Malaysia mengukuhkan diri sebagai negara terdepan untuk urusan kelapa sawit

selesai kuliah kemarin, beberapa mahasiswa pria berkumpul untuk sholat asar berjamah. Selepas sholat, sembari menunggu hujan reda, kami berdiri melingkar di beranda wing lantai 4  gedung fakultas pertanian yang berada paling ujung dan menjorok menghadap gedung graha wisuda.

Obrolan dimulai dengan diskusi tugas mata kuliah yang makin cihuy asyiknya. lalu topik merembet ke efek samping tugas yang benar-benar menyita perhatian kami itu. Ada yang bercerita soal tidur mulai jam 3 setiap malam rabu. ada juga yang mengutarakan pengalaman pribadi soal cerita asyiknya menikmati peringatan singkat kata error di layar laptop saat menjalankan program SAS.

obrolan mulai beranjak kepersolan yang lebih serius dan akrab dengan kehidupan kami sebagai mahasiswa pasca. seorang rekan bertanya basa basi seputar tema penelitan yang akan saya lakukan di program PhD kali ini. saya menjelaskan dengan singkat soal langkah kombinasi antara kerja pemulian konvensional dan molekular. ternyata beliau adalah mahasiswa tugas belajar dari sebuah perusahaan swasta kelapa sawit. kebetulan sekali saya juga pernah bekerja di sebuah peusahaan milik inggris yang pernah memimpin dunia per”kelapasawitan” di indonesia untuk kategori pengembangan riset.

singkat kata. dari obrolan itu saya menangkap sebuah pernyataan pesimis dunia riset kelapa sawit negara yang katanya produsen kelas wahid ini: Indonesia. menurut beliau, negara kita kalo diajak bergabung dalam sebuah konsorsium lokal untuk penelitian kelapa sawit akan saling curiga. tidak mau bersatu. namun anehnya, untuk sebuah konsorsium penelitian kelapa sawit yang dikomandoi oleh perancis, meski harus bayar dan tidak jelas apa yang didapat sebagai anggota konsorsium, kebanyakan dari mereka antusias untuk bergabung dan dibela-belain.  saya memberanikan diri untuk mengomentari pernyataan beliau tersebut. tanya kenapa?. mengapa bisa begitu?. apa hanya karena perbedaan kesan dan pengalaman emosional ketika kerja bareng peneliti dan praktisi lapang kelas dunia atau internasional, apa itu saja sebagai alasan tunggal mereka mengapa bersikap begitu?. teman ngobrol yang ternyata sedang s2 tersebut hanya berkomen pendek untuk menutupi diskusi

“mungkin saja begitu. distorsi orientasis sedang kita alami”

***

belum selang satu hari penuh. hari ini saya mengikuti kelas analisi genetik. topik pembahasan yang diajarkan tentang pustka genom. sebuah produk yang mengawinkan pendekatan peta genetik dan peta fisik seperangkat genom mahluk hidup dalam proses pembuatannya. kajian ini menjadi semakin menarik dan mampu mengoda saya untuk bertanya bertubi-tubi kepada pengajar ketika dijelaskan secara rinci proses kontruksi pete genom itu. bagaimana tidak menarik?. proses pemetaan genom sebuah spesies mahluk hidup itu prosesnya bak kita membangun sebuah perpustakaan yang akan memuat data paling lengkap dari spesies mahluk hidup yang kita petakan. misalnya saja ada perpustakaan nasional indonesia yang pasti akan memuat data bahan bacaan lengkap seputar indonesia (seharusnya begitu). demikian juga dengan peta genom sebuah spesies yang kita petakan. kita semaksimal mungkin akan memetakan semua gen yang dimiliki si spesies. apakah itu akan memetakan DNA yang sudah diketahui ataupun bukan?. selama ia adalah genom dia akan dipetakan. melihat fungsinya seperti itu. maka apabila suatu spesies berhasil dipetakan, dapat dipastikan ia akan mengalami perkembangan molekular yang pesat selepas itu.

kita ingat perbincangan soal gen yang bertanggung jawab dengan kegemukan pada manusia?. gen itu baru terkuak setelah peta genom manusia berhasil dibuat. banyak contoh lain yang begitu memukau selepas beberapa spesies berhasil dipetakan genomnya.

nah, secara kebetulan juga hari ini dosen menyinggung soal publikasi yang memuat tentang peta genom kelapa sawit. yang membuat saya makin cemburu dan gegeretan pada diri sendiri adalah munculnya nama negara malaysia sebagai leader yang menggawangi proyek pemetaan ini. dan tak tanggung2 2 publikasi seputar itu berhasil menembus jurnal sekelas nature.

kita memang negara kelas satu produsen kelapa sawit, namun harga pasar kelapa sawit ditentukan malaysia. dan kondisi ini terus berlangsung sejak dulu meski status juara pertama itu tak pernah diraih malaysia. hingga hari ini sudah tentu malaysia tidak akan pernah berhasil meraih status penghasil produksi terbanyak kelapa sawit karena mereka memiliki lahan yang jauh lebih kecil dari negara kita. tapi, dengan berhasilnya dipetakan genom kelapa sawit oleh malaysia tidak menutup kemungkinan bahwa malaysia akan semakin memperkuat pengaruhnya di dalam dunia tanaman potensial ini. untuk urusan produsen nomor satu saja. jika nanti melalui peta genom malaysia bisa menghasilkan bibit yang memiliki efisiensi produksi minyak paling tinggi (karena sudah berhasil menghilangkan cangkang buah). maka dengan lahan yang terbatas malaysia akan mengahasilkan jumlah minyak kelapa sawit yang jauh lebih banyak dari kita. hal yang serupa untuk sifat2 unggul kelapa sawit lainnya. ini mungkin saja terjadi. malaysia bisa saja memonoploli informasi peta genom yang mereka berhasil buat. apa susahnya?. bukankah kita juga mengenal ada perpustakaan umum dan perpusatakaan pribadi?. hal yang sama juga dapat terjadi pada sistem peta genom.

duh saya cemburu sekali dengan kemajuan luar biasa yang berhasil malaysia raih sejauh ini. kapan ya kita bisa meraih hal yang sama atau lebih baik dari ini?. kapan ya?.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s