Sehari di Namsangol: sekelompok rumah kuno di tengah kota modern Seoul: edisi permainan tradisional (bag. I)

Suatu waktu saya berkesempatan melakukan hunting foto bersama seorang teman korea, Brother Byron. Sehari sebelum hari H beliau malayangan undangan untuk berkunjung ke Namsangol. Setelah mencari tahu tentang namsangol, akhirnya saya menyambut baik ide beliau tersebut.

Pertemuan dengan Brother Byron pun bisa di bilang unik. Bertemu di masjid Itaewon. Saya ingat betul, saat itu beliau terlihat asyik mengambil foto masjid dengan kamera canon berlensa gelas yang menarik minat. Bermula dari sapa ringan, berlanjut pada obrolan satu ke obrolan lain. Mungkin merasa saling cocok akhirnya persahabtan kami berlanjut hingga sekarang.

Kunjungan kami ke Namsangol merupkan saah satu bentuk pembuktian brother Byron mewujudkan sebuah ucapannya ketika perkenalan kami dahulu

“I’ll be your guide whenever you are going to look around Seoul. We have many interesting place here. let me know if you have any leisure for looking around”

dan waktu itupun tiba.

Kami  berjanji untuk bertemu di stasiun Chungmuro. Stasiun Chungmuro merupakan pertemuan dua jalur subway: jalur 3 dan 4. Tak perlu menunggu dalam waktu lama, saya langsung mendapat telpon yang mengkabarkan jika brother Byron menunggu saya di pintu keluar nomor 3, beberapa menit selepas subway yang mengantarakan saya menuju stasiun selanjutnya.

Sejak dahulu saya memang termasuk orang yang menyukai gaya arsitektur rumah khas korea bernama Hanok ini. Baiklah sobat semua, saya akan mengajak sobat ikut serta menikmati apa yang saya lihat di dalam komples Namsangol atau Desa Tradisional Kota Namsan ini.

Namsangol merupakan salah satu pilihan tujuan wisata GRATIS di Seoul.

Lepas pintu gerbang, kami langsung disabut dengan atraksi pembuatan sendal khas korea berbahan baku jerami

beberapa sandal yang sudah berhasil diayam pun turut serta dipajang bersama barang anyaman lainnya. Fakta pertama yang saya dan sobat harus ketahui dalam perjalanan kali ini adalah Korea selatan juga memiliki kebudayaan mengayam menggunakan bahan-bahan alam. semestinya kemampuan mereka “mengayam” alat-alat elektronik di zaman modern ini patut diimbangi oleh negara kita, toh dahulunya kita sama-sama memiliki pengetahuan mengayam. bagaimana sobat, setuju dengan analogi ini?.

puas menikmati proses orang sedang mengayam, kami bergerak menuju titik mainan tradisional. Di sini kita dapat ikut bermain. Diantara permainan yang bisa kita temui adalah gasing Korea.

cara bermain gasing ini  sama persis dengan saudara kembarnya di Indonesia: gasing Indonesia. Perbedaannya hanya terletak pada tali dan proses permainan setelah gasing dilemparkan agar berputar. Tali gasing korea dilengkapi tongkat bambu pedek (terlihat pada gambar). Tongkat ini memudahkan proses memukul tali agar gasing tetap berputar selepas gasing dilemparkan agar berputar. mungkin di beberapa daerah di indonesia ada permainan gasing yang memiliki aturan yang sama dengan gasing di korea ini. Adakah sobat yang memiliki pengalaman? kalo saya pribadi, sempat menikmati masa bermain gasing di kampung dengan aturan melemparkan tali dengan melilitkannya secara memutar di sebagian badan gasing. dengan taknik ini diharapkan tali menjadi alat pemutar gasing. selepas gasing dilempar, gasing dibiarkan tanpa diputar ulang dengan tali. permainannya adalah menyaksikan gasing siapa yang memiliki kemapuan putar paling lama. versi lain, yaitu versi yang lebih jantan adalah gasing saling diadukan. gasing milik pemain yang kalah “suit” , ditempatkan dalam lingkaran. Sementara para pemain yang menang suit akan menghantam gasing dalam lingkaran namun saat menghantam tidak boleh mati di dalam lingkaran. jika mati, berati ia akan ikut serta menjadi gasing pesakitan. fakta kedua orang korea punya permainan gasing juga. jika sekarang mampu menjadi salah satu pemutar ekonomi global, mestinya Indonesia juga memiliki peran yang sama. toh keduanya sama-sama memiliki pengala bermain gasing.

Permain selanjutnya adalah lempar lembing ke dalam sebuah tabung. permainan ini juga termasuk permainan umum di negara kita indonesia. Bahkan bangsa kita memiliki pikiran yang lebih kreatif, terbukti dari dasar permainan ini kita memiliki koleksi permainan yang berbagai rupa aturannya seperti: permainan kepala babi (sebuah kayu ditaruh melintang di atas sebuah lubang. pemenang suit bertugas melempar kayu melintang sejauh mungkin kearah lawan. jika lawan mampu menangkap maka poin menjadi hak mereka.  jika tidak lawan berkewajiaban melempar induk (kayu yang dipegang pememang suit) yang diletakan melintang di atas lobang. jika berhasil tersentuh maka posisi berganti jika tidak pemenang suit berhak memukul ulang kayu dengan pukulan khas dan menghitung nilai dengan mengukur jarak lemparan kayu menggunakan kayu induk) bagimana sobat lebih kreatifkan?. bahkan kita memiliki ribuan jenis permainan lainnya berbasis lembing.

fakta ketiga yang baru saja kita temui seputar Korea selatan dan Indonesia adalah mereka dan kita sama-sama memiliki permainan berbasis lembing dan target sasaran. bahkan hal yang lebih menarik adalah bangsa kita memiliki jenis permainan berbasisi lembing lebih beragam ketimbang bangsa Han. fakta terakhir menunjukkan kenyataan bahwa pada dasarnya bangsa kita adalah bangsa yang lebih kreatif. dengan demikian ketika bangsa korea sekarang menjadi bangsa yang dielu-elukan sebagai bangsa yang memimpin dunia hiburan berpenggemar ribuan orang (tak terkecuali sebagian besar pengelu-elu dan pengemar fanatiknya berasal dari bangsa kita). Semestinya, dengan melirik pada pengalaman bermain tadi, bangsa kitalah yang patut memimpin dan menjadi negara kaya penggemar.

Ketika "dia" bisa, mengapa kita yang besar ini tidak?.

demikian beberapa permainan yang saya dan brother Byron temukan di lokasi kunjungan kami kali ini….

insyaAllah perjalanan kita akan berlanjut guna membedah Namsangol lebih dalam….sampai bertemu di tulisan selanjutnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s