[Korea dalam kenangan] Bercocok tanam terus sampai semua tak lagi mungkin….

Di sekitar pemukiman di Korea, tak jarang akan kita jumpai tanah-tanah terbuka tanpa semen di atasnya digunakan untuk bercocok tanam. Lahan perkarangan rumah, tanah sepanjang saluran pengairan dan troktoar ataupun daerah sisi-sisi jalan dan  lahan kosong di luar taman menjadi beberapa contoh lahan terbuka yang saya maksud. Nyaris semua bagian tanah yang bisa ditanami dan tidak membutuhkan tenaga lebih untuk mengubahnya menjadi kebun, akan orang korea garap. Tanaman hortikulutura yang menjadi tanaman favorit orang Korea diantaranya adalah Lobak, Cabai, tomat, Bawang bombai dan Daun serta berbagai jenis sayuran. Kesannya yang saya tangkap, apa saja yang bisa di tanami dengan tanaman jenis apa saja, ya mereka lakoni. Ini contoh dedikasi tak tanggung-tanggung dan luar biasa untuk dunia “perkebunan” di Korea.

Berkebun menjadi salah satu aktivitas favorit generasi tua Korea.

Berkebun sepertinya menjadi salah satu aktivitas yang digemari orang korea, selain kumpul-kumpul, belanja, dan berolah raga. Selama pengamatan saya, hanya generasi tua saja yang mengandrungi aktivitas bermanfaat ini. Sedangkan generasi muda, sibuk dengan aktivitas hedon yang menjadi lazim dalam kehidupan dunia moderen (katanya) (meskipun ada beberapa orang muda korea yang saya temui memiliki aktivitas super positif namun. oh iya meskipun jarang saya pernah bertemu dengan orang muda korea yang memiliki hobi berkebun. meskipun beliau laki-laki, beliau pernah memiliki tanaman dalam pot dan ditempatkan di dalam labnya. tapi selalu saja tanaman yang beliau miliki berkahir dengan kematian😀 ). Tak jarang saya temukan para ajuma (ibu-ibu) berkebun dengan perlatan lengkap dan tetap menjaga penampilan. Meski berkebun, para tante-tante Korea itu akan tetap menggunakan pakaian khas panjat gunung mereka dan memperhatikan “kematchingan“. Mereka akan melengkapi diri dengan sarung tangan, masker dan topi berdaun lebar. Jika siang kebetulan terik, mereka akan mmenggunakan penutup kepala yang menyerupai jilbab. Jika mereka berasal dari kalangan berada, berkebun mereka lakukan bak pergi bertamasya, membawa mobil plus perlengkapan bercocok tanam dan makan yang lengkap. Unik tingkah pola berkebun warga bangsa maju ini.

tetap bergaya meski sedang berkebun. tipikal ajuma Korea di lahan "perkebunan"nya

Yang manarik juga, sesekali saya menemukan mereka terlihat begitu menikmati proses panen. Memetik sayuran ala kadarnya, kembali esok hari ke kebun untuk merumput dan kemudian menanami kebun dengan jenis tanaman yang berbeda sesuai dengan perubahan cuaca. Sekali lagi, mereka menikmati proses tersebut. untuk urusan pemilihan tanaman yang cocok dengan kondisi musim, sepertinya sudah menjadi keahlian bagi orang yang hidup di 4 musim, termasuk Korea. keadaan menjadi semakin baik ketika pihak pemerintah memberikan perhatian yang cukup melalui pengayaan informasi seputar cara pemilihan tanaman berdasarkan perubahan cuaca tersebut. Untuk kasus ini, saya punya cerita sendiri. ketika mengikuti sebuah pertemuan ilmiah masyarakat hortikultura Korea tingkat nasional, saya menemukan sebuah poster dengan judul yang super sederhana. Judul laporan penelitan itu dalam bahasa indonesia dapat diterjemahkan menjadi “Seleksi beberapa jenis sayuran yang memiliki ketahanan terhadap suhu rendah”.  meskipun terlihat sederhana, namun penelitian itu dilaporkan oleh peneliti dari departemen pertanian Korea. ini menunjukkan jikalau penelitian itu dianggap penting untuk dilakukan dan dilaporkan. sebuah langkah pemilihan penelitian yang mempertimbangkan kebutuhan rakyatnya. perlu kita contoh.

berbicarakan tentang berkebun dan suhu dingin, saya juga memiliki kesimpulan menarik dari prilaku bercocok tanam orang korea kebanyakan. Orang korea akan terus berkebun sampai salju turun menutupi tanah. mana kala salju belum turun, mereka akan tetap memenuhi kebun mereka dengan berbagai macam tanaman, meski suhu sudah turun menyentuh angka di bawah 10 derajat.  Jadi jika orang korea sudah mulai menutupi tanaman yang terakhir mereka tanam dengan plastik berkerangka kawat, secara tidak langsung ini menandakan jika salju dalam waktu dekat akan segera turun.

kerangka besi untuk plastik pelindung tanaman. Sistem sederhana ini digunakan orang korea ketika berkebun di musim dingin menjelang turunnya salju.

Topografi kebun korea, meski berukuran kecil namun dipenuhi berbagai macam jenis tanaman di dalamnya. Selain itu jika satu tanaman ditanam secara melimpah, maka di masa panen akan terlihat orang lain yang melalukan proses pemanenan. Saya menduga mereka adalah pihak pedagang yang memang dipanggil untuk membeli hasil panen yang tidak mungkin dikonsumsi oleh pemilik kebun.  Biasanya pelaku panen ini akan memetik sayuran secara mandiri lengkap dengan peralatan panen dan satu mobil pengangkut hasil panen.

***

Dari ulasan ini kita bisa melihat bahwa meskipun dibatasi oleh musim, orang korea berusaha memanfaatkan sumber daya lahan yang ada dengan semaksimal mungkin selagi itu bisa dilakukan. Pelajaran yang bisa kita petik untuk kasus ini, jika kita (bangsa indonesia) memiliki sumber daya yang melimpah, mengapa kita tidak menafaatkannya juga dengan baik dan maksimal?. atau justru kemelimpahan itu sendirilah yang menjadi permasalahan atas tipe kerja kita?. entahlah. Fenomena semakian sedikitnya generasi muda yang memiliki kegemaran terhadap dunia perkebunan secara langsung ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dapat ditemukan di negara lain seperti Korea. mungkin itu yang bisa kita pelajari dari tulisan kali ini sobat.

Demikian sedikit cerita dari lahan-lahan berkebun orang korea. Semoga bermanfaat dan menginspirasi. Kita ambil baiknya dan buang yang buruk.

One thought on “[Korea dalam kenangan] Bercocok tanam terus sampai semua tak lagi mungkin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s