Seorang penyandang PhD

PhD atau dikenal dengan gelar Doctor/Doktor adalah singkatan dari kata Doctor of Philosophy.

Ada yang berbeda di setiap kelas sepanjang bulan-bulan pertama kuliah aktif saya sebagai mahasiswa S3. Hampir disetiap kesempatan, para dosen yang mengajarkan kami akan meluangkan waktu yang lebih banyak untuk berbicara seputar nilai, etis dan cerita keilmuan praktis disamping hanya sekedar menyampaikan materi kuliah.

Melirik dari arti calon gelar yang sedang kami perjuangkan utuk disandang di atas, adalah wajar kiranya jika para dosen yang sebagian besar adalah para penyandang gelar tertinggi titel akdemis dan cukup memiliki jam terbang tinggi tersebut bertindak seperti itu di dalam kelas kami. Tampaknya mereka memiliki beban moral secara komunal untuk menyiapkan calon-calon penyandang gelar PhD dari IPB yang bermoral, berjiwa ilmiah murni dan tidak hanya sekedar menjadi seorang Doktor. Mereka berupaya agar kristalisasi makna penyusun frase gelar itu berproses mulai sejak kami terdaftar sebagai mahasiswa sampai kelak saat pita toga dipindahtempatkan di hadapan khalayak peserta wisuda. Ya, mereka ingin betul makna sang pencinta kebenaran itu melekat secara fisik dengan pribadi kami selekat mana kala kelak nama kami akan dilengkapi oleh gelar itu.

Seorang prof ahli molekular pemulian tanaman dari fakultas pertanian memberikan sebuah pesan penuh makna di sebuah kesempatan. Beliau memulai wejangannya dengan melemparkan sebuah pertanyaan terkait arti ilmu pengetahuan. Menurut beliau, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang MELEKAT ketika apa yang dipelajari itu terlupakan. Unik sekali definisi yang beliau utarakan sebagai hasil pemikiran panjang pribadi beliau tersebut. Jika dipikirkan dengan seksama demikianlah hakikatnya ilmu pengetahuan yang kita pelajari hingga berjenjang-jenjang ini. Kita belajar dalam kurun waktu yang lama, nyaris seumur hidup jika tidak ada pemisahan proses pembelajaran formal dan infromal. faktanya memang banyak sekali hal yang kita lupakan ketika waktu berjalan dan berganti dengan masa dimana kita harus memperlajari hal lain sesuai dengan jadwal yang ada. sehingga secara sadar atau tidak, memang ilmu pengetahuan itu memiliki sifat dasar dipelajari untuk dilupakan. Jadi apa yang kita peroleh selama proses pembelajaran ini?. Ya. Sesuatu yang melekat tadi. apa saja itu?. Akan saya sebutkan di paragraf selanjutnya.

Sehingga menurut beliau, jika seoarang PhD itu hanya memiliki pengetahuan yang sesuai dengan batas kajian keilmuannya, bisa dikatakan sang Doktor tidak memiliki keseimbangan dalam pengukuhan gelarnya. mengapa demikian?. Karena seorang doktor tidak lagi menjadikan ilmu pengetahuan sebagai tujuan akhir melainkan sebagai jalan atau fasilitas untuk menjadikan pribadinya lebih bernilai. Bernilai apa?. Bernilai apa sajayang bisa menjadikan pribadinya sumber kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain.  Maka menurut Prof Hajrial, bahwa hal yang melekat itu dapat dicontohkan dengan kemampuan seperti sifat jujur, pantang menyerah, taat beragama, adaptif, memiliki ketahanan yang tinggi dst dst.

Ingatan saya terbang dan hinggap ke sepotong waktu saat masih berstatus sebagai mahasiswa S1 dahulu. Di sebuah ruangan berkumpul kostan kami di bilangan babakan lebak, saya pernah bertutur mengeluarkan ebuah pernyataan di hadapan  beberapa adik kelas ketika kami terlarut dalam sebuah obrolan santai

“JIka saya ditanya apa yang saya dapat selama kuliah S1 di IPB?. Maka saya katakan, saya banyak belajar tentang apa itu arti sebuah kehiduapn”

ternyata tanpa saya sadari, pola kalimat renungan itu saya temukan kembali hari ini. Ya, saya temukan dalam bentuk kalimat berkomposisi diksi kata yang berbeda namun bermuara makan sama. Saya temukan ia keluar dari sosok sepuh yang telah mengalami proses pemebalajaran berlipat-lipat dari apa yang sedang saya jalani. Demikian hakikatnya kita mencari ilmu. Bukan sebatas tujuan rendahan untuk memperpanjang nama dengan embel-embelan gelar yang kadang justru terlihat menisatkan itu. Ada misi lebih mulia dari sekedar untuk hambur-hambur kebanggan kosong  itu. Semoga kami yang menuntut ilmu ini bisa mengundang berkah Allah. Agar kami bisa menjadi sosok pencinta kebenaran sejati. Dan ini semakin membuat aku bahagia, Karena hakikatnya kebenaran ejati adalah bersumber dari Ilahi.

bismillah ya Allah jauhkan kami dari ilmu yang tidak bermanfaat.

amin.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s