Saya, Keahlian Menulis dan Teknik 10 Jari

Prolog: Tentang Keahlian Menulis. Bagaimana sih menulis yang enak itu? Menulis yang mengalir mampu menuangkan semua pikiran yang ada di kepala. Menulis asyik yang tidak menemukan kendala berarti selama prosesnya berlangsung. Dibutuhkan materi tulisan yang melimpah di kepala memang. Itu artinya kita dituntut untuk banyak membaca atau melakukan aktivitas yang mungkin memperkaya asupan materi untuk ditulis. Dengan demikian akan banyak sekali ide yang bisa dituangkan. Tapi itupun tidak cukup. Kadang ide telah cukup banyak, namun kemampuan menulis memiliki sifat yang tak ubah dengan keahlian lainnya. Ia menuntut latihan yang intensif. Latihan ini akan menjadikan otak terbiasa untuk mengatur sistem pengubahan imajinasi menjadi kata-kata sekaligus mengkordinasikan tangan dan anggota tubuh yang terlibat dalam proses menulis untuk saling sinergis sehingga memudahkan proses menulis. Jika sudah terasa mudah dan mengasyikkan, maka otak akan merekam proses menulis sebagai respon yang menyenangkan dan ingin terus dilakukan berulang-ulang. Logikanya, jika sudah demikian aktivitas menulis akan bertransformasi menjadi sebuah aktvitas menarik seperti kegiatan makan yang akan dinantikan waktu pelaksanaanya. Sebaliknya, jika tanpa ada latihan yang mengandung sari komitmen yang kental. Sebanyak apapun ide yang tertimbun di dalam kepala seseorang maka ia tidak akan pernah bergerak menuju kemampuan menulis yang mumpuni.

Tentang kemampuan menulis kita perlu juga mencari cara untuk meraih keahlian tersebut. Misalnya dengan cara menguasai beberapa keahlian yang akan mempermudah kita menulis. Dengan penguasaan keahlian yang kita menaruh minat padanya diharapakn kita akan menjadikan proses menulis bukan sebagai beban ketika harus melakukannya. Terkait dengan keahlian untuk menunjang proses menulis saya teringat dengan teknik mengetik 10 jari. Sudah sejak lama kiranya saya menemukan sebuah software melatih kemampuan mengetik 10 jari di atas key board. suatu ketika saya berkunjung ke kediaman seorang kakak kelas yang berlokasi di desa Cimande. Beliau mendedikasikan waktu luang di luar aktivitas kerjanya yang jauh di pulau Borneo untuk memberdayakan anak-anak desa. Desa Cimande bisa dikatakan cukup tertinggal dibandingkan daerah-daerah pengapitnya seperti Bogor, Sukabumi apalagi Bandung. Banyak sekali aktivitas transfer ilmu dan pembinaan kemampuan tambahan bermanfaat yang dilakukan di rumah tersebut. Salah satu aktivitas itu adalah pelatihan mengetik 10 jari. Analisa beliau seorang anak adalah aktor. Setiap aktor membutuhkan alat khusus yang unik tergantung pada keinginannya untuk disapa dengan kata sapaan apa? Seorang anak yang memilih disapa dengan sapaan dokter kesehatan maka ia membutuhkan perlengkapan kedokteran termasuk di dalamnya stetoskop. Ia dituntut mampu menggunakannya alat-alat tersebut secara benar sesuai kaidah yang mengaturnya. Demikian juga dengan sosok penulis. Masih menurut senior saya tadi, indikasi kemajuan sebuah negara secara umum memiliki perbandingan lurus dengan budaya literasi penduduk negara tersebut. Kebudayaan literasi paling primer adalah aktivitas membaca. Setelah budaya membaca sebuah negara atau sekumpulan orang mencapai titik tertinggi maka mereka akan masuk ke budaya menulis. Proses pengkayaan pergerakan budaya literasi ini akan berjalan secara alamiah. makanya dalam pelajaran sejarah di bangku sekolah menegah dahulu kita mengenal pembagian waktu sejarah menjadi zaman pra sejarah dan zaman sejarah yang keduanya dipisahkan oleh kemampuan masyarakat yang telah mengenal tulisan atau belum. Nah senior saya memiliki gagasan sederhana namun cukup mulia. Beliau ingin mengarahkan anak-anak Cimande menjadi anak yang turun ambil bagian dalam kemajuan bangsa secara nasional. Beliau bercita-cita menjadikan anak Cimande disapa dengan saapan penulis selain sapaan lain sesuai dengan minat mereka kelak. Untuk itulah setelah anak-anak Cimande mulai menunjukkan kegandrungan mereka melahap buku-buku koleksi perpustakaan pribadi kakak kelas saya itu. Beliau dan beberapa sukarelawan mulai mengadakan latihan mengetik 10 jari dengan harapan anak-anak tersebut kelak menjadi penulis produktif karena mereka sudah menguasai keahlian paling utama untuk seorang penulis. Tak peduli akan berprofesi sebagai apa mereka dimasa depan. Jika mereka sudah merasakan nikmatnya menulis dengan keahlian mengetik 10 jari kelas mahir plus besarnya antusiasme mereka membaca buku, mereka akan menjadi pribadi penulis untuk bidang minat apap pun yang mereka tekuni. Saya langsung merasa tertantang dengan gagasan itu. Saya pun sepakat dengan analisa beliau seputar budaya literasi. Sejak itu saya ingin kembali mengenal teknik mengetik 10 jari dan mulai memburu aplikasi terkait keahlian terebut di rimba raya internet. Saya menemukannya beberapa hari dari kunjungan ke desa Cimande.

Saya dan teknik 10 jari. Setelah mengenal sekilas soal adanya teknik mengetik 10 jari dari abang kandung saya di masa saya masih SD dahulu. Lalu kemudian seakan ditantang untuk kembali membangun minat mempelajari teknik ini ketika berkunjung ke Cimande. Maka saya mulai berniat untuk menguasi teknik ini meski sebelumnya saya merasa teknik mengetik dengan sebelas jari sudah lebih dari cukup untuk memenuhi tuntutan kebutuhan saya dalam dunia pengetikan. Kelihatannya sih teknik tersebut gampang. Teknik ini sudah lama dikenal. Teknik ini sudah ada sejak proses tulis menulis hanya memiliki aktor utama berupa mesin ketik manual. Proses menulis yang masih penuh tantangan dan cabaran tidak sesimpel dan sepraktis sekarang. Berdasarkan kenyataan ini, mestinya saya bisa menguasainya dalam waktu yang relatif singkat. Bukankah teknik ini hanya sebuah teknik pengulangan yang sudah otak saya kenali? faktanya tidak demikian. hampir satu tahun waktu berlalu sejak aplikasi latihan mengetik 10 jari itu nangkring di laptop saya. Dan saya belum kunjung berhasil menaklukan keahlian ini dan berhak menyandang sabuk tertinggi kategori mahir akan kehalian ini. Saya melihat ada seseuatu yang kurang beres dalam diri saya dan hal tersebut mejadi inti dari seluruh persoalan yang saya hadapi termasuk dalam dunia tulis menulis dan hal terkait di dalamnya. Saya kurang bekerja keras dan memiliki komitmen lemah! Hal ini perlu diakui agar merasa mudah untuk melakukan kontemplasi sebagai titik awal memulai langkah perbaikan. Setelah saya mengakaui adanya kelemahan itu dalam diri. Saya mencoba untuk bergerak lebih cepat. Saya berusaha untuk mengejar ketertinggalan saya terkait keahlian ini. Mudah2an Allah merestui.

Berkomitmen untuk menulis kembali lepas obrolan singkat dengan istri sepulang dari kampus kemarin telah memicu saya untuk menyelesaikan tulisan tentang Saya, Keahlian Menulis dan Teknik 10 Jari ini. Memang tulisan ini terasa tidak terlalu istimewa ketika sobat membacanya secara sekilas. Tapi tahukah sobat jika tulisan ini saya selesaikan menggunakan laptop dengan menerapkan kaidah mengetik 10 jari. Yes, saya bisa jika saya mau!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s