Pengalaman Pertama Menyaksikan Pernikahan WNI di Negeri Gingseng. Barakallah hulaka wa barakallah alaika

Usia masjid Nur Hidayah, Kota Anseong belum genap 2 tahun, namun sudah berhasil menikahkan 4 pasang suami-istri secara resmi berdasarkan hukum agama dan negara sekaligus. Menurut saya, ini prestasi yang luar biasa.

papan nama masjid Nur Hidayah, semoga terus makmur.

“ini juga baru beberapa tahun terakhir bisa dilakukan mas. dahulu kita sempat juga bersitegang dengan KBRI. Mereka tidak mengizinkan pernikahan diselenggarakan di Korea. Ini urusan Depag….”  Bisik Bapak M. Toha, salah satu penghulu wilayah tengah Korea itu sesaat sebelum rangkaian acara aqad nikah dimulai.

“Alhamdulillah. Ya…itu. berkat perjuangan ustad Irfan melobi KBRI. Akhirnya kita bisa lakukan dengan baik seperti ini” sambung pak Toha dengan suara yang makin pelan diantara riuh rendah suara bahagia para hadirin yang telah memadati ruang utama masjid Nur hidayah, sembari mengibaskan selembar kertas yang belakangan saya ketahui sebagai sertifikat nikah resmi dari KBRI. Ternyata, pernikahan yang diselenggarakan di Korea belum bisa sekaligus dikeluarkan buku nikahnya. Sertifikat nikah merupakan buku nikah sementara. Sertifikat ini nantinya bisa diganti menjadi buku nikah tak kala kedua mempelai memiliki kesempatan pulang ke Indonesia. Demikian sebuah kosekuensi ketika atase agama belum dimiliki sebuah kedutaan perwakilan Indonesia di luar negeri. Semoga suatu saat KBRI Seoul bisa semakin lengkap perangkatnya sehingga semua kebutuhan WNI di Korea dapat terpenuhi dengan layak.

***

Bak ingin mencari permata jauh ke Seoul, ternyata hamparan permata itu berada tak lebih dari 1 jam perjalanan dalam jangkauan saya. Sebuah permata sejuk bagi pandangan mata dan dekapan hati, demikian kesan yang telah saya rasakan kali pertama berkunjung ke masjid Nur Hidayah, Kota Anseong. Masjid ini sudah saya dengar keberadaanya sejak beberapa tahun yang lalu, mungkin berkisar saat awal-awal pendiriannya. Namun, karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman menjelajah Korea, saya berfikir jikalau Kota Anseong adalah kota yang berlokasi jauh tak ubahnya Kota Ansan, dan Uijeongbu (dua kota di mana 2 masjid indonesia lainya berlokasi) dari Cheonan, kota domisili saya sekarang. Sehingga saya secara tak sadar sedikit melupakan tetangga sendiri karena sudah terlanjur asyik masyuk dengan rutinitas saya mengunjungi masjid Itaewon, seoul dan sekitarnya. hingga sampailah pada waktu di  mana saya diminta untuk datang ke Masjid Nur Hidayah dalam rangka menghadiri aqad nikah seorang rekan pekerja. Tak sekedar itu, saya pun didaulat menjadi pengisi khutbah nikah dengan mukodimah panjang pengurus yang menjadikan saya berat untuk mengatakan tidak.

“Iya ustad. Kita butuh pengisi baru untuk penyegar suasana”

“tapi ini berat sekali pak Ali. bisa besok saya beri keputusan?. Saya harus diskusikan terlebih dahulu. Besok, saya akan segera sms pak Ali manakala saya sudah memiliki jawaban”

“Baiklah ustad. Mudah2an jawabannya bisa. kami tunggu jawabannya”

“Ups…satu lagi pak Ali. Saya tidak berkenan dipanggil ustad. panggil saya jaya saja” pinta saya dengan sangat melalui permainan nada suara yang mengiba.

“baiklah. kami tunggu ya mas, jawabannya. saya yakin mas jaya bisa. sekian dulu ya mas. maaf nih jadi mengganggu. silahkan dilanjutkan pekerjaan lab-nya. wasalammu’alikum wr wb”. suara di ujung sana tiba-tiba menghilang.

Komunikasi saya dan pak Ali pun terus berlanjut. beliau juga yang kemudian memandu saya untuk menemukan lokasi masjid. Subhanallah, minggu siang itu menjadi saksi bagi sambutan hangat yang disuguhkan jamaah majid Nur Hidayah kepada saya. Senyum, sapa dan keramahan mereka sebagai warga negara indonesia tak menghilang meski sudah bertahun-tahun menetap di negeri gingseng  ini. kerasnya hari-hari mereka pun ternyata tak turut serta mengeraskan hati-hati lembut mereka. keberadaan masjid ini menjadi bukti nyata keadaan yang saya sebutkan terakhir. Mereka dengan sengaja menyisihkan sebagian rezeki perasan keringat mereka ke dalam pundi-pundi amal kas masjid guna mempertahankan keberadaan rumah Allah serta aktivitas taqarubilllah di dalamnya.

Aqad nikah berjalan dengan lancar. Penghulu melakukan pengecekan kelayakan diberlangsukannya aqad ini secara hukum negara dan agama.

“Memang kita harus ketat dan teliti mas. Tak mudah memang melakukan aqad nikah di luar negeri ini. Dulu pernah ada kasus, ternyata kedua mempelai masih berstatus sebagai suami dan istri orang lain. ya kalau seperti itu, aqad tidak boleh dilakukan” terang pak Toha sesaat setelah proses pengecekan administrasi kedua mempelai kepada saya. saya hanya diam menyimak dengan seksama.

Setelah semua surat dinyatakan sah dan sesuai, maka pak Toha meminta agar orang tua mempelai wanita segera dihubungi. Melalui sebuah perangkat komunikasi, pak Toha membimbing Ayah pengantin wanita untuk menyerahkan hak perwaliannya kepada beliau. satu proses penting ini berlangsung dengan lancar. alhamdulillah. Selanjutnya rangkaian acara aqad nikah memasuki proses ijab qabul. alhamdulillah, proses puncak ini pun berlangsung dengan lancar. InsyaAllah, sejak saat itu, kedua mempelai sudah sah menjadi sepasang suami istri. barakallah hulaka wa barakallah alaika.

serah terima perwalian kepada penghulu

“saya merinding jay” seorang teman yang ikut serta hadir dan mendampingi saya mengutarakan perasaannya ketika menyaksikan peristiwa penting dan sakral tersebut. subhanllah. sayapun turut haru menyaksikan peristiwa perjanjian setara perjanjian Allah kepada para nabi dan bani israil ini. semoga pasangan ini menjadi pasangan yang dari keduanya Allah lahirkan generasi pemberat bumi Allah dengan kalimat tauhid.

Semoga dengan memungkinkannya dilangsungkan pernikahan WNI di Korea menjadi solusi konkrit bagi WNI yang sudah waktunya menikah. Semoga tak ada lagi informasi tak sedap beredar dikalangan WNI seputar praktik kumpul kebo dengan alasan yang dibuat-buat. Semoga peluang ini pun mampu menjadikan modal keberkahan bagi seluruh WNI di sini. Semoga kita tetap menjadi bangsa yang religius di mana pun kita berada, termasuk di negeri minoritas muslim, negeri pagi yang tenang ini. amin.

menikah solusi agama terhadap praktik perzinahan

Lepas prosesi aqad nikah. Acara dihantarakan menuju rangkaian acara selanjutnya oleh MC. tak ubahnya di Inodnesia acara selanjutnya adalah pemberian ucapan selamat kepada kedua mempelai yang berbahagia oleh seluruh hadirin. Acara berahir sebelum waktu sholat ashar bertandang ke kota Anseong. Acar ditutup dengan jamuan sederhana bermenu khas masakan indonesia. selamat menikmati da semoga sajiannya merupakan makan yang terjaga kehalalannya. amin. barakallah…

One thought on “Pengalaman Pertama Menyaksikan Pernikahan WNI di Negeri Gingseng. Barakallah hulaka wa barakallah alaika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s