[sehari 1 tulisan] 21 Februari 2014

21 feb 2014

Alhamdulillah, hari ke-4 di Indonesia. Subuh ke-3, dan berhasil menaklukkan efek selisih jam biologis di subuh hari yang super berat sejak menghadapi perbedaan pembagian daerah waktu antara Indonesia bagian barat dan waktu Hong Kong. Proses penyesuaian diri kembali dengan WIB semakin terasa berat karena masih berstatus bujang lokal di Bogor.

Setelah sholat subuh berjamaah di masjid komplek, berjaga sejenak sambil membaca rutinitas pagi hari. Ups, saya terkalahkan oleh kantuk dan berhasil ditekuk jatuh olehnya. Saya terlelap sejenak hingga pukul tujuh pagi. Karena sudah mandi sejak sebelum  subuh maka dengan hanya bermodal membasu muka dan sikat gigi saya sudah bisa bertolak ke kampus.

Hampir saja jarum panjang menunjuk angka 9. Sesuai dengan janji hari sebelumnya, kami diminta stand by di lab jam 9 pagi untuk melakukan proses isolasi DNA. Semua alat dan bahan sudah disiapkan Nurul, teman satu tim dalam penelitian padi. Terima kasih banyak untuk Nurul atas segala kebaikan ini. Semoga Allah membalasnya dengan balasan kebaikan yang melimpah, aamiin.

Tra….tra…saya menjadi orang yang pertama mencapai ruangan lantai 4. Bertemu dengan bapak laboran tetangga lab sedang asyik menyirami seluruh tanaman dalam pot yang secara acak tidak teratur diletakkan di sepanjang koridor lantai 4 yang melingkar membentuk segitiga. Seuprit demi seupirt air dari dalam cerek penyiram tanaman plastik berwarna cokelat tua beliau tuangkan tepat di atas tanaman dalam pot tadi. Maka jadilah satu persatu nanas, bunga lidah mertua, padi dan beberapa tanaman yang tidak saya tahu namanya mulai basah ala kadarnya. Basa seperti objek semprotan dukun jadi-jadian ketika beraksi. Jika bisa dikoreksi, si bapak laboran bukan sedang melakukan aktivitas menyiram tanaman. Menyembur tanaman tepatnya, penamaan yang lebih afdhol dan bersesuaian dengan praktis lapangnya. well, kata beliau, saat saya tegur sejenak berbasa basi, say hello morning hari ini, beliau menekankan pesan penting atas aktivitasnya kali ini.

“ya, ini disiram untuk 2 hari kedepan. Kan pada tidak ke lab selama weekend ini”

baiklah, selamat berhemat air ya, para tanaman. sampai jumpa di hari senin depan. kuharap kau masih tampil dengan tekanan turgor yang standar alias masih segar meski kekurangan air. Ku doakan agar weekend ini mendung untuk membantu program hemat air nasional mu.

Senangnya bisa menjadi orang yang menunggu, bukan yang ditunggu.

menit demi menit berlalu. Terbuka juga pintu utama lab dengan sendirinya. Hahahaha, tidak secara sendirilah. Dengan kunci dan tangan yang memegangnya, sudah pasti. Para pengunjung lab hari ini datang juga satu persatu.

Alhmadulillah saya sudah ambil peran sejak semula. Bertemu dengan salah satu laboran kami, pak Mulya, yang super sibuk, mobile, kemana-mana dan apa-apa bisa, di lantai satu saat memarkir motor tadi pagi. Ya, pak Mulya terbiasa untuk hadir lebih awal dalam bertugas harian. Sayangnya beliau mangkal di kantor bawah lantai satu. Hanya sesekali saja kadang beliau naik ke lantai empat untuk sebuah kerperluan atau hanya sekedar memperkaya warna-warni hari di sela tugas beliau yang banyak tadi. Sebagai contoh hari saja, pak Mulya sudah berangkat meninggalkan rumah untuk mengambil nitrogen cair yang akan digunakan dalam proses isolasi DNA hari ini. Sepertipun nama beliau, memang mulya sekali sosok laboran yang satu ini. Semoga Allah berikan balasan atas kebaikannya di dunia maupun di akhirat.

Nah, gembar gembor penentuan jadwal Isolasi dilakukan di pagi hari muncul dari laboran kami yang lain. Beliau bisa dikatakan penguasa lab lantai 4. Jika penguasa itu adil dan melayani maka akan sejahterahlah para manusia yang dikuasainya. Nah jika sebaliknya?, kira-kira apa yang terjadi?. Ya gitu deh. Demikian sosok laboran kami yang kedua mengambil peran antagonis dalam cerita saya di lab lantai 4 ini. Melalui Nurul, saya mendapat info jika isolasi harus dilakukan di pagi hari. Harus, tanpa tawar menawar. Posisi saya cukup lemah, orang yang mau bekerja dengan modal bahan dan alat sama sekali nihil. Manut, adalah pilihan sikap yang harus saya ambil. Saya manut, meski sempat membalas sms Nurul, bertanya seputar jadwal harian yang harus kami patuhi di lokasi penelitian lainnya. Setelah sempat saling balas sms, keputusan diambil agar saya meng-sms laboran balai guna mengkabarkan jika kami hari ini berhalangan hadir dikarenakan harus stay di lab lantai 4 untuk sebuah urusan penelitian lain yang tak bisa ditunda. Beruntung sekali laboran balai ini baik dan pengertian. beliau memahami kami dan menganjurkan tidak perlu dipikirkan apa yang ada di balai padi. Beliau menghibur kami dengan membalas sms berupa kalimat pendek nan menentramkan

“Jika di sana ada kerjaan silahkan konsentrasi di sana dulu pak. Nanti saya yang handle kerjaan. Kebetulan hari ini kerjaan tidak terlalu banyak”

saya langsung membalas sms

“Terim kasih banyak pak”.

Meskipun pintu lab sudah terbuka bukan berarti kerjaan sudah bisa langsung dieksekusi. Lobaran kami yang antagonis meningkatkan kadar keantagonisannya, saat dibutuhkan dia menghilang entah kemana. Faktanya, beliau adalah juru kunci untuk semua bahan-bahan penting termasuk kit isolasi DNA. Nurul sudah mengingatkan beliau prihal kebutuhan kami. Jangan harap akan segera mendapat respon. Kami harus lebih bersabar untuk menunggu. Pikiran dengan asas berbaik sangkanya adalah beliau super sibuk, jadi kita harus menunggu dengan super sabar. Setelah jam menunjukkan pukul 10 lebih, maka baru kegiatan isolasi bisa di mulai.

Bismillah, saya melakukan proses isolasi dengan langkah penuh kehatian. Di lab lantai 4, prihal sepeleh saja bisa mengundang amarah berkepanjangan apalagi persoalan serius yang sudah menyentuh wilayah rugi dan untung.

Saya menghelah napas panjang. membayangkan hari-hari yang akan saya hadapi selama 3 tahun mendatang. Inilah kondisi lab yang akan saya hadapi. Ini nyata dan ini akan menjadi bagian dalam proses studi saya. well, jika tak ada kehendak Allah yang lain atas saya dan lab ini maka semua akan saya jalan di sini. Kecuali Allah punya skenario lain memindahkan saya ke tempat lain. Ya, Allah hambah tak sedikitpun memiliki kuasa atas diri ini. Hamba berlindung dari keburukan amal dan perbuatan hamba. Semoga sejauh apa yang hambah peroleh hari ini tidak memberikan peluang sedikit pun kepada nafsu hambah untuk membangkitkan sifat sombong yang secara inbuilt dimiliki manusia, termasuk hamba.

Sebuah quote yang menarik hari hari ini

“Dengan apa yang kita hadapi ini, baik buruknya akan bisa mendewasakan kita”

baiklah, saya sepakat dengan ini. Mudah2an yang kita dapatkan adalah kedewasaaan itu. Kematangan dalam berfikir dan bertindak. Bukan diskon usia sehingga menjadi lebih cepat tua dan uzur karena kebanyakan menahan marah dan diperlakukan semenah2 oleh orang disekitar kita.

Welcome to new world and this is the real world of yours.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s