Naik Bajaj dan Ojek Motor

Adakalanya aku harus menggunakan dua diantara sekian banyak  transportasi publik miliki jakarta ini. Ya!. Mereka adalah Bajaj dan Ojek. Aku belum memiliki kemampuan mengendarai mobil dengan baik. Selain belum bersertifikasi dengan tanda telah berhasil mengantongi SIM A, aku juga masih sering mengalami kematian mobil  mendadak ketika mencoba berlatih untuk bisa menguasai jenis kendaraan roda 4 tersebut.

Sehari-hari aku membawa Karisma sebagai sahabat terbaik yang siap mengantarkan ku ke mana saja aku mau. Namun,terkadang aku harus berpikir ulang untuk menggunakan motor ketika situasi sedang tidak pas. Akan melakukan perjalanan yang cukup jauh, memasuki daerah baru yang aku belum tahu benar medan dan arahnya atau saat hujan merupakan beberapa contoh kondisi dimana akhirnya aku memilih mengandangkan Karisma dan menjelajah jakarta dengan menggunakan transportasi umum.

Moda transportasi jenis bus, angkot, kereta api dan taxi bukan menjadi topik pembicaraan ku kali ini. Sesuai judul dan demi memenuhi amat yang jelas bahwa tulisan ini adalah tulisan non fiksi, maka kali ini aku ingin menulis seputar Bajaj dan Ojek motor saja.

Saat Karisma memilih untuk ditinggal dikandangnya, aku harus menggunakan Ojek atau Bajaj dari rumahku menuju halte bus way, jalur bus ataupun stasiun KA terdekat. Wilayah kediamanku terbilang memiliki akses kendaraan umun yang cukup sedikit. Hanya ada bus 612 yang melewatinya. itupun dalam beberapa kesempatan memiliki jam operasi pendek dan tidak terlalu sering lalu lalang. Mungkin ini tipikal daerah yang dihuni oleh orang-orang tajir sekaligus daerah tidak beridentitas jelas sebagai kawasan perkantoran atau kawasan pemukiman. Pemerintah lokal galau dalam menentukan trayek angkutan, di sisi lain, anggota masyarakatnyapun tidak menunjukkan aksi keberatan karena toh mereka punya kendaraan masing-masing yang siap untuk ditunggangi.

Kembali kecerita bajaj dan ojek. pada suatu hari aku menggunakan ojek yang sering mangkal di depan rumah ku. tanpa basa-basi aku langsung memberikan perintah

“Bang, ke Gelael ya” *) sebuah department store yang terletak di samping jalan utama MT Haryono.

aku berbaik sangka bahwa ongkos ojek dari rumah ke Gelael tak akan lebih dari 7.000 ribu rupiah saja. Mungkin jika paling mahal hanya 8.000. praduga itu menjadi wajar dan beralasan manakala saat aku pergi ke stasiun KA yang berjarak lebih jauh dari rumah-Gelael, aku hanya membayar 6.000 rupiah saja dengan menggunakan Bajaj. Baiklah. Aku yakin sekali dengan prasangka baikku.

Ojek melaju.

Setelah aku sampai di tempat yang dimaksud sesuai pesanan, ternyata aku harus merelahkan uang 10.000 rupiah sebagai ongkos. sempat terjadi sedikit perdebatan

“Saya biasa menggunakan Bajaj ke stasiun hanya 6.000” terangku dengan sedikit tegas

“Saya orang perumahan juga, biasa kok segitu” uang 7.000 yang aku serahkan sudah berpindah tangan

“Beda mas. Ini Ojek. meskipun jarak lebih jauh, bedalah” abang ojek tak mau kalah.

Akhirnya aku mengalah. Berusaha ikhlas kuganti uang 7.000 dengan satu lembaran 10.000

Di kesempatan lain, aku terpkasa naik Bajaj dari pasar Tebet menuju rumah karena membawa printer. Aku langsung naik ke sebuah Bajaj yang sedang antri menunggu penumpang dan meminta si Abang untuk membawa ku menuju lokasi rumah.

tak berapa lama, akupun sampai. perlahan dan seksama ku turunkan printer agar tak macet saat nanti digunakan. Printer ku tinggalkan sementara di atas lantai marmer beranda rumah. saatnya membayar ongkos bajaj pikirku. Kembali, aku berpraduga sama menggunakan teori jarak rumah-stasiun KA.

“Ini Bang ongkosnya” sejumlah uang bernilai 6.000 aku serahkan.

“Kurang mas. Ongkosnya sepuluh ribu?”

“Apa?” aku kaget

“Bukan 6.000 bang?” aku meyakinkan.

“Gak bisa 6.000. Ya sudah 8.000 saja” tawarnya

kuganti uang 6.000 ku dengan satu lembar uang bernilai 10.000

“Ambil saja sisanya” serahku dengan kesal

“Saya tidak mau jika tidak ikhlas” si abang turun dari bajajnya yang masih menyala dan mendekati ku

aku berusaha mengendalikan emosi dan berhasil!!. dengan lembut kututurkan kata perkata sebaik mungkin

“tidak apa. Saya ikhlas bang. kembaliannya untuk Abang”  jujur, aku merasa sangat ikhlas sekali saat itu.

“Seharusnya Mas tawar dulu saat naik tadi. Kalo saya tahu mas mau bayar 6,000, saya juga tidak akan mau mengantar Mas. Saya sering kok, ngantar orang ke kompleks ini. Biasanya memang 10.000. Penghuni rumah itu misalnya” si Abang menunjuk sebuah rumah besar yang berada tak jauh dari rumah ku.

“Saya sudah tidak mempermasalahkan. Terima kasih penjelasannya” jelas ku mengakhiri dialog singkat itu

aku masuk ke rumah sambil membawa printer di tangan dan sebuah kesimpulan di kepala.

“Kalo mau Naik Ojek dan Bajaj harus tawar menawar dulu. Pastikan harganya berapa?. jika tidak, ya pasti berubah-rubah harganya”.

Teringat dengan bahan ajar ekonomi pak Saiful Bahri tentang sifat tradisional dan ketidakpastian. Mungkin saja Bajaj dan Ojek masih tradisional sistemnya sehingga ketidakpastian harga atau tarifnya menjadi sebuah ciri khas yang tak terpisahkan dari mereka.

Demikian sepenggal cerita ku. semoga bermanfaat sahabat.

2 thoughts on “Naik Bajaj dan Ojek Motor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s