfokan pesatnya invansi produk daging halal dari benua kangguru ke pasar-pasar negara muslim. Terakhir, sebelum jepang dilanda tsunami, penulis pernah diminta seorang teman untuk mencarikan SOP pembersihan alat produksi makanan agar memenuhi standar produksi makanan halal setelah berulang-ulang digunakan untuk memproduksi produk haram sebelumnya. Dari info teman di negara sogun tersebut, produsen makanan Jepang mulai melirik pasar produk makanan halal karena memang pasar ini memiliki perkembangan ke arah positif. Demikian sobat, sekali lagi Allah akan menunjukkan kemenangan agamanya dari paham-paham lain di luar islam. jadi sayangkan klo kita sendiri yang muslim kok malah meninggalkan agama kita, dalam hal ini aturan makan untuk berhati-hati terhadap makanan haram kudu menjadi perhatian kita, terlebih kita yang hidup di negara minoritas muslim dan penduduk lokalnya masih minim pemahaman akan islam.

demikian sobat, mudah2an tulisan ini bermanfaat untuk peningkatan kebanggaan kita kepada islam. Mohon doanya agar suatu hari nanti korea akan menjadi negara yang semakin ramah dengan dunia islam dan kebutuhannya. amin.

tampilan muka produk mie

foto: hasrul ma’aruf (kolesi pribadi)

6 thoughts on “Akhirnya makan berlabel halal itu hadir meski masih terbatas

  1. fauziah says:

    alhamdullilah ya ALLAH^^
    emang susah bgt ya bg cari makanan halal di sana???brarti orng korea banyak menkonsumsi babi dong????

    1. syahjayasyaifullah says:

      Susah itu relatif dalam konteks ini. klo kita rajin masak sendiri tidak ada masalah dengan makanan. Klo kita berjiwa konsumtif dan malas, dimanapun berada memang akan menjadikan hidup susah. Orang-orang asia selatan (termasuk di dalamnya Jepang, China, Taiwan dan Hongkong) rata-rata memang pengkonsumsi daging babi. Di Korea, daging babi dikenal sebagai daging favorit salah satunya karena dapat diperoleh dengan harga murah.

  2. fauziah says:

    oh iya juga ya bg,,kalo kita mau ngk ada yang susah…
    berarti kalo misal nya kita mau makan di restoran sana susah dong cari yang ngak ada dging babi nya???

    1. syahjayasyaifullah says:

      wa’alikum salam wr wb
      sudah pasti lebih susah dibandingkan hidup di negara yang mayoritas islam. Di korea makanan halal hanya tersedia di kota2 tertentu saja. untuk teman-teman pekerja dan mahasiswa pria, kadang kesempatan sholat jumat adalah hal yang sangat langkah bagi mereka. intinya tidak semudah hidup di negara berpenduduk mayoritas muslim atau negara-negara yang sudah mengetahui/mengakui islam sebagai agama (misal negara2 eropa). demikian. wasalammu’alikum wr wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s