Yang baru di sepanjang jalan Darmaga Bogor dan beberapa titik sekitar Bogor: Arya Effects? (I)

Beberapa bulan yang lalu saya menulis tentang hal yang baru sepanjang jalan Raya Darmaga. Hakikat kata baru dalam tulisan tersebut adalah sindiran terhadap beberapa hal yang saya nilai sebagai kemunduran dibandingkan dengan kondisi 7 tahun yang lalu ketika pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota hujan. Kali ini saya ingin menulis sebuah artikel dengan judul yang hampir mirip. Kebalikannya, makna baru dalam tulisan kali ini adalah arti baru sesungguhnya yang saya kira patut diberi penghargaan atas kehadirannya. penghargaan atas pencapaian kota bogor inilah alasan utama lahirnya postingan kali ini (sudah lama sekali saya tidak menambah tulisan dalam blog ini😦 ).

Kesadaran saya akan perubahan yang hadir di jalan Raya Darmaga terbilang lamban. Lebih kurang sensitif dibandingkan  respon saya ketika menyadari bahwa ada yang tidak beres misal seperti adanya bau busuk sampah atau hal-hal negatif lainnya. Ini sepertinya adalah satu dari banyak hal dari saya yang harus diintrospeksi dalam rangka menata diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dikemudian hari. Sepertinya jamak dan sudah menjadi kebiasaan bagi kita akan cepat protes mana kala dihadapi oleh kondisi lingkungan yang tidak memberikan kita kenyamanan ketimbang dihadapakan pada kondisi dimana kita diberikan kenyamanan ekstra. Dari kacamata seorang Biologist, sepertinya sikap inilah yang diasosiasiakan kepada salah satu sifat paling umum dan mendasar dari mahluk hidup: iritabilitas atau respon cepat terhadap perubahan lingkungan. tapi jika ingin dikaji lebih dalam, memang kebanyakan dari kita akan begitu responsif plus emosional ketika merasa dirugikan dan kadang kala akan pura-pura tidak tahu ketika merasa diuntungkan. Sikap yang terakhir kadang bak penyakit yang patut dicabut habis-habis sampai akarnya ketika sikap itu mulai kelewatan dan menyebabkan orang mulai tidak merasa nyaman berurusan dengan kita. Saya ingat dengan sebuah cerita berikut (duh akan panjang nih tulisan🙂 )

“Adalah seorang teman yang akrab sekali dengan si X. Si X merasa sudah banyak berbuat untuk si teman selama mereka saling berinteraksi. meskipun pada faktanya ya tidak banyak-banyak amatlah: cukup menjadi sosok teman karib yang standar. sampai pada suatu ketika si X harus meminjam mobil si teman untuk sebuah keperluan yang amat mendesak. Kebetulan si teman punya mobil dan si X belum diberikan Allah rezki untuk memmiliki mobil sendiri. Si teman dengan senang hati memijamkan mobilnya, toh peristiwa peminjaman ini sesekali saja terjadi dalam sejarah pertemanan mereka, pikir si teman. Biasanya si X akan puas mondar mandir kemana-mana dengan motor sederhananya. Kebiasaan merasa cukup mobile dengan motornya menjadi referensi yang cukup untuk berkesimpulan bahwa alasan si X meminjam mobil adalah untuk sesuatu yang amat super penting. Saat proses peminjaman berlangsung, secara kebetulan si teman yang amat resik orangnya, baru saja membersihkan mobilnya sampai sebersih bersihnya. sudut terjauh di bawah kursi pun bebas debu dibuatnya. Selain itu, si teman juga sudah mengisi bensin mobil hingga posisi penuh. well, si teman terbiasa dengan gaya telaten merawat barang-barang berharganya. Si X dengan senang membawa mobil si teman menuju arah yang dikehendakinya. Singkat cerita, si teman terlihat bingung tak karuan karena malam mulai menjelang. Tadi dalam prakata peminjaman si X memberi tahu jika ia hanya akan memakai mobil si teman tak lebih dari sampai maghrib saja. Si teman khawatir. Khawatir jika terjadi yang tidak diinginkan atas diri si X dan mobilnya. Si teman tetap berusaha berbaik sangka, meski beberapa sms yang ia kirimkan tak mengundang balasan dari si X. Malam kian larut, si teman jatuh tertidur pulas. kebetulan si teman dan si X adalah teman satu kostan, mereka sama-sama mahasiswa di sebuah universitas negeri bilangan kota hujan. keesokan pagi, si teman menemukan kunci mobilnya sudah digantung dipintu kamarnya. ia tersenyum gembira. kekhawtirannya sirna. ia tak perlu takut tidak bisa ke kampus sepagi mungkin karena ada pekerjaan penelitian yang harus dikejarnya seperti yang ia rencanakan sejak beberapa hari yang lalu. beberapa menit kemudian ia bertemu si X di depan kamar mandi yang terlihat juga ingin meninggalkan kost sepagi mungkin. terjadi obrolan singkat diantara keduanya. namun tak sepotongpun kata terima kasih dan maaf muncul dari mulut si X atas pinjaman mobil si teman. Ya, terima kasih karena telah berkenan meminjamkan mobil yang tergolong barang hak milik kelas atas seseorang dan maaf untuk keterlambatan pengembalian mobil. mereka hanya mengobrol seperti biasa. si teman mulai tidak nyaman. tapi dia berusaha berbaik sangka. Setelah rapi dan siap berangkat si teman menuju mobilnya yang terparkir di halaman kost. hari belum terlalu terang, si teman langsung masuk ke mobil. sambutan pertama dari dalam mobilnya mengundang perasaan tidak nyaman bagi si teman. Ia seperti tidak mengenali isi mobilnya sendiri. Sebuah plastik berisi sampah makan kecil di kursi depan sebelah kursi supir menjadi pemandangan pertama yang menyambutnya. Kotak tisu yang biasa tertata rapi di atas kursi baris kedua pindah berantakan ke atas dashboard. teman berusaha sebaik mungkin merapikan bagian dalam mobil. sembari itu ia menyalakan mobil guna menghangatkan mesin. Ia kaget, bensin tinggal 2 garis saja di layar digital kecil yang menunjukkan kondisi bahan bakar mobil. tak ada info apa-apa dari si X tentang kondisi ini ketika mereka bertemu di depan kamar mandi tadi. semua juga biasa-biasa saja, si X berinteraksi dengan si teman seperti hari-hari biasanya. si teman mulai tidak bias mentolerir sikap si X dalam meminjam mobilnya. Namun si teman tidak ingin memperpanjang urusan pinjam memminjam ini. ia segera meninggalkan kostan menuju kampus tanpa pernah menduga apa yang akan ia lihat di seluruh permukaan bodi mobil kesayangannya ketika kelak ia turun dan mulai diterangi sinar matahari pagi. Mobilnya yang bersih kinclong berubah menjadi sebuah bentuk mobil off road yang baru saja menyelesaikan perjalanan cross countrynya di daerah berlumpur parah. sekali lagi, si teman tidak mendapatkan info apa2 soal ini dari si X sebelumnya. jangankan persoalan kata maaf belum sempat membersihkan kembali mobil hadir dari mulut si X, cerita tentang merasa bersyukurnya ia karena banyak terbantu oleh mobil si teman pun nihil. apa yang ada dibenak si X tak mampu dipahami si teman. banyak yang berubah dari pertemanan mereka sejak peristiwa itu. padahal si teman ingat betul betapa marah besarnya si X dan mengadu kepadanya ketika si Z meminjam buku kesayangannya dan mengembalikan buku tersebut dalam keadaan amburadul kepadanya. si teman hanya bisa terdiam dalam sebuah ruang introspeksi diri ketika mengingat semua peristiwa itu”

Dalam merespon prestasi kota madya Bogor yang mulai berbenah diri saya sudah bersikap seperti si X dalam cerita di atas. Merasa tidak perlu melakukan apresiasi, pun jika ada selalu menunda-nunda untuk menunjukan apresiasi itu. Saya bersikap tidak adil karena menilai sebuah proses berbenah kota madya bogor di bawah pimpinan walikota barunya adalah sebuah kewajiban. Tak perlu mendapat apresiasi. jika sikap seperti ini terus dipelihara, saya yakin jiwa saya akan tubuh sebagai jiwa yang tak sensitif pada kebaikan yang berarti jiwa itu sedang sakit.

seperti yang saya sampaikan di depan, tulisan ini adalah wujud apresiasi saya atas proses perbaikan kota madya bogor secara umum dan kepada Dr. Arya Bima selaku walikota baru bogor secara. Berikut hal baru yang saya rasakan di kota bogor akhir-akhir ini.

1. Jalan raya aspal hitam dari ujung pertigaan bubulak terus menuju kampus ipb mulus sekarang. Secara kunatiti, memang tidak terlalu panjang jalan raya yang mengalami peningkatan kwalitas tersebut. Jika ingin disebutkan secara rinci panjang jalan yang mengalami perbaikan kondisi itu dari pertigaan bubulak atau pertigaan SD Insan Kamil hingga ke jembatan pertigaan Cibereum saja. Pendek memang. Namun seorang teman yang sehari-hari mengendarai motor dari arah Laladon bersama istrinya yang baru selesai dari masa istirahat setelah operasi, menceritakan kepada saya jikalau jalan semulus sekarang amat sangat membantu perjalan mereka. Istrinya terbantu. Semoga doa yang baik cerminan rasa syukur sepasang suami istri pengendara motor itu langsung tertuju kepada walikota Bogor sehingga mampu memperluas jangkauan program peningkatan kwalitas jalan raya lebih panjang dari yang sudah ada.

2. Dilakukan secara random pada hari-hari yang tidak ditentukan, saat saya secara sadar melakukan survey kecilan sambil menuju lokasi kuliah atau kerja, ditemukan fenomena tidak lazim di beberapa titik macet baik untuk jalur ke arah kampus maupun ke arah stasiun. Ya fenomena tidak lazim itu adalah sebuah fakta dimana mestinya ruas jalan tersebut mengalami kemacetan parah, sebaliknya saya merasakan hal yang berbeda. meski tidak selancar jalanan di kampung-kampung, saya merasa kemacetan di ruas jalan tertentu mulai berkurang di jam-jam sibuk yang mestinya terjadi kemacetan super parah. Meskipun survey kecil-kecilan saya tidak begitu valid secara kaidah statistika, setidaknya saya berusaha menghibur diri melalui pembangunan prasangka baik atas niat besar walikota baru bersama instansi terkait untuk mengurai permasalahan utama ruas-ruas jalan di kota bogor: macet!

mari kita berdoa semoga apa yang saya temukan dalam survey pribadi ini benar adanya dan merupakan tanda-tanda permulaan  sebuah perkembagan ke arah lebih baik bagi kota bogor tercinta. memang sih, kemudian muncul pertanyaan kritis saya. jika ruas jalan tidak ditambah dan kendaraan pengguna jalan tidak dikurangi atau dibatasi. darimana asal datangnya logika bahwa kemacetan akan berkurang?. Mustahil kiranya. nah saya penasaran apa sih langkah konkrit pak Arya untuk mengatasi problem kemacetan di Bogor? memang sih di bebarapa titik terlihat pembangunan jalan yang cukup lebih serius dibandingkan masa sebelumnya. lihat saja sudah mulai banyak ditemukan ruas jalan yang mulai dirombak. saya tidak tahu fungsi perombakan itu. tapi saya terus berdoa semoga tanda2 kerja perombakaan itu merupakan awal baik usaha walikota utuk mengurai kemacetan kota bogor.

5 thoughts on “Yang baru di sepanjang jalan Darmaga Bogor dan beberapa titik sekitar Bogor: Arya Effects? (I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s