[sehari 1 tulisan] perlahan

Ada kisah singkat yang tercecer dibalik cerita besar kasus pelecehan seksual terhadap anak yang terjadi di sebuah sekolah Internasional di seputaran Jakarta baru-baru ini. Cerita yang meleber dari ruang terbatas obrolan grup istri saya yang kebetulan semua anggota media sosial yang baru di beli oleh orang terkaya dunia berusia muda itu, adalah para psikolog klinis anak alumni UI. Ringkas rangkaian kalimat ini mungkin sederhana, namun bagi saya bermakna tinggi. Meski ceritanya justru tidak terkait langsung dengan kasus yang saya sebutkan di atas, namun ini menjadi menarik karena mereka yang membicarakannya.

Semua anggota grup geram terhadap pelaku pelecehan seksual yang diduga terjadi lebih dari satu kali dan terencana rapi ini. Seperti biasa, istri saya biasanya lebih sering memilih untuk menjadi pembaca pasif dalam mengikuti diskusi hangat yang sedang panas dibahas tersebut. Obrolan dimulai dengan update kisah detil terkait kasus yang saya sebutkan tadi. Masing-masing anggota akitf bertanya dan sebagian yang lain mencoba aktif memberikan tambahan cerita hingga  cerita kasus itu menjadi lengkap. Setelah uraian kronologis kejadian dirasa menyentuh titik jenuh isinya. Obrolan mulai beralih kepenyampaian perasaan emosi masing2 anggota dengan mencoba menempatkan diri sebagai orang tua korban dan apa yang mesti dilakukan jika mereka berada diposisi si ibu korban. Karena mereka psikolog,materi pembicaraannya akan sedikit sarat analisa dan follow up tindakan yang harus diberikan kepada si anak yang pasti akan berdampak besar bagi kejiwaannya. Sebagai kumpulan ibu muda dan juga masih berstatus manusia. akhirnya sampai juga mereka pada masa dimana emosi mulai mengaduk2 perasaan  dan mulailah dikeluarkannya kalimat-kalimat berisi kekesalan dan kebencian mereka kepada para pelaku yang benar2 tidak berprikemanusiaan ini . Wajar!, Allah saja mengutuk perbuatan ini. Wajar jika para wanita yang merasakan melahirkan anak-anak berhati bersih itu mengutuk perbuatan keji tesebut seraya memperkuat doa agar hal yang sama tidak terjadi kepada semua orang2 yang mereka cintai. Terlebih, akhirnya diskusi mulai mengerucut pada beberapa kesimpulan yang salah satu diantaranya adalah bahwa dunia di luar rumah makin hari makin tidak ramah terhadap anak-anak.

dimana letak menariknya diskusi yang dilakukan via telepon gengam itu? saya rasa uraian di atas pun sudah cukup menarik bukan? tapi yang menarik dan terkait judul tulisan kali ini adalah dapat kita temui dalam proses diskusi yang saya gambarkan di atas. Di dalam berbagai kesempatan (artinya tidak hanya terjadi dalam obrolan terkait kasus dalam tulisan ini. Pernah juga terjadi dalam pembicaraan beberapa bulan yang lalu terkait tindakan kriminal sepasang anak muda yang terlibat dalam sebuah pembunuhan terencana dengan korban mantan pasangan salah satu pelaku) muncul banyak gagasan “emosional” dari banyak anggota grup seputar apa hukuman yang paling pantas terhadap para pelaku tindakan kejam itu.

Untuk kasus pembuhuan remaja, ada yang berpendapat hukuman paling baik adalah nyawa dibalas nyawa bagi pelaku yang menghilangkan nyawa orang lain. Dapat kita bayangkan betapa kejamnya perbuatan yang terjadi itu bukan? Mereka yang masih belia membunuh teman sebayanya dengan cara yang sangat profesional. Jika kita mengikuti berita yang meliput proses hukum kasus ini, terasa aroma bengis yang makin pekat. Mereka sang pelaku, masih sempat tertawa ketika sedang diperiksa pihak berwajib. Ada apa dengan remaja kita hari ini? Fakta lain makin membuat kita semakin bersedih: kedua pelaku menyandang nama berbahas arab yang memiliki arti sungguh indah. Meluap sudah fungsi nama yang hakikatnya adalah doa orang tua kepada anaknya tersebut. Sekiranya dari gambaran kasus ini, kita menjadi sepakat dengan ide hukuman di atas bukan?

Untuk kasus pelecehan seksual inipun, tak sedikit yang berkomentar bahwa hukuman yang setimpal bagi pelakunya adalah hukuman mati atau potong kemaluannya.

Bukan hanya isi ide-ide hukuman paling pantas bagi pelaku tindakan asusila itu yang menjadikan uraian ini menarik. Yang membuat cerita ini menjadi semakin menarik adalah bahwasanya pelantur ide-ide hukuman tadi bukan berasal dari anggota grup yang beragama islam saja. Bahkan tak jarang mereka yang non muslim yang secara tegas dan pertama melemparkan gagasan itu ke forum.

well, inilah inti paling menarik dari cerita singkat ini. ternyata, secara bebas tanpa ada pertimbangan panjang lebar pikiran, secara spontan kabanyakan orang memiliki gagasan yang selaras dengan ajaran agama islam terkait ganjaran perbuatan asusila tersebut. Mereka menjadi pengagas untuk ditegakkannya nilai-nilai islam dalam kasus yang dihadapi masyarakat. Mereka berpendapat soal ganjaran itu mungkin hanya menimbang sisi kemanusian. Mungkin kebanyakan dari mereka tidak terlalu ngeh bahwa ide yang mereka lontarkan adalah bagian dari agama islam yang mulia.

Inilah salah satu bukti bahwa ajaran islam itu sesuai fitrah manusia. Ia selaras dengan sisi manusia yang masih murni tanpa pengaruh ideologi yang acap kali bertentangan dengan islam dan fitrah manusia. entahlah, dari renungan singkat ini, saya semakin menyadari bahwa hukum islam itu benar-benar bersifat luas dan sesuai dengan kebutuhan manusia untuk menuju kesehatan jiwa dan raga yang sempurna. Dan dari tulisan ini juga saya berkesimpulan bahwa, pendekatan yang paling baik untuk mengagas ditegakkannya hukum agama sempurna ini adalah dengan cara yang paling baik dan perlahan bukan dengan cara pemaksaan. waulahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s