Abang Mie Ayam, Aku Haus Kejujuran Mu.

Sore hari meninggalkan rumah mertua. Menjelajah untuk susuri jalan Warung Buncit Raya. Mencapai jalan bersimpang banyak di bawah patung Dirgantara Pancoran. Berakhir di Jalan Raya MT Haryono untuk berbelok arah ke kiri menuju Komplek Tebet Mas. Aku dan Istri merasa lapar seketika.

Sedikit berdiskusi di atas Kharisma yang melaju pelan, kami bersatu suara untuk mengisi perut yang lapar dengan makanan dari beberapa kandidat tempat makanan yang terbilang sering kami kunjungi bila berada di Tebet. Kami menyusun daftar prioritas kunjungan ke target berurut sesuai dengan kedekatan jarak lokasi tempat makan dengan posisi kami yang sedang menyusuri jalan raya.

Si biru mulai ku  arahkan menuju sebuah rumah makan padang yang berhasil merebut status enak untuk kategori soto padangnya dari kami berdua. Berhasil memarkirkan Kharisma di depan ruko rumah makan bernama Bukit tersebut tak serta merta menjadi kabar gembira sepenuhnya bahwa kerinduan lidah akan kekhasan cita rasa soto padang itu terpenuhi. Mungkin mereka belum sepenuhnya siap membuka kedai. Alhasil, kami mundur langkah dengan muka sedih karena yang dicari belum tersedia.

Bergerak maju ke kandidat selanjutnya. Bebek dengan sambal yang khas  penyebab seluruh badan berkeringat  dan kepala terasa gatal saat menghajarnya. Tak perlu berlama-lama di jalan, spanduk cokelat bertulis Bebek Lumintu sudah bisa kami lihat lepas belokan pertama setelah meninggalkan lokasi pertama.  cerita yang serupa berlaku untuk rencana makan bebek goreng kali ini. Tampaknya para pedagang makanan masih sibuk merayakan hari kemenangan di rumah mereka masing-masing.

Kami masih memiliki 2 target terakhir: ada penjual nasi goreng yang super laris karena selalu saja memiliki daftar antrian pemesan saat kami hendak nimbrung mencicipi dagangannya dan ada penjual mie ayam yang berlokasi paling dekat dengan kediaman kami.

seperti biasa untuk pemesanan dengan derajat kebutuhan mendesak, mengharapakan nasi goreng adalah hal yang mustahil. saat istri turun dari motor untuk sekedar bertanya urutan  antrian jika kami ingin memesan nasi goreng dan mie rebus maka urutan ke 9 menjadi jawaban yang kami dengar. Alamak, mendengar kata sembilan sepertinya kurang pas untuk perut kami yang mulai konser orkestra tempo cepat ini. Kami memutuskan meninggalkan abang tukang nasi goreng dan berharap pada pedagang mie sebagai tujuan terakhir.

singkat cerita, kami sampai juga ke tempat penjual mie ayam yang dimaksud. Kami memesan jenis mie yang biasa kami pesan. Mie kering terpisah dengan kuah dan basonya. Karena Aku harus mampir ke rumah sejenak untuk menitipkan barang bawaan maka aku menurunkan istri di tempat penjual mie ayam terlebih dahulu. Aku berpesan agar istri memesan mie ayam untuknya saja, aku masih belum sepenuhnya yakin dengan pilihan menu mie ayam pada kesempatan ini.

lepas kembali dari rumah, aku melihat istri sudah asyik dengan pesanannya. Belum sempat aku memesan, istri meminta abang mie ayam untuk memberikannya semangkuk kuah tambahan.

“kurang asyik kalo kuahnya disatukan begini” aku melirik mangkok mie ayam istri yang sudah berisi sedikit kuah.

aku memesan. aku sampaikan permohonan pesananan dengan kalimat perintah yang detil dan mudah dipahami

” Bang, pesan satu lagi mie ayam dengan kuah yang dipisahkan. tidak pakai micin. oh iya satu mangkuk kuah lagi ya untuk istri saya”

dalam waktu relatif singkat pesanan kami dihantarkan

aku menikmati mie ayam ini dengan antusias. ada sedikit rasa ganjil yang kurasakan saat kali pertama menikmati kuahnya. tanpa curiga, aku habiskan semua makanan tanpa sisa. aku sangat menikmati semua jenis makanan berkuah dalam kondisi masih hangat-hangat kuku. sore itu, aku memberikan nilai 5 untuk cita ras mie ayam tersebut. padahal saat pertama kami mencicipi mie ayam ini, angka 8 langsung dengan suka cita kami sematkan. sembari menunggu  istri menghabiskan mienya. aku mengambil mangkuk kuah mie istri dan sedikit menyendok dan meminumnya. istri sama sekali tidak menyentuh kuah tambahan pesanannya itu. aku kira dia merasa cukup dengan kuah yang terlanjur sudah dicampur dalam pemesanan pertama tadi. hal ganjil yang serupa aku temukan kala mencicip kuah milik istri ku ini.

Istri selesai melahap mienya. aku membayar dan kami pulang menuju rumah. sesampai di rumah istri membuka obrolan sembari berusaha membuka pintu depan rumah kami.

“ada yang aneh dengan kuah mie tadi ya bang?”

“iya” balas ku

“abang suka yang hangat. jadi tadi abang habiskan saja semua kuah yang ada” membela diri tanpa diminta karena meski aneh aku tetap habiskan satu kuah milik ku tadi.

“oh…di kira abang memang suka dengan kuah bekas cucian (celoran) mie mentah itu”

“oh iya. Abang baru ngeh kalo kuah tadi itu bukan kuah khusus mie seperti yang kita pesan biasanya”

“iya itu kuah celupan mie. kuah yang bisanya kita makan sebagai campuran mie adalah kuah bening, tidak keruh dan berbau mie gitu”

“astagfirullah. jadi?”

“mungkin bisa jadi tadi mengapa abang mie ayam langsung mencampurkan mie adek dengan kuah. tidak seperti biasanya dipisah jika kita memesan dengan kalimat pesanan mie ayam kuah. mungkin beliau mau menutupi penampakan kuah yang sudah tidak bening dan sedikit kental. ade kira abang sudah tahu. makanya tadi diam saja”

lepas penjelasan istri ku yang masuk akal dan bersesuaian dengan fakta yang aku temukan tadi, aku sempat emosi. aku membayangkan betapa terlihat rakusnya diri ini . Aku yang biasa super hati-hati dengan apa-apa yang aku makan, melahap air bekas celupan mie mentah yang digunakan berulang-ulang dan sekarang air itu sudah ada di dalam lambungku. Rasa eneg muncul tiba-tiba menyambung dan memperjelas rasa ganjil yang aku rasakan tiap saat mencicipi dan melahap mie ayam tadi. Sebagai konsumen aku tertipu. Aku merasa dibodohi. aku mengutuki kebodohan ku dan ketidakjujuran abang mie ayam secara bersamaan.

Setahuku memang ada dua jenis air yang selalu dihangatkan dalam pemrosesan mie ayam. satu rebusan air yang disediakan untuk kuah. biasanya jenis air ini lebih terasa bumbuhnya. sedikit berminyak dan bening. sedangkan air rebusan yang lain adalah untuk mencelor (merebus mie mentah sebelum siap dikonsumsi). air ini biasanya dipakai berulang-ulang sehingga akan b erpenampilan sedikir pekat seperti saat kita memasak mie rebus instan. air ini akan terasa sangat jenuh oleh endapan terigu yang kental. air ini akan berwarna keruh. rasa dari air jenis ini bagi saya menyebabkan timbulnya perasaan tidak nyaman diperut: eneg. ada perasaan yang menganjal dalam batin ku. mengapa si abang melakukan hal ini?. mengapa beliau tidak jujur dengan mengatakan

“maaf kuahnya sudah habis”

ketika aku memesan mie dengan kuah terpisah tadi?. jika saja beliau mengutarakan hal yang sebenarnya. maka tidak akan ada yang merasa ditipu dan merasakan kekecewaan sedalam ini.

hmmm. aku sempat berfikir untuk tidak ingin mengunjungi abang penjajak mie ayam itu lagi.

sedemikian dalam perasaan benci saat mengetahui diri kita ditipu oleh orang yang kita percaya. aku sempat berfikir dalam seputar hal ini.

semoga kita tidak menjadi orang yang membakar rasa percaya orang lain kepada kita menjadi arang. karena tak akan pernah ada kesan yang indah bersama kebohongan.

duh abang tukang mie ayam. Aku tiba-tiba merasa amat haus atas kejujuranmu dalam berniaga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s