[sehari 1 tulisan] Suatu siang di Masjid Al-Hijr

Ada sebuah masjid di kota Bogor yang sudah saya kenal sejak masa awal menginjakkan kaki di Bogor untuk tujuan kuliah. Masjid ini berlokasi di sekitar bundaran air mancur. Di kalangan penggemar kuliner, kata air mancur akan berasosiasi akrab dengan martabaknya. Benar sekali, masjid ini berdiri tepat di posisi trans (bersebrangan alias beda jalur) toko penyedia martabak yang cukup tersohor tersebut. Jika kita datang dari arah istana Bogor, posisi martabak berada di sebelah kanan dan masjid akan bisa dijumpai di sebelah kiri jalan, tepatnya di sudut hadapan diagonal bunderan terhadap Martabak.

Masjid ini punya hubungan erat dengan KH. Didin Hafinudin, mantan rektor univ. Ibnu Khaldun (atau beliau masih menjabat rektor ya?). Baru melalui kunjungan secara langsung tadi, saya menemukan jawaban mengapa masjid ini memiliki hubungan erat dengan motor penggerak dunia perzakatan Indonesia tersebut. Ternyata masjid yang akan menjadi setting utama dalam tulisan saya kali ini adalah milik yayasan Ibnu Khaldun, jadi wajar sekali jika masjid ini identik dengan pendiri sekaligus toko utama Universitas Ibnu Khaldun tersebut.

Hari ini saya berniat sejak awal keluar rumah untuk mampir ke masjid yang memiliki nama resmi masjid Al-Hijr tersebut. Masjid ini masuk kedalam daftar lokasi prioritas yang harus saya kunjungi dalam minggu ini karena namanya muncul saat saya memburu program belajar alquran hingga masjid Al Ghifari satu hari sebelumnya.

Saya berkunjung ke masjid Al-Hijr beberapa jam setelah sholat zhuhur selesai dilaksanakan. Masjid tampak tidak terlalu ramai. Hanya terlihat beberapa jamaah yang sedang melakukan sholat zuhur dan satu dua orang terlihat berbaring di dalam ruang utama masjid untuk sedikit melepas lelah.

Motor saya parkirkan di lahan kosong depan masjid. Tak terlihat ada petugas parkir saat itu. Saya sempat menyusuri keseluruhan koridor masjid yang terbilang serba minimalis ini. Saya menuju papan pengumuman berpenutup kaca di dekat pintu masuk tempat wudhu pria. Berharap menemukan informasi yang saya buru. Hadir kecewa karena tak satupun pengumuman berisi info yang maksud tertempel di sana. Nihil. Saya berbalik arah menuju sebuah ruang paling pojok yang berhadapan langsung dengan pintu pagar utama masjid. Di atas pintu ruangan tersebut tertulis “ruangan takmir”. Muncul sebuah harapan untuk bisa bertanya langsung kepada takmir seputar klarifikasi info bahwa masjid ini memiliki program belajar membaca quran dengan baik dan benar (Tahsin). Saya mengetuk pintu sampai tiga kali. Ternyata meski di depan pintu tergantung label “open atau buka”, tak serta merta saya bisa langsung bertemu takmir masjid dari balik pintu yang tertutup itu. Secercah harapan yang tadi sempat menyala kembali suram. Saya duduk di teras masjid sejenak sembari berdoa dan memasang target untuk kembali mengetuk pintu sekali lagi sebelum memutuskan hengkang dari masjid dalam kurun waktu lima menit kedepan. saya  tiba-tiba terkejut ketika mata menemukan sebuah keganjilan pada motor saya. Whats?, helem saya hilang. Mudah sekali menyadari keraiban helem yang tadinya saya cantelkan di kaca spion bagian kanan. Helem itu berwarna merah mencolok, warna yang cukup kontras dengan warna utama motor kharisma biru. belum sempat saya mengangkat badan yang baru saja merasakan enaknya duduk bersandar. Mata saya kembali bekerja lebih cepat dalam mengumpulkan signal-signal luar untuk diolah oleh otak. Mata saya menemukan citraan warna merah mencolok serupa helem yang diduga hilang berada sedikit tersembunyi di balik ujung tiang tembok pagar masjid. Ternyata oh ternyata, helem bermigrasi dari posis lamanya ke tongkrongan baru yaitu di ujung besi pagar yang berbentuk mata tombak itu. Helem saya tidak sendirian menikmati kenyamanan bertengger di pagar tersebut, setidaknya ada tiga helem lain yang dijejerkan secara rapi di sana. Piranti memori penganalisa data, super komputer yang ada di balik tengkorak kepala saya mengambil kesimpulan sederhana, “oh, ini pasti kerjaan tukang parkir yang memang sempat saya saksikan kehadirannya sejenak saat saya memasuki koridor teras masjid tadi”. Serta merta volume adrenalin saya yang sempat pasang menyurut dengan pertanda hadirnya rasa tenang yang sempurna dalam jiwa. Nyes, rasa khawatir akan hilangnya helem menghilang seakan tak pernah hadir sebelumnya.

Jarum panjang casio analog yang menempel dipergelangan tangan kiri  sudah melompat sejauh 5 garis. Ini berarti waktu tenggang yang saya tetapkan untuk menunggu sudah habis. Saya beranjak, kembali mengetuk pintu berbahan kayu itu dengan ketukan yang sengaja diberi gaya lebih besar dari sebelumnya. Belum sempurna satu ketukan tangan saya berinteraksi dengan permukaan pintu. Kurang dari seperkian detik, daun pintu terbuka. Saya sampai tak bisa menjelaskan, saat kejadian terbukanya pintu tadi siapa yang mengalami sensasi terkejut adalah saya, orang yang membuka pintu dari dalam atau justru daun pintunya?. Entahlah, yang jelas saya sempat merasakan sebuah loncatan listrik dari dalam tubuh ketika tiba-tiba pintu tadi terbuka dengan cukup kuat tanpa menunggu ketukan tangan saya selesai sempurna menyentuh dan berinteraksi dengan permukaan pintu. Saya terkejut sungguhan, bukan rekaan. hahahha. Beruntung saya tidak merespon kejadian singkat itu dengan sistem refleks yang kadang sedikit bersifat lebay: berteriak, menonjok angin di depan muka atau malah kaki ikut bermain menerjang ke depan sembari memasang kuda2 siaga. hahahaha jika itu terjadi, bisa muncul penggalan adegan kekerasan penguras adrenalin dalam tulisan ini. hahahaa.

Saya berusaha mengendalikan keadaan demikian kesan serupa terjadi dengan pria paruh baya yang muncul dari ruang takmir masjid. Saya menyapa dengan salam. Beliau memjawab dengan kesan jauh dari alami, seperti dibuat-buat. Atau bahkan seperti menutupi sesuatu. Respon seperti ini persis seperti prilaku unik seorang teman diwaktu kami sedang belajar bersama-sama dalam kelompok saat kuliah strata satu dahulu. Peserta belajar kelompok tengah seru-serunya mendiskusikan sebuah topik yang menarik. Si teman, entah mengapa terkesan tidak tertarik untuk terlibat aktif dalam diskusi itu. Waktu berjalan, mereka yang terlibat diskusi makin asyik dengan dunianya. Sebaliknya, si teman makin terlihat diam sudah benar-benar terpisahkan dari kerumunan meski secara fisik ia masih berada dalam grup. Ketika saya baru menyadari keganjilan itu, hanya dengan maksud untuk mengajak beliau terlibat dalam proses diskusi, langsung menyapa si teman dengan sentuhan tangan ketemu tangan karena kebetulan kami berdekatan. Tiba-tiba si teman yang tadinya duduk dengan kepala tertunduk menarik tanganya dan berdiri sambil membalikan badan, membuang muka. Beliau berbicara ngelantur tak terkendali degan kualitas vokal yang tak bagus. Satu yang terekam jelas diingatan saya kala itu, si teman ternyata terlelap tidur dalam posisi duduk. Karena kualitas tidurnya telah mencapai derajat teratas kenyeyakan maka syaraf-syaraf sekitar mulut sudah benar-benar dalam keadaan relaksasi tingkat tinggi. Konsekuensi dari semua keadaan itu, mengalirlah secara kontinyus cairan liur dari dunia bawah mulut ke permukaan. Bak atap goa gunung kapur, saliva itu secara konsisten menetes membentuk stalaktit yang fenomenal. Bagiamanapun, sistem kesadaran si teman yang dikendalikan oleh otak merekam aktivitas terakhir yang ia lakukan sebelum jatuh pulas tertidur, yaitu berdiskusi. namun, di sisi lain sisitem kesadaran juga mendeteksi ada yang tidak beres dengan “cerita fenomena atap goa gunung kapur tadi”. Menerjemahkannya sebagai aib yang tidak ingin dilihat oleh orang lain, sistem pertahanan bawah sadar si teman merespon sentuhan tangan saya dengan cara tersebut yang saya ceritakan sebelumnya. alhasil, semua anggota diskusi sempat terkejut menyaksikan repson si teman menyerupai orang yang kesurupan. Namun sejenak kemudian, ruangan dipenuhi gelegar tawa ketika menyaksikan fenomena atap gua gunung kapur yang sudah berpindah menjadi satu garis panjang di lengan si teman yang kebetulan sedang mengenakan pakaian berlengan pendek. Si teman mengusap-usap wajahnya serampangan. Disedotnya berulang-ulang liur yang terlanjur bergelantungan sembari telapak tangan dan punggung tangannya secara bergantian menapis mulut yang sudah mulai meninggalkan fase relaksasinya tadi. Duh, antara kasihan dan ingin tertawa saya menutup mulut lekat-lekat dengan kedua telapak tangan. heboh.

Demikian mimik yang sama saya temukan di wajah takmir masjid siang itu. Dugaan saya, beliau sedang tertidur pulas di sebuah kursi yang sekarang saya tempati sesaat setelah dipersilahkan masuk. Saya utarakan maksud kedatangan saya. Beliau berusaha menjawab sesegera dan sealami mungkin. Maksud hati mau menjawab pertanyaan, apadaya tak sepotong resonansi pita suarapun keluar dari bibirnya. Beliau malah terbatuk keras sembari kedua telapak tangannya memegang kepala seperti sosok aktor iklan obat sakit kepala sedang beraksi. Saya menjadi salah tingkah. Ada kekhawtiran jika kedatangan saya mengganggu ketenangan beliau yang mungkin sedang sakit.

“Bapak sedang sakit?” tanya saya dengan volum suara sedikit tinggi karena beliau tiba-tiba langsung memutar badan meninggalkan saya menuju sebuah ruangan yang saya duga berfungsi sebagai kamar atau sejenisnya. Terdengar suara batuknya dari balik dinding ruangan itu. Batuk yang meski dipaksa untuk terdengar serius namun lagi-lagi gagal. Batuknya lebih terdengar sebagai batuk yang dibuat-buat. hahahaha, saya menahan tawa. Tayangan tingkah pola si teman dalam cerita fenomena atap goa gunung kapur tadi sedang diputar ulang dengan kualitas gambar HD dalam otak saya. Keseluruhan hipotesis saya benar adanya setelah kami terlibat dalam obrolan yang cukup panjang siang itu. Selama kami duduk saling berhadapan dan saya bertanya ini itu tentang info yang ingin diklarifikasi berhasil beliau jawab dengan tepat tanpa kekurangan satu apapun. Justru beliau makin lama berubah menjadi sosok yang makin aktif dalam proses komunikasi kami. Selain berbicara seputar program yang ingin saya ketahui lebih dalam, saya juga mendapatkan bonus sedikit cerita dan keluhan si bapak yang ternyata sudah “menjabat” sebagai takmir masjid selama 3 tahun.  Salah satu topik curahan hati si bapak yang menarik bagi saya adalah prihal tukang parkir. Dari beliau saya mengetahui bahwa sistem parkir di halam masjid belum tertata dengan baik. Mereka-mereka yang menguasai perparkiran adalah sekelompok orang-orang yang suka nongkrong dan mabuk-mabukan. Tak satupun dari mereka ikut serta bergabung dalam barisan sholat berjamaah meski saban hari mereka mendengarkan azan pertanda masuknya waktu sholat maupun kajian yang setidaknya sesekali membahsa tentang kewajiban sholat atas diri manusia yang mengaku dirinya muslim. “Lewat begitu aja” keluh takmir.

“Jangan tanya soal uang hasil parkir. tak sepeserpun uang hasil parkir itu mereka bagikan ke pihak masjid. Setahu saya sih, di masjid-masjid seluruh Indonesia. kalo ada sistem parkir begitu harus ada hitung-hitungannya antara pekerja parkir dan masjid”. Saya tersenyum kecil mendengar kata “seluruh indonesia” dalam penjelasan pak takmir. Gimana gitu, kesannya. hahahah. Saya mencoba sejenak melayani pembicaraan beliau. Saya cukup memahami kegundahan beliau. Tapi, apa kuasa kita perkara hidayah Allah?. Tak ada sama sekali. Meski orang-orang qurais dahulu bertemu Rasulullah secara langsung dan menyaksikan proses perkembangan islam setahap demi tahap. Cukup banyak dari mereka terbilang sulit untuk menerima islam kala itu. Termasuk paman nabi dalam hal ini. Jika soal hidayah, seluruh bagian penentuannya ada di tangan Allah. Ya, sepenuhnya Allah yang tentuakan apakah Ia ingin memasukkannya dalam hati seseorang atau tidak. Maka bersyukurlah kita yang telah Allah tetapkan sebagaia manusia yang memiliki iman dalam dadanya. Sebuah renungan yang berarti buat saya pribadi. Tak terasa waktu berjalan cukup cepat. Berhubung misi utama kedatangan saya ke masjid Al- Hijr siang itu sudah tercapai. Saya mohon pamit kepada pak takmir yang terlihat masih bersemangat untuk menyampaikan topik-topik pembicaraan lainnya.

Saya undur diri. Meninggalkan ruangan dan menuju parkiran motor setelah mengambil sandal yang saya tempatkan pada sebuah rak saat memasuki masjid tadi. Saya menimbang-nimbang apakah perlu memberikan sejumlah uang saat mengambil motor nanti. Saya akhirnya berbulat tekad untuk tetap memberikan uang kepada tukang parkir dengan harapan agar beliau-beliau suatu hari kelak terbuka hatinya untuk menjadi sosok tukang parkir masjid yang lebih afdhol. Niat tinggal sebatas niat, tak kala saya sampai di lahan parkir motor tak satupun saya temukan sosok tukang parkir berada di sana. Maka saya kemudian meninggalkan area parkir begitu saja.

Hari ini saya belajar banyak bersama takmir masjid. Terima kasih tukang parkir atas cerita yang kau menjadi lakon di dalamnya. Semoga dikesempatan lain lakon mu berganti menjadi peran dalam cerita inspiratif sebagai sosok tukang parkir sebuah masjid yang sholeh. amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s