cerita jalan Leighton (1)

Agenda kami hari ini adalah berkunjung ke masjid Ammar yang terletak tak jauh dari Causeway Bay. Kota Wan Chai tepatnya. Butuh tak lebih dari 15 menit dengan berjalan kaki santai dan lebih singkat dari waktu tempuh itu bila kita memilih menggunakan tram untuk mencapainya. Hong Kong memberikan kejutan secara bertahap kepada saya selama beberapa hari berkesempatan mengunjunginya. Jumlah masjid dengan ukuran dan bentuk sebagai wujud masjid yang sesungguhnya secara fisik dan fungsi merupakan salah satu kejutan yang saya maksud.

Hong Kong merupakan sebuah negara yang mengalami lesatan kemajuan ekonomi sejak tahun 1960-an. Hong Kong menjadi salah satu negara yang menikmati dampak positif dari proses okupasi negara inggris, jika sebuah penjajahan masih mungkin untuk ditimbang-timbang efek positif nya. seperti halnya Malaysia dan Singapura serta negara-negara bekas jajahan inggris lainnya, Hong Kong tumbuh dan berkembang secara mandiri sebagai sebuah negara makmur dan maju dengan standar dunia yang jamak orang pahami. Adakah sobat pembaca memiliki informasi tentang negara persemakmuran Inggris yang mengalami “penderitaan” ekonomi di masa sekarang?. Jika ada, sudi kiranya menambah informasi untuk menjadikan pendapat saya seimbang. Terima kasih.

udara Causeway bay masih terasa bersih di peralihan waktu antara pagi dan siang kala itu. kesan sejuk dan basah masih tertinggal setelah semalam hujan menggunyurnya hingga basa kuyup. Kami menyusuri laman gedung-gedung yang berjejer rapat namun rapi sepanjang jalan Leighton, Keswick hinggah Penington. Kami berbaur dengan warga kota yang tumpah dan hiruk pikuk di setiap jengkal ruang troktoar. Pagi adalah  jam tersibuk warga kota metropolitan Causeway bay yang memburu waktu untuk memulai aktiitas pagi hari mereka. Tipikal warga kota yang mengerti betul arti penting hitung-hitungan nilai setiap 1 menit dan detik. mereka bergerak cepat seolah sedang berlomba-lomba satu sama lain.

Saya berjalan sambil menikmati settingan gedung pencakar langit yang sudah mulai tamak memakan semua ruang terbuka di atas sana.  Layar padang kita ke langit terasa berkurang luasnya tertutup puncak-puncak gedung kokoh itu. Sesekali saya menyalakan kamera dan mengambil gambar hal-hal yang saya anggap menarik. sementara istri sibuk dengan telpon genggamnya.

Tak tanpa alasan kunjungan ke Hong Kong (HK) saya kali ini. Saya menyusul istri yang sedang bertugas di HK untuk sebuah program kemanuisan. Skenario besar kedatangan saya semula hanya untuk menjemput beliau mana kala mas bertugas telah selesai.  Istri seorang psikolog, profesi inilah yang membawanya ke sana. Pihak penyelenggar program tersebut kebetulan membutuhkan sukarelawan psikolog yang akan mendampingi para tenaga kerja wanita indonesia HK (BMI) selama satu bulan penuh.

sejak memulai perjalan menuju masjid tadi, istri sudah memberikan informasi ke saya, jika tujuan kami kali ini hanya untuk mengenalkan jalur penginapan-masjid kepada saya.

“kita akan segera kembali ke KJRI setelah sampai masjid ya bang. yang terpenting sekarang abang tahu dulu jalan yang pas dari penginapan kita ke masjid Wan Chai”

baru beberapa hari saja saya di HK. bulan ramdhan sepertinya amat rugi jika dilewatkan begitu saja karena alasan dunia. saya ingin tetap merasakan kesibukan bulan ramdhan meski kali ini Allah tetapkan kami berdua melewati sebagiannya di negeri belantara pencakar langit ini.

“baik” sergah saya dengan cepat.

sesekali istri bercerita seputar “kasus” yang sedang ia tangani.

“kali ini ada seorang BMI yang ingin pulang ke indo. beliau merasa kakinya mau meletus dan tidak bisa digerakkan dibeberapa kesempatan” istri membuka percakapan dengan informasi singkat seolah tahu bahwa saya juga cukup mengikuti kasus tersebut dengan baik.

“oh, si mbak yang kemarin malam kabur dari shelter saat kita iftar?”.

“iya. bukan kemarin, tapi beberapa malam yang lalu. si mbak ini sekarang sedang di rumah sakit. sebenarnya malah bagus beliau di rumah sakit. di sana ada yang merawat dengan intesif dan terjamin. mungkin sehabis mengantarkan abang ke masjid adek akan segera ke rumah sakit. Adek sudah janjian untuk bertemu di depan KJRI dengan voluntir untuk berangkat bersama-sama menuju RS”.

“ok, mudah2an lancar urusannya”

si mbak yang sedang ditangani istri saya sudah memiliki masalah dengan majikkannya sejak 4 bulan yang lalu. kasus beliau sudah ditangani sebuah lembaga bukan pemerintah berbasis agama islam bekerja sama dengan KJRI. menurut cerita yang saya dengar, si mbak sempat jatuh dan merasa ada masalah dengan kakinya. cukup lama beliau merasa tidak bisa berjalan dan harus dibantu kursi roda. mengapa dalam cerita ini muncul kata “merasa”?, karena belakangan setelah dicek pihak rumah sakit, si mbak sehat-sehat saja. pihak KJRI juga sudah merasa amat bingung dengan kasus beliau tersebut, nyaris angkat tangan tanda menyerah.

saya mengerti sedikit soal penyakit psikologi manusia. dari amatan dan cerita yang ada, ada kemungkinan besar bahwa si mbak memang sehat secara fisik namun tidak secara psikologinya.

kami baru saja sampai di depan masjid. lepas mengambil beberapa gambar, telpon genggam istri tak henti-hentinya bunyi. Istri secara terus menerus tersambung dengan banyak penelpon yang tak semuanya saya ketahui satu persatu. ternyata terjadi sebuah perkembangan dari kasus si mbak. beliau -tidak saya temukan cerita secara jelas- telah berhasil ke luar dari RS. Itu fakta terbaru yang saya ketahui dari beberapa obrolan istri dengan orang-orang di ujung telpon yang entah sekarang sedang berada di mana. Saya tak mau ikut campur terlalu jauh. Saya menyibukan diri dengan mengambil gambar masjid dari seluruh sisi. Tak perlu menunggu lama. Istri segara meminta saya untuk mengikuti beliau memutar arah kembali menuju KJRI.

kami menyusuri rute jalan yang sama saat berjalan menuju masjid tadi. Perjalanan kami sekarang dilakukan dengan kecepatan lebih dibandingkan sebelumnya . Saya biarkan istri berjalan di depan membelah keramain warga HK yang belum juga surut. Sementara saya mengikuti beliau di belakang dan mencoba sesiaga mungkin untuk mengamati dan mengikuti setiap gerak dan gerik beliau. Saya belum terlalu terbiasa dengan jalur yang baru saja saya kenal ini.  “Well, kita lihat saja apa yang terjadi” saya membatin.

 

(bersambung>>>)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s