Masjid di mal begini yang kita demen :)

Frekuensi kunjungan saya ke mal besar bilangan Jakarta Selatan, tepatnya di wilayah Kasablanka masih bisa dihitung dengan jari. Pun meski disaat kami tinggal di daerah Tebet yang nota bene wilayah tetangga kawasan dimana mal itu berada. Tinggal di Tebet tidak menjadi faktor yang mampu memperbanyak intensistas kunjungan kami ke tempat belanja plus plus tersebut. Nah, kalo berkunjung ke mal saya suka yang plus plus nya itu! terlebih di musim kemarau…ha…ha….plus plus dan kemarau? menarik!. Ya, misi utama mampir ke mal besar bagi saya adalah untuk menikmati sejuknya ac di dalamnya, menikmati gaya desain interior yang makin hari makin kreatif dan canggih, mencuci muka dan aktiviatas toilet lainnya di toliet yang bersih, dan numpang sholat. Aktivitas sampingan di luar fungsi utama mal tersebutlah yang saya maksud sebagai tempat belanja plus plus tadi.

Ngadem jadi aktivitas favorit saya di dalam mal. kalo berkunjung dengan berjalan kaki, artinya ngadem secara total menjadi aktivitas bonus yang termasuk kategori super plus. Ya iyalah, tanpa membayar sepeser pun ke pihak mal kita sudah mengambil manfaat dari keberadaannya.  lumaya, dari pada dinginnya ac terbuang percuma dan menjadi faktor peningkat gas rumah kaca bagi bumi saja! Saya hanya memaksimalkan pfungsi ac mal kelas atas berkwalitas super itu. Dalam cerita lain, terkait ac di mal, saya juga memiliki cerita miris. Terutama tentang fakta ruangan ber-ac di mal kelas menengah tanggung. Tanggung artinya kecil tidak, besar pun belum. Mal yang sulit dipaksa masuk kategori pasar raya kelas rakyat umum karena kecil.  Dan tidak besar juga sehingga makin jauh dari kategori untuk pantas disebut mal sejati.  Nah ketidakjelasan status mal-malan jenis ini kadang membuat kita mengurut dada terkait kondisi ruangan ber ac nya. Kebanyakan dari mal jenis ini memiliki ruangan besar pembunuh masal, produk koloborasi kerja sama yang solid antara sistem ruangan tertutup ber ac dan penghuni sembrono yang merokok di dalam ruang tanpa sedikitpun merasa berdosa! Bisa sobat bayangkan berada untuk waktu yang lama di dalam sebuah ruangan tertutup. Lalu ruangan itu di isi asap rokok yang diputer-puter terus menjelajahi seantero ruangan kedap. Uahhaaha….(narik napas panjang sembari memalingkan muka ke cerobong asap mal. “Udara…..udara…..saya sesak!”) Tak berlebihan jika saya sebut ruangan dengan kondisi seperti itu sebagai ruangan besar pembunuh masal. Sudah banyak laporan yang menyebutkan bahwa perokok pasif dapat menjadi lebih buruk ditinjau dari segi kesehatan dibanding perokok aktif. Untuk mal jenis ini biasanya tulisan larangan untuk tidak merokok dapat dijumpai dan terpasang jelas di beberapa sudut ruangan. namun kelihatannya para penghuni sudah merasa cukup kuat untuk ambil peran sebagai perokok pasif berjamaah di sana. Kalo sudah terlanjur masuk ke ruangan jenis ini, saya dan istri akan buru-buru meninggalakannya tanpa harus menunggu instruksi: Yang tidak siap menjadi perokok pasif harap segera keluar!!!

Kembali ke pusat perbelanjaan berusia muda berlokasi di daerah strategis segi tiga emas kuningan itu. Saat terakhir kali berkunjung ke sana untuk sebuah misi hunting barang yang hanya disediakan di sana, kami (saya , ibu mertua dan istri) terlibat permainan tebak-tebakan dengan pertanyaan utaman apakah mal ini menyediakan tempat ibadah yang representatif ?. Seingat saya, iya! tapi saya tidak terlalu yakin. Sudah lama sekali kunjungan terakhir saya ke mari. Namun meski tidak yakin 100%, saya memilih menjawab bahwa  di mal ini ada rumah ibadah dan memiliki satu hal yang patut dan pantas untuk diingat. Ibu mertua yang memiliki jam terbang ke mal lebih langsung membuat hipotesisinya sendiri. Beliau tidak sependapat dengan saya bahkan beliau pesimis “jika pun ada paling hanya di lantai dasar, terpencil melantai bersama mobil-mobil pengunjung” komentar beliau kala itu. Saya hampir saja ikut mengaminin prasangka itu. Tak mau terus penasaran, akhirnya saya bertanya ke satpam yang kebetulan lewat di depan kami untuk urusan patroli. Dari penjelsan satpam, didapatlah informasi jika rumah ibadah berlokasi di lantai 3, memori saya mulai menguat terkait masjid mal ini. Ya, saya ingat! hal yang spesial dari mal ini adalah mereka menyediakan masjid atau mushola yang tak kalah kelas dengan masjid pasar raya blok M. Keduanya meski tak sema persis tapi masuk dalam satu kelas yang sama dari segi penghargaan penempatan masjidnya.

Penunjuk tanda keberadaan masjid

Berikut deskripsi masjid yang di beri nama masjid AL ikhlas tersebut: masjid ini terletak di lantai 3. Satu lantai bersama toko yang menjual merek-merek sepatu dan pakaian ternama. artinya masjid ditempatkan di lokasi yang cukup terhormat (yes, bebas deskriminasi tempat). Masjid menjadi bagian tak terpisah dari bangunan inti mal itu sendiri.

Pintu masuk masjid, Kesan pertama itu penting

Jalan akses menuju masjid adalah jalan yang sama dengan jalan menuju toilet umum. Toilet mal ini menerapkan standar kelas hotel berbintang spertinya. Jalan kecil atau gang itu cukup menjorok ke dalam. Posisi masjid lebih awal dijumpai ketimbang lokasi toilet berada diujung jalan alisa mentok.

Tempat wudunya bersih!

Ruangan sholat pria dan wanita dipisah. Saat masuk ke dalam masjid, kita akan disambut oleh bingkai berisi kaligrafi besar di dindingnya. di sisi bagian kiri kita akan disambut penjaga penitipan barang yang dari penampilannya amat sulit dibedakan dengan petuga teller bank muapun front liner sebuah hotel berkelas. Kita bisa menitip barang di loker yang tersusun rapi di belakang penjaga. Jika kita menitip barang kita akan diberikan kunci. masuk lebih dalam kita akan melihat sekat kayu yang disusun apik. berbelok kiri berarti kita menuju tempat wudhu yang bersih dan full keramik dan jika berbelok kanan kita akan masuk ke ruang sholat berpermadani tebal, bersih dan sejuk.

Ruang ibadah
Penjaga loker dan penyambut pengunjung masjid. Klimis🙂

Demikianlah gambaran masjid Al ikhlas. Tenang dan mengasyikkan beribadah di sana membuat kita lupa jika masjid itu terdapat di dalam sebuah mal berkelas.

Meskipun kita masih memiliki harap suatu hari kelak akan banyak arsitek yang menjadikan masjid sebagai inti rancangannya meskipun itu bukan komplek bangunan peribadatan.

well, terima kasih untuk pihak manajemen mal yang telah memikirkan hal ini. Semoga banyak mal mengikuti langkah ini. Semoga berkah!

 

4 thoughts on “Masjid di mal begini yang kita demen :)

  1. Rosa says:

    Keren ya, Pak…
    Di sebuah mall yang terkenal sebagai mall paling mewah di Semarang juga alhamdulillah mushollanya sangat layak. Tapi ada juga mala (di Semarang juga) yang Masya Allah… bener-bener bikin miris dan sedih.

    1. syahjayasyaifullah says:

      auto kritik untuk muslim Indonesia umumnya dan semarang khususnya. Saya yakin persentase pengunjung mal mulsim adalah lebih tinggi dari 50% atau bahkan lebih. sayangnya hal itu tidak membuat kita memiliki posisi tawar kuat dalam menentukan lay out sebuah bangunan umum terkait keberadaan masjidnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s