Terbang menuju tanah terujung barat, sebuah kenangan spesial.

sudah sejak lama bermimpi bisa menginjakkan kaki di tanah ini. sebuah daratan terbarat dari gugusan kepulauanIndonesia. Sebuah provinsi kaya cerita sejarah yang saya kenal sejak lama semenjak mulai bertemu mata pelajaran sejarah ataupun geograpi.

dari belajar sejarah di bangku sekolah, saya mengenal provinsi ini melalui cerita samudra pasai, makam islam pertama nusantara, iskandar muda dan malik kul saleh sampai hubungan baik kerajaan dengan kekhalifaan turki ustmani yang berkedudukan di Turki. melalui geografi, banyak daerah di Aceh sering dikutip menjadi contoh tempat-tempat penting yang memiliki fungsi geografis tak ternilai harganya.  melalui geografi juga saya ketahui, selain kaya cerita sejarah, provinsi ini memiliki sumber kekayaan berlimpah.

beranjak ke jenjang pendidikan lebih tinggi, provinsi ini saya kenal sebagai satu-satunya provinsi yang tak mampu ditaklukkan Belanda di masa dimana seluruh wilayah nusantara mampu ditundukkan bangsa penjajah tanpa terkecuali. Provinsi ini kemudian lekat dalam ingatan saya menggunakan penanda ingatan berkategori nama pahlawan gagah berani seperti tengku Umar, panglima polem, tengku cik di tiro, Cut Nyak Din, malahayati, cut mutia dll.

Lupa secara pasti kapan tepatnya saya pertama kali menjejakkan kaki di tanah ini. mungkin kira-kira 2 bulan yang lalu. haru, gembira dan penuh semangat, demikian sedikit dari sekian banyak perasaan yang muncul tiba-tiba mana kala kaki saya turun dari burung besi dan menyapa langsung tanah bandara internasional iskandar muda (SIM). Benih-benih luapan emosi itu pun sudah muncul dan mengeliat perlahan semenjak saya check in di bandara soekarno hatta, jakarta. tak sabar, perasaan itu sama persis dengan perasaan seseorang yang sudah lama tak pulang kampung halaman tercinta.

Pikiran saya kemudian terbang bebas melesat ke beberapa tahun silam dimana saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Entah sejak kapan saya mengenal aceh dan kemudian tanpa kesadaran dan pengawasan satu kata nama provinsi ini menjadi terasa sangat spesial buat jaya kecil. dahulu saya suka sekali melukis. bercorat coret pinsil dan sipdol warna tepatnya. inipun juga tak saya pahami mengapa kegemaran yang satu ini seakan bertranformasi tanpa krompomi dari hobi yang cukup penting dalam diri saya menjadi sesuatu yang acuh bahkan nyaris tak sedikitpun saya merasa bahwa pernah menaruh minat pada bidang seni satu itu.

kembali ke masa kecil tadi, mungkin jiwa seni itu pula yang membuat saya amat tertarik dengan sebuah kerajinan tangan sulam motif rumit lagi banyak dan beraneka ragam di sebuah kotak pinsil teman kelas berdarah aceh asli dahulu kala. perasaan tertarik sejak jumpa pertama dan tersimpan lekat dalam memori diluar pakasaan dan rencana. teman berdarah aceh itu sosok wanita muda, berkulit hitam manis yang menurut kabar ikut pindah dari aceh bersama ayahnya yang pindah tugas. lepas kejadian itu saya tak pernah berhitung apa lagi mencatat, berapa kali saya menemukan ornamen serupa sekaligus secara tidak sengaja didoktrin orang-orang sekitar saya bahwa ornamen menarik itu adalah kepunyaan khas aceh. maka sejak itu bila saya menemukan pola-pola ornamen  dan berunsur warna sejenis, tanpa merasa perlu konfirmasi, alam bawah sadar saya langsung menyimpulkan bahwa itu milik aceh. padahal tak jarang setelah dikonfirmasi dan diamati lebih jauh, ornamen yang saya maksud tak memiliki hubungan sama sekali dengan aceh.

belakangan merujuk obrolan sehari-hari saya dan istri dengan secara sepihak saya berspekulasi proses psikologi yang saya alami tersebut dekat dengan definisi istilah “terokupasi” (benar gak ya dek?).

alam bawah sadar saya terokupasi sejak lama dengan kata Aceh!. Saya terobsesi.

asal mulanya tak diketahui. prosesnyapun terasa tidak lengkap meski dicoba untuk dirunut dengan seksama. terasa banyak rantai yang hilang untuk menuju pada kesimpulan akhir keadaan saya yang terobsesi aceh itu. namun saya menemukan titik terang makin mengkristalnya okupasi itu atas diri saya setelah mengenal Sultan iskandar muda. sosok itu menginspirasi saya. sosok ini seakan menjadi represntasi kekaguman saya pada aceh. sosok ini menjadi refleksi penerjemahan bebas saya atas kelompok masyarakat aceh pada masa itu. saya berkesimpulan, aceh adalah sekelompok masyarakt yang berhak mendapat penghormatan yang tinggi bagi sesiapa muslim melayu yang memiliki ghirah kebangkitan. tak berlebihan memang. Setelah diketahui jika kerajaan aceh pada saat pemerintahan sultan iskandara muda memang menjadi kerajaan mitra yang megakui tunduk dan bagian kekhalifahan turki ustmani. coba kita bayangkan, kejayaan dunia islam gemanya bercorong langsung di tanah pertiwi melalui aceh. wow, ini luar biasa menurut saya.

ini akhir dari perkiraan saya mengapa saya begitu ngefan dengan aceh sepertinya. dan agaknya asumsi ini mendekati kebenaran.

Allah telah menentukan takdirnya.

Akhirnya saya berkesempatan juga menyapa tanah sultan gagah berani dan penyanjung syariat ini.

perjalanan inipun menjadi sangat spesial, selain karena perjalanan ini merupakan salah satu perwujudan dari daftar mimpi saya,  sudah pasti juga karena sosok yang menemani saya dalam perjalanan kali ini. seorang gadis aceh yang luar biasa. dia merubah okupasi aceh saya tak lagi sekedar hayalan dalam ingatan, tapi menyata terjun ke dalam kehiduapn sehari-hari. ya, allah memberikan saya sebuah amanah untuk menjaga seorang gadis aceh sebagai istri.

subhanallah, bagaimana tidak menjadi teramat spesial, mewujudkan mimpi bersama sesuatu yang lebih khas dari bagian mimpi itu. berkunjung ke tanah terujung barat indonesia bersama gadis aceh yang menenangkan jiwa.

tampaknya Allah menjawab doa dan impian saya.

Beberapa menit lepas meninggalkan burung besi yang parkir di belakang saya. Suara pelan memberi aba-aba pada saya.

“berbalik badan abang. Kita abadikan kunjungan ini di depan gedung utama bandara SIM”

klik satu potret diciptakan dengan cepat. begitu cepat dan singkat. sementara saya masih diam termenung bermuhasabah akan besarnya curahan nikmat Allah atas diri saya. Diam saya berkelanjutan. Istri mendekati saya dan meminta untuk dipotret juga. Alhamdulillah ya Allah, kini kau titipkan dia, sebaik-baiknya perhiasan dunia. wanita aceh yang sholehah.

Potret kami telah dibuat. Dan Allah berperan besar atas terjadinya itu. potret itu berasal dari negatif film dulunya. bak impian, potret adalah cetakan perwujudan impian dan cita-cita. sedangkan negatif atau file foto adalah impian itu sendiri. saya yakin tak akan ada potret tanpa negatif film.

mari kita berani mempersiapkan negatif film kita masing-masing untuk segepok potret mimpi besar kita lainnya.

bismillah…..

banda aceh 5 Juli 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s