Perjalanan menuju negeri gingseng: perjuangan di dalam bandara Soetta (2)

Di pintu imigrasi tak ada lagi logika, eh salah, maksudnya tak ada lagi troli. Tapi klo dipiki-dipikir, benar juga gak ada logika (meminjam perkataan mbak Agnes Monica 2000 sekian). Coba sobat bayangin, saya masuk dengan membawa cukup banyak barang (ingat di cerita bagian 1, bahwa saya pernah was2 saat check in. terkait dengan hal itu, saya  mau mengucapkan terima kasih kepada Garuda Indonesia dan Korean Airline. Mereka sungguh mengerti urusan seorang mahasiswa baru yang mau pindahan. Bawaan saya Over load dan mereka memaklumi dengan cara memberikan solusi terbaik untuk saya. saya tidak menyerah dengan begitu saja. Semua barang yang mungkin dibawa ke dalam kabin saya bawa. Dengan bismillah, akhirnya saya diperkenankan untuk membawa tas yang cukup gemuk berisi baju (non benda2 cair) ke dalam pesawat. Saat itu, jika saya tidak salah ingat, saya membawa tas lebih dari 2 buah. Tenteng sini, tenteng sana. istilah orang betawi untuk hal ini adalah “Grondong petong“. Semua bagian tubuh yang bisa diberdayakan untuk menenteng bara diberdayakan deh pokoknya. kebanyangkan hebohnya gimana?. Ternyata kabin itu memang besar loh. jadi pelajaran buat sobat semua: barang yang cukup banyak tak perlu dikhawatirkan. Yang terpenting bisa dikemas dengan strategi jitu. mengacu pada peraturan yang meklasifikasi barang-barang yang boleh dan tidak diperkenankan untuk dibawa masuk ke dalam pesawat saja. insyaAllah lancar. Kalo lagi mujur, semuanya lolos menuju kabin. mungkin juga hal ini situasional. terakhir saya pernah memiliki pengalaman jika tas yang diperkenanakan masuk kabin hanya dua buah saja. Tidak lebih dan tidak ada tawar menawar. Tapi saat pertama kali ke korea kemarin, suasana pesawat tidak terlalu ramai, jadi bagasi relatif bebas (tidak diperiksa secara detil) (lihat tips menyusun bagasi).

Masuk imigrasi kita menunjukan passport dan tiket. Lalu kita mendapatkan berkas isian sederhana untuk keberangkatan dan kedatangan….isi..isi…yang kosong..kosong. Nah..catatat baik2..1. Passport harus terus disimpan di tempat yang mudah untuk diambil berulang-ulang namun aman. Apalagi klo kita bawa banyak barang, ribet juga bukan?. selama pantat belum menyentuh empuknya kursi pesawat, passport akan selalu digunakan untuk berbagai keperluan. tas kecil sandang bisa menjadi solusi yang baik. atau lebih praktis lagi, jika kita mengenakan celana lapang berkantong banyak untuk para pria sang petualang; 2. Pena lebih baik kita siapkan. tapi tak baru ya tak apa….(baju baru alhamdulillah….tuk di pakai di hari raya…tak BARU PUN tak apa2…hi…hi), maksud saya tidak ada juga tidak apa, karena disediakan, tapi akan lebih baik jika kita punya sendiri. tahu sendirikan kualitas fasilitas gratisan di negara kita tercinta. sering bersifat seadanya saja. kadang hanya ada bodynya sedangkan isinya sudah tidak layak dipakai lagi alias macet atau habis. Untuk lebih praktis dan tidak perlu mengemis-ngemis mengharap pinjaman dari orang lain, menyiapakn pena sendiri adalah hal yang paling lebih bermartabat. ya elah bahasanya cing.😀.

Nah, kita berlanjut ke tahap melewati pintu boarding pass. di sini, klo sedang rame akan dibedakan secara ketat antara meja pelayanan untuk foreigner dan INDONESIAN. Tapi, berhubung kemarin saya boarding pass disuddend death time. Pembagian itu tidak terlalu ketat. saya bisa menggunakan meja manapun yang penting sedang kosong. Akhirnya saya masuk melalui pass gate yang bertuliskan ALIEN eh salah foreigner. Di sini, kita harus antri (masak kalah sama bebek. bagi yang belum terbiasa antri bisa belajar sama bebek) tepat di belakang garis kuning. Klo gak akan diteriakin. Nah untuk urusan teriak2an ini, orang korea lebih serem teriakannya dibandingkan orang Indonesia yang terkenal ramah (baca: Perjalanan menuju negeri gingseng: di bandara Nomor satu dunia: Incheon International Airport (ICN) (3)). Urusan check and re-check udah (bukan sesi gosip ya. harus ditegaskan ini. takut salah persepsi. maaf bung saya bukan pria pengiat gosip..hi..hi), saya lolos………

Maka mulailah saya masuk ke pintu terakhir dari sebuah “area tak bertuan”. Sebuah beranda steril yang hanya bisa dicapai oleh  pelancong berdokumen lengkap. Saat itu suasana asing mulai perlahan saya rasakan meski masih di beranda rumah sendiri.

Beban di pundak seakan tertawa menyeringai sembari berkata
“Enak sekali digendong kemana mana”

sedangkan pundak saya, berteriak kecil

“capeknya minta ampun”

Sayup-sayup melodi seringaian beban tersebut membuat saya tak sepenuhnya mampu berkosentrasi. Akibatnya, saya tertipu dengan strategi pemilihan jalan terdekat menuju pintu E2. Saya memilih sebuah jalan yang sedikit memutar. Uh, maksud hati ingin mengambil jalur yang paling singkat, ternyata eh ternyata, jalur yang saya adalah jalur memutar yang jauh lebih panjang. Saya kalah dengan anak TK yang amat mahir dalam permainan labirin: membantu budi menemui anak anjing. Jadilah badan ini makin berkeringat menyerupai kuli keren di dalam bandara. fuh, saya menyeka keringat yang mulai membanjiri muka.

dan yang lebih menyesakkan lagi, ternyata koridor ini di bagi menjadi dua jalur. bukan pembagiannya yang menjadi topik penyesalan saya, melainkan….. tauhkah engkau bujang?. pembagi koridor itu berupa apa?. sebuah bangunan menyerupai tangga berjalan yang bernama (apa ya namanya?. hm sebentar. saya tanya ibunya dulu…..maaf bujang ibunya sudah pergi. tak ada yang bertanggung jawab untuk penamaan benda itu!. Ehmmm, kita sebut saja, eskalator datar atau lantai berjalan…). Saya tak sadar jika jalan yang cukup jauh itu dilengkapi eksalator datar yang memang disediakan untuk orang yang bernasib kurang beruntung seperti saya: membawa barang dalam jumlah banyak. Eskalator memang bertuga untuk membantu calon penumpang yang membawa barang dalam jumlah banyak. Barang-barang bisa diletakan di atasnya dan semua akan berjalan atau terangkut secara bersamaaan hingga ujung koridor. Lepas itu saya bisa mengangkut barang hanya untuk jarak yang lebih pendek menuju pintu E2.

Maaf atas keluguan saya saat itu. Maklumi saja atas perangai orang kampung tak faham teknologi baru yang tersesat “di negeri asing” ini. Sungguh kebodohan ini tidak sedikitpun berunsur rekayasa berbagai pihak agar saya mampu memancing simpati. Keistiqomahan saya membawa barang dengan swadaya tanpa bantuan siapapun termasuk fasilitas canggih yang memang disediakan untuk keperluan angkut mengangkut tersebut adalah murni karena ketidakfahaman. saya kira hanya pembatas jalur saja dianya tadi.😦.
Nah…sudah mengertikah kau bujang, mengapa aku menyesal sebagai orang gaptek saat itu…..?

Perjalanan memikul bebanpun belum usai. Saya harus kembali antri di depan pintu pass terakhir menuju E2. Disini terjadi pula hal bodoh akibat jiwa analisis saya yang terus on. Saya ikut antri di depan pintu pass E2. Antrian bergerak pelan namun pasti. Saya memandang sekeliling dengan seksama. Aha, banyak botol minuman yang disita sebelum melewati pintu. Saya berkesimpulan daerah selanjutnya adalah daerah bebas minuman dan bahan cair sejenisnya. Maka saya langsung teringat akan botol air mineral kecil imut yang saya beli di toko fast food dengan harga tinggi nan tak wajar ketika makan bersama tadi.

“wahhhh….belum saya buka sama sekali….akan amat rugi jika tak saya minum. Sebelum diperintahkan untuk dibuang, lebih baik saya minum saja” analisa saya sok visioner dalam batin. Serta merta saya keluar dari antrian, mengambil botol minuman mineral tadi dari tas genodng eiger dan glek….glek….glek…saya berjuang secara heroik layaknya seorang peserta lomba minum air disebuah pertandingan perayaan 17-an kampung (emang ada?…asal!!!) dan saudara-saudara, saya berhasil menghabiskan air minum tersebut meski sedikit menganggu stabilitas politik antrian. Semua orang yang mengantri di belakang saya sempat bingung mengamati tingkah laku saya. mungkin mereka berfikir, anak ini mengalami gangguan dehidrasi mendadak karena trauma ketinggian (halah tidak nyambung) atau “mas klo mau lomba minum air bukan di dalam antrian atuh”. Saya sempat keki juga saat itu. Terserah apa yang terjadi yang penting misi saya menghabiskan air untuk menghindari diri dari gelar temannya setan berhasil. mission accomplished!!. Saya berusaha untuk tetap tampak tenang. Saya kembali masuk antrian dan……. berhasil mencapai pintu pass terakhir saudara2. I am clear!!!. Yuhuy. Semua petugas bersorak-sorak menyambut saya. Sirine dibunyikan secara bersamaan. ha…ha..ha..ini hanya terjadi dalam imajinasi saya saja tentunya.

 SELAMAT TINGGAL INDONESIA>>>>> Aku akan merindukan mu serta orang2 baik di dalamnya….Ya Robb Jagalah mereka agar tetap dalam bimbingan dan berkah Mu…..tiba2 semua petugas bandara, GI dan KA berkor panjang mengamini doa saya….(mulai lagi deh).

barang bawaan saya yang baru saja muncul dari goa SCANER langsung saya gendong+tenteng kembali. Tiba2…mata ini menangkap 2 sosok pria asing yang sedang minum sembari tertawa lepas (emang bisa ketawa lepas sambil minum?). What ?……Mereka bisa bawa minum ke dalam (dengan cara dititipkan kepada petugas. Cara ini diperkenankan). Mereka minum setelah barang2 mereka dix-ray. Huh….huh…aku kembali malu atas tindakan sok antisipatif ku sendiri…tepok jidat sambil berdoa. “ya Rabb jadikan hamba golongan sobirun….amiennnnn” (kali ini, semua mahluk Allah pun mengaminin. Serius loh untuk yang ini)

Sesi itu lewat…selanjutnya saya disambut oleh keramahan para pegawai Korea Airline. Saya segera mencari tempat duduk di bagian kelas ekonomis dengan nomor kursi 54 A. Setelah ketemu, komen saya cuma satu

Great. ini lebih dari cukup dan nyaman buat saya……Sippp….bismillah….semua luar biasa…bismillah…maha besar Engkau ya Allah yang menundukan pesawat ini untuk kami tumpangi”.

Saya segera merebahkan badan dan berusaha beristirahat sejenak.

alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Akhirnya bisa meregangkan kembali otot dan tulang-belunang yang kerja ekstra keras tadi. Memang, nikat itu menjadi terasa lebih asoy jika diraih dengan penuh perjuangan.

“Bismillahi Majreha Wa mursaha inna robbi la ghofurur rohim”

bersambung –>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s