Perjalanan Ramadan Hari ke 26

Kali ini kami akan melakukan perjalanan ke Ciluengsi, Bogor. Kami para “Pendawa” -minus abang tertua-keluarga berniat melakukan itikaf di masjid jami’ Al-Barkah, milik radio Rodja.
Kabarnya Abi -bapak- telah berangkat ke tepat tersebut beberapa hari yang lalu. Kedatangan kami kesana memang bertujuan untuk menemani abi sekaligus bersilaturahmi dengan para jamah masjid Al-Barkah.
Aku bersama istri mendapat tugas membeli makanan berupa jajanan pasar yang akan dibawa ke lokasi itikaf. Dengan menunggangi kharisma, kami bergerak menuju pasar Tebet. Karena aku belum memepersiapkan semua peralatan untuk itikaf maka selain bertujuan membeli jajanan pasar, aku juga mampir sejenak ke rumah kami yang berlokasi tak jauh dari pasar Tebet. Butuh waktu cukup lama untuk memesan lontong (arem-arem) dalam jumlah banyak. Sembari menunggu, kami mempersiapkan peralatan itikaf ku di rumah.
Kami meninggalkan pasar menuju rumah sesaat setelah istri memberikan nomor handphone kepada penjual lontong
” kita akan dikabari bilamana pesanan sudah siap” jelas istri tanpa ku minta.
Aku senang sekali dengan cara kerja paralel yang bernilai efisien tinggi seperti ini. Kita bekerja menyelesaikan dua pekerjaan atau lebih dengan cara penyiasatan pelaksanaannya sedemikian rupa agar dapat dilaksanakan secara bersamaan tanpa saling mengganggu antar kegiatan yang saling bebas atau mungkin saling terkait tersebut. Bahasa teknologi informasinya, mungkin bisa diwakili dengan frasa multy tasking.
Beres-beres selesai, telpon berdering. Kami meluncur mengambil pesanan dan sesegera mungkin menuju rumah Bangka karena sudah ditunggu rombongan yang akan bertolak ke Ciluengsi. rombongan yang direncanakan berangkat menuju Cileungsi secara detil terdiri dari: Aku -abang nomor dua- khalifah, Hamzah dan Fatahillah.
Perjalanan yang sedikit perlu di ceritakan adalah saat aku dan istri membawa semua pesanan dan barang itikaf dengan kharisma, over load barang di bagian depan bertumpuk hingga dada sementara di balakang istri turut terlibat membawa sekantong plastik berisi makanan yang cukup banyak hingga sakit tangan sebagai akibatnya.
Sekali lagi kami-khususnya saya- merasakan betapa pentingnya memiliki kemampuan mengendarai mobil. Membawa barang dalam jumlah banyak dengan kendaraan roda dua memiliki resiko yang tinggi. Mudah2an dalam waktu dekat aku mampu menggapai salah satu cita-cita ku dari sepasang cita-cita bertema mobil ini: mampu mengendarai mobil dan memiliki mobil sendiri setidaknya sekelas fortuner. Amin ya Rabbal alamin.
Sore mulai menjelang, saat kami meninggalkan Bangka menuju Kemang. Kami memilih jalur Kemang – Tb. Simatupang karena relatif lebih lancar dibandingkan jalur Warung Buncit- Tb. Simatupang. Puncak kepadatan selama bulan ramadhan di jalanan utama Jakarta terjadi mulai jam 3 hingga 6 sore. Kami akhirnya terpaksa berbuka di dalam mobil dan melakukan sholat maghrib berjamaah di sebuah masjid yang berlokasi di jalan Ampera Raya.
Saat tiba di masjid, kami disambut jamaah yang sedang makan “berat” di sepanjang beranda depan masjid. Pemandangan unik dan pertama aku jumpai. Mereka sedang menikmati nasi dengan menggunakan piring dan memilih beberapa hidangan yang sudah disiapkan dalam beberapa kelompok. Pemandangan yang ada persis terlihat seperti acara “syukuran/ hajatan” yang sering diselenggarakan warga-warga kampung. Selain berjamaah dalam menikmati santapan, mereka ternyata juga asyik merokok berjamaah. Tak peduli usia, hampir seluruh jamaah makan malam juga menjadi jamaah merokok bersama. Kami yang langsung masuk menuju ruang utama masjid merasakan suasana udara jenuh oleh asap rokok kerena memang antara ruang utama dan koridor depan tempat para jamaah melakukan aktivitas makan dan merokok secara berjamaah hanya dipisahkan oleh satu dinding pembatas. Dinding itu didominasi kaca jendela berpartisi horisontal hampir seluruh bidang permukaannya. Aku berinisiatif menyalahkan semua kipas angin yang tersedia di setiap sisi dinding ruang utama. Angin yang dihasilkan kurang lebih 9 kipas ternyata cukup banyak membantu dalam menghalau udara kotor terkontaminasi asap rokok para jamaah. Kami sedikit menunggu, hingga aktivitas berjamaah sesungguhnya yaitu sholat magrib pun akhirnya dimulai.
Lepas melakukan sholat sunah kami
Melanjutkan perjalanan menuju tol Tb Simatupang yang membawa kami menuju pintu keluar Cibubur.
***

Keluar dari pintu tol belum membuat kami bisa bernafas lega. perjalanan yang akan ditempuh dinanti oleh kemacetan yang cukup serius. daerah Ciluengsi merupakan salah satu daerah buffer domisili commuter yang bekerja di Jakarta. Kami akhirnya sampai ke lokasi itikaf pada pukul 8.30 malam bertepatan dengan bubarnya jamaah sholat tarawih. Beruntung sekali kami sudah melakukan sholat isya berjamaah di sebuah stasiun pengisian bahan bakar milik pertamina yang kebetulan berada tidak terlalu jauh dari masjid Al Barkah.

Pengalaman beritikaf pun dimulai. bismillah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s