[sehari 1 tulisan] Belajar menghargai

Berkunjung ke rumah seorang senior di suatu sore minggu. Dalam kunjungan yang sudah dijadwalkan sejak jauh hari ini, kami sengaja membawa buah tangan untuk keluarga mereka. Secara kebetulan istri senior saya ternyata teman istri. Maka jadilah agenda pertemuan kali ini semacam pertemuan “double date” yang amat berkesan meskipun ini adalah kali keduanya kami berkunjung ke rumah beliau yang berlokasi di Bogor itu.

Agenda pertemuan kali ini adalah menjenguk anggota keluarga baru senior saya tersebut. Seorang bayi laki-laki yang mengemaskan. Tak terasa sudah berjumlah tiga  saja titipan Allah kepada pasangan yang dikenal bintang kampus universitas ternama bogor tak kala mereka mengejar gelar S1 dahulu. Semoga para putra putri beliau akan menjadi bintang cemerlang khazanah keilmuan islam di masa depan kelak. Modalnya sudah ada (inshaallah). Ayahnya saja sudah bergelar Doktor ilmu peternakan dari universitas rangking 12 dunia berlokasi di swiss, meskipun masih berusia amat muda. Oh ya, dari beliau juga saya jadi tahu bahwa ETHZurich ternyata adalah almamaternya Alber Einsten (?).

Selepas diterima langsung oleh sang senior, kami duduk di ruang tamu rumah yang dibuat bergaya lesahan. Sang senior saya menyambut kedatangan kami bersama anak keduan dalam dekapannya. Istri beliau baru saja memandikan si bungsu dan tengah sibuk memasangkan pakaiannya di kamar. Sedangkan si sulung yang biasanya terlihat paling aktif, baru terdengar suaranya saja yang sepertinya sedang asik menikmati makanan di dapur yang memang terletak tak terlalu jauh dari ruang tamu.

Tak perlu menunggu terlalu lama. Akhirnya semua berkumpul di ruang tamu. Istri senior saya muncul bersama bayinya. Istri saya yang memang menyukai dan telaten dengan anak-anak, langsung meminta izin untuk menggendong sang bayi setelah tadi saling salam dan menyapa istri senior saya. Senangnya melihat kebahagian yang terpancar dari seluruh wajah penghuni rumah mungil ini.

Kini saatnya kami mengeluarkan buah tangan. Untuk sang bayi kami serahkan hadiahnya kepada sang bunda. Ucapan doa keluar dari mulut kedua orang tuanya, sebagai tanda terima kasih. Seperti ingin mengajarkan kepada anak-anaknya, mereka mengucapkan rasa terima kasih itu dengan takzim. Melirik ke sulung, saya menarik tas berisi oleh-oleh dari tangan istri dan berusaha menyerahkan buah tangan yang lain kepada si sulung yang kebetulan memang sedang duduk bersisian dengan saya.

“Ini oleh-oleh untuk Asyam. Cokelat, Marshmelow dan Snack Beras” sebut saya satu persatu isi dari plastik pembungkus kado khusus yang menarik perhatian setiap anak-anak yang melihatnya itu.

Bingkisan berpindah tangan. Si sulung masih asyik dengan pikirannya sendiri.  Ia belum sempat mengucapkan terima kasih. Ayahnya ikut serta memegang bungkusan tersebut dengan kedua tangannya, nyaris bersamaan dengan istrinya, senior saya kembali mengucapkan kata terima kasih dan doa yang diperuntukkan untuk kami sang pembawa oleh-oleh.

“Ini tidak bisa dimakan. ini juga. ini juga” sulung mengeluarkan oleh-oleh satu persatu. Teringat dengan cerita tentang sikap keberhati-hatian mereka dalam mengkonsumsi makan selama di Eropa. Saya langsung bisa membaca arahan prilaku sulung yang mengabsen satu persatu makanan dalam bingkisan.

“Inshallah, semua makannya halal. Ada lebel halalnya, meskipun itu dari Hong Kong” terang saya dengan cara menarik kepada si sulung.

tiba-tiba senior saya langsung mengambil beberapa cokelat yang diabsen satu persatu oleh si sulung tadi.

“Subhanallah. Ini oleh-oleh yang dibawa om dari jauh loh mas, dari Hong Kong. Ayah suka ini, boleh ayah minta?” senior saya membuka satu cokelat dan memasukkannya ke dalam mulut dengan menunjukkan air muka antusias.

“Doakan om sama tante yang membawa oleh-oleh dari jauh, mas. Allah yang balas kebaikannya ya saudariku” istri senior saya menatap lekat istri saya dengan wajah penuh ketulusan.

“Aku juga mau yang ini” sulung menunjuk marshmelow dan berusaha membuka kemasannya.” Terima kasih tante, om” ucapnya lucu khas anak-anak.

***

Di lain kesempatan ketika kami punya banyak waktu bersama, istri saya berujar membuka obrolan.

“Abang ingat ketika kita berkunjung ke rumah Mas Negara?”

“Tentu ingat” balas saya

“Adek salut dengan cara beliau dan istri mengajarkan anaknya bagaimana menghargai pemberian orang lain.  Ingatkan bagaimana mereka mengungkapkan cara berterima kasih dan mengharagai pemberian orang lain tanpa terasa menggurui anak dan bisa langsung ditiru ? kita harus mencontoh hal itu bilamana nanti diamanahi putra putri bang” Jelas istri saya yang juga membuat saya sepakat dengan apa yang ia utarakan.

“Yang lebih membuat tersentuh adalah bagaimana mereka bersikap ketika mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada kita atas oleh-oleh yang tidak seberapa itu. Penuh keikhlasan. Antusias sudah pasti membuat sang pemberi merasakan senang melihatnya. perasaan ini persis seperi ketika adek masak dengan seluruh daya kemampuan yang ada dan kemudian abang pulang makan dengan lahap apa yang adek masak. Merasa berarti. Bukan maksudnya kita berharap pujian atau perlakukan lebih sehingga seakan mengharap pamri sih. Ini lebih ke bagaimana kita bisa memberikan apresiasai kita kepada pemberian orang lain. apresiasi kita kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita. Ini bicara soal adab”

saya menganguk kepala seraya berpikir dan merasa sependapat dengan pernyataan istri saya tersebut.

Agaknya memang demikian mestinya kita mengajarkan anak-anak di rumah kita. mengajarkan mereka cara berterima kasih dan mengapresiasi sekecil apapun pemberian atau bantuan orang lain kepada mereka. dengan demikian kita secara tidak langsung mengajarkan mereka untuk menjadi hamba yang bersyukur pada Rabbnya. bukankah sesiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia berarti telah bersikap kufur kepada tuhannya? waulahu’alam.

terima kasih telah menginspirasi mas.

Laladon menjelang malam 22 april

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s