[Korea dalam kenangan] Isu rasis di Korea selatan dan pengalaman saya.

Beberapa isu terakhir di dalam grup milis mahasiswa indonesia di Korea membahas bagaimana orang korea memperlakukan orang asing di negara mereka. Cerita lawas mengenai topik ini sudah banyak saya dengar. Cerita yang mungkin menjadi versi cerita tertua bagi saya adalah berkenaan dengan perbedaan perlakuan yang orang korea berikan kepada orang Asia dan orang non Asia seperti Eropa dan USA. Adalah menjadi rahasia umum jika bangsa Korea, terutama Korea selatan memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Amerika (bahasa halus untuk menamakan mereka sebagai negara satu gank🙂 ). Saat perang saudara di semenanjung Korea berkecamuk, korea selatan mendapat banyak pertolongan dari Amerika dalam menghadapi Korea Utara.  Orang Korea sendiri  menyadari bahwa kemenangan dan keberhasilan mereka  dalam membangun negara hingga menjadi sehebat sekarang tak terlepas dari peran besar bangsa Amerika. Konsekuesi logisnya, Orang Korea memberikan rasa hormat yang tinggi kepada orang Amerika dan ras sejenisnya. Sedangkan untuk orang Asia sendiri, Korea merasa diri sebagai bangsa paling baik di Asia tak terkecuali dibandingkan China dan Jepang.

Suasana ikatan emosional bangsa Korea terhadap beberapa bangsa Asia boleh dikatakan cukup renggang. Sampai hari ini Korea masih terlibat sebuah perseteruan dingin dengan Jepang terkait isu perebutan sebuah pulau bernama pulau Dok Do. Isu penggunaan nama KORYO/ GORYEO (nama kerajaan yang diakui China sebagai salah satu nama kerajaan di bawah kekuasan Kerajaan China di masa Lalu) merupakan isu perang dingin dan harga diri lain antara Korea dan China. Dalam materi edukasi sejarahnya, Korea tak henti-henti mempropagandakan pelurusan distrosi kedua materi sejarah bangsanya  tersebut kepada generasi muda mereka dalam berbagai momen kesempatan dan media. Di sisi lain, kita ketahui bersama, dua negara seperti Jepang dan China termasuk dalam jajaran nama negara penting dan maju di Asia. Terhadap dua negara terbaik Asia saja mereka (Korea) memandang bangsa mereka sebagai bangsa yang lebih baik, lalu bagaimana perlakuan bangsa korea terhadap bangsa-bangsa Asia lain selain kedua negara yang saya sebutkan tadi?. jawabannya sudah sangat jelas: akan lebih tidak dipandang sebagai ras yang patut dihargai lebih dari pengharagaan mereka kepada negara mereka sendiri. demikian kesimpulan logis dari banyak cerita yang saya peroleh selama beberapa tahun lalu di masa permulaan saya mengenal Korea.

***

bagaimana dengan pengalaman saya?.

langit di atas terminal bus Cheonan mulai gelap. Lalu lalang arus manusia seakan tak peduli dengan perubahan yang ditenggarai oleh perputaran bumi pada porosnya terhadap matahari tersebut. Semua manusia berambisi dengan kegiatan yang ada di dalam benak mereka masing-masing. Tak terkecuali saya yang juga memburu waktu berharap agar segera sampai di Itaewon, Seoul, sebelum pukul 8 malam.  Hari itu adalah hari pertama saya melakukan perjalanan seorang diri dari Cheonan ke Seoul dengan mengunakan moda transportasi bus. Karena sepanjang hari saya sibuk dengan urusan lab maka saya lupa bertanya ini itu seputar bagaimana melakukan perjalan paling mudah menggunakan bus dari Cheonan ke Seoul kepada teman di lab. Jika pun memiliki waktu. Saya tak yakin akan bertanya soal ini kepada mereka. Saya adalah pendatang baru di lab. Hanya akan menimbulkan kekhawatiran banyak pihak saja jika mereka tahu saya ingin melakukan perjalanan sejauh itu seorang diri, padahal belum genap seminggu usia tinggal saya di Korea. maka saat itu saya memilih melakukan perjalan Cheonan-Seoul dengan tak mengizinkan satu orang pun mengetahui apa yang akan saya lakukan.

Saya menemukan diri  sedang kebingungan di tengah-tengah arus manusia di sebuah tempat yang dikemudian hari saya ketahui bernama terminal bus express kota Cheonan. bermodal sedikit pengetahuan dari beberapa orang senior indonesia yang berdomisili di Seoul, cara termudah yang harus saya tempuh untuk menuju Itaewon dari Cheonan adalah mencari bus yang memiliki jurusan akhir di terminal bus express Seoul. Dengan menggunakan selembar kerta berisi peta metro (subway) seoul, saya beranikan diri bertanya kepada seorang gadis muda korea, apa dan dimana gerangan tempat penjualan tiket bus agar saya bisa menuju sebuah titik di jalur sub way berwarna oranye yang bertuliskan “Bus Express Terminal”. Sukarelawan pertama yang saya “serang” tiba-tiba dengan pertanyaan tadi sejenak terlihat terkejut. Dengan sedikit terbata-bata ia menyatakan diri tidak bisa berbahasa inggris dengan lancar. Saya utarakan tak masalah dengan kendala itu. Beliau tersenyum seraya berfikir keras. Tas punggung yang kebetulan saya gendong menggunakan salah satu bahu , tiba-tiba tertarik mengarah gadis muda tersebut. Aha, ternyata beliau menemukan cara paling mudah untuk membantu saya. Ya. Beliau mengiring saya langsung menuju terminal bus non express yang kebetulan berlokasi tepat di luar gedung di mana sebelumnya kami bertemu, dengan cara menarik tas saya. Kini saya berada tepat di depan loket penjualan tiket dengan salah satu nama jurusan yang akan saya tuju: Seoul Bus Express Terminal. Saya tunduk takzim seraya menerbitkan segaris senyum tanda terima kasih kepada gadis usia sekolah menengah tersebut. Beliau berlalu dengan meninggalkan senyum ramah sembari melambaikan tangan dan berujar “ba bay”. Tak ada kesan rasis yang saya temukan dalam interaksi singkat kami kala itu. Interaksi antara saya, orang indonesia yang tersesat dengan penduduk lokal kota Cheonan, Korea selatan. berbeda dengan salah satu video yang sedang marak digunakan teman-teman dunia maya tak kala mereka membahas perkara rasis yang terjadi di Korea selatan, seperti berikut ini.

***

Tak lebih dari 20 menit lagi bus yang saya tumpangi akan sampai di Cheonan terminal. Ini adalah perjalan pertama saya dari Seoul menuju Cheonan dengan menggunakan bus. Saya tak tahu bagaimana cara menuju apartemen yang kebetulan berlokasi dekat dengan kampus, Dankook University, dari bus terminal. Sembari bersiap untuk meninggalkan bus, saya memberanikan diri bertanya kepada seorang pemuda korea yang kebetulan menjadi teman sebangku saya dalam perjalan kali ini. Obrolan terjadi. Beliau sedikit mengerti percakapan dalam berbahasa inggris. singkat cerita, beliau menawarkan diri untuk pulang secara bersama karena kebetulan beliau akan menuju lokasi yang sama dengan lokasi di mana apartemen saya berada. Beliau ternyata belajar di universitas yang sama dengan saya. Alhamdulillah. Pemuda tersebut telah sangat membantu saya. sekali lagi, beliau warga asli korea dan saya adalah mahasiswa asing yang tinggal di Kota cheonan seorang diri. Saya merasa sudah diperlakukan dengan sangat baik oleh warga negara korea selatan tersebut.

***

menanggapi isu yang sedang berkembang seputar praktik rasis di korea selatan, saya hanya ingin mengutarakan satu fakta . Video di atas sebenarnya adalah potongan video berikut:

Video ini ditujukan untuk mengetahui presentasi seberapa banyak orang mau menolong orang lain ditengah kesibukan mereka masing-masing. kebetulan variable pembeda yang disematkan kepada orang yang membutuhkan pertolongan tersebut  adalah suku  bangsa (ras). Video yang pertama adalah video yang belum selesai. Video yang hanya menunjukan sikap antusian orang korea menolong bule dan peristiwa dikacanginya turis asal indonesia. hanya itu, lalu selesai. Sedangkan pada video yang utuh, di akhir video dapat dilihat bahwa saudara Gunawan akhirnya memperoleh bantuan dari seorang wanita tua dan bapak paruh baya. Tetap saja ada orang korea yang berbaik hati untuk membantunya bukan?. Ya. meskipun terlihat sangat berbeda perlakuannya. tapi tetap saja saya merasa hal itu belum menjadi syarat yang cukup untuk menyipulkan jikalau orang korea itu secara umum sesuai dengan cerita versi tua yang saya sampaikan dipendahuluan tulisan ini.

Mari melihat pada diri kita. Belajar dari video yang disalah artikan ini, kita dapat mengambil hikmah sebagai sebuah renungan. Secara tidak sadar mungkin sesekali kita juga suka memilih-milih dalam membantu orang lain. Tak hanya orang korea yang bertindak demikian, kita pun mungkin acap kali melalukan tindakan yang sama. Merujuk dari pengalaman saya, bisa dikatakan jarang sekali saya medapatkan perlakuan yang ditunjukkan dalam potongan video di atas. sebaliknya, saya lebih banyak memperoleh kebaikan orang korea berkenaan dengan  urusan bertanya mana kala kita sedang tersesat ini. mungkin ada saja orang yang mengalami hal yang serupa dengan saudara gunawan dalam potongan video, dan mungkin juga tidak hanya terjadi dengan latar Korea selatan, bisa jadi hal itu terjadi dengan latar negara lain selain korea. Ini berarti semua perlakuan yang ditunjukan di dalam potongan video tersebut bisa terjadi pada siap dan di mana saja. Namun yakinlah, masih banyak orang baik di atas dunia ini. dan kebaikan itu akan ditemukan oleh mereka yang senantiasa ingin terus melakukan kebaikan.

semoga kita masuk kedalam dalam golongan orang-orang yang terus ingin melakukan kebaikan. InysaAllah, dengan begitu, dimanapun kita berada kita akan menemukan kebaikan yang serupa atau bahkan lebih baik dengan izin Allah yang merupakan sumber kebaikan itu sendiri. waulahu’alam.

37 thoughts on “[Korea dalam kenangan] Isu rasis di Korea selatan dan pengalaman saya.

  1. tanparuang says:

    wah pengalamn sist beda jauh banget ma aku ya, aku malah mendapatkan perlakuan yg ga enak, paling ga enak itu lo sist, waktu liat ke kita seperti liat apa gtu , ga ada ucapan yg bikin hati down sih paling bilang afrika aja, aku maklumin mgkn krn kulit aku aga gelap, tapi tetep aja rada bikin gimana

  2. Farley says:

    Tadinya saya nemu ttg video tersebut di Kaskus. Saya googling nyari masalah isu rasisme di Korea dan sampailah di blog ini. Setidaknya tulisan Anda menjelaskan semuanya. Saya ga perlu ikut-ikutan ‘ngamuk’ seperti beberapa orang yg sudah melihat video tersebut =)

  3. hans says:

    ohh gitu to mas,, saya juga liat video itu dari sebuah forum,, memang pada awalnya saya sempat emosi liat gunawan tidak diperlakukan dengan baik oleh orang asli korea. berbeda dibandingkan dengan perlakuan terhadap turis kulit putih macam amerika atau eropa.
    ternyata pada akhirnya gunawannya ditolong sama bpk2 dan ibu2….

    klo boleh tau mas syaifullah mhsswa di korsel? ane sempat berminat nih ikutan beasiswa kesana..😀
    makanya saya lg cari2 informasi segalanya ttg korsel, termasuk keramahtamahan warga aslinya….

    1. syahjayasyaifullah says:

      🙂. di dunia maya ngamuk, di dunia nyata juga ngamuk. aha….yukz ngamuk.

      mestinya gak segitunya kali ya. mending kita introspeksi diri untuk menjadi pribadi dan negara yang positif. salam positif.

  4. adeline says:

    tulisan ini cukup bagus… memang ga bisa dipungkiri, kebiasaan pake krudung di beberapa tempat di dunia masih dianggap aneh… 1 hal, sikapi dengan bijak dan santai..
    *dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung..(beda daerah kan pasti beda tradisi)
    oya bisa nih tulisan ikut lomba di KTO Indonesia tentang pengalaman di Korea. coba search aja: KOREA TOURISM ORGANIZATION INDONESIA di fesbuk. lumayan lho hadiahnya..hehe

  5. syauqi says:

    assalamualaikum,
    saya juga sempat ngamuk gan, tapi posting anda kurang menjawab keraguan saya, awalnya saya emosi 100% tapi setelah membaca postingan anda emosi berkurang jadi 50% terimakasih, tolong hilangkan lagi 50% nya…
    -dalam video itu adalah orangtua, bukan orangmuda.
    -Saya pernah menemukan artikel kalau orang filipina pernah kesulitan mencari tempat tinggal lantaran rumahnya tidak mau ditinggali ras kulit gelap.
    -apakah anda berwajah tampan dan bersih, karena di kaskus saya pernah mendengar statement seseorang yang tinggal di korea dan melakukan operasi plastik. kalau ingin punya teman di korea harus cakep dan tidak pendek.
    -ketika artis korea sekelas kim bum datang ke indonesia fans dilarang menyentuh dan hanya diperbolehkan melihat, padahal itu pake tiket.. gila jaim banget salaman gak boleh foto bareng gak boleh udah gitu bayarnya mahal, tau gitu langsung jepret di bandara aja, coba kalau di negara yang rasnya kaukasus?
    -apakah teman anda muslim?

    1. syahjayasyaifullah says:

      wa’alikum salam wr wb.

      “Saya pernah menemukan artikel kalau orang filipina pernah kesulitan mencari tempat tinggal lantaran rumahnya tidak mau ditinggali ras kulit gelap”

      tak hanya terjadi di korea, di indo ataupun di belahan negara lain mungkin saja itu juga ditemukan. kebanyakan kasus seperti ini terjadi dengan awal penyebab dari keterbatasan komunikasi.

      “Apakah anda berwajah tampan dan bersih, karena di kaskus saya pernah mendengar statement seseorang yang tinggal di korea dan melakukan operasi plastik. kalau ingin punya teman di korea harus cakep dan tidak pendek”

      tidak juga. biasa saja. waduh parah juga sampai segitunya. mungkin juga ada yang memilih demikian, tetapi tidak untuk saya. tak jarang orang indonesia yang ikutan minum soju dengan alasan ingin diterima oleh masyarakat. sekali lagi, itu bukan pilihan saya. bagi saya prinsip itu wilayah kita. kita yang menentukan untuk menjaganya tau tidak. ada banyak cara untuk bisa diterima oleh masyarakat baru yang kita kunjungi pun tidak mesti harus menjual dan mengahancurkan prinsip dasar yang sudah kita miliki sejak lama sebelum mengenal masyarakat baru yang kiat masuki. malahan saya sekrang khawatir dengan latahnya orang indonesia mengikuti trend ini itu dari luar. saya melihat kok kita seakan negara yang tidak punya jadti diri ya. dari pada meributkan ini, yuk kita berbuat positif untuk kebaikan diri dan bangsa kita.

      “ketika artis korea sekelas kim bum datang ke indonesia fans dilarang menyentuh dan hanya diperbolehkan melihat, padahal itu pake tiket.. gila jaim banget salaman gak boleh foto bareng gak boleh udah gitu bayarnya mahal, tau gitu langsung jepret di bandara aja, coba kalau di negara yang rasnya kaukasus?”

      ha..ha.. bukan minat dan dunia saya ini. alhamdulillah tidak ngefans mereka, mau jaim sejaim jaimnya saya tidak merasa dirugikan😛.

      “apakah teman anda muslim?”

      tidak.

      terima kasih ya sudah mampir🙂

  6. MONKEY_VOLT says:

    meskipun pada akhirnya ada yang nolong pak De GUnawan, tetep aja Pak De Kalah Jauh sama di BULE. jadi kasihan lihat pak de gunawan…..(=,=!)

  7. cewlaruku says:

    setuju banget…
    awalnya ada seorang teman yang nunjukin video diatas ke saya dan dengan berapi-apinya dia bilang bahwa korea itu rasis dan kejam terhadap warga negara asia tenggara…
    respon awal yang berikan ketika teman saya bercerita itu, ” memang kita sendiri (red indo) gak rasis ya? wong kamu sendiri juga kadang gak mau kan berteman dengan orang dari suku …….. ????”
    spontan teman saya itu diam seribu bahasa..
    kita orang indo memang sangat latah dalam menaggapi berbagai isu yang sedang marak…
    jadi wajar lah kalo sampai muncul video seperti di atas…
    setuju dengan prinsip gan di atas, asalkan kita selalu berbuat kebaikan, dimana pun kita berada insya allah pasti mendapat pertolongan…

  8. elsye says:

    mungkin lebih kepada menjadi diri sendiri, memegang prinsip yang telah kita pegang, belajar hal-hal yang positif dari berbagai isu, krn menurutku kita harus belajar juga dr korea soal semangat mereka untuk improving dan sebelum menanggapi soal RASIS, kita berkaca dulu pada diri sendiri, sebelum menjudging org lain. kl aku liat kekurangan org korea secara individu cenderung tidak berani menjadi diri sendiri dan menerima kelebihan/kekurangan mereka apa adanya kyk kasus OPLAS, jadi mungkin kita be confident dan positive thinking aja🙂 dan menurutku Indonesia is always the best, dlm segala kekurangannya, karna aku orang Indonesia dan lahir di Indonesia, hehehe

  9. kikie.blog@gmail.com says:

    wah senangnya bisa kuliah di luar negeri…

    untuk menanggapi hal rasis tersebut saya setuju dengan si penulis pada blog ini…
    belom lama ini tepatnya pertengahan desember 2011 saya menjadi panitia IRO yaitu sebuah ajang olimpiade robotic bertaraf internasional, karena bertaraf internasional tentunya banyak peserta lomba dari luar negeri tak terkecuali korea.

    singkat cerita karena ajang tersebut berjalan hingga 4 hari tentunya banyak cerita yang terjadi sampai akhirnya saya dan teman panitia lain saling kenal dengan peserta lomba tak terkecuali peserta dari korea. Mereka ramah walaupun itu nggak bisa jadi acuan bahwa mereka tidak rasis paling tidak hingga ajang itu selesai kami msh suka berkomunikasi via internet walaupun tidak sering sih.

    Tp paling nggak itu segelintir bukti bahwa mereka sedikitpun ga ada menampakkan rasis pada kami. Malah justru mereka yang antusias saat berbincang dengan kami. malah saya ingat sekali saat salah satu peserta korea memberikan inisiatif pertama saat minta berfoto bareng dengan kami dan juga peserta lomba dari malaysia. Dan kami saling bertukar akun jejaring sosial.

    ya itu mungkin jadi sepenggal cerita saya mengenai orang korea. Tp balik lg sama kalian mau berfikir apa tentang mereka, tp sebaiknya kita berfikir positif saja dan jangan mudah terprofokasi.

  10. ngikngik says:

    yah setiap bangsa orangnya beda2. bisa kebetulan ketemu yang baik, bisa juga yagn buruk. btw pengen jalan2 ke korea suatu saat ntar… moga2 kesampean . amiiiiiiiiiiinnn

  11. David Budi says:

    kalo bahas soal rasis, gw juga sering di rasissin,soalna kan gw keturunan cina, yah gitu deh waktu gw kecil sampe skrg aja (SMA) kalo ktemu sm anak2 Pribumi sepantaran sm gw, yah kadang” gitu langsung deh gw dgr kata” yg tidak enak ditelinga Cina lah,sipit, engko”,glodok lah,disuruh melek lah (krn mata gw sipit).pas awal” sih gw kesel pgn gw ributin sih cuma sayang wkt itu gw sndiri, tapi lama” ya itu smua gw anggep bcandaan aja supaya g marah n kesel..jadi intinya di setiap negara itu pasti ada unsur rasis.. rasis g bakal bisa ilang kalo orang” blom ngerti apa itu perbedaan. maaf ni ya skalian curpen (curhat pendek)

  12. Key says:

    Yah apa yang kamu tabur itu yang kamu tuai, kalau kita baik sama orang..pasti orang akan baik sama kita, tp kalau kita jahat sama orang, maka orang lain akan jahat sama kita.

  13. @UniDeesan says:

    Saya pernah ke Korea sekitar bulan Juni 2011, selama 6 hari. Berangkat dengan 3 orang teman. Kami bertiga pakai Jilbab. Memang sebelum pergi banyak denger cerita kalau orang Korea itu kasar dan jutek. Tetapi setelah sampai di sana kami menemukan hal yang berbanding terbalik dengan apa yang kami dengar. Entahlah apa memang sepanjang perjalanan kami enam hari itu selalu bertemu dengan orang-orang yang baik. Mulai dari yang menunjukkan jalan, arah subway bahkan tanpa kami minta. Terus beberapa kali ditawarkan untuk menjepret kami agar bisa photo bertiga.

    Kami menginap di hostel, yang pastinya juga banyak orang bule yang menginap di sana. Tetapi yang kami rasakan para staf hostelnya tidak memperlakukan kami berbeda. Baik dan sangat ramah. Naik subway pun kami mungkin memang sering dilihat, tetapi tidak ada pandangan yang merendahkan. Mungkin bagi mereka aneh saja. Tetapi kami tetap merasa nyaman. Karena selama enam hari moda transportasi yang sering kami gunakan ya subway. Di Seoul maupun di Busan orang yang kami temukan baik-baik. Bahkan di Busan kami ditunjukkan jalan oleh kakek2, beliau mengantarkan kami sampai tujuan! Hari Pertama si Seoul juga, sepasang Nenek dan Kakek mengantarkan kami ke tempat pembelian tiket Subway. Kok yang tua-tua terus hehehe. yang muda-muda juga sering, paling banyak yang muda malah, menanyakan kami mau kemana ketika menatap bingung peta subway. Bahkan anak-anak sekolah pun kami pernah ketemu, baiknyaaaaa menawarkan kami makanan khas Korea.

    Dimana-mana pasti sama, ada orang yang baik dan tidak, ada yang ramah dan tidak ramah. Saya dan teman-teman saya bersyukur, ketika kami di sana mempunyai pengalaman bertemu dengan orang-orang baik🙂

    Maaf kepanjangan komentarnya🙂

    1. syahjayasyaifullah says:

      alhamdulillah. mari sebagai warga negar Indonesia kita juga bertindak demikian, baik kepada orang asing maupun orang yang sudah kita kenal. semoga suatu saat menjadi penting dan bermanfaat buat diri kita, orang lain dan negara kita.
      terima kasih sudah mampir😀

    2. syahjayasyaifullah says:

      mari sebagai warga indonesia kita bersikap demikian juga. berbuat baik kepada orang asing, maupun orang yang sudah dikenal. percayalah siapa yang menuai kebaikan akan memetik kebaikan pula. jika tidak oleh kita, maka oleh generasi setelah kita. dalam agama saya dikatakan, kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. dan tidak beriman seseorang yang tidak mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri.
      terima kasih sudah mampir.
      Orang korea bisa? kita pun jauh lebih bisa. yuk kita tiru yang baiknya, jangan asal meniru. yuks mari😀.

  14. donalbebek says:

    lebih baik kita mengambil sisi positif nya saja..
    rasis mungkin memang ada, dan pasti ada. hanya terselubung..
    tapi jika urusan budaya? rasis tidak kan pernah ada.. jadi bagi rekan2 yang akan berkunjung kesana maupun dengan niat menuntut ilmu, tenang aja.. disana bukanlah gudangnya rasis.🙂
    rasis hanya untuk orang yang tidak bependidikan disana.🙂
    umumnya mereka baik kok.. gak ada yang rasis..🙂

  15. Anonymous says:

    Penggemar Korean must see banget ni video abis itu ke korea
    bakal berubah 180 derajat pandangan mereka ama korea pasti hahaha

  16. kidfanny says:

    saya sering ketemu turis dari korea, tp mereka baik2 aja nggak ada kesan gimana2 gt. malah mereka yg ngakrab-in duluan. apa krn mereka lg di indonesia ya?
    tapi..
    saya malah banyak denger cerita yg baik dari org yg prnah ke korea, nggak liat cantik jeleknya. salah satu contoh, pak guru saya prnh ke korea dan di perlakukan baik, padahal beliau tua asli indonesia nggak ada ganteng2nya🙂.

    nggak setiap org kan seperti itu, saya sendiri jg prnh dikacangin org dijalan, pdhal sama ras.
    jadi gt itu tergantung pinter2nya kita milih org, liat situasi kondisi orgnya.
    kalo mau dipahami org kita sebelumnya jg harus paham org itu kayak apa, diliat dr luar kan bisa.

    #prakk! apaan sih aku kecil2 sok pinter (nunduk)
    tp ini brdasar pengalaman pribadi kok🙂

  17. kurpsyrnia says:

    mas, saya Kurnia dari Malang,
    mohon informasinya, apakah ada international class untuk sport psychology di Korea tidak ya? Saya sedang berburu scholarship untuk S3.
    Matur nuwun

  18. hooooeee says:

    kebetulan saya lagi kena demam korea… tapi untungnya saya masi bisa mengatur diri saya, berbeda dengan teman saya… yang udah over dengan berbau korea”.

    prinsip saya tentang seseorang hanya di liat dari baik dan buruk. kadang dalam sebuah indentitas kelompok terdapat orang yang baik dan buruk. waupun kemungkin bisa jadi yang buruk lebih banyak dari pada yang baik begitu juga sebaliknya. no Sara

  19. danny ramdany says:

    waduh numpang comment nih gan,betul kata juragan orang korea akan menaruh sikap berbeda trhadap orang amerika&sekutunya..di banding mereka trhadap negara asia lainya..tp di sini sy gak akan membahas masalah itu..yg saya mw ceritakan selama sy tinggal disana thun 1995-1998..sy bekerja saat itu di kota INCHEON,mereka pd umum nya hangat,friendly,murah senyum..jauh dari kesan rasis..pernah suatu malam di musim dingin thn 96 sy tersesat di menuju arah luar kota seoul,sy cari tumpangan mobil org korea kbtulan wktu itu sy khabisan uang..sy diantar hingga ke apartemen temen sy di daerah suwon-seoul,

  20. Choi says:

    Orang sana ramah ko..
    Saya menggunakan jilbab dan dengan modal senyum selalu, org Korea sendiri ga se dingin itu.
    Apalagi kalo udah diajak ngomong percakapan dasar b.korea, mereka seneng dan makin diajak ngobrol.
    Intinya sih kalo kita baik-baik, mereka pun pasti welcome sama siapa aja kok🙂

  21. dhira says:

    suku apapun, baik atau ga, ya bercermin ke pribadinya masing-masing sih menurutku. ada orang korea yang ramah, ada yang ga. ada orang indonesia yang ramah, ada juga yang ga. jadi bukan berarti langsung diputusin orang korea itu semuanya rasis.🙂

    tahun kemaren aku jalan-jalan ke korea bareng keluarga, dan alhamdulilah, aku selalu ketemu sama orang-orang yang baik disana (dan mereka asli korea).
    tour guide aku disana asli orang korea dan ga bisa bahasa indonesia sama sekali, jd kita ngobrol pake bahasa inggris, dan menurutku mereka baik banget, bahkan sampe skrg kita masih suka katalk-an.
    terus selama disana, aku sering banget dibantuin sama orang korea (mulai dari orang2 di jalanan, pelayan di minimarket, pelayan toko, bahkan di jiljilbang), dan mereka semua selalu menebar senyum.

    pendapatku sih, asal kita ramah, mereka pasti juga ramah sama kita. ^^
    hormati aja budaya mereka (misal membungkuk ketika berterima kasih), patuhi aturan disana (jgn buang sampah sembarangan), berpakaian rapi (orang juga males kan ngeladenin turis yg pakaiannya asal2an), jangan malu bertanya, dan kuasai sedikit bahasa sehari-hari yang mudah (kayak annyeonghaseyo, kamsahamnida, gomawoyo, dll).

    aku suka banget di korea, dan pengen kesana lagi nanti ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s