Are we doing any good?

by Lukmanda Evan

Medical Physics and Biophysics enthusiast | Y-Sci

Hallo Y-Sci-ers! (Eh? Boleh ya saya sapa begitu)

Dengan semangat Y-Sci yang berkobar, saya mau mengajak kalian semua merenung. Jangan takut, ini bukan renungan bercucuran air mata. Di artikel ini saya tidak akan membeberkan dosa kita kepada mamah-mamah kita di rumah, atau menguras air mata kalian dengan mendeskripsikan kejamnya neraka. Yang ini sedikit lebih ringan, sebuah pertanyaan bagi diri sendiri.

So,Beberapa pekan lalu, dalam sebuah diskusi santai di tengah persiapan makan siang pasca diskusi, saya diberitahu secara sambil lalu oleh pembimbing akademis saya.

“Van, Van, coba lihat ini tulisan, kamu harus baca” kata beliau, lalu sebuah hardcopy jurnal langganan beliau kemudian ditunjukkan kepada saya. Saya pikir beliau ingin menunjukkan artikel yg berkenaan dengan tugas akhir saya, dan agak heran ketika melirik tahun edisi jurnal yang sudah cukup tua (tahun 2003). Tapi ternyata tidak.

“Are we doing any good by doing really well? (Where’s the Bacon?)”

Yap, judul yang agak nyeleneh untuk sebuah artikel di jurnal ilmiah yang sudah berumur hampir 50 tahun dengan impact factor lebih dari 3.0. Pembimbing saya lalu menekankan bahwa artikel itu patut dibaca sebagai ilmuwan, karena beliau sendiri merasa pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya menampar wajah ilmuwan dunia. Buat yang penasaran, artikel tersebut dimuat di jurnal Medical Physics, vol 30, issue 4 (2003) dan boleh dicari di tautan http://dx.doi.org/10.1118/1.1555493. Saat itu, saya hanya membaca sekilas (skimming), dan belum mendalami benar isinya. Ringkasnya, saya waktu itu kurang serius menanggapi. Jadilah saya hanya mengunduh jurnal tersebut di versi online-nya (tentunya pinjam username dan password pembimbing saya yang berlangganan) untuk dibaca kemudian.

Lewat sepekan, bermodalkan keisengan, saya membuka lagi tulisan tersebut, dan memang terperangah membacanya (yes, literally). Donald Herbert menulis dengan sangat keras, dan sangat berani (karena dipublish ke jurnal peer-reviewed). Dalam urutan kalimatnya, Herbert mengkritisi penelitian modern secara umum yang, menurutnya, sia-sia dilakukan dan dipublikasikan selama ini. Sia-sia? How come?

Herbert mengangkat kaidah sains sampai ke akar-akarnya; bagaimana penelitian itu dulunya dimulai (dari zaman Plato dan Aristoteles); apa tujuan sains menurut Francis Bacon (yang notabene mengkritik Plato); dan apakah yang dilakukan oleh saintis jaman sekarang ada maknanya atau tidak. Dalem buat para peneliti. Sang penulis juga menekankan kritik Bacon terhadap Plato, yang dikutipnya dari De Novum Organon, buku karya Bacon;

“…insomuch that many times not only what was asserted once is asserted still, but what was a question once is a question still

JLEB. Satu. A question once is a question still, katanya.

Selain itu Herbert juga mengutip buku tulisan Brook (1993);

…the purpose of journals is not to disseminate information but to promote faculty—this is the sole reason and justification for the journal’s existence

JLEB. Dua. To promote faculty!

Eit, itu belum semua, ada satu kalimat lagi yang lebih menohok, dikutip dari tulisan Altman (1994);

Put simply, much poor research arises because researchers feel compelled for careerreasons to carry out research that they are ill equipped to perform and nobody stops them.”

JLEB. JLEB. JLEB

Okay, that’s enough. Semakin dibaca, semakin jleb terasanya, dan semakin terbuka pikiran saya.

Ada beberapa hal yang membuat saya terasa jleb dari kutipan-kutipan di atas.

Pertama, ini bener banget. Dunia sains dan penelitian memang berkembang, tapi pasca 1970an perkembangannya tidak se-rapid itu lagi. Metode memang berkembang dan berevolusi, tapi tujuan utamanya untuk beberapa kasus tidak pernah betul-betul terjawab secara hakiki. Radioterapi, misalnya, awalnya dikembangkan untuk memberantas kanker dengan radiasi pengion. Peralatan yang digunakan sekarang, dengan teknologi kompleks IGRT, VMAT, dll, berpuluh-puluh kali lebih efisien dan efektif dari jaman Curie dulu (superficial therapy). Ya, radioterapi sudah berkembang pesat. Tapi apakah pemberantasan terhadap kanker dengan radiasi bersifat definitive (dapat dipastikan)? Saya berani katakan; tidak. Peneliti fisika, teknik, dan kedokteran memang berusaha (setidaknya selama 70 thn belakangan ini) untuk mengkondisikan agar partikel radiasi ‘mengenai’ kanker saja dan tidak ‘menyenggol’ sel sehat. Itu intinya penelitian Radioterapi selama 70 tahun ini. Tapi harus diingat bahwa partikel yang dicoba ‘dikendalikan’ hari ini adalah sama dengan partikel yang digunakan 70 tahun yg lalu. Photon (X-ray adalah contoh photon) tetaplah photon. Ia tetap merupakan quasi-partikel dan paket energi yang tak bermuatan, tak bermassa. Elektron tetap elektron, dengan muatan yang nilainya tidak pernah berubah; minus 1,6×10-19 Coulomb. FYI, radioterapi selama ini berfokus pada penggunaan sinar elektron dan photon. Baru 8 tahun belakangan ini proton mulai digunakan pada radioterapi. Dengan prinsip yang sedikit berbeda, proton dapat ‘mengantarkan’ dosis radiasi di kedalaman yang tepat (sehingga kulit tidak terkena banyak radiasi). Namun, dari dulu hingga sekarang, photon, elektron, dan proton sekalipun tetaplah paket energi yang berinteraksi acak dengan materi yang ditumbuknya. Ibaratnya, selama ini baru Tuhan yang tahu sebiji photon akan lari ke arah mana setelah menumbuk sebuah elektron penyusun materi target. Prediksi kalkulasi dengan metode Monte-Carlo hingga saat ini hanya perkiraan (algoritma komputer), yang tetap ada pola-nya (sementara kita tahu pergerakan partikel benar-benar random). Kalkulasi Monte-Carlo di atas tahun 1994 juga mulai mengaplikasikan random-interaction, yang mengacak parameter interaksi (sudut hambur, energi yg terdisipasi, dll) sehingga lebih mirip kondisi aslinya. Menurut saya, inovasi ini sementara ini memang menjadi metode yang paling maju, tapi tetap saja hanya berupa ‘ramalan’ yang tidak definitiveNggak dulu, nggak sekarang, penggunaan radioterapi tetap tidak bisa dipastikan akan menumpas kanker dengan akurasi 100%. Toleransi tetap ada, meskipun jumlahnya semakin mengecil seiring perkembangan teknologi. Belum lagi dampak radiasi terhadap sel yang sifatnya stokastik (indeterministik) seperti hasil penelitian para ahli radiobiologi. Intinya? This is difficult to say, but: a question once is a question still. Kalau saya katakan ini di hadapan dokter onkologi, peneliti Fisika Medis, atau teknisi alat radioterapi, sudah pasti saya di­sembur habis.

Kedua, yang diungkap di tulisan ini berpotensi terjadi juga di Tanah Air. Yap. Terutama untuk kutipan yang terakhir; peneliti hanya meneliti untuk naik jabatan. Pahit, tapi nampaknya oknum yang mempraktekkan ini ya ada saja. Pasalnya, di institusi penelitian maupun akademik, kenaikan jabatan dilihat dari angka kredit, dan publikasi ilmiah (jurnal, buku teks) memiliki kredit yang tergolong besar. Adalah wajar jika ada saja segelintir oknum yang mengejar target publikasi dengan keinginan terpendam yakni naik jabatan. Saya pernah iseng menjelajah dunia maya dan menemukan sebuah jurnal ilmiah ber-ISSN yang dikelola oleh salah satu perguruan tinggi tanah air. Singkatnya, saya mendapati ada ilmu serumpun yang featured di jurnal tersebut. Merasa senang karena rumpun ilmu saya sudah banyak digandrungi, sayapun mengunduh beberapa artikel untuk dibaca di kala senggang…. Hanya untuk terkejut se-kejut-kejutnya saat membaca paper pertama. Gagasan yang ditulis dalam jurnal edisi 2013 tersebut adalah gagasan yang muncul empat puluh tahun yang lalu. Isinya sama konyolnya dengan, ibaratnya, membahas dan membuktikan bahwa air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Dan artikel macam itu, ada banyak di jurnal tersebut! Usut punya usut, dari hasil ngobroldengan alumni perguruan tinggi tersebut, saya diberitahu bahwa jurnal tersebut katanya memang sengaja dibuat dari awalnya untuk memfasilitasi kenaikan pangkat civitasnya. Bahkan ada guru besar di sana yang mendapatkan gelar profesornya karena publikasinya yang melimpah di jurnal tersebut. What the duck??

Untung baru satu jurnal yang saya ketahui seperti itu, dan semoga saja cuma jurnal itu saja yang begitu. Tapi tetap saja, ini berbahaya, karena ini sejalan dengan tulisan Brook (1993) dan Altman (1994). Sedih rasanya melihat dunia akademik yang begitu “suci” mulai dikotori oleh pikiran-pikiran koruptif macam ini. Big sigh.

Ketiga, saya agak terkejut melihat ‘tua’nya tulisan tersebut (tahun 2003) serta karya-karya yang dirujuknya. Ini berarti masyarakat ilmuwan sudah lama menyadari ‘kerusakan’ ini. FYI, karya Altman (1994) yang dirujuk oleh Herbert berjudul sangat menggebrak; “the scandal of poor medical research”, dan dimuat di BMJ (British Medical Journal), media publikasi kedokteran yang tergolong wahid (hampir setara Nature atau Physical Review kalau di ilmu Fisika). Peneliti di Indonesia sebenarnya cukup update dengan isu dunia seperti ini, sehingga tidak mungkin mereka tidak menyadari dosa-dosa ilmiah yang terjadi di sekitar mereka. Para peneliti yang ‘lurus’ saya yakin jumlahnya banyak, tapi mereka lebih banyak diam dan fokus meningkatkan kualitas risetnya sendiri ketimbang mempermasalahkan para peneliti, maaf, ‘sampah’. Kebanyakan peneliti level ‘Suhu’ seperti ini (baca: para Guru Besar di perguruan tinggi) menganggap dirinya tidak cukup baik untuk mengkritik orang, jadi mereka memilih untuk menyerang balik dengan mempublikasikan penelitian yang kualitasnya lebih baik (meski tidak sebidang dengan si peneliti ‘sampah’) agar penelitian ‘sampah’ pun terkubur. Saya rasa, sikap ini sudah cukup elegan dan patut ditiru. Hanya saja tindakan ini memiliki efek samping; yakni peneliti ‘sampah’ merasa tidak ada yang mengawasi mereka karena tidak ada yang menegur (seperti kata Altman, “…and nobody stops them”) dan lanjutannya bisa dikira-kira sendiri.

Pada akhir artikelnya, Herbert menawarkan solusi yang menurut saya kelihatan bagus; menghentikan sistem kredit untuk kenaikan pangkat. Menurutnya (dan saya sepakat), perbaikan bisa dimulai dari mengubah sistem assessment yang tadinya berbasis kuantitatif (berapa jumlah angka kreditnya) menjadi berbasis kualitatif (seberapa baik dan signifikan karyanya, tak peduli berapa banyak). Mereka yang penelitiannya berkualitas baik, meskipun tidak sering meneliti, akan lebih berhak mendapat penghargaan akademik dalam bentuk pengakuan sebagai Professor. Namun, ide ini, menurut saya, akan menimbulkan masalah baru: siapa yang akan menilai bagus/tidaknya sebuah penelitian?Well, mungkin ‘anak tadi pagi’ (bukan ‘anak kemarin sore’ lagi) seperti saya terlalu muda untuk memikirkan ini.

Terperangah dengan artikel Herbert, saya membacanya ulang dan memperhatikan berkali-kali Herbert mengutip ucapan Bacon,

“…science is rather a relief man’s estate, or simply a mere contemplation.

Ya, a mere contemplation. Saya sendiri sering melihat/mendengar ada peneliti yang meneliti hal yang luar biasa bermanfaat, namun menjadi tidak bermanfaat. How? Tidak adanya kaderisasi, menurut hemat saya, membuat hasil penelitian seseorang yang bombastis sekalipun menjadi useless. Umpamanya Prof. X meneliti kemungkinan penggunaan daun melinjo sebagai obat kanker (misal). Penelitian awal dan beberapa penelitian lainnya menunjukkan tanda-tanda efficacy yang baik. Sayang, Prof. X melakukan penelitian itu dengan menjadikannya judul tugas akhir atau proyek penelitian mahasiswanya, yang notabene akan ‘terbang’ ke dunia nyata pasca lulus, dan Prof. X sebagai peneliti utama harus mencari mahasiswa lain lagi untuk meneruskan tema tersebut selama bertahun-tahun. In the end, beliau harus mulai menjelaskan dari awal kepada para mahasiswa yang turun temurun itu, dan progress pun tidak banyak terjadi. Di Indonesia banyak terjadi hal seperti ini. Entah karena sang peneliti utama ingin terus mengontrol penelitian tersebut (memiliki rasa posesif sebagai penemu), atau memang terkendala teknis, saya tidak tahu. Yang jelas, tak sedikit penelitian di Indonesia yang jalan di tempat, dengan hasil yang mangkrak di kertas publikasi atau gudang (jika berupa alat). Si peneliti utama (contoh: Prof. X) tadi pun akan dipandang sebagai peneliti yang terus menerus mengerjakan hal yang sama oleh para peneliti lain di sekitarnya. Tak jarang, akan muncul komentar satir seperti “Prof. X itu lho, dari rambutnya hitam, sampai putih, sampainggak punya rambut, yang diteliti melinjooo terus…ngapain coba?”

Padahal, penelitiannya bertujuan jelas dan mulia, namun menjadi bias di hadapan audiens-nya karena progress yang tidak signifikan. Ujung-ujungnya, Prof. X akan menyadari perlunya kaderisasi agar penelitiannya berlanjut, namun saat itu terjadi ia sudah berada di ambang masa purnabaktinya, dan ini biasanya sudah terlambat. Pengobatan kanker dengan daun melinjo akan hilang bersama penemunya. Di tahap ini, sains, seperti kata Bacon, menjadi ‘a mere contemplation’ atau sekedar renungan bagi penelitinya, bukan ‘a relief of man’s estate’ yang menjawab pertanyaan utama pada kasus yang diteliti.

Pada kasus lain, seorang peneliti, katakanlah Prof. A, meneliti (misalnya) simulasi nanorobotik untuk tujuan drug-delivery. Ia mempekerjakan sejumlah mahasiswa pilihan dalam grup risetnya. Masing-masing ia beri judul tugas akhir, dan menjelang lulus setiap anggota tersebut diarahkannya untuk studi S2/S3 di LN untuk bidang yang mereka kuasai (mahasiswa 1 dicarikan beasiswa bidang komputer, mahasiswa 2 bidang nanofisika, mahasiswa 3 bidang teknik robotik, dllsb), tentunya tanpa paksaan, dengan harapan semua kadernya itu bisa unggul dalam bidang yang diperlukan penelitian nanorobotik. Semua upaya, termasuk mencarikan beasiswa dan pembimbing di LN untuk para kadernya, serta menyeponsori untuk training/riset kekhususan di LN sebelum mereka kuliah lagi, ia lakukan agar para kader ini menjadi lebih ahli dari sang professor dan kelak penelitian nanorobotik bisa berjalan tanpa dirinya. Bisa dibayangkan, para kadernya itu kelak akan kembali dengan keahlian masing-masing ke grup riset dimana mereka berasal, dan mengembangkan riset tersebut dengan fokus yang berbeda-beda meski dalam tema besar yang sama. Merekapun kemudian menerapkan metode kaderisasi yang sama, sehingga perkembangan ilmu mereka berkelanjutan. Lalu bagaimana nasib Prof. A? Well, percayalah, semua kadernya tadi akan kembali meminta arahan padanya saat mereka menemui masalah riset. Saya pribadi mengenal ilmuwan Indonesia yang seperti Prof. A, dan tidak hanya satu orang yang seperti ini. Dengan mindset ilmuwan yang seperti ini, ‘a relief of man’s estate’ bisa tercapai, meski dalam waktu persiapan yang lama. Well, kembali lagi, ini hanya sekedar ide dari seorang ‘anak tadi pagi’. Salah atau benarnya, yang lebih tahu tentu akan menilai.

Ringkas cerita, saya kembali bertemu pembimbing saya usai membaca artikel Herbert. Sebetulnya kami bertemu setiap hari, tapi hari itu tiba-tiba Beliau duluan yang bertanya, “gimana? Kamu sudah baca tulisan yang waktu itu?”

Udah Bu”

So? Are we doing any good?” Tanya Beliau, mengangkat alis berubannya.

Saya menghela napas dan menggeleng, “not much, Bu”

Beliau pun mengangguk sambil tersenyum, lalu mengacungkan jari telunjuk di depan wajah beliau, “inget-inget ya, kamu tidak boleh selfish kalau jadi akademisi atau ilmuwan. Teliti sesuatu karena dunia membutuhkannya. Jangan sekali-sekali kamu teliti hal-hal yang cuma kamu doang yang ngerti, atau gara-gara kamu yang pingin tahu. Itu selfish namanya.Don’t do research just only for the sake of your own happiness. Do it for others.

Dan saya pun tertegun.

Y-Sci-ers yang membaca ini mungkin heran, “apa perlunya saya tahu hal semacam ini? Saya kan bukan ilmuwan?”

Well, secara hakiki, ingat atau tidak ingat, kita semua adalah produk dari suatu institusi akademik. Meskipun kita bukan peneliti ataupun akademisi, ada perlunya kita mengetahui, sekedar untuk berkaca diri; produk akademik yang seperti apakah kita ini? Seperti judul artikel Herbert, are we doing any good?

Apakah kita ‘produk gagal’ yang setelah keluar dari dunia akademik (baca: lulus kuliah) langsung menanggalkan sikap akademis-ilmiah kita dan beralih menjadi manusia liar tanpa idealisme? Ataukah kita tipe ‘produk percontohan’ yang siap menjunjung tinggi kebenaran dan etika di atas realita meskipun kita bekerja, misalnya, di sektor perbankan sebagai lulusan teknik Kimia? Yah, pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh diri sendiri. Kalaupun jawabannya dari hati ternyata kurang enak, toh kita masih muda. Perbaikiscientific attitude-mu sekarang juga. Semoga dan semoga, Y-Sci menjadi wadah yang menampilkan para ‘produk percontohan’ sebagai model masa depan Indonesia. Let us do some good!

sumber: http://y-sci.tumblr.com/post/75253664726/academic-corner-are-we-doing-any-good

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s