[sehari 1 tulisan] Sepenggal cerita: Mencuri Mobil bag. 1

Sudah lama sekali ingin bisa mengendarai mobil secara mandiri. Katanya sih sebagai seorang laki-laki, satu kemampuan ini harus bisa dikuasai di zaman modern seperti sekarang. Zaman Rasulullah SAW dahulu sangat ditekankan agar setiap muslim setidaknya memiliki kemampuan dasar bertahan hidup: memanah, berenang dan mengendarai kuda. Agaknya, mengendarai mobil (selain mengendarai motor) adalah keahlian subtitutif dari kemampuan mengendarai kuda yang Rasulullah maksudkan tersebut. Motivasi itu semakin menguat manakala secara ril di lapangan, memang tidak bisa dipungkiri jika saya membutuhkan keahlian tersebut. Banyak kasus terkait mobilisasi keluarga kecil kami yang hakikatnya bukan sebuah permasalahan serius bilamana saya sudah bisa menyetir mobil. kesimpulannya, skill ini bersifat emergensi untuk dipenuhi. Semoga Allah beri jalan, amin. Termasuk jalan untuk memiliki “kuda”-nya secara pribadi secepat mungkin sesuai kebutuhan suatu hari kelak.

Cerita tentang mengendarai mobil, saya mengalami hal menarik pagi ini. Didorong oleh keinginan yang kuat seperti yang disebutkan sebelumnnya, saya memasang target selama bertugas di aceh harus (dengan izin Allah) mulai bisa mandiri dalam urusan mengendarai mobil. Di masa permulaan tinggal di Aceh saya merasa senang sekali. Sesuai dengan perkiraan pribadi dahulu sebelum berangkat, bahwa selama tinggal di aceh akan ada setidaknya satu mobil fasilitas kantor yang sekalian bisa digunakan untuk belajar. Mimpi itu pun satu paket dengan kehadiran sosok yang akan menjadi pelatih. Ingin bertemu siapa pun itu sebagai sosok yang paling berjasa buat sayauntuk urusan setir menyetir ini selama tinggal di Aceh.

Allah siap dengan rencana sendiri Nya. Menetap di Aceh, tersedia satu mobil sewaan senilai 5.000.000 perbulan. Titah bapak mertua (Abi) sekaligus bos utama saya di perusahaan keluarga ini, penyewaan mobil setidaknya memiliki tiga tujuan utama: 1) digunakan untuk urusan internal petinggi kantor, 2) digunakan untuk kepentingan mobilitas pegawai kantor yang berhak, 3) terakhir namun penting adalah peruntukkan untuk saya berlatih mobil. Dalam pesan tersebut, jelas sekali bahwa Abi punya perhatian kepada saya terkait urusan menyetir ini. Titah ini tidak bersifat rahasia empat mata antara Abi dan saya saja. Tapi pesan itu bersifat terbuka yang disampaikan kepada seluruh anggota kantor. Dalam penerapannya tidak semudah dan sehalus rencana. Untuk memperoleh hak diajarkan dan menggunakan mobil, saya harus berusaha relatif lebih. lebih proaktif, lebih berani memulai, lebih berani meminta jika tidak pantas disebut mengemis, sesekali harus lebih bisa sabar dan tidak memasukan penolakkan untuk menggunakan mobil ke dalam hati.

Waktu berjalan singkat. berdomisili di aceh sejak beberapa bulan yang lalu. Sejak bulan pertama mobil mulai di sewa hingga hari ini yang total durasinya sudah dua bulan, bisa terhitung jari kesempatan saya untuk bisa belajar mobil. Belajar mengendarai mobil rata-rata dilakukan di malam hari. malam hari adalah sisa waktu. Sisa tenaga juga bagi yang mengajar kiranya. Terasa tidak maksimal. Selain itu, malam hari yang relatif larut itu juga tidak mewakili kondisi jalan sesugguhnya. Baik itu kondisi jalan standar keramain aceh sendiri, terlebih lagi Jakarta. Namun saya tetap bersyukur atas kesempatan untuk bisa belajar dengan leluasa meski hanya memiliki rentang waktu belajar tak lebih dari 1 jam saja. Alhamdulillah, dalam keterbatasan ada sebuah perkembangan yang cukup berarti. Perkembangan berkarakter siput. Lamban namun tetap ada perkembangan. Sampai bertemu suatu waktu dimana saya menuntut supir sekaligus pelatih untuk memberikan kepercayaannya kepada saya dalam mengendarai mobil di siang hari. Kesempatan emas itu dalam catatan takdir Allah ada ketika saya harus mengantarkan istri pulang meninggalkan Aceh pada tanggal 2 Juli kemarin. Saya mulai mewacanakan agar saya yang mengendarai mobil sendiri sedari mobil baru saja meinggalkan areal parkir bandara internasional Iskandar Muda (SIM). Waktu tempuh antara tempat parkir dan bundaran monumen bandara SIM, menjadi ukuran waktu tidak baku bagi saya untuk memenangkan lobi terhadap si sopir. Proses lobi cukup ketat. Alhamdulillah berakhir dengan kemenangan berada dipihak saya, meski harus sedikit dengan paksaan. Lucu memang, meminta kepercayaan dengan pemaksaan. Seperti pelaku kudeta saja saya kala itu. Tapi kalo ditelaah lebih dalam, supir satu ini memang harus serba dipaksa. urusan berberes untuk kepentingan pribadi doi sendiri saja harus dipaksa dulu baru kemudian beliau mau bekerja menyelesaikan tugasnya. Alhmadulillah, pada kesempatan itu saya berhasil mengendarai mobil dengan selamat dari bandara SIM ke rumah. Ketakutan beliau akan jalan raya yang terlalu kecil sepanjang rute pulang tersebut berhasil saya hilangkan dengan mengendarai mobil sebaik yang saya mampu. Alhamdulillah tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan saya bisa membuktikan pada diri sendiri jika saya sudah memiliki perkembangan yang cukup berarti prihal setir menyeti ini.

bersambung ke bagian 2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s