Pentingnya label halal: kasus mie instant shin ramyun noodle soup

Terkait dengan tulisan ini, saya ingin sedikit memberikan penjelasan lebih lanjut seputar mie instant yang dimaksud. mie shin ramyun noodle soup memang merupakan salah satu produk mie instant populer di Korea. Seperti yang saya ulas dalam tulisan sebelumnya, ternyata mie dengan nama produk yang sama sudah mendapat label halal dari Korea Muslim Federation (KMF) . Tak hanya itu, saya juga menjelaskan jikalau mie dengan label halal tersebut diproduksi dengan tujuan export saja (info ini baru saya peroleh dari beberapa rekan).

Selepas tulisan terkait saya publish, ada beberapa rekan (termasuk saya) berinisiatif untuk mengecek apakah mie bermerek dan nama dagang sama serta beredar di seantero pasar Korea berkadar halal yang sama meski tidak berlabel halal?. Alhamdulillah akhirnya dengan segera saya menemukan jawabannya.

produk mie shin ramyun noodle soup: Kiri= berlabel halal dari KMF; Kanan= produk yang ditemukan di pasaran lokal.

Cara iseng dan sederhana saya gunakan untuk mengamati kehalalan produk ini. Pertama saya perhatikan gambar kemasan bagian depan mie instant. Saya sendiri sempat terkejut saat memperhatikan dan membandingkan kedua foto kemasan mie instant. Ternyata mie yang tidak berlabel halal KMF di kemasan bagian depan (masih) terdapat gambar daging di dalam gambar mie  siap santapnya sedangkan mie yang berlabel halal KMF tidak dijumpai (sepertinya sudah diedit dan diganti dengan gambar jamur saja). Memang jika tidak jeli (jeli mata fisik dan mata iman), perbedaan itu sulit ditemukan karena warna daging dan jamur dalam gambar itu sama. Memang sih itu hanya sekedar pengamatan yang sederhana berdasarkan kemasan saja. Saya jadi ingat pepatah “dont judge book from the cover”. Baiklah sobat, saya ikuti arahan pepatah ini. Saya tanyakan langsung perkara ini kepada teman Korea. Dan jawaban beliau adalah ” You can’t eat this food”. Menurut penjelasan beliau bahwa mie instant yang tidak berlabel halal tersebut mengandung daging. Saya kaget luar biasa dengan pernyataan teman Korea tersebut. Dan benar adanya kecurigaan saya terjawab. Allahuakbar…….sebenarnya tulisan ini sudah saya siapkan sejak awal untuk mengklarifikasi ulang hakikat halal dalam tulisan saya sebelumnya. Memang benar ya…..label halal itu penting sekali. semoga suatu saat produk-produk makanan Korea makin banyak yang berlabel halal. dan yang terpenting tidak hanya untuk tujuan export saja melainkan juga untuk pasar lokal. Dalam urusan ini, mestinya  Korea juga tak mau kalah dengan negara “saingannya” (Jepang) yang sudah mulai melirik dan memberlakukan regulasi pangan halal ini.

Jadi sobat semua. Melalui tulisan ini saya ingin memberikan peringatan kepada sobat beberapa hal:

1. mari kita beristighfar mohon ampun kepada Allah atas khilaf yang terjadi. Terutama saya sebagi penulis yang memiliki peran besar dalam kesalahan ini. Ya Allah ampuni hamba. Untuk hal ini saya ucapkan terima kasih kepada mbah (diprotes nih saya. maaf sobat bukan MBAH tapi maksud saya Mbak) Shinta rini yang telah mengirim pertanyaan secara pribadi kepada saya sehingga saya langsung memposting tulisan ini. Sekali lagi, saya mohon ampun pada Allah dan mohon maaf kepada semua sobat.

2. mie instant bermerek shin ramyun noodle soup di pasaran umum korea belum berlabel halal dan memang secara kandungan, mie tersebut masih mengandung daging. Jadi, meskipun merupakan produk yang sama, hakikatnya mereka memiliki hukum yang berbeda. MasyaAllah, penting sekali label halal itu.

3. Jika terjadi kesalahpahaman tentang tulisan saya terdahulu mudah2an Allah ampunkan saya dan sobat semua (sebenarnya dalam tulisan terdahulu saya sudah menyebutkan bahwa produk berlabel halal itu hanya untuk tujuan export)

4. mari kita mengambil pelajaran bahwa betapa penting fungsi label halal di sebuah produk makanan. terlihat jelaskan bahwa ada korelasi kuat antara label halal dan kandungan bahan haram pada sebuah produk makanan. Orang korea aja tahu kalo daging yang tidak dipotong dengan cara islam itu haram bagi orang islam, lalu kenapa kita yang orang islam sendiri tidak bersifat pilih-pilih dalam mengkonsumsi makanan di Korea ini ya?. semoga ada hikmah yang bisa kita petik dari kejadian ini.

sekali lagi saya mohon ampun kepada Allah dan maaf kepada sobat semua.

demikian sobat. semoga tulisan ini bermanfaat. mari kita tingkatkan kehati-hatian dalam mengkonsumsi makanan di negara minoritas ini sembari semakinmemperbanyak berdoa semoga suatu saat makanan berlabel halal dalam di korea makin mudah diperoleh suatu saat nanti. waulahu’alam

75 thoughts on “Pentingnya label halal: kasus mie instant shin ramyun noodle soup

    1. syahjayasyaifullah says:

      kalo ada label HALAL nya, iya insyaAllah HALAL. Klo tidak ya tidak ada jaminannya. FYI, saat pulang ke indo medio Mei kemarin saya banyak menemukan produk Korea yang tidak memperhatikan kehalalan produk. Sungguh ini menjadi tantangan besar buat umat muslim Indo yang mulai tidak terlalu peduli dengan apa yang mereka makan. waulahu’alam.

  1. renzo says:

    kemarin sy jg bli mie ramen korea, dari bahan2 nya dari sayuran ga da bahan daging (malah tertulis no pork oil/tidak mengandung minyak babi) setelah di telusuri, walo no pork oil, tp mie itu di produksi di tempat yg memproduksi makanan lain yg mengandung babi.. jd mawas diri aja klo bli makanan… contoh yg lain cake (biar enak rata2 pke rum), bs bandingin cake yg ga pke rum ama yg ngga ?

  2. hara kyuyoung says:

    Astagfirullah… Jadi yang sebelah kanan itu gak halal?? Gimana dong?? Saya sudah terlanjur berkali-kali makan shin ramyun yang tanpa label halal.. Saya kira 2 2 nya halal..😦

  3. zoerry says:

    terimakasih banyaaak infonya..
    karena makanan korea dan semua tentang korea sedang menjamur, jd ini penting banget untuk di share.

    *pake widget share dong hyung, jd lebih gampang di share di fb ato twitter🙂

      1. zoerry says:

        gampang kok hyung. ntar di dasbor ada pilihan folder setting, terus ada pilihan sharing. tinggal pilih deh mau di-share di media mana🙂

  4. Syahriani says:

    Bukannya Sudan ad label dari BPOM y?jd klo ad kandungan babinya pasti Akan ketahuan d lab pengujian, jade yg mana Nih yg benarnya.?makasih Atas infonya

  5. Ricke Indriani says:

    Assalamu’alaikum.

    Salam kenal brother Syahjayasyaifullah🙂
    Mungkin yang dimaksud Mba Syahriani itu label izin dari BPPOM RI, bukan LPPOM MUI. 2 lembaga ini kan berbeda, klo yang mengeluarkan sertfikat halal itu LPPOM MUI, sebagai ulil amri masalah kehalalan produk made in Indonesia.
    Setau saya jika produknya adalah produk import alias bukan made in Indonesia, yg memberikan sertifikasi Halal itu bukan LPPOM MUI, tetapi Muslim Council atau Muslim Federation dari negara asal produk tersebut jika memang produk tersebut sudah terdaftar halal di negara asalnya.
    Untuk produk yang mengandung daging yang diharamkan, BPPOM RI tidak mengizinkan untuk beredar kecuali produk tersebut dengan jelas mencantumkan kandungan daging haram dalam produknya dan memang peruntukkannya untuk pasar non muslim, semisal kornet daging tertentu.
    Tetapi BPPOM RI hanya sebatas mengidentifikasi keamanan produk, jadi jika produk tersebut mengandung kandungan lain yang juga diharamkan di Islam (contoh kandungan alkohol) itu tidak masalah selama alkohol tersebut ‘food grade’ (jika dalam produk makanan). Nah, tidak mengandung daging haram tetapi masih mengandung alkohol juga kan tidak diperbolehkan dalam Islam, tetapi bisa saja diizinkan oleh BPPOM RI selama masuk dalam kategori ‘aman’🙂
    Jadi memang untuk kehalalan produk qta hanya mengacu pada label halal LPPOM MUI jika produk dalam negeri, dan label halal dari lembaga setara di negara asal produk jika itu produk import (Muslim Council atau Muslim Federation).
    Wallahua’lam bishshowab.

    Wassalam.

    Ricke

    1. syahjayasyaifullah says:

      terima kasih penjelasan tambahannya mbak, saya selalu ketukeran antar dua lembaga ini, tapi intinya label halal bagi saya mutlak dan tidak mutlak atas pertimbangan dan kondisi kusus. di negara kita sertifikasi halal masih bersifat suka rela. secara pribadi, produk yang telah berhasil mendapat sertifikasi halal akan mendapat apresiasi yang tinggi dari saya sebagai konsumen, karena peran saya konsumen maka bentuk apresiasi saya adalah dengan mempertimbankan mereka untuk dibeli dan dikonsumsi.
      soal pemberian sertifikasi halal. saya pernah melihat produk negara lain disertikasi halal oleh kembaga sertifikasi halal malaysia. mungkin saja bisa dan tidak sekaku itu kali ya mbak. mungkin mbak ada info tambahan?.

  6. Izzatinnisa says:

    Aduh mas saya telat baca ni dan agak bingung.. Saya suka mengkonsumsi Mie SHIN RAMYUN itu, dan yang bikin saya bingung, gambar yg dikanan itu halal krn ada label halalnya dan tidak ada gambar daging dicover depannya, sedangkan yg dikiri haramkan dan juga ada gambar dagingnya?

    Tapi Mie yang biasa saya makan itu kemasannya seperti mie yang kanan tapi tanpa logo halal dan dikemasan yang bergambar mie nya ada gambar dagingnya? Jadi mie nya halal apa haram ya???

    1. syahjayasyaifullah says:

      yang pasti2 aja bu, setahu saya produk berlabel halal KMF sudah banyak tersebar di supermarket jakarta. main logika sederhana aja, mengapa mereka masih mengedarkan dua produk yang satu berlabel halal dan satu tidak?.
      kalo ada yang jelas tinggalkan yang ragu. #harga mati dalam urusan makanan

  7. keytu says:

    Lemes bacanya. soalnya beberapa bulan yang lalu sempet beli n gak merhatiin cover main beli ajah tapi alhamdulillah yang saya makan halal🙂
    mumpung waktu itu sempet foto mie-nya kalo gak udah nangis saya sekarang©©
    makasih banget infonya.

    1. syahjayasyaifullah says:

      ha…ha..komen galau kayak anak alay.

      persoalannya bukan kiri atau kanan. tapi ada logo halal dari KMF atau tidak. Titik.

      dibeberapa tempat sudah ada kok yang menjual mie ini dengan logo halal KMF.

      semoga tidak galau lagi…..

  8. Yanti says:

    saya lagi browsing tentang kehalalan mi jakarta. belum ketemu artikel terkait. di dekat rmh saya ada yg jual mi jakarta enak banget, di daftar menu n spanduk rumah makan sih ditulis halal tapi kan bukan label dari MUI. kadang ragu juga sih karena penjualnya bukan orang Islam, tapi gimana ya enak banget n kadang diajak kerabat makan disitu.

  9. dinni says:

    Kemarin waktu saya ke Korea, semua penjaga GS25 dan 7-11 yang saya tanyai bilang bahwa mie ini memang ada doeji koki a.k.a pork. beberapa penjaga GS25 sering membantu saya membacakan ingredients makanan2 untuk menemukan yang tidak ada doeji koki. padahal pas di Indo saya sempet liat di supermarket mie ini berlabel Halal. Tapi nggak sempet memperhatikan beda gambarnya. Waktu disana sih saya punya mie instant andalan yang Insya Allah tidak mengandung pork (ini tau dari penjaga GS25 dan teman yang bisa baca hangul) cuma nggak tau namanya krn huruf Hangul, fotonya gambar mie kuah dan daun bawang dan cabai, warna merah tp bukan Nongshim ini. sayang tidak sempat saya foto. btw saya link blognya ya untuk tambahan info. thanks

      1. syahjayasyaifullah says:

        sudah lama tidak di Korea gan! ikuti poin tulisan saya aja gan. berani makan jika ada tulisan halalnya, klo ga…sorry to say, it is not the only one food you have, chose others please

  10. yuta says:

    yang saya tau shin ramyun yg ga label halalnya buatan china, kalo yang ada labelnya buatan korea. saya sempat beli yang buatan china, kata pramuniaganya walau ga ada label halal tapi katanya halal. beli 9 bungkus. Alhamdulillah, Baru makan setengah langsung kena maag dan gatal-gatal kulit, alergi zat pengawet. persis mie instan buatan indonesia, kebanyakan zat pengawet. alhasil sisanya 8 bungkus dibuang semua,
    Ramyun buatan korea ada label halalnya, tapi tentu saja gambar jamur tanpa daging, yang terpenting rasanya enak dan zat pengawetnya ga diobral kaya made in china dan made in indonesia.

    1. syahjayasyaifullah says:

      selama saya tinggal di Korea, shin ramyon ya produksi korea. Dan memang mengandung babi. jadi ini ramyon yang mana ya?. baiknya untuk makanan, jika muslim, halal ada pertimbangan petama kita. bukan asal enak

      1. syahjayasyaifullah says:

        hayo…tetap harus berhati-hati! tahukah bahan pembuat flavor atau cita rasa? banyak dari bahannyapun tetap membutuhkan konfrmasi kehalalan karena tak jarang pembuatan flavor dan bahan kimia makanan lainnya mengambil material babi sebagai bahan bakunya

  11. Maya Rusmayani says:

    Mksih infonya. tpi, sya bingung yg sya beli itu bungkusannya sma dgn yg kiri, tapi label halalnya gak ada. Jadi, mi nya halal atw haram dikomsumsi ? Tolong dbls, sy bner2 bingung

  12. fxalvin says:

    cuman mau nambahin ajah, biar yg lbh pasti cari yg buatan cina. karena yg buatan itu lebih besar kemungkinan halalnya. terus biasanya badan POM juga menulis di keterangannya. (kalau beli makanan impot kan suka ada label putihnya tuh…) itu dibaca, biasanya ditulis mengandung daging yang halal/tidak.karena skrg ramyun ini sudah diproduksi di cina dan korea. yang di cina juga dengan lisensi korea, dengan asumsi yg disebarkan yg halal. thx
    NB:
    kalau di lotte mart festifal city link sih dipisahkan sama mereka, mana yg halal dan tidak. sy kurang tahu kalau di lotte lain/supermarket lain

    1. syahjayasyaifullah says:

      saya mau komentar soal label putih berupa stiker tempelan itu. dalam pengalaman saya. label putih tidak memiliki jaminan atas hala dan tidaknya. pernah, saat baru awal-awal pulang dari korea, saya dijemput oleh saudara di bandara sukarno hatta. saat mampir di sebuah toko serba ada, saya iseng cek produk makanan korea yang dijual di sana. dan saya sempat kaget juga saat, label putih berbahasa indonesia tidak menginfokan jika sebuah produk snack, makanan ringan yang secara luas masuk daftar makanan jangan dikonsumsi, karena mengandung bahan olahan dari babi. saya tidak serta merta menjudge kalo label putih itu salah. dengan sedikit kemampuan membaca hanggeul saya coba lacak komposisi, eng ing eng, komposisinya persis yang ada di Korea dan tulisan daging babi dalam bahasa korea pun nampang di sana. jadi gimana?. tetap, label halal itu paling penting.

  13. fadhil says:

    Td malam saya beli mie shn ramyun, tp blm saya masak krn saya masih ragu itu halal apa egk? Jd saya browser di mbah google, nah ketemu deh blog ini. Pas saya perhatikan gambarnya, mie yang saya beli itu covernya sama persis dengan cover diseblah kanan (mie yg halal) dan saya cek komposisinya gak ada tlsan beef ato daging dan lainya.. Tp yg jadi bikin saya pusing itu gak ada label KMFnya-_- cuman covernya sama persis dg cover yg halal. Gmn dong om?

  14. Hesdin says:

    assalamualaikum kak…
    dulu saya pernah kurang lebih makan shib ramyun 4 kali..
    nah saya ragu dan saya cek ke google daftar makanan yang halal dikorea nah muncul banyak bgt makanan kemasan beserta infonya.
    ketika saya cek saya terkejut ketika ada shin ramyun dan di cetak warna merah dg tulisan haram.
    sejak itu saya berhenti untuk tertarik membeli mie itu lagi..
    nah saya itu kan suka ntn drama korea pas kebetulan dstu ada shin ramyun terlihat enak sekali.
    saya pergi ke supermarket sudah saya pegang tp masih ragu, akhirnya saya kembalikan.. sampai saya gak bsa tdur saya browsibg terus akhirnya nemu postingan ini.
    nah setelah saya perhatikan ramen yg saya makan dlu itu persis seperti yg ada logo halalnya. tp punya saya tdk ada logonya, dan saya browsing ttg ciri2 makanan impor yg dicap halal.
    disitu dia blng bila tertera tulisan terjemahan komposisi inggris atau indo, bila ada nomer apa gtu 12 digit, bila nama produknya sudah di tuliskan ke latin bkn hangul/hanja dll, bila ada ijin bpombya. katanya gtu nah saya bingung kakak blg diindonesia sudh ada shin ramyun yg berlogo halal..
    tp kok ditempat saya blm ada.. itu beda yang impor atau gmna yah? tolong dibalas kamsahamnida🙂

    1. syahjayasyaifullah says:

      kalo saya tetap nomor satu sertifikasi halal atau logo halalnya. kalo diterjemahkan? siapa sih yang menerjemahkan? importer toh? tujuan importer apa? jualan barang importnyakan? kalo halal ngapa takut diselidiki BPPOM MUI lalu dapat sertifikat halal. saya selalu yakin label halal is the number one.

  15. laili says:

    Saya pernah beli nongshim shin ramyun dikemasannya gambar mienya tidak ada gbr dagingnya tp tidak ada logo halalnya..itu halal g ya????

  16. hayyan says:

    Assalamualaikum saya dari malaysia mungkin bahasanya saya tak berapa faham jadi kesimpulan kat sini adakah mee ini halal atau tidak?? Maksudnya kalau yang takde gambar daging tu boleh makan lah ye?

    1. syahjayasyaifullah says:

      Wa’alikum salam wrwb. for more information about this product i advise u to search on FB the AMIR korea. It is a malaysiian muslim student association, they are expert in this case. Even i also had many great information about halal food when i stayed in Korea. thank you for visting

  17. kiki says:

    Terima kasih banyak yah postingannya. Ga lagi lagi deh beli mie ini. 2 harian yg lalu sempat tergoda banget buat beli, soalnya bosan Indomie goreng terus terusan berhubung di Perth Australia Barat ini Indomie yg paling banyak di jual cuma yg goreng aja. Sangat susah menemukan yg berkuah. Jadi sempat tergoda sama shin ramyun. Waktu beli Shin Ramyun ini, saya lama bolak2 kemasannya, saya baca di ingredientsnya ga ada kandungan daging sama sekali, jadi saya putuskan untuk coba beli satu bungkus saja, karena saya juga blum mastiin halal atau tidaknya. Nah.. beberapa menit yg lalu, saya bulat mutusin buat masak shin ramyun ini. Saya makan sambil browsing di depan laptop. Link pertama yg saya buka bilangnya ini halal, makanya saya lanjutin makan. Pas udah suapan kuah terakhir, baru buka dan memahami postingan ini. Ya Allah, harusnya dari awal carinya logo halalnya bukan baca ingredientsnya aja.. Padahal saya dari dulu pasti seperti itu. Dan sangat pilih2 sekali dengan makanan disni. Apalagi saya tinggal di minoritas muslim. Anyway, mistakes happen. Makasih banyak postingannya. Rasanya ga ikhlas dengan makanan yg baru saja masuk perut saya. TT______TT

  18. F@n says:

    nice info.. dari kemarin mau beli ragu.. yang beredar di sini ga da label halalnya.. udah search masih meragukan.. sampe nyempet-nyempetin email costume care-NYA ^_^

  19. safira alifa says:

    Mbak gimana dengan shin ramyun yang tidak ada label halalnya namun gambarnya persis dengan shin ramyun yang berlabel halal yaitu gambar jamur,dan ketika saya liat ingridientsnya tidak ada daging didalam pembuatan maupun additional vegetables nya,mohon dijawabya:’)

    1. syahjayasyaifullah says:

      Saya bukan mbak2🙂. Dalam makanan olahan, halal atau tidak bukan hanya sebatas ada daging atau tidak saja. Lebih jauh dan prinsipil yaitu soal cara mengolah dan sifat kandungan dasar materialnya. Seperti beberapa komen, kode makanan bisa menjadi acuan pengecek kehalalan makanan. Klo mau paling aman ya label halal.

  20. Agus W says:

    Saya baru saja membeli di sebuah supermarket Shin Ramyun Noodles Soup (Gourmet Spicy) TANPA LABEL HALAL. Setelah saya teliti ulang, ternyata dipasaran indonesia produk yang sama ada 2 jenis: BERLABEL HALAL dan TIDAK ADA LABEL HALAL. Cara membedakannya begini: TANPA LABEL HALAL, Flavour Enhancer (E621, E635) status meragukan; sedangkan yang LABEL HALAL, Flavour Enhancer (E621,E627,E631) status HALAL.

  21. nurhikmah1994 says:

    assalamualaikum, maaf yang ingin saya tanyakan bukan tentang ramyun😀 tetapi sirup beras (ssalyeot) merk chung jung wan. pada kemasannya terdapat legalitas bpom ri tetapi tidak ada label halalnya.. apakah produk tersebut halal atau tidak? terima kasih

    1. syahjayasyaifullah says:

      perlu diketahui BPOM RI setahu saya adalah institusi yang berbeda dengan LPPOM MUI dan mereka secara cita-cita awal pendiriannya memiliki tujuan khusus yang sedikit berbeda. Kalo LPPOM MUI jelas konsennya adalah tentang kehalalan produk. jadi jika tidak ada ada label halal ya, sudah pasti meragukan. untuk jelas ada tidaknya, saya bukan yang ahli dan mencermati produk satu2. terlebih lagi merek produknya saja saya baru dengar. jadi dalam pandangan saya, label halal dari lembaga agama islam negara mana pun untuk produk makanan adalah HARGA MATI. demikian.

      baca juga: http://news.fimadani.com/read/2013/05/21/lppom-mui-bpom-jalin-kerja-sama-dukung-indonesia-jadi-pusat-halal-dunia/

  22. Rican says:

    Alhamdulillah,akhirnya nemu juga blog yg ngebahas ttg kehalalan mie ini. Skdar share nih ya, Tahun lalu saya sempat pingin bgt beli mie nya di slah satu olshop, krna di daerah saya blm ada jual kemarin hehe. Tp saya sempat ragu krna mkanan korea bnyak yg ga halal. Dan entah kenapa, saya selalu ga dapat kesempatan buat beli tuh mie. Selalu habis pas giliran saya mau mesan. Krna memang katanya ini mie enak bgt. Eh tau nya bbrpa bulan kemudian baru rame di olshop tsb bhwa mie ini ga halal. Ya sempat ada perdebatan panjang juga sih saya liat, cuma yg paling saya ingat kmrin ada yg sempat komen, dia dikasih tau sm dosennya yg org korea, katanya kalo mie korea itu rasanya enak banget udah pasti mengandung babi. Alhamdulillah ya Allah, seneng banget rasanya saya ga sempat nyicipin tuh mie. And sekarang walopun itu mie udh ada jual di minimarket daerah saya, saya sama sekali ga minat beli. Ih jgn sampe ah.
    Anyway, keep posting min ☺

  23. AsmdWsrm says:

    Saya baru beli produk ini dr alf*mart, produk china tp walaupun ngga ada cetakan halal disitu ada terjemahan komposisi dlm bahasa Indonesianya kok

    1. syahjayasyaifullah says:

      dalam urusan makanan yang menjadi konsen kehalalan bukan saja tentang label. tapi juga tentang hal lain yang secara tidak langsung terkait bahan mentah dan cara pengelolahannya. dalam arti lain ya secara menyerluruh. Ribet ya? memang. Karena makanan itu urusan hidup mati kita!.Dan hal tersebut jarang bisa terlihat secara langsung pada list bahan mentah produk pangan yang biasanya tercantum pada kemasan. berikut contoh yang saya berikan terkait dengan pembahasan ini: a. bahan olahan yang (mungkin) berasal dari bahan mentah non halal. Sebagai contoh umum, mari kita lihat gelatin. Gelatin biasa diolah dari tulang hewan. dengan demikian, semua jenis hewan tulangnnya mungkin diolah menjadi gelatin, termasuk hewan halal (sapi, kambing, domba dll) dan haram (babi dll) (http://www.food-info.net/uk/qa/qa-fi45.htm). Tak banyak produsen mencantumkan hal ini secara terang dan vulgar. Jika pun ada akan tampil sebagai kode. itupun kalo produsen merasa perlu untuk mencantumkan. Jika niatnya produsen memproduksi makanan untuk pasar yang tidak peduli isu halal, secara prinsip ekonomi sulit rasanya mereka akan mempertimbangkan hal tersebut untuk dilakukan. dalam dunia industri, tambahan aktivitas dalam proses produksi akan menambah biaya. Jikapun ada dalam bentuk kode, tak banyak konsumen yang tahu tentang kode itu dan itupun jika konsumen mau peduli. Terlihatkan arah pembicaraan ini. Kita bicara tentang label halal yang tak dengan mudah dicantumkan begitu saja pada sebuah produk. ini bicara tentang legalitas dan mewakilkan kepercayaan kita pada ahli.

      b. soal bagaimana makanan di olah. Selama di Korea, saya menemukan catatan penting dilist daftar bahan makanan terkait bahaimana produk diolah. misal beruapa catatan seperti ini (tentunya dalam bahasa korea) “produk ini diolah menggunakan alat yang biasa digunakan untuk mengelolah produk mengandung babi dll”. terkait hal itu, apakah kita yakin hal seperti ini juga diterjemahkan ke dalam bhs indonesia? atau apakah semua produsen peduli dengan etika prosukdi demikia?

      begitulah jawaban saya.
      terima kasih.
      berikut link yang mungkin bisa memperkaya wawasan. sumber tak hanya dari web muslim namun juga dari web tentang pangan yang bersifat umum:
      1. list kode E untuk bahan makanan olahan. https://special.worldofislam.info/Food/numbers.html dan http://www.alahazrat.net/islam/e-numbers-listing-halal-o-haram-ingredients.php
      2. list bahan makanan yang umum dipakai dan diolah dari hewan: http://www.food-info.net/uk/qa/qa-fi45.htm

  24. SITI says:

    Assalammualaikum. Saya Siti dari seberang Malaysia. Ingin bertanya, di Malaysia juga sudah ramai yg makan meggi ini. Memandangkan saudara sudah ada analisis sedikit, saya faham ada yg bertanda halal dan ada yg tiada tanda halal. Saya yakin meggi itu diedar atau dikilangkan oleh kilang yg sama. Jika begitu, pastikah kita yg bertanda halal itu tidak melalui proses mesin yg sama dgn meggi yg tiada halal? Bolehkah saudara membantu utk mendptkan info ini dri teman saudara….terima kasih bangat.
    Sis Siti dari Malaysia.

    1. syahjayasyaifullah says:

      wa’alikum salam wrwb.

      Dalam konteks ini, label halal adalah bentuk konfirmasi yang dilakukan oleh lembaga yang memiliki kekuatan hukum, baik secara lembaga maupun agama yaitu Korean Muslim Federation (KMF) artinya kita tak perlu terlalu memaksakan diri atau menjadi sibuk untuk melakukan telaah lebih jauh seperti yang dipertanyakan. jika memiliki kesempatan silahkan dilakukan jika tidak maka kita hanya mengikuti keputusan lembaga itu dan demikianlah cara kerja legitimasi pemberian legitimasi halal atas sebuah makanan itu semestinya. semikian jawaban saya.

  25. mel says:

    entah yg salah produsennya apa mui indonesia ga jelas ngurusin apaan hahahaha… ini baru makanan impor loh yang lagi ngetrend, apa kabar perlengkapan kecantikan impor yang sudah lama masuk Indonesia, Wallahu a’lam yah.. kalau sudah begini wajib hukumnya bagi muslim Indonesia utk mulai sadar dengan apa2 saja kandungan bahan2 yg biasa ada di kosmetik atau makanan.. kadang suka sedih dengan kondisi yang seperti ini..😦

  26. sweet Dandelion says:

    sebenarnya pingin banget mencicipi tetapi yang dijual di alfa tidak ada label halalnya jadi diurungkan, biasa produk korea walaupun tidak mengandung babi tapi tidak ada label halal itu memang haram, banyak olshop yang bilang produk ini atau yang lain halal padahal belum ada label halalnya, saya juga pernah lihat olshop dengan label tidak menjual makanan non halal padahal diproduknya sudah dicetak jelas mengandung babi., label halal adalah patoka ya kawan2 semoga kita lebih berhati2 lagi dalam memilih makanan

  27. Harry says:

    Menurut saya, makanan kemasan yang tidak ada label halalnya tidak selalu menunjukkan sebaliknya, jadi belum tentu haram. Namun sama sekali tidak berarti yang tidak berlabel halal dan belum lolos ujian pasti menjadi haram. Manfaat adanya label halal ini hanya sebagai ‘ketenangan’ batin buat mereka yang merasa was-was atas merebaknya makanan yang ‘dituduh’ tidak halal. Dan namanya ‘tertuduh’, belum tentu pelaku kejahatan, bukan?
    Namun kalau kita kembalikan kepada asas praduga tidak bersalah, hukum Islam tidak bisa dibolak-balik. Sesuatu itu pada dasarnya halal, sampai datang sebuah hasil uji yang sampai ke tingkat yaqin bahwa sesuatu itu haram.
    Ilustrasinya, sebuah produk makanan yang secara zahir tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan, maka hukumnya halal. Namun ketika dilakukan pengujian ilmiyah secara mendalam, ketahuan bahwa di dalam makanan itu terkandung unsur yang tidak halal, barulah saat itu makanan itu boleh divonis sebagai makanan haram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s