Bitung dan dentuman musik

Kota ini relatif sunyi dibandingkan kota besar yang pernah saya kunjungi. Suasana yang wajar mungkin untuk sebuah lokasi berjarak 1 jam perjalanan dari ibu kota propinsi, Manado. Bitung terletak di provinsi Sulawesi Utara. Bitung sempat bergonta ganti posisi untuk diingat dengan cepat dalam rekam hardisk otak saya dengan nama sebuah kota di sumatera: Belitung. Bitung dan Belitung, dengan pembacaan cepat dapat didengar sebagai satu kata yang sama (menurut saya).

Di titik tertentu kota, sebenarnya terdapat wilayah-wilayah pusat konsentrasi masa. Katakanlah pelabuhan penyebrangan dan pelabuhan ikan. Kedua lokasi ini padat aktivitas penduduk sejak matahari belum terbit sekali pun. Oh ya, Bitung sejak dahulu kala terkenal dengan hasil lautnya. Secara khusus lagi Bitung berjaya dalam “memproduksi” jenis ikan tuna yellow pin dan jenis ikan tuna lainnya seperti: cakalang, baby tuna, tongkol dll (nah soal taksonomi dan kekerabatan kelompok ikan ini saya kurang paham. menurut kelezatan daging dan tingkat kegemaran saya dalam mengkonsumsinya, semua jenis ikan tersebut adalah satu keluarga. Ya, keluarga ikan yang saya sukai..hahahaha, pernyataan biologist coret) Jenis ikan tuna termasuk ikan diminati pasar dan bernilai jual tinggi. Sebut saja ikan tuna yellow pin dapat mencapai harga sekitar 1,7 juta per ekor  (berat sekitar 30-an kg). Ada lagi tuna blue pin. Jenis tuna yang hidup di laut  sedikit lebih dalam. Ikan ini bisa berharga milyiaran rupiah untuk satu ekornya. wow.

Kembali pada prihal sunyinya kota bitung. Pernah suatu malam saya sengaja berjalan cukup jauh dari lokasi menginap untuk memburu makanan halal yang menenangkan pikiran dan otot perut sekaligus. tak banyak orang yang saya temukan di sepanjang jalan. Kios-kios kecil penjual bensin dalam botol kaca minuman karbonasi mulai meyimpan barang dagangan mereka. Jam dinding malam itu belum menunjukkan angka 9 WIT. Namun sekali lagi untuk titik-titik tetentu kita akan menemukan banyak manusia berkumpul, bahkan hingga dini hari. Ada pasar kanopi dan pasar tua sebagai pusat kuliner kota bitung termasuk dalam daftar konsentrasi masa. Mana kala sedang asyik menikmati samar-samar temaram lampu jalan dan suasana sepi , sayup-sayup terdengar dari kejauhan suara dentuman musik yang makin lama makin meningkat desibelnya. Sebuah angkutan umum berwarna biru (warna biru yang sama dengan warna birunya angkot bogor selain wilayah bogor kota) menjadi terduga sumber dentumam musik itu. Semakin mobil mendekat, suara itu semakin mengeras. Kesan saya malam itu, angkot ini mungkin angkot yang disupiri anak muda gaol yang suka dengan musik aliran berdentum kencang dan keras. Dugaan saya, si anak muda hanyalah satu dari sekian warga Bitung yang memiliki kegemaran tidak jamak: menyalakan musik dengan volum super besar sehingga menjadikan mobil yang ditumpangi lebih berkesan bar berjalan ketimbang angkutan umum lain yang kita kenal.

Tak lama berselang dari pertemuan dengan angkot bar berjalan di malam hari, saya menemukan pendengaran yang sama mana kala berhasil menjadi orang yang pertama kali hadir di kantor pada sebuah pagi sekitar pukul 7 menjelang 8. Sedang asyik-asyiknya mengutak-atik kata di depan laptop, tiba-tiba kaca jendela kantor bergetar. Semula pelan, lambat laun makin “seru” getaran kaca jendela. Tak perlu menunggu lama, lewatlah sebuah mobil pick up putih dengan musik keras menyertainya. Musik yang disajikan angkot biru kemarin kira-kira memiliki peringkat desibel yang sama dengan musik pick up ini. Saya mulai berhipotesa. Saya menduga bahwa orang Bitung memiliki hobi menyalakan musik dengan suara keras. Dari perkiraan saya ini, kemungkinan produk ear phone di Bitung tidak bagus pasarnya hahahah (mulai tidak nyambung). Jadi kesimpulan saya terait pengemudi angkot biru kemarin secara teori hampir runtuh.

Cerita soal detuman musik yang super keras itu berlanjut. Titik klimaknya terjadi mana kala para karyawan induk perusahaan yang menjadi objek kunjungan saya melakukan aktivitas senam masal di pagi jumat. Seperti biasa saya datang ke kantor lebih awal. Karena hari jumat saya mengkhususkan penampilan dengan tampilan paling lengkap sebagai seorang pekerja kantoran. Baju koko licin, celana bahan dan bersepatu menjadi pilihan konstum saya. Sesampai kantor, saya melah menyaksikan kelompok karyawan yang sedang asyik bersenam ria di lapangan. Mulanya musik dan gerakan yang ada standar senam kebanyakan. Lambat laun, musik dan gerakan senam menjadi liar. tak pernah saya saksikan pola seman masal sebuas ini sebelumnya. Dari sudut kajian musik, jenis musik yang dipakai adalah musik berdentuman tinggi dan sering. Bahkan jendela kaca kantor ikut bergetar dua kali lebih kuat dari getaran yang disebabkan oleh musik pick up. Kedengarankan? ups maksud saya, kebayangkan besarnya dentuman tuh musik?

Dari sudut kajian gerakan. alamak, gerakan para pesenam itu dituntut harus menyesuaikan dentuman musik yang ada. mereka bergerak-gerak bak banteng liar yang ingin merobohkan kaca jendela. karena kebanyakan peserta adalah wanita, apakah mereka banteng betina yang sedang melakukan gerakan menarik lawan jenis karena masuk periode musim kawin? ups entalahlah saya merasakan bahwa jenis gerakan senam body language itu tak pantas dikosumsi publik, khalayak luas apalagi sebagain peserta senam adalah laki-laki yang tidak memiliki hak melihat proses bergeraknya sendi-sendi berbalut pakaian minim itu.

Senam sih boleh dan dianjurkan, tapi bagaimana mau sehat kalo piranti pendukung proses yang diklaim akan menyehatkan itu adalah sumber polusi indra lainnya. Musik yang terlalu keras adalah polusi suara dan gerakan yang tak pada tempatnya adalah polusi citraaan. Cukupkah kita dikatakan sehat jika mata dan telinga kita disuguhkan polutannya? entahlah. Saya masik termasuk orang yang menganggap penting sebuah nilai kepantasan.

Bicara soal musik pengirim senam. Sering juga ibu-ibu komplek perumahan saya melakukan aktivitas senam bersama. Musiknya sih lembut dan tidak menyebabkan efek kaca jedela bergetar. Namun masalah ada di unsur lain dari musik. Konten dari lirik musik tersebut. Ibu-ibu peserta senam yang tak jarang mengajak putra-putri balita mereka ikut serta ke lokasi senam masal, tidakkah berfikir akan dampak paparan makna syair yang ada terhadap otak suci balita mereka? Sebut saja satu lagu yag bersisi tetang cerita seseorang memergoki pasangannya yang selingkuh. Kata-kata berkaitan dengan kata selingkuh tumpah ruah dalam lagu tersebut. Jika kata-kata itu mendominasi otak balita sekali setiap minggu untuk durasi waktu tertentu dan itu terjadi ketika anak-anak dalam kondisi santai bergembira karena aktivitas bermain atau mulai jatuh tertidur karena kelelahan. Bisa kita bayangkan akan jadi apa nak itu nanti terkait kata selingkuh dan keluarganya. Memang kita mebutuhkan padangan ahli terkait opini ini.

Demikianlah sedikit cerita saya tentang Bitung dan Dentuman musik.

Semoga bermanfaat.

 

2 thoughts on “Bitung dan dentuman musik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s