[sehari 1 tulisan] sebuah harapan untuk guru masa depan

Baru beberapa bulan kemarin, saya terakhir saling berkirim email ke Prof. Ahn, dosen pembimbing saya di DKU dahulu. Alhamdulillah, meski sudah berpisah nyaris genap 3 tahun penuh, komunikasi kami masih terjalin dengan baik.

Entah bagaimana cerita ini bermula. Eh, tak lama berselang dari email terakhir itu, saya kembali intens berkomunikasi dengan beliau melalui email untuk suatu urusan “masa depan”. Ringkas cerita saya membutuhkan sebuah endorsement dari beliau untuk keperluan “masa depan” yang saya sebutkan tadi.

Prihal meminta endorsement dari beliau cukup sensitif. Mengapa? 3 tahun yang lalu secara terang-terangan saya menolak tawaran beliau untuk melanjutkan s3 di DKU dengan alasan yang separuh dibuat-buat dan selebihnya benar adanya. Meski demikian, akhir dari pembicaraan saya dan beliau mengerucut pada sebuah kenyataan bahwa saya belum bisa memenuhi harapan beliau untuk “stay” dan melanjutkan s3 di bawah bimbingannya. Nah, setelah cukup lama, bak membuka “cerita kuno”. saya kembali datang untuk meminta pertolongan beliau untuk tujuan yang sama dengan apa yang saya tolak dahulu. kira-kira gimana respon prof?

Well, karena mekanisme penggunaan endorsement (rekomendasi) ini sedikit unik, saya memiliki kesempatan untuk mengetahui surat itu secara terbuka dan langsung. Mau tidak mau, saya berkesempatan membaca isi surat itu dengan rinci karena sistem yang diterapkan pihak ketiga penggunaan surat itu memungkinkan saya melakukan itu (mau tidak mau).

Ada rasa haru lepas membaca surat dari prof tersebut. Prof Ahn menjalankan fungsi supervisinya terhadap saya tidak berhenti ketika ia telah membubuhi tanda tangan di lembaran tesis saya dahulu. Beliau turut bahagia mana kala anak didiknya terus berusaha, bekarya dan belajar tak kenal lelah. tak mesti di bawah bimbingan beliau dalam arti harfiah. Beliau bahkan dengan sempurna memposiskan sebagai seorang supervisor yang berjiwa bijak bak seorang pahlwan nasional atau ngemong bak seorang bapak biologis. Jauh, jauh sekali dari sikap dendam karena merasa ditolak 3 tahun yang lalu. Tak ada satu kalimat pun dalam surat itu yang menggambarkan perasaan demikian, baik tersirat apalagi tersurat. Subhanallah. Kita merindukan proffesor dengan karakter demikian di dunia kampus kita. Meskipun tak sedikit saya juga menemukan beberapa prof. berkarakter sama di almamater saya, sebuah kampus ternama di Bogor. Kita butuh mereka lebih banyak.

Ada cerita tentang istri saya dan profnya. Kebetulan istri menghadapi pengalaman yang berbeda. Dulu selepas menikah, saya dan istri menjalani hubungan jarak jauh. Meski terpisah jauh dari saya, Ia tinggal bersama keluarga intinya. Jadi seberat apapun training yang diberikan Allah, masih ada tempat beliau membagi keluh dan kemudian kembali mampu mengumpulkan semangat untuk menghadapi training akademis yang memang super berat itu.

Istri saya harus memperpanjang masa studi sebanyak 1 semester hanya karena satu kasus kajian klinisnya terhambat oleh satu prof senior. Padahal saat-saat waktu penutupan pendaftaran sidang akhir semester. Semua teman seangkatan istri yakin sekali, istri saya akan mampu sidang sebelum semester berakhir. Tak hanya teman-temannya, seorang dosen yang duduk sebagai ketua prodi pun sempat mengutarakan hal demikian. tapi, bagaimana lagi, apalah artinya jabatan sebagai ketua prodi, beliau tak bisa membantu banyak, meski beliau juga pembimbing tesis istri saya. Jika sudah dihadapkan dibenturkan dengan urusan terkait hirarki senior junior, beliau angkat tangan. Alhasil, istri saya sempat shock. Dan berujung pada takdir beliau harus menambah 1 semester yang artinya harus membayar uang kuliah sebesar 15 juta kembali hanya untuk sidang. Bagi kami pasangan muda, uang senilai itu adalah amat besar.

Setelah berhasil membangkitkan keyakinan diri untuk berjuang kembali. Heroik sekali ya bahasanya? saya kira tidak berlebihan dengan kalimat itu. karena tak sedikit kolega istri saya mengahadapi hal serupa dan berujung pada kata menyerah dan ditutup kenyataan terkena DO. Istri saya memulai perjuangan dengan modal semangat baru hasil recovery self esteemnya yang kami lakukan bersama di Korea selama satu bulan. Istri berjuang semakin gagah. Beliau fokus menghadapi mahluk unik bernama prof senior tadi. Konsultasi di belakang layar dengan beberapa dosen baik hati yang kenal sekali karakter prof senior itu intensif dilakukan. alhasil, istri mendapat acc prof senior untuk maju sidang. hingga hari ini tak seorang pun tahu apa penyebab sang dosen senior berbuat demikian terhadap istri saya. banyak spekulasi yang berkembang. Soal istri saya menulis dan menganalisa kasus? saya kira tidak pas jadi alasan. istri saya termasuk psikolog yang langsung mendapat acc izin praktik ketika kali pertama mengajukan sementara teman-teman beliau yang sudah mengajukan sejak dahulu tak kunjung mendapatkan acc. atau soal kelayakan beliau menjadi seorang psikolog anak? saya merasa juga tidak berasalan, terbukti istri saya menjadi teramat produktif membawa perannya sebagai psikolog. bahkan beliau tercatat sebagai psikolog pertama  di angkatannya yang mampu “membayar” teman-teman seangkatanya karena beliau berhasil membuat proyek klasikal yang harus melibatkan banyak psikolog di sebuah sekolah bilangan Daan Mogot.

Well, biarlah rahasia terkait karakter prof senior yang menahan kelulusan istri saya itu menjadi sejarah dalam kehidupan kami. Sungguh kami yakin, semua proses itu ada manfaatnya untuk kehidupan. Yang jelas, gambaran dua prof dari dua negara ini menjadi contoh dan mengarahkan kita kepada sebuah pengharapan. Kita, para civitas akademika dimana pun berada, memiliki mimpi untuk dipertemukan kepada banyak prof atau guru yang menjalankan karakter keguruannya dengan baik: mengayomi, memdidik, menginspirasi dan mendukung kemajuan anak didiknya.

Semoga suatu saat nanti akan muncuk banyak karakter prof atau guru yang kita harapan itu di bumi terkenal paling ramah dan berbudaya ini: Indonesia. Atau jika tak sempat bertemu prof jenis ini. Kelak kita menjadi salah satu prof berkarakter ini.

muara, menjelang zuhur april 2014

 

 

4 thoughts on “[sehari 1 tulisan] sebuah harapan untuk guru masa depan

  1. anggierk says:

    om mau tanya. om dulu pas waktu dapet beasiswa ke Korea TOEFLnya berapa ya? terus kalau kita pengen belajar disana apa harus bisa bhs Korea dulu paling nggak basic? trimakasih

      1. Anggie says:

        terimakasih om sudah mau menjawab pertanyaan saya. saya mahasiswa baru s1 biologi universitas brawijaya. dan saya mengunjungi blog anda karena jujur saya sedang galau dengan pilihan saya ini om karena memang bukanlah pilihan pertama saya. orangtua juga setengah hati mendukung saya di jalan ini. hingga saya sering ragu dan beranggapan saya berada disini supaya tidak nganggur setahun saja om. jika anda berkenan mungkin anda bisa memberikan saya motivasi kepada saya om, terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s