Perjalanan menuju negeri gingseng: mengantar jaya sampai bandara (1)

Terima kasih untuk semua yang telah mendoakan saya.
Yang telah berkenan mengantar saya sampai depan pintu “koneksi” awal dan akhir sebuah perjalanan international (Terminal penerbangan internasional Soekarno-Hatta); Mas Adit, Rasyid, Rian, Zaki, My little brother: D2 dan Azrul and the driver (Fahran) serta the photographer: Intjeu marince…hi..hi..(jazakallah khair jaza Bro’s).

tim pengantar: Ince; Zaki; Mas Adit; Rian; Azrul; dan DD, mana Farhan nih?.

Oh iya, juga untuk mas Rio yang datang menyusul ke pintu tol sembari menyerahkan sebuah kenang-kenangan dan berkata

“maaf tidak bisa ikutan ke bandara karena ada “tugas”” dan beliaupun menyerahkan pecinya untuk saya sembari berpesan lekat

“gunakan ini nanti di korea ya”

mengesankan sekali dedikasi mu pada janji mas🙂.

Berfoto bareng mas Rio juga (ka-ki) Rian; Rasyid, Farhan, Mas Rio, Mas Adit, aku

Tanggal 29 sekitar pukul 15.30 wib

Saya ditemani dua orang adik angkat meninggalkan Al-Izzah. Terasa berat juga saat meninggalkan kediaman yang mulai saya tempati untuk waktu yang cukup lama beberapa tahun terakhir. Kostan ini menjadi sangat bersejarah bagi saya. Kostan pertama dan terakhir semasa saya menetap di Bogor.

Terima kasih sudah menjadi “pengawal” sejak bertolak meninggalkan Al Izzah.

Pertama, sebagai pembuka kisah hidup saya di Bogor. Saat registrasi berlangsung dan saat saya belum diperbolehkan masuk ke asrama TPB maka kostan ini adalah salah satu tempat yang paling berjasa buat saya untuk sejenak berlindung guna memperoleh status kehidupan yang layak sebagai seorang musafir. Terakhir, kostan ini menjadi penutup kisah perjalanan hidup saya di Bogor. Al izzah masih berkenan memberikan tempat kepada saya saat menikmati “masa-masa usia lanjut” di IPB. melalui tulisan ini ingin saya sampaikan ucapan terima kasih kepada Pak Bosar, sang pemilik Al-Izzah. Tak mungkin cerita ini ada jika tak ada kenan dari bapak atas saya untuk tinggal di kostan kita tercinta ini. Tak terasa, tujuh tahun kemudian saya harus meninggalkan Bogor bersama kenangan yang sudah banyak saya buat di dalamnya. Saya bertolak dari Al-izzah secara langsung menuju bandara untuk terbang menuju negeri yang memiliki pagi yang tenang: Korea.

Setelah berpamitan kepada seluruh penghuni Al-Izzah yang kebetulan ada di tempat, angkot biru itu meninggalkan Dramaga. Sampai di terminal bus damri Branang Siang, sekitar pukul 16.00. Kami langsung “mendarat” di masjid alumni. Jamaah Ashar baru saja bubar.

Sebelumnya secara tidak sengaja saya berjumpa dengan Rasyid. Dari beliau saya mengetahui bahwa teman2 yang berencana mengantar saya akan berkumpul di masjid kampus Al gifari sekitar pukul 17.00 wib. Semua berlalu, akhirnya kami berkumpul dan bersua di pintu keluar terminal Damri menuju tol Jagorawi.

Haru…..itu rasa pertama yang mendaftarkan diri pada mesin deteksi emosi yang dimiliki hati saya saat itu…..hummm akhirnya jadi juga diantar (he….he….26X). meski sebelumnya kabar itu simpang siur kebenarannya.

di depan terminal bus damri Branang Siang, Bogor

Sekitar pukul 19 lewat beberapa menit.

Sampai juga di pelataran megah jalan terminal penerbangan internasional Soetta. Dulu, setiap pulang kampung, jalur ini selalu menjadi jalur pertama yang dicapai Damri. Saat kondektur meneriakan nama terminal ini kepada penumpang, saya acap kali berbisik dalam hati; suatu saat terminal ini akan menjadi akrab dengan perjalanan saya, amien. Setidaknya….kemarin akan menjadi waktu tatap muka pertama kami, dan saya merasa kesan kami sangat saling menggoda. Ha…ha…..ya, selanjutnya terserah anda deh…

Gerbang itu.

Sesi pomotretan…..jepret sana sini….kaki tiga sudah disiapkan, aksi bebas diperbolehkan. Maka hasil jepretan tersebut tersimpan rapi di dalam canon digital milik Intjeu (beberapa sudah di upload tuh….thanks bro)

Lepas sesi personal itu,saya langsung melakukan check in. Deg..degan juga sih……Sejak tadi saya khawatir dengan nasib bagasi yang cukup gemuk. Banyak sekali opini yang beredar masuk keluar telinga saat saya “curhat” seputar kekhawatiran itu…..berikut petikannya;
“wah bisa2…..bagasimu harus di kuruskan…..dan “dagingnya” di bawa pulang. Ya titip ke teman  yang mengantar saja nanti. sayangkan jika dibuang”
“klo kabin mah, gak segede itu jaya…..masukin aja ke bagasi”

“walah. Saya berinisiatif membawa barang-barang itu ke kabin, ya karena saya khawatir bagasi saya sekarang sudah over load Jeng….lalu? “

“capek deh…..” balik lagi kekomen pertama dong kalo gitu.

Atau 2 komentar positif dan solutif berikut:

“Wah bang…kayaknya benar2 gemuk dan padat deh…hmmm….hmmmm….seleksi lagi aja bang pakaian yang perlu dan tidak perlu dibawa” maka dengan pendapat positif ini saya tiba2 berubah menjadi dokter bedah dan langsung melakukan operasi kecil sedot “lemak” baju tak layak bawa….tra…tra..tra…..bagasi saja menjadi sedikit ramping…tapi…masih terlihat cukup gemuk ……dan…..akhirnya…
“Wah kakak……saya yakin ini pas 20 kg…paling kalo lebih ya sedikit…..” saya antusias mendengar komen “supir” saya kali ini…mengejutkan……tapi saya tak mau terhibur begitu saja……sampai keluar pernyataan yang meyakinkan itu….”saya sering kok mengantar keluarga ke bandar dan beratnya…..ana yakin ini gak terlalu berlebih dari ukuran 20 Kg….dan……dasyat selain berpropesi sebagai sopir…..adik kelas ku yang satu ini layak mendapat award sebagai ahli takar…..Terima kasih Fahran atas pernyataan yang menenangkan itu. setidaknya untuk saat ini.

Dan benar saja. saat check in berat bagasi saya hanya 20,4 kg…….dan tas yang saya niatkan untuk di bawa masuk ke kabin diterima dengan baik untuk bersemanyam  dibagasi dengan damai dan tenang….

LEGA !!!!

—–sekilas info—–

Bagaimana check in saat melakukan perjalanan internasional?, berikut uraiannya:
1.    Check in berlangsung sama persis seperti perjalanan domestik. Bedanya: lebih ketat; ketemu banyak orang asing (jaga bandangan ya om); dan tertib teratur. Oh iya, saat check in siapkan: 1. Tiket; 2. Dokumen yang terkait dengan perjalanan…klo saya, diminta untuk menunjukan dokumen yang terkait dengan tujuan belajar. karena saya menggunakan one way ticket….nyaris saja tidak boleh terbang. dasar!.
2.    Setelah sukses check in kembali mendekat ke kantor perwakilan pajak. Kantor kecil yang bertuliskan FISKAL…Alhamdulillah dengan adanya “kartu apa kata dunia: NPWP” kita bebas pajak sekarang Bros…..lumayan…..kita bisa berhemat kurang lebih 2 juta rupiah….Dengan hanya menyerahkan photo copy NPWP semua proses selesai…”selamat jalan”
3.    Keluar lagi. Habiskan sisa2 waktu mu, bersama orang2 yang menyayangimu. jangan khawatir dengan batas waktu boarding pass. masuk saja kembali saat tepat boarding pass. namanya aja boarding pass, ya?. insya’Allah akan pas sekali, gak bakal terlambat kok
4.    Masuk kembali dan lanjutkan proses melalui imigrasi. Nah, klo kita sudah melalui imigrasi. maka kita tidak bias keluar dari badnara lagi. Jadi, jangan lakukan dulu poin 4 ini jika kamu masih ingin “gantung2 bareng dengan orang2 di luar bandara”

Tips hang out/ ngabuburit (gantung2 bareng) sebelum berangkat: belilah pasokan MINUMAN/ air mineral dan makanan yang banyak sebelum memasuki bandara. Harga barang-barang seperti itu amat mahal di dalam bandara. Beli minum di bandara, sebagai gambaran, sebotol air miniral yang berbandrol 1.500 berevolusi menjadi 5.000 (inilah salah satu alasan saya, mengapa saya sedikit alergi terhadap evolusi. Dari hal ini juga dapat kita simpulkan jika evolusi bukanlah sahabat anak2…eh salah…sahabat orang2 berkantung pasti PAS…ha…ha…

—-sekilas info selesai—-

Lega berlanjut pada level lebih tinggi: BAHAGIA…..
Kami langsung “bersilaturahim” kepada pak jenggot berkacamata yang senyum sejak beberapa tahun yang lalu. Tadinya gak niat banget makan di kedai fast food ini. Tapi ya itu….saya tidak menerapkan tips yang saya buat sendiri di atas…maka secara terpaksa demi kenyamanan jantung anda, kami memilih toko makanan yang harganya sudah bisa diterka sejak sebelum makan…agar tidak gagal jantung setelah menyantapnya….hanyo….mulai ngelantur…

Wah ternyata nikmat sekali makan masakan warteg di KFC (maafkan kami…..telah berkhianat dengan kampanye boikot produk yahudi. astagfirullah. maafkan kami). Ya, saya memilih makan makanan warteg yang tadi telah dibeli oleh adikku. Jazakallah khair jazaa bro….ngomong2 abang belum bayar ya dek?…..ajib pantesan enak…..masya’allah makanan gratis….memang kaya cita rasa.

Lalu kita masuk ke sesi “haru biru asyik”
Tentu asyik donk…..perut sudah kenyang….gartisan lagi….dan..tra…..tra….(khusus untuk yang mau pergi) dapat pintu hadiah……oh…..ternyata mereka membuat aku jadi biru…..JAZAKALLAH KAHIR JAZAA my bros…..sungguh sempat saya berfikir….apalah arti sebuah hadiah….ya sebuah hadiah saja…tapi ketika saya buka di kamar sesampai di Korea…Hadiah itulah yang membuat mata saya mendadak berair untuk pertama kalinya….(maklum…kamar saya adalah kamar yang berdapur…ya jadi banyak bawang).

Saya membayangi sederet filosofi yang terajut di saat-saat kalian memutuskan untuk memilih sampai membeli hadiah yang paling pas buat saya…Ya Rabb……sungguh ini adalah doa tidak langsung dari mereka buat saya….saya terharu…..meski hadiah bukan segalanya…tapi saya yakin kebaikan dan hadiah terbaik adalah doa yang ikhlas……dan hasilnya…..terbukti sudah hadis nabi….hadiah membuat saya jatuh cinta (lagi) kepada mereka karena Allah.

Sekitar pukul 21.30.

Ja….annyonghi kaseyo!

Konferensi pers pun berlangsung……Ummi dan abi serta keluarga besar bersapa, bersaran bertutur kebaikan….love you MOM….Appa….Aboji….Ajuma…Hyeong….Nuna…
Dan saya langsung masuk ke pintuk check in. foto-foto lagi tentunya….plus narasi melodrama yang tiba-tiba muncul entah dituturkan oleh siapa, tak berwujud nyata.

“Baiklah hadirin sekalin, kita masuk ke acara puncak pelepasan pada malam hari ini…..” dre…dre…dre..pet…pet..pret..pret.

”Ramah tamah, salam salim (misi om salim gak bermaksud membahas ente dan dunia bisnis dalam tulisan kali ini), dan lepas dekap…akan kita lakukan kepada saudara syahnada jaya…semoga diberkahi Allah selama di dalam perjalanan, perjuangan studinya dan kembali dengan kesempurnaan (subhallah Allah saja yang maha sempurna) nama JAYA-nya…..amien. Kepada tamu yang hadir harap berdiri dan bergantian untuk berjabat peluk dengan tuan bandara”

“Untuk pak satpam tolong dipersiapkan keamanannya…karena sesi ini sangat rentan….sering muncul ekspresi histeris yang mungkin membuat pelakunya lepas kendali”

Walah ngelantur…….hush….hush….(jam 9.05 AM KST)….alhamdulillah gak tidur lagi setelah subuh…

Saya berangkat….lepas….
meninggalkan mereka dan tanah lahir
membawa semangat mereka dan tanah lahir ikut serta
terbang…..merampas….ambil bagian dan persembahan itu mesti adanya
untuk Tuhan yang tak pernah hilang.
Rabb…pertemukan kami dalam keadaan yang paling baik setelah ini…..
Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s