[sehari 1 tulisan] Sepenggal cerita: Mencuri mobil bag. 2

Lepas masa bersejarah itu, saya belum pernah belajar mengemudi mobil lagi. Ramdhan sudah menyapa kita semua. Belajar mobil di malam hari, sepertinya tidak akan menjadi pilihan yang baiki. Aktivitas belajar mobil menjadi tidak terlalu menarik lagi dibandingkan dengan kegiatan sholat berjamaah malam hari di masjid yang diikuti dengan aktivitas ibadah lainnya. itulah alasan mengapa aktivitas belajar mobil malam hari tidak pernah lagi saya lakukan. belajar pagi hari mungkin pilihan yang tepat?. tidak tepat bagi yang “menguasai” mobil dan supir. mereka lebih suka tidur hingga jam 9 pagi ketimbang aktivitas menarik di pagi hari lainnya. apalagi hanya sekedar mengajarkan saya menyetir mobil. mustahil kiranya. Pernah juga saya ajukan agar diberikan kesempatan belajar mobil sendiri tanpa menggangu supir dan “penguasa” mobil. Mereka menolak halus dengan berbagai alasan yang keseluruahan alasan tersebut adalah fakta kekurangan saya, akhirnya saya dipaksa untuk memilik ke pilihan terbaik dari pilihan-pilihan lainnya yaitu: sabar dan mengalah.

Sampai pada pagi ini, kami semua mengantar abi ke bandara lepas selesai sholat berjamaah di masjid. Setiba kami di rumah, Saya langsung pamit ke “penguasa” mobil untuk belajar mobil lagi. Saya yakin akan disetujui, karena beliau sedang bahagia. Beliau baru saja mendapatkan banyak uang dari abi pagi ini. Singkat cerita, saya mulai membawa mobil sendiri mulai dari pintu keluar komplek Vila citra didampingi supir kantor yang setia mengawasi saya. selama 30 menit ke depan kami berkeliling jalan-jalan sibuk di banda aceh. sesekali mobil masih mati. tapi, tidak terlalu berarti. banyak pengalaman dan tantangan baru yang insyaAllah bisa mematangkan skill menyupir saya. Berusaha terus, tenang dan nyaman akhirnya mobil bisa saya parkirkan dengan baik di depan rumah, di luar pagar sejajar jalan. baru sebatas itu yang bisa saya lakukan terkait bab parkir. Ingin juga sih belajar memasukan mobil ke halaman rumah. tapi sang supir sekaligus pelatih sudah bertipu muslihat mengakali agar sesi laithan kali ini sesegera mungkin berkahir. tak lebih dari 30 menit saja durasi latihan kali ini. itu yang saya catat dari penunjuk waktu yang saya kenakan di pergelangan tangan. Alhamdulillah, meski demikian saya tetap mensyukuri atas apa yang saya alami pagi ini.

lepas belajar mobil, sang supir pergi meninggalkan rumah padahal saya dan salah satu karyawan kantor lainnya, Eko, sibuk membersihkan rumah. Si supir ternyata pergi ke rumah kerabatnya yang kebetulan berdekatan dengan lokasi kantor kami untuk tidur, ini info yang saya peroleh dari karyawan yang membersamai saya dalam aktiitas bersih-bersih pagi ini. Eko pun tak membantu saya hingga aktivitas membersihkan rumah berukuran besar ini tuntas. Ia mengeluh kakinya sedikit sakit. tetapi saya melihat justru Eko lebih dalam kondisi ngantuk berat ketimbang kesakitan kaki karena keseleo akibat terjatuh di masjid tadi pagi menurut pengakuannya kepada saya. Saya percaya saja. dan akhirnya dengan senang hati setelah bantu-bantu sedikit, Eko yang sudah tidak kuat menahan kantuk abang biarkan duduk tertidur di ruang tamu. Saya selesai dengan urusan pel dan cuci piring yang menggunung. terakhir permasahalan muncul dari tumpukan sampah. sampah yang kebanyakan berasal dari sisa pengelolahan dan konsumsi ikan mulai tidak bersahabat. tapi jika dipikir-pikir secara jujur masalah utamannya bukan pada persoalan sampah. sampah hanya menjadi alasan saya untuk membangun keberanian. Ya perkara keberanian inilah yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini. dan inilah peristiwa menarik yang terjadi pagi ini seperti saya utarakan sebelumnya. Oh ya. ternyata kantuk juga menyerang sang “penguasa” mobil. Beliau sudah terbang ke pulau kapuk sejak kami tiba di rumah tadi rupanya. Dengan mengendap-endap saya naik ke lantai dua. Saya mendekatkan telinga ke pintu kamar sang penguasa mobil. Dari dalam masih terdengar suara orokan. Aha, beliau masih tidur. saya melirik Casio masih menunjukkan angka 9. 10 menit. menurut informasi beliau sebelum melepas si supir untuk menemani saya belajar mobil tadi pagi. Beliau akan keluar bersama anggota kantor kami yang lain pada pukul 10.00 wib untuk sebuah keperluan. Masih ada waktu untuk mengukir sebuah sejarah pikir saya. Muncul gambar kunci  mobil yang tertinggal manis di atas kulkas diitinggal si supir begitu saja tadi pagi. Gambar itu begitu nyata dalam benak saya. Fakata akan sampah yang menumpuk dan mobil sampah yang tidak akan lewat di depan rumah pagi ini, memperkuat nyala semangat saya untuk menyetir mbil sendiri secepat mungkin. Semua visualisasi itu menjadi alasan yang cukup untuk memancing sebuah rencana besar saya. apa itu?. Keluar rumah mengendarai mobil, bawa semua sampah dan buang sendiri ke TPA yang berlokasi dekat tempat kami biasa belajar mobil. setelah memperhitungkan dengan cermat. memohon restu Allah melalui doa. akhirnya saya bertekad untuk mengeksekusi rencana besar itu. Eko masih tidur pulas. saya tinggalkan beiau pelan-pelan dan mengunci pintu. Kunci mobil sudah di tangan. Sampahpun sudah duduk manis dibagasi paling belakang mobil. Sempurna.

tantangan pertama adalah mengeluarkan mobil dari posisi parkir lurus di depan garasi. Alhamdulillah tadi pagar tidak ditutup, jadi saya dapat memulai proses pengeluaran mobil tanpa harus mendorong pagar yang super berisik itu. Ada kekhawatiran saya jika bunyi yang ditimbulkan pintu dorong pagar akan membangunkan semua orang yang sedang tidur di dalam rumah, terlebih sang penguasa mobil. bisa gagal sejarah besar yang sebentar lagi akan tercatat ini. Mobil saya keluarkan perlahan. Konsentrasi. mata mengawasi semua sisi mobil. Shah….mobil sudah lurus, berbelok kiri mengarah ke arah pintu keluar komplek. sempurna.

tantangan kedua berbelok di pertigaan ujung jalan sebelum mengarah lurus ke pintu gerbang komplek yang super sempit itu. Ai…ai….ada mobil truk melintas dari belakang komplek, dari simpang jalan sebelah kiri depan saya. Saya mengerem mobil. Mobil mati mati. Suasana di dalam mobil tiba-tiba terasa panas. Diwaktu yang nyaris bersamaan muncuk motor dari belakang, untungnya pengendara motor tersebut adalah penghuni sebuah rumah yang masih berada di belakang mobil saya. Aman. Truk melintas lurus dan saya nyalakan kembali mobil. Saya berusaha meningkatkan konsentrasi menjadi level super tinggi. Saya bersiap belok di sebuah tinkungan 3 yang cukup sempit. Ups……pas banget, mobil berbelok sambil sedikit mengelus dedaun pohon bunga kenanga yang ada di taman rumah paling pojok dari simpang 3 itu. Selamat. Saya sudah banting stir secepatnya dan mobil melaju lurus secara santai menuju jalan utama di depan komplek perumahan kami.

Mobil membawa saya dan sampah menuju jalan utama jalur dua. Jalan ini lebih ramai dari jalan di depan komplek. Saya berhasil memasukkan mobil ke jalan tersebut juga dengan sukses.

Tantangan selanjutnya adalah belokan putar balik yang mengarah ke hotel Hermes. Inipun Alhmadulillah di lewati dengan sukses. Setelah saya putar balik, di belakang muncul bus besar. Saya mulai was-was. Saya berusaha menenanggkan perasaan itu. Kini saya menyalakan lampu sign ke kiri menuju tempat pembuangan sampah berada. Sampai TPA, saya parkir mobil di kiri jalan layaknya penyetir mobil profesional yang memiliki mobil sendiri. Mobil berhenti, pintu belakang di buka. saya didatangi tukang sampah dan dia menwarkan diri untuk membantu mengangkat sampah. Saya beri uang 5,000 rupiah kepada beliau. Saat memberi uang tadi di dalam hati saya membangun disalog imaginer kepadanya “doakan saya pak dalam perjalanan pulang ke rumah”. Saya tak putus-putusnya berdoa “ya Allah mudah2an semua momen tepat dan aman. Mudah2an sang penguasa mobil juga  belum bangun”.

Mobil jalan mengarah ke persimpangan empat masjid lamprit. Bertemu lampu merah simpang empat. kebetulan sekali lampu hijau sedang menyala. Sayalangsung melintas. tiba-tiba di depan ada mobil menerobos. Tahan napas. saya mengontrol rem, kopling dan gas. Saya ambil jalan kiri. Saya kembali berhasil masuk ke jalur selanjutnya di depan kantor gubernur. Dan tantangan paling seru adalah putar balik di belokan seputar pusat pemerintahan aceh tersebut. Tadi pagi, saat bersama pelatih, saya sempat melewati rute ini. Saat itu, kondisi lalu lintas ramai plus ada polisi lalu lintas yang berpatroli. Lengkap sudah tantangannya. Mobil sempat mati dan saya berada dalam ketegangan yang akut. Tidak halus proses putar baliknya. Langsung saja si pelatih memberikan wejangannya. Saya rekam petuah beliau dengan seksama. Berulang-ulang mengulangnya dalam kepala saya. Jika saat proses pengulangan itu ada poin-poin yang belum jelas, tanpa segan saya akan bertanya kembali kepada beliau. Proses ini agaknya memberikan pengaruh dan dukungan peningkatan kemampuan teknis menyetir saya. Dan itu terbukti ketika saya melakukannya secara mandiri dalam perjalanan membuang sampah ini. Meski mobil dan motor yang berasalah dari dua arah tidak bersikap ramah dengan secara terus menerus melaju tanpa ada tanda-tanda untuk memberi jalan kepada saya untuk berputarm arah, alhamdulillah, mobil berhasil berputar arah tanpa mati serta terasa lebih halus ketimbang latihan sebelumnya. Luar biasa. Saya berhasil mengubah posisi mobil mengarah ke arah pulang dan langsung berbelok kiri menuju jalan jalur dua sebelum akhirnya dengan sempurna masuk kembali ke jalan Tengku Cik Di Pineung.

Perjalanan dan perjuangan belum selesai. Masih tersisa tantangan terakhir. Parkir di halaman rumah. Oh ya sebelum itu saya mendapat bonus tantangan. Saat mau masuk gerbang komplek sudah ada 1 mobil Kijang stand by terparkir dari lawan arah. Kondisi diperparah karena mobil tersebut bukan berada di sisi kiri, melainkan sisi kanan. Luar biasa tantangan kali ini, saya membatin. Saya usahakan untuk menghalau rasa cemas dan ketakutan yang mulai mencoba menguasai situasi. Berhasil. saya bisa mengalahkan mereka. Alhasil, saya bisa lolos dan melewati mobil itu dengan jarak yang super tipis. Tak lebih dari sejengkal telapak orang dewasa. Alhamdulillah, saya membatin berulang-ulang memuji Allah. Sampai sudah saya di depan rumah setelah berbelok kanan. Proses parkir dengan posisi mobil membelakangi garasi bisa dikatakan baik untuk sebuah pengalaman parkir pertama. Parkir memang tidak sesempurna posisi semula. Pun saya melakukannya tidak dengan sekali mundur saja. Melainkan dilakukan hampir 4 kali bolak-balik, maju mundur. Subhanallah, saya bisa menyetir hari itu atas kehendak Allah.

Turun dari mobil. Saya mebuka pintu rumah perlahan sembari memeriksa hand phone. Eko masih tidur pulas dalam posisi duduk. Sayup-sayup dari atas terdengan suara tua sang penguasa mobil menutup pintu kamar dengan cukup keras. Cukup khawatir untuk sebuah kenyataan jika proses “pencurian” mobil ini disadari beliau. Saya lirik layar bb, terdapat 4 misscall, 3 diantaranya dari sang penguasa mobil. Sang penguasa mobil turun, saya menegur beliau untuk mencairkan suasana. Repson beliau biasa saja. Saya terus mengawal situasi dengan obrolan basa-basi. Setelah melihat perkembangan yang cenderung baik meski saya masih ragu, akhirnya saya berkesimulan jika sang penguasa mobil tidak mengetahui apa yang baru saja saya lakukan. Saya masuk ruang kerja sejenak setelah sang penguasa mobil pamit. Dari balik kaca jendela saya memandang lekat mobil avanza hitam itu yang mulai bergerak meninggalkan rumah perlahan. Tegang juga mengikuti proses kepergian sang penguasa mobil pagi ini. Alhamdulillah semua aman. Waktu perlahan berlalu dan saya siap untuk memulai kerja hari ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s