Cerita sekarung beras

Alkisah sekarung beras 20 Kg baru saja dipesan oleh Lee melalui internet. Untuk urusan pemesan barang-barang melalui internet terutama di portal jual beli gmarket (portal terbesar transaksi jual beli online semua jenis barang di Korea), saya selalu meminta bantuan Lee. Selain karena web ini didominasi  tulisan korea (padahal ini sepatutnya tidak menjadi alasan karena mereka juga menyediakan web versi bahasa inggris meskipun layanannya tak selengkap versi bahasa lokal), juga karena cara pembayaran yang belum bisa saya kuasai. alhasil saya selalu mengadalkan Lee untuk urusan-urusan seperti ini.

Lee sudah paham sekali kebutuhan saya soal beras. Bahkan tak jarang Lee bertanya secara proaktif apakah stok beras saya masih ada atau sudah habis dibeberapa kesempatan. Ya. Sejauh ini boleh dibilang aktivitas transaksi online saya masih seputar beras saja. Untuk kebutuhan lain saya merasa belum terlalu “perlu” melakukannya secara online. Alhamdulillah, aktivitas belanja offline di Korea juga tidak kalah nyaman dilakukan dibandingkan belanja online. Korea memang syurga belanja online dan offline.

Kembali ke persoalan beras. Beras sudah Lee pilih dan pesankan dengan harga paling pantas. Beberapa bulan terakhir, saya selalu mengkonsumsi beras California yang relatif lebih murah dibandingkan beras lokal. Beras yang mengusung semboyan Rice Green ini hanya berharga 23.000-25.000 Won untuk kemasan berukuran 20 Kg. Sedangkan beras lokal dibandrol seharag 30.000-35.000 Won untuk ukuran volum yang sama. Selisih harga seperti itu cukup berarti bagi seorang mahasiswa rantau seperti saya. 

Ada dua keuntungan belanja  beras yang bisa saya peroleh secara bersamaan dalam sekali transaksi online adalah pertama, beras bisa berharga lebih murah dibandingkan harga offline (lagi-lagi perkara uang ya😀. Mahasiswa…mahasiswa…*geleng-geleng kepala) dan beras akan diterima di depan pintu rumah saya secara langsung. untuk urusan yang terakhir benar-benar simpel dan efisien. Tak jarang service hantar inipun diberikan secara cuma-cuma alias gratis tanpa syarat (ha…ha..ha..lagi-lagi soal sih DON). Benar-benar menjadikan pembeli sebagi rajakan?.

Nah, cerita sebungkus beras ini baru saja ingin saya utarakan. Lalu beberapa paragraf di atas apa?. Ya….semacam kata pengatarlah….:). Ok…kita lanjut sobat. Tak bermaksud ingin melebih-lebihkan Korea. Tapi cerita ini adalah fakta sebenarnya yang saya alami. begini ceritanya.

Beras sudah dipesan oleh Lee. Ini berarti saya akan melihat barang pesanan itu nongkrong di depan pintu rumah dua hari lagi sejak hari pemesanan. Kebetulan minggu-minggu terakhir adalah minggu penuh hujan di Korea, tak terkecuali kota tempat saya tinggal. 

Di hari kedua setelah pemesanan. Hujan turun sejak jam 2 sore. menjelang magrib saya masih asyik dalam dunia sendiri di lab sedangkan teman-teman lab yang lain sudah sibuk di kamar mereka masing-masing. Saat sholat magrib, telpon dari Lee masuk ke anycall saya. Panggilan itu lewat begitu saja seperti hujan yang terus-menerus membasahi tanah untuk sekdar numpang lewat dan pergi begitu saja mencari jalan agar bertemu dengan saudara-saduara air lainnya yang sudah terlebih dahulu tersebar luas di muka dan dalam bumi.  Saat pekerjaan selesai dan jam waktu sudah menunjukkan pukul 23.oo, saya mulai meninggalkan lab menuju rumah. Sesampai di koridor kamar yang berlokasi di lantai satu. Saya sudah melihat kehadiran sesuatu di depan pintu rumah mana kala lampu dengan sensor gerak dan cahaya koridor menyala ketika saya baru saja memasuki pintu utama apartemen kami. Oh ternyata telpon Lee tadi bermaksud mengkabarkan saya jika beras sudah dihantarkan. Memang demikian sistem pengantaran barang di Korea. Saat melakukan transaksi kita bisa mencantum nomor kontak dan pesan agar dihubungi bilamana barang pesanan kita sudah sampai. Karena pemesanan atas nama Lee, maka nomor telpon yang disertakan juga nomor telpon milik Lee. Saya langsung memindahkan beras ke dalam rumah dengan perasaan yang begitu puas sebagai konsumen.

Tak hanya sekali barang pesanan saya tertinggal di luar rumah dalam waktu yang cukup lama (untuk kasus ini barang hanya berupa beras). Meskipun tertinggal tanpa penjaga tak jarang saya menemukan ia akan berada di tempat yang sama sejak pertama kali ditinggalkan pengantar. Memang orang-orang korea itu tak mau ikut campur urusan orang kecuali bila diminta. Jadi, jangankan mau memindahkan barang milik kita ke rumahnya (diambil), dilirik saja tidak. Mungkinkah ini sebagai pertanda sifat induvidualisme yang makin kental dalam lingkunagn sosial mereka?. entahlah, yang jelas angka pencurian di Korea relatif rendah. Saya tak paham juga mengapa fenomen ini bisa terjadi?. Apa karena banyaknya instalasi cctv diberbagai tempai di Korea?. Sekali lagi. Entahlah. yang jelas mereka lebih baik dari negara kita untuk urusan yang satu ini. waulahu’alam.

demikian sobat cerita sekarung beras sore ini

mimpidimenjelangmaghribuntuksebuahperbaikandinegaratercinta.

2 thoughts on “Cerita sekarung beras

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s