Mimpi menjadi Savant

Berawal dari tekad untuk mulai menggiatkan kembali aktivitas membaca. Ya, membaca apapun yang bisa dibaca. Meksipun kata kerja satu ini begitu akrab dengan telinga saya pelafazan dari mulut orang-orang di sekitar saya. tapi beberapa tahun terakhir, saya mendapati diri saya merasa “kosong” dalam melakukan aktivitas positif ini. Kosong dalam arti saya tetap melalukan aktivitas membaca tetapi tidak mampu meraskan bahwa saya sedang membaca. Ya, seakan lewat begitu saja. Apa yang dibaca meluap bersamaan dengan berakhirnya aktivitas itu. Alhasil, saya secara sadar perlahan-lahan meninggalkannya.

Keadaan makin diperparah ketika saya mendapati diri saya “merasa” cukup dengan apa-apa yang sudah saya ketahui dari aktivitas membaca terdahulu. Perasaan cukup dan hilangnya kenikmatan saat membaca membuat saya secara tidak sadar maupun 100% sadar  bertransformasi menjadi bak sebuah program versi beta yang tidak dilirik sama sekali oleh pengembang untuk diperbaiki kapasitasnya. Saya telah menyia-nyiakan otak saya. Saya sekarang jauh tertinggal di belakang bersama penyesalan yang harus segera diakhiri. Astaghfirullah.

Sebagai manusia kita sangat membutuhkan momen untuk melakukan tindakan tidak umum agar mampu melawan energi standar dalam diri yang cenderung berada dalam kondisi “nyaman”. ibarat sebuah benda diam yang telah menjadi sistem kerja sendiri. kita membutuhkan tenaga awal (sudah pasti akan lebih besar) untuk menjadikan benda tersebut bergerak dan memulai sistem barunya sebagai benda bergerak. Dan momen adalah nama lain dari energi luar diri yang bisa kita gunakan sebagai energi tambahan agar kita mampu melakukan tindakan tidak umum tadi. Dan momen untuk contoh kasus ssaya ini, baru saya peroleh ketika mendapat permintaan pofessor untuk melakukan sebuah aktivitas penelitian yang pada dasarnya amat sederhana. Ternyata kesederhanaan penelitian tersebut berhasil menyitah waktu saya seharian hanya untuk merancang renacana kerja dan memastikan bahwa material yang dibutuhkan dimiliki lab kami. Belum apa-apa. Belum masuk ke aktivitas penelitian sesungguhnya. Saya tersadarkan dan menemukan fakta bahwa sebuah penelitian sederhana mampu merampas waktu saya seharian penuh hanya karena saya “lupa” dengan istilah-istilah sederhana di dalamnya. peristiwa ini akhirnya didetekasi sebagai kejadian tidak biasa oleh otak saya. maka ia menjadi sebuah momen.

memperalat momen ini, saya mekasakan diri untuk memanen energi dari luar bernama “kesadaran” yang membantu saya menemukan kembali semangat aktivitas membaca. ya, meskipun saya menukar habis waktu kerja kemarin dengan (hanya) dua lembar rancangan kerja sebuah penelitian. Saya akhirnya berhasil mencapai sebuah titik baru dalam sejarah aktivitas membaca saya. di atas titik itu saya sudah mencium bau segar bebungaan ilmu yang bisa saya temukan melalui membaca. Di atasnya pula angin segar khazanah hikmah dari Allah sedikit-sedikit menyentuh kulit ari saya. Saya berusaha mengisi kembali kekosongan ruh aktivitas membaca saya melalui momen baik ini. semoga melaluinya saya akan bisa menjadi lebih bijak dan mampu menjadikan aktivitas belajar yang progresif dan berkelanjutan sebagai bagian dari hari-hari saya.

Harapan terakhir saya adalah harapan kita semua. Harapan itu iyalah menjadikan pribadi kita, sosok kita, menjadi sesuatu yang besesuaian dengan sebuah nama yang Allah berikan atas kita: manusia. Melalui kepemurahanNya, nama manusia ditingkatkan derajatnya menjadi nama agung: muslim. apa kaitan antara membaca, manusia dan savant?. saya menemukan hubungan antara ketiganya murni berdasarkan kemauan dan analisa saya sendiri🙂.

berikutan pendapat saya. aktivitas membaca adalah salah satu aktivitas pembelajaran yang mendapat tempat khusus dalam agama saya. Agama islam memiliki hubungn emosi kuat dalam sejarah penurunannya dengan satu kata ini. tepat sekali, wahyu pertama yang menjadi pembuka penyampaian keseluruhan wahyu Allah kepada nabi Muhamad SAW memerintahkan aktivitas membaca secar khusus atas nama yang menurunkan wahyu, Allah. Jadi jelas membaca adalah aktivitas perintah yang Allah serukan secara langsung dalam kitabNya kepada manusia. Manusia hanya bisa menjadi seorang savant ketika mereka melakukan aktivitas membaca baik dalam arti sesungguhnya maupun dalam arti lain yang keduanya merupakan salah satu cara belajar bagi manusia. Lalu apa arti savant itu sendiri?. menurut sumber ini, savant adalah kata bahasa inggris yang berasal dari bahas prancis kuno dan berarti: man of learning, scholar,  to know (Latin sapere), dan to be wise;. keseluruhan kata tersebut dekat dengan kata sapient. kata sapient sendiri adalah pokok kata untuk sapien yang merupakan partner kata homo untuk menamakan manusia dalam bahasa latin. Jadikan jelas sekali penamaan manusia dalam sain sendiri pun bersumber dari sebuah harapan agar manusia itu menjadi mahluk pembelajar yang melalui proses itu bisa menjadi bijak. pernyataan terakhir tersebut merupakan kesimpulan dari hubungan membaca, manusia dan kebijakan dalam pandangan saya.

demikian sobat, saya memiliki keyakinan. Sebuah aktivitas membaca dengan ruh nyata berlandaskan nilai kesadaran sebagai hamba Allah akan menghantarkan kita pada proses kontruksi watak bijak dalam menjalani aktivitas hidup kita masing-masing. Kebijakkan tersebut bersumber dari pengalaman hidup yang pernah ada baik secara langsung kita rasakan maupun merujuk dari kehidupan orang lain.  Maka sekali lagi, membaca menjadi alat ekstraksi untuk menyarikan pengalaman hidup yang selalu bermakna lampau  agar bisa diadopsi oleh kehidupan kita yang selalu berkadar waktu masa sekarang. masyaAllah, mari kita menjadi seorang SAVANT melalui aktivitas membaca. waulahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s